NovelToon NovelToon
HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / BTS
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: J-Hope Sang Eksekutor

Malam yang seharusnya berakhir dengan sisa kehangatan kencan di atap gedung, mendadak berubah menjadi mimpi buruk yang dingin bagi Jungkook. Hanya satu jam setelah ia mengantar Sheril pulang dan memastikan wanita itu tertidur lelap—setidaknya, itulah yang ia harapkan—sebuah mobil van hitam tanpa lampu depan menjemputnya di gang belakang apartemen.

Jungkook tidak melawan. Ia tahu kode etik Jimin: penolakan berarti undangan bagi maut untuk mengetuk pintu orang-orang yang dicintainya.

Kini, Jungkook berdiri di sebuah teater tua yang terbengkalai di pinggiran distrik industri. Udara di dalam sana pengap, berbau kayu lapuk dan debu berabad-abad. Di tengah panggung yang diterangi oleh satu lampu sorot follow-spot yang berderit, seorang pria terikat di kursi kayu. Pria itu adalah informan yang membocorkan data logistik Le Lapin kepada Suga minggu lalu.

Jungkook berdiri di balkon lantai dua, mencengkeram pagar besi yang dingin. Di sampingnya, Park Jimin berdiri dengan setelan jas rapi, seolah-olah mereka sedang menunggu pertunjukan opera dimulai.

"Lihatlah ke bawah, Koki kecil," bisik Jimin. Suaranya halus, namun membawa kedinginan yang menusuk tulang. "Kau sudah terlalu lama bermain di dapur yang bersih. Kau mulai lupa bagaimana bau darah yang sebenarnya saat ia masih hangat dan menyemprot dari nadinya. Kau mulai menjadi... lembut. Dan kelembutan adalah penyakit bagi kita."

Tiba-tiba, musik viva la vida versi instrumen yang dimainkan dengan tempo yang jauh lebih lambat bergema di seluruh teater. Dari balik tirai merah yang compang-camping, muncul sesosok pria dengan langkah yang lincah, hampir seperti menari.

Itu adalah Jung Hoseok, atau yang lebih dikenal di dunia bawah sebagai J-Hope.

Berbeda dengan Jungkook yang membenci kekerasan, J-Hope adalah pemuja rasa sakit. Ia mengenakan jaket kulit berwarna merah menyala yang berkilau di bawah lampu sorot. Wajahnya dihiasi senyum lebar yang tidak pernah mencapai matanya—senyum yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa ingin muntah karena kengerian yang murni.

"Selamat malam, hadirin!" J-Hope berseru, suaranya menggema ceria, seolah ia adalah pembawa acara variety show. Ia membungkuk hormat ke arah balkon tempat Jimin dan Jungkook berdiri.

J-Hope mendekati sang informan yang mulutnya dilakban. Pria di kursi itu meronta-ronta, matanya membelalak ketakutan. J-Hope mengeluarkan sebuah kotak beludru, mirip dengan kotak anting yang diberikan Jungkook pada Sheril tadi malam. Namun, di dalamnya bukan perhiasan, melainkan deretan pisau lempar berujung kait.

"Kau tahu, Kook," Jimin berbisik lagi, tidak mengalihkan pandangan dari panggung. "Hoseok selalu bilang bahwa kematian itu membosankan jika dilakukan dengan cepat. Ia menyebutnya 'Seni yang Terengah-engah'."

Di bawah sana, J-Hope mulai "bermain". Dengan gerakan teatrikal, ia mengiris telinga sang informan dengan satu gerakan secepat kilat, lalu berputar seperti penari balet. Darah mulai membasahi lantai panggung. J-Hope tertawa—sebuah tawa yang renyah dan riang, yang terdengar sangat mengerikan di tengah jeritan tertahan sang korban.

Setiap sayatan yang dibuat J-Hope sengaja dibuat tidak fatal. Ia menghindari nadi besar, lebih memilih saraf-saraf tepi yang akan memberikan rasa sakit maksimal tanpa membuat korban pingsan dengan cepat. Ia adalah antitesis dari Jungkook. Jika Jungkook adalah pisau bedah yang presisi dan sunyi, J-Hope adalah gergaji mesin yang berisik dan berantakan.

Jungkook memejamkan matanya rapat-rapat. Rahangnya mengeras hingga giginya berkerit. Pemandangan itu membangkitkan trauma masa kecilnya—trauma yang ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan resep masakan dan cinta untuk Sheril.

"Buka matamu, Jeon Jungkook," perintah Jimin, suaranya kini berat dan penuh otoritas.

"Cukup, Jimin. Hentikan ini," desis Jungkook, tangannya gemetar di atas pagar besi.

J-Hope di bawah sana mendengar suara Jungkook. Ia mendongak, melambaikan tangan yang berlumuran darah dengan ceria. "Oh, Koki kecil kita sedang menonton! Hei, Kook! Lihat teknik ini, aku menyebutnya 'Menguliti Harapan'!"

J-Hope menarik sebilah pedang tipis dan mulai mengukir sesuatu di dada sang informan. Pria itu menjerit melalui lakbannya, suara yang begitu memilukan hingga Jungkook merasa jiwanya ikut terkoyak.

Jungkook kembali memalingkan wajahnya. Ia tidak tahan melihat manusia diperlakukan seperti kanvas untuk kegilaan. Ia adalah seorang pembersih karena ia ingin memuliakan mayat, memberikan mereka "ketenangan" terakhir setelah kekacauan yang dibuat Jimin. Melihat J-Hope bekerja adalah penghinaan bagi segala hal yang ia percayai.

Tiba-tiba, Jimin mencengkeram tengkuk Jungkook dan menekannya ke arah pagar, memaksanya untuk menatap langsung ke panggung di mana J-Hope baru saja melakukan eksekusi terakhir dengan cara menusukkan pisau tepat ke jantung korban setelah penderitaan yang panjang.

"Jangan menutup matamu," bisik Jimin tepat di telinga Jungkook. Napasnya berbau alkohol dan mawar. "Kau harus belajar keberanian lagi. Kau pikir kau bisa terus-menerus menjadi pahlawan bagi Sheril? Kau pikir kau bisa terus membersihkan kotoran kami dan tetap memiliki tangan yang wangi?"

Jungkook terengah-engah, matanya dipenuhi air mata kemarahan. "Aku bukan seperti dia. Aku tidak akan pernah menjadi seperti dia!"

Jimin terkekeh, suara yang sangat kecil namun mematikan. "Tentu tidak. Kau terlalu berharga untuk menjadi eksekutor berantakan seperti Hoseok. Tapi ingat ini, Jungkook-ah. Jika kau tidak bisa menjadi pembersih yang rapi lagi... jika kau membiarkan emosimu menghalangi tugasmu... atau jika kau membiarkan detektif-detektif itu merayap terlalu dekat ke arahku..."

Jimin menjeda, memberikan tekanan lebih pada tengkuk Jungkook.

"...maka aku akan membiarkan J-Hope yang membereskannya dengan cara berantakan ini. Mungkin target berikutnya bukan informan murahan seperti ini. Mungkin target berikutnya adalah detektif sombong yang sangat kau benci namun kau lindungi demi Sheril. Siapa namanya? Ah, Seokjin. Kakak iparmu yang tercinta."

Dunia seolah berhenti berputar bagi Jungkook. Bayangan Jin—kakak Sheril yang selama ini selalu mencurigainya namun sangat mencintai adiknya—berada di bawah pisau J-Hope membuat perut Jungkook melilit. Ia tahu J-Hope tidak akan ragu. J-Hope akan menikmati setiap detik saat ia merobek-robek Jin di depan mata Sheril jika diperintahkan.

"Jangan sentuh dia," geram Jungkook. Suaranya rendah, berbahaya, dan dipenuhi oleh keputusasaan yang murni.

"Maka jadilah anak baik," sahut Jimin, melepaskan cengkeramannya dan merapikan kerah baju Jungkook dengan gerakan yang sangat manis, seolah mereka adalah sahabat lama. "Bersihkan kekacauan di teater ini. Hoseok sudah bersenang-senang, sekarang giliranmu bekerja. Aku ingin panggung ini bersih sebelum fajar. Tidak ada tepung, tidak ada darah, tidak ada bukti. Lakukan apa yang paling kau kuasai, Koki."

Jimin berjalan pergi, meninggalkan Jungkook sendirian di balkon. J-Hope di bawah sana bersiul riang sambil membersihkan pisaunya dengan kain sutra merah.

"Semangat kerjanya, Kook! Jangan lupa gunakan cuka untuk menghilangkan bau besinya!" J-Hope berteriak sebelum melompat turun dari panggung dan menghilang ke dalam kegelapan.

Jungkook turun ke panggung dengan langkah berat. Ia melihat mayat di depannya—hasil "karya seni" J-Hope yang mengerikan. Ia mengeluarkan tas peralatannya yang selalu ia bawa di motornya. Cairan pembersih kimia, benang bedah, dan sarung tangan lateks.

Ia mulai bekerja.

Setiap kali ia menjahit luka yang dibuat J-Hope, setiap kali ia mengusap noda darah dari kayu panggung, Jungkook membayangkan wajah Sheril. Ia membayangkan senyum manis Sheril saat mereka makan malam tadi. Ia harus melakukan ini. Ia harus menjadi monster agar Sheril tidak perlu melihat monster yang sebenarnya.

“Maafkan aku, Sheril,” bisik Jungkook dalam hati. Tangannya bergerak dengan presisi yang luar biasa, mengubah kekacauan brutal itu menjadi sesuatu yang tampak "bersih" di mata hukum jika nanti polisi datang.

Namun, di dalam kepalanya, ancaman Jimin tentang Jin terus berdengung. Jungkook tahu bahwa tembok yang ia bangun untuk melindungi dunianya mulai retak. Jimin tidak lagi bermain-main. Taruhan ini telah naik ke tingkat yang mematikan.

Saat fajar mulai menyingsing dan teater itu sudah kembali tampak seperti gedung tua yang kosong tanpa jejak pembunuhan, Jungkook berdiri di tengah panggung yang sudah bersih. Ia menatap tangannya sendiri. Bau pemutih dan antiseptik menyengat tajam, namun di bawah aroma itu, ia masih bisa mencium bau darah yang tak akan pernah hilang dari jiwanya.

Ia harus membuat pilihan. Terus menjadi pelindung dalam bayangan yang perlahan menghancurkannya, atau menarik Sheril keluar dari kehidupan ini sebelum J-Hope memutuskan untuk membuat "pertunjukan" baru dengan orang-orang yang paling Sheril sayangi.

Jungkook keluar dari teater, menaiki motornya, dan memacu kendaraannya menuju rumah sakit tempat Jin bertugas. Bukan untuk membunuh, tapi untuk memantau. Karena mulai detik ini, Jungkook bukan lagi sekadar koki atau pembersih. Ia adalah perisai yang harus menahan serangan dari dua arah: hukum yang mengejarnya, dan kegilaan yang ingin melahap cintanya.

Di saku jaketnya, ponselnya bergetar. Pesan dari Sheril.

"Kook, kau di mana? Aku terbangun dan kau tidak ada di sampingku. Aku merindukanmu."

Jungkook menatap pesan itu dengan mata yang perih. Ia mengetik jawaban dengan jari yang masih kaku akibat rasa dingin di teater.

"Aku hanya pergi ke pasar pagi mencari ikan segar untuk sarapanmu. Sebentar lagi aku pulang, Sayang. Aku juga merindukanmu."

Kebohongan demi kebohongan. Jungkook menyadari bahwa cintanya telah menjadi sebuah bangunan yang indah di atas tanah yang dipenuhi mayat. Dan ia akan melakukan apa pun, termasuk membiarkan dirinya hancur, asal bangunan itu tetap berdiri kokoh untuk Sheril.

...****************...

1
Lilyyanaa
ternyata member bts lengkapp🤭
sabana: iyah, semoga suka🙏
total 1 replies
sabana
Ini Fanfic idol lagi ya, minjam nama-nama personil BTS ya, semoga suka
李慧艳
mampir...semangatk kak
李慧艳: tolong AP???
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!