Kisah seorang dokter tentara berpangkat mayor yang jatuh hati kepada seorang apoteker di rumah sakit tempat mereka bekerja waktu pertama kali sang gadis datang wawancara. Mayor Jonathan Benjamin nama sang dokter, dia memiliki seorang anak perempuan usia enam tahun. Bertemu dengan Sophia Abigail seorang apoteker yang sudah memiliki seorang pacar yang adalah CEO David Alexander. Bagaimana kisah mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
David Berjuang
Rencana hari Sofi akan mulai bekerja di Xander Company, namun dia menunda. Karena dia masih menunggu ada apoteker yang baru, yang bisa membantu Saul apoteker yang sudah ada. Di meja Sofi sudah ada tiga pelamar. Dan semuanya adalah cowok. Dari tiga pelamar ini, Sofi hanya butuh dua orang. Dan akhirnya dua orang tersebut terpilih Abe dan Gery. Mereka bertiga ini akan selang seling satu siang, dua sore sampai malam secara bergantian. Setelah membenahi administrasinya selama seminggu.
Di minggu yang baru, Sophia Abigail datang dengan kartu namanya sebagai COO Xander Company. Ruangan Sofi dilantai sepuluh sudah disiapkan. Pagi ini agenda pertemuan dengan pimpinan semua departemen. Dilantai sepuluh aula yang sedikit kecil digunakan sebagai tempat pertemuan itu. Agendanya CEO akan memperkenalkan COO yang baru
Begitu masuk ruangan diatas mejanya ada kotak perhiasan cincin berlian dan sebuah kertas.
"Selamat bergabung bersama kami COO Sophia Abigail Stevanus dalam Xander Company. Maafkanlah saya calon istriku" Sophia tersenyum masam memandang hadiah yang diberikan oleh David tunangannya.
"Berharap sangat. Dasar mesum."
Hari ini, tepat pukul sembilan pagi Sofi hadir mengikuti rapat bersama pimpinan masing - masing departemen dan para direksi. Sebagai anak salah satu pendiri Xander Company, jelas Sofi tidak asing bagi mereka. Selama ini memang mereka menunggu keterlibatan Sofi untuk bersama - sama membangun perusahaan ini. Tugasnya dalam mengelola operasional harian, mengimplementasikan strategi CEO, dan meningkatkan efisiensi perusahaan membutuhkan waktu yang banyak bagi Sofi dalam menjalankannya. Namun dia tetap bertelat usahanya sendiri harus jalan. Sebenarnya dia terpaksa bekerja. Karena dia harus mengamankan aset orangtua mereka. Setelah dia mengetahui siapa itu Theresia yang di pekerjakan David sebagai sekretarisnya.
Laporan keuangan dia pelajari, baru Sofi sadar bahwa banyak sekali uang perusahaan yanh digunakan David untuk membeli beberapa aset bagi si mantan sekretaris. Meskipun kekayaan mereka masih banyak. Namun Sofi merasa tidak adil saja, para manger yang lama bekerja belum tentu memiliki aset sebanyak yang di miliki oleh Theresia selama dua tahun bekerja.
"Bisa kamu pertanggung jawabkan??" Sofi meletakan laporan keuangan serta bukti - bukti pembelian mengatas namakan Theresia.
"Saya akan menganti uang yang di keluarkan."
"Uang segini bagi perusahaan tidak masalah. Namun keadilan kamu sebagai pemimpin."
"Tidak akan terulang lagi."
"Kamu mau pacaran sama dia, tidak masalah bagiku. Namun jangan menggunakan uang perusahaan." Sofi langsung meninggalkan David, bersamaan dengan Max yang merupakan asisten David masuk.
"Sangat keras pendiriannya??"
"Bos, namanya sudah kecewa, akan susah di ampuni. Apalagi perbuatan bos di lihat oleh non Sofi."
David merenung perbuatannya. Dia bertanya dalam hatinya apa yang dia harapkan dengan menjalin hubungan dengan Theresia. Cinta??? dia tidak merasakan itu. Dia hanya menganggap hubungannya dengan Theresia adalah saling membutuhkan. Hanya sebatas teman tidur saja.
Sementara itu, di rumah sakit tentara sedang dilakukan kegiatan donor darah oleh palang merah Indonesia, sebagai pengurus Sophia juga terlibat dalam kegiatan itu. Sekalian dia ingin mendonorkan darah juga. Nathan yang mengetahui keberadaan Sofi, mendekatinya.
"Apa kabar nona Sofi??"
"Eh dokter Nathan. Kabar baik dokter. Melihat muka dokter yang ceria, pasti baik - baik saja kan?? Terima kasih atas bantuan rumah sakit. Program tahunan kami bisa berjalan, kegiatan donor darah." Nathan tersenyum. Dilubuk hatinya ada perasaan rindu kepada seorang apoteker ini. Rindu cerewetnya, rindu senyumannya dan semua hal tentang Sofi.
"Sibuk ya selama ini?? Beberapa kali ke apotek membeli vitamin buat Briel ngak ada? Katanya ibu Sofi lagi di kantor besar." Sofi tertawa. "Kok tertawa???"
"Iya sebulan ini, lagi menjalankan mandat keluarga??"
"Kantor besar??? Seberapa besar???" Sofi tambah tertawa nyaring, sampai muka - mukanya terlihat merah. Nathan yang melihat tingkah Sofi tersenyum lebar. Hal ini dilihat oleh beberapa tenaga medis dan administrasi rumah sakit ini, mereka tidak menyangka sosok perempuan yang sedang berbicara dengan dokter mereka bisa membuat beliau tersenyum.
Sofi menjelaskan aktivitasnya selama sebulan kepada dokter Nathan, dan betapa kagetnya Nathan ternyata Sophia Abigail adalah anak dari salah satu orang yang mempunyai perusahan sebesar Xander Company. Bahkan kantor - kantor pemerintah setiap membuat keguatan selalu meminta sponsor dari perusahaan ini.
"Ngapain kamu mendaftar menjadi apoteker di rumah sakit ini??"
"Ya karena itu profesi saya."
"Saya pikir sebagai anak pendiri, mempunyai saham di perusahaan itu ngapain repot bekerja?"
"Karena bukan gaya hidupku di kantor besar itu. Aku hanya mau uangnya."
"Tetapi sekarang kamu COO?"
"Terpaksa!!!"
"Terpaksa??? Aneh kedengarannya."
"Ada yang harus aku lindungi, sebelum peninggalan orangtuaku hilang semua. Bagaimana keadaan Briel dokter??"
"Kamu mau bertemu dengan dia???
"Boleh??"
"Ya, pasti Briel senang."
Selesai kegiatan di rumah sakit. Sofi dengan menumpang mobil Nathan menuju ke rumah orangtuanya. Supir yang biasa mengantar dan menjemput Sofi, diperintahkan pulang ke perusahaan. David yang akan bertemu dengan koleganya bersama Max dikagetkan dengan kehadiran Udin sendiri tanpa Sofi.
"Bu Sofi dimana pak Udin??"
"Ibu, ada urusan sama temannya, saya diperintahkan pulang ke kantor."
"Teman??? Oke. Nanti kalau ibu Sofi balik ke kantor, katakan jangan pulang dulu saya ada perlu."
"Siap pak!!!"
Sofi bersama Nathan sedang mampir di sebuah mini market dia hendak membeli ole - ole buat Briel dan orangtuanya dokter Nathan. Rumah keluarga dokter Nathan sangat minimalis dan tampak asri karena ada pepohonan dan banyak bunga - bunga. Suasana rumah saja sangat menyenangkan dari depan. Tampak satu mobil merek avanza keluaran pertama yang masih terawat rapi.
"Mari masuk?? Mamaku tahu kedatangan kita." Sofi yang tampak malu - malu. Digandeng tangannya oleh Nathan masuk ke rumahnya.
"Kakak...... Sofi. Briel kangen!!" Gadis kecil usia enam tahun lari menuju Sofi dan dipeluk. Orangtua Nathan kaget melihat aksi cucunya yang sedang disamar status menjadi anak bungsu mereka.
Sofi dipersilahkan masuk rumah itu. Yang dirasakan oleh Sofi adalah nyaman dan sejuk. isi rumah ini tertata rapi.
"Mohon maaf adiknya Nathan terlalu...."
"Ma, Sofi sudah tahu siapa itu Briel."
"Sungguh??"
"Iya. Dari Briel sendiri."
"Mohon maaf oma, opa. Briel hanya cerita ke satu orang, hanya kakak Sofi."
"Tidak mengapa sayang. Opa tahu Briel anak yang pintar. Pasti tahu mana yang bisa dan yang tidak bisa di bagi rahasia ini."
"Terima kasih opa." Briel memeluk opa dan omanya.
"Kita makan malam bersama ya?? Nanti mama masak. Sofi harus rasa masakan tante??"
"Iya. Kakak Sofi harus rasa, omaku selain guru juga pintar masak."
Pukul tujuh malam, baru Sofi diantar Nathan ke kantornya Xander Company yang tinggi itu. Kedatangan Sofi sudah dinantikan oleh David. Dari lobi perusahaan dia melihat Sofi diantar oleh seorang cowok yang memiliki postur tubuh atletis dengan kulit sawo matang.