Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 Vakum di tengah aula
Di Rumah yang megah dan indah siang itu di ruang depan tengah duduk Bu Mila dan Pak Ahmad mereka adalah Orang tua nya Ramdan. Mereka sengaja di hari itu libur tidak bekerja dikarenakan mereka memang baru pulang dari luar kota. Ceklek pintu depan terbuka
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Mah,Pah" Kata Ramdan sambil mencium kedua tangan orangtuanya
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Nak, kamu dah pulang yuk kita makan pasti kamu belum makan" Kata mamanya
"Iya Mah bentar aku ganti baju dulu " ucap Ramdan
Setelah ganti baju Ramdan turun ke bawah dan makan bersama dengan orangtuanya. Ramdan begitu bahagia karena hal itu baru saja ia rasakan sudah lama dia tidak pernah makan bersama. Biasanya dia sarapan,makan siang maupun makan malam selalu sendirian tapi hari ini dia makan bersama dengan orang tuanya. Beres makan terdengar dari kejauhan adzan asar maka Ramdan pun pamit pada orang tuanya
"Mah, Pah izin ya Ramdan mau langsung kekamar soalnya mau mandi udah adzan asar habis mandi mau langsung shalat" ucap Ramdan
Mama dan Papa sempat saling pandang.
Bukan pandang biasa—itu pandang yang berisik di kepala.
Mama Mila berhenti melipat selendang. Tangannya gemetar dikit, bukan karena capek, tapi karena kaget yang manis.
Papa Ramlan menurunkan koran, alisnya terangkat, suaranya tertahan di tenggorokan.
“Ramdan… mau shalat?” tanya Mama pelan, seakan takut kalimat itu pecah kalau diucapkan terlalu keras.
Ramdan mengangguk singkat. Sederhana. Tenang.
Bukan pamer. Bukan drama. Cuma izin.
Papa menarik napas panjang. Dalam.
Selama ini dia mikir: uang cukup \= anak bahagia.
Ternyata… tidak sesederhana saldo.
“Pergi sana,” ucap Papa akhirnya, suaranya berat tapi hangat.
“Mandi yang bener. Jangan buru-buru.”
Mama tersenyum. Senyum yang nggak rame, tapi jujur.
Ada rasa bersalah di situ. Ada harap yang tumbuh diam-diam.
“Setelah shalat… kalau mau, Mama bikinin teh hangat,” katanya lirih.
Ramdan melangkah pergi.
kebahagiaan anak mereka ternyata bukan cuma soal apa yang dibeli,
tapi kepada siapa dia kembali. Selama ini mereka berdua sibuk mencari sehingga lupa kalau semua itu hanya titipan. Tiba-tiba ponselnya Pak Ahmad bergetar dan satu chat masuk yaitu dari kepala sekolah
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh selamat sore pak , maaf mengganggu waktu istirahatnya Bapak, saya hanya mau memberikan laporan tentang anak Bapak bahwa Ramdan di sekolah selain menjadi Waketos ternyata dia benar-benar membuat kami bangga karena selain pintar di akademik dia juga dari sisi spiritual nya hebat banget banyak perubahan. Shalat duha tidak pernah terlewatkan pokoknya benar-benar membuat kami bangga "
Dengan perasaan terharu dan campur aduk pak Ahmad pun membalasnya
"waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Terimakasih banyak pak atas informasinya, jujur saya benar-benar kaget sekaligus bangga"
Pak Ahmad sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi dalam hatinya dia menjerit merasa gagal menjadi orang tua. Pak Ahmad memperlihatkan chat kepala sekolah kepada Bu Mila dan ternyata Bu Mila juga sama dia langsung menangis karena selama ini dia gagal menjadi orang tua. Dia terlalu fokus mencari materi yang di rasa itu akan membuat kebahagiaan anaknya tapi ternyata tidak dan anaknya justru telah berubah menjadi yang lebih baik.
pagi hari yang cerah Ramdan sudah siap dan menggendong tas hitamnya namun terlebih dahulu dia memakai Hoodie hitam kesayangannya. Selesai sarapan, Ramdan langsung pamit kepada kedua orangtuanya
"Mah,Pah, Ramdan berangkat sekolah yah. Hari ini Ramdan bagian piket jaga gerbang bersama ketua OSIS, Arga" Ucapnya
"Kamu jaga gerbang terus kapan kamu mau jaga jodohnya," Kata Pak Ahmad
"Ish papah apaan sih ah, gampang pak jodoh mah, yang terpenting kita dulu menjadi orang yang lebih baik biar nanti bisa memimpin jodoh kita " Ucap Ramdan
Seketika Pak Ahmad terdiam, dia merasa tertampar sama ucapan anaknya yang menggantungkan segala sesuatu itu kepada sang maha pencipta
"Ya udah sana kalau kamu bagian piket, oh iya kamu masih suka nongkrong sama anak-anak brotherhood kan?" Tanya Pak Ahmad
" Masih dong pah, kalau gitu pamit dulu Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh " Ucap Ramdan
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh " Kata Pak Ahmad
Ramdan berangkat ke sekolah dan seperti biasa dia dengan penuh tanggung jawab dan profesionalisme menjaga gerbang bersama partner terbaiknya Arga. Saat Tari datang, Ramdan hanya menatapnya sebentar kemudian mengecek atribut seragamnya. Tari pun masuk ke dalam kelas dan ternyata di dalam kelas geng receh sudah ngumpul
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh " Ucap Tari
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Cantik " Kata Alvin
"Wiih Alvin mantap, kamu mau motor kamu jadi abu ya Vin?" Tanya Tiara
"Ups lupa ,semoga motor ku aman lah" kata Alvin sambil cengengesan
Tari pun duduk di kursinya sambil memandang ke jendela depan dan terlihat di luar Ramdan lagi sibuk namun tetap gokil sih. Tepat jam 07.00 para siswa pun masuk ke kelas masing-masing begitupun dengan Ramdan karena tepat jam 07.00 gerbang sudah di gembok jadi kalau yang kesiangan ya pasti ketemu guru piket atau pak satpam. Ramdan pun masuk ke dalam kelas dengan penuh semangat dan senyuman yang penuh arti buat seseorang. Jam pelajaran pertama dan kedua adalah matematika, maka tak berapa lama Pak Satria masuk sambil melirik ke arah Ramdan dan juga Tari.
Suasana kelas mendadak hening, cuma suara gesekan spidol Pak Satria di papan tulis yang kedengeran memenuhi ruangan. Beliau lagi asyik ngejelasin rumus integral yang ribetnya minta ampun, sesekali benerin letak kacamatanya sambil natap tajam ke barisan bangku depan seolah lagi nunggu ada yang berani nanya. Pak Satria itu tipe guru yang kalau nerangin nggak mau diganggu gugat, tangannya lincah banget bikin angka-angka itu kelihatan kayak sandi rumput yang bikin otak serasa mau hang. Pas banget di tengah suasana yang lagi tegang-tegangnya itu, tiba-tiba HP di dalam saku celana Ramdan bergetar pelan—ternyata ada chat masuk dari Arga yang muncul di lockscreen, bikin konsentrasi Ramdan ke papan tulis langsung buyar seketika.
Arga Typing
"Ndan ke ruang OSIS sekarang bawa Tari sama Alvin"
Ramdan Typing oke tapi maaf kalau lama soalnya ini lagi pelajaran pak Satria
Arga Typing iya gpp yang penting sekarang
Dengan kekuatan dan rasa tanggungjawab Ramdan angkat tangan
"Pak maaf sebelumnya ini saya di chat sama Arga katanya ada yang urgent harus sekarang dikarenakan kalau nanti Arga ga bisa.Aku harus bawa Tari sama Alvin ke ruang OSIS" Ucap Ramdan
"Hmmm karena kamu termasuk yang nilainya mencapai bagus dalam pelajaran saya, maka saya izinkan dan tolong nanti bantu Alvin dan Tari belajar " Kata Pak Satria
" Terimakasih banyak pak atas izinnya, Ri, Vin ayo kalian sudah di tunggu sama Arga" ajak Ramdan yang kemudian mereka bertiga keluar
"Vin tolong jagain ya " Kata pak Satria tiba tiba membuat langkah Alvin terhenti dan langsung memberikan anggukan meski sebenarnya Alvin juga bingung apa maksud dari perkataan pak Satria
Ramdan diikuti oleh dua temannya pergi ke ruang OSIS, mereka jalan berdampingan namun ada jarak di antara mereka. Di ruang OSIS Arga sudah menunggu di mejanya. Dengan tatapan mata yang penuh arti, Arga memandangi mereka satu persatu
" Vin,Ri kalian tahu gak kenapa kalian kakak panggil ke sini di jam pelajaran?"tanya Arga pada Tari dan Alvin
"Pasti tentang pendaftaran pensi " Kata Alvin
"Iya betul banget, sudah sampai mana? Apakah semuanya sudah ready?" Tanya Arga
Tari dan Alvin menarik napas panjang, mereka saling lirik seolah-olah mereka lagi berbicara
"Jangan takut laporin aja bagaimanapun keadaannya" Kata Arga
"Untuk kelas X dan kelas XII sudah ada perwakilannya, namun untuk kelas XI baik IPA 1 maupun IPA 2 belum ada perwakilan kalau untuk kelas XI IPA 1 setiap di umumin pasti pada bilang ga bisalah,malulah dan lain sebagainya " Kata Tari
" Itu kelas XI IPA 1?" Tanya Arga
"Iya kak" Jawab Tari pelan
"Ndan kamu dengar kan tadi laporan Tari?kok bisa terjadi sih Ndan padahal itu kelasnya kamu, wakil ketua OSIS yang pintar dan ganteng,masa iya ngajakin teman-temannya untuk tampil ga bisa sih" Tegur Arga
"Iya maaf Ga, untuk tugas yang ini aku lalai karena aku kurang koordinasi dengan yang di lapangan tapi ini bukan kesalahan mereka justru aku sebagai atasan mereka yang lalai" Ucap Ramdan
"Oke habis ini, terserah kalian bertiga bagaimana caranya agar nanti pas istirahat aku sudah ada laporan untuk perwakilannya dan paling telat pas shalat Dzuhur, kalau tidak ada maka sangat di sayangkan sekali kalau kelas unggulan yang ada Waketos nya akan viral,atau mungkin Ramdan sendiri yang harus menghandle semuanya kamu paham kan Ndan " Kata Arga mode galak padahal dalam hatinya dia ngakak
" Kak Arga tolong kasih kami waktu ini murni kesalahan saya sebagai ketua kelas dan jangan libatkan Ramdan sebagai Waketos karena kalau urusan kelas itu tanggung jawab jawab saya " Kata Tari tenang namun tetap saja grogi karena di tatap yang tajam sama Ramdan
"Ya udah terserahlah, udah sana kalian kembali ke kelas lagi" Perintah Arga
"Siap kak" Kata Tari dan Alvin barengan
Ramdan keluar duluan dari ruang OSIS mukanya sangat berat sekali namun dia tidak boleh marah harus tetap tenang karena dia yakin pasti akan ada jalannya. Tari dan Alvin yang ada di belakang Ramdan hanya diam membisu, mereka semakin bingung karena sekarang Ramdan membawanya ke ruang guru. Di ruang guru para guru sedang bercengkrama sambil ghibah si couple baru dengan sangat sopan dan penuh wibawa, Ramdan mengetuk pintu,
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Pak, Bu maaf mengganggu waktunya. Mau ada penting ke Bu Melly" Ucapnya dengan sopan
"Mau di sini atau terpisah,Ndan? Tari sama Alvin kenapa kalian mukanya tegang begitu " kata Bu Melly
"Vin, ada apa di ruang OSIS?" tanya pak Satria
"Gak apa-apa kok pak , Bu" kata Tari
" Bu Melly saya mau minta izin sama ibu, untuk jam pelajaran ibu kami gunakan untuk rapat sebentar mengenai pentas seni karena ternyata dari kelas XI IPA 1 belum ada sama sekali perwakilannya" Kata Ramdan
"Oalah kok bisa gitu ya, ya udah ibu izinkan. Semoga rapatnya lancar, Vin jangan nempel terus ke Tari dong" kata Bu Melly sambil tersenyum
" Terimakasih banyak Bu, kami pamit " Kata Ramdan sambil salim pada semua guru yang ada di ruang guru . Ramdan, Tari dan Alvin pun langsung pergi ke kelas. Didalam kelas sudah pasti geng receh makin receh pas melihat mereka masuk dengan muka tegang
"Vin kamu masih hidup kan?" Kata Bara
"Tenang gue aman kok, " kata Alvin
"udah kalian semuanya diam di bangku masing-masing. Ri, Vin kalian lanjutin di situ biar gue pantau di bangku " Kata Ramdan sambil langsung duduk di bangkunya. Tari dan Alvin langsung membuka diskusi. Tari merasa grogi karena di pantau langsung sama waketos
"Teman - teman pensi akan segera di laksanakan sekitar 3 Minggu lagi jadi diharapkan kita harus sudah ada perwakilan untuk pentas seni mau puisi, mau komedi, mau apapun itu yang penting kelas kita ada perwakilannya secara kelas kita ada kelas unggulan "Kata Tari
"Ri, maaf ya ralat untuk pensi itu 2 minggu lagi"kata Ramdan
" Ohh iya maaf Ndan " kata Tari dengan muka yang merah karena malu
Semua diam , tidak ada yang bersuara mereka sedang memikirkan apa yang harus mereka lakukan. Yang terdengar hanya detak suara
Jam yang ada di dinding kelas
"Ayo dong kerja samanya, aku gak mungkin bisa sendirian, kalau sekarang gak ada perwakilan maka Minggu depan kalian ketua kelasnya ganti saja" Kata Tari sedikit kesal dan prustasi.Melihat Tari yang prustasi tiba-tiba ada yang angkat tangan
" Vin, catat gue nyanyi solo" Kata Ramdan membuat Tari sedikit tenang
" Gue juga nyanyi" Kata Afan
"Ya udah gue nyanyi Vin" kata Tari
"Ri, gue mau puisi.Kamu jadi kan puisi juga?" kata Alvin
" Emang boleh gitu Vin kalau double job " kata Tari dengan muka tegang
" Maaf bantu jawab. Boleh banget mau double job, yang ga boleh ikut double cowok " Kata Ramdan sambil tersenyum manis
"Ya udah berarti Vin aku juga puisi
"Ri,gue ma Karin dance ya" Kata Tiara
"Vin catat semua ya. Ada lagi gak? Kalau ga ada lagi fix ya ini orang - orang yang menjadi perwakilan kelas XI IPA 1"Kata Tari
" Oh iya Ndan file nya udah aku kirim biar nanti kamu langsung kasiin ke kak Arga " Kata Tari sambil tersenyum manis
Tiba-tiba pintu terbuka dan ternyata ada Pajar yang berdiri di pintu
"Maaf ganggu, aku mau ketemu sama neng Tari yang cantik" Kata Pajar sambil melirik secara rahasia ke arah Ramdan
"Ada apa Jar?" Tanya Tari
" Ini gue mau ngasiin daftar perwakilan kelas XI IPA 2 untuk pentas seni, gue pamit ya soalnya pawang mu sudah mengeluarkan tatapan mata yang sangat tajam" Kata Pajar sambil pergi.
Akhirnya Tari sangat bahagia karena beban dia sudah berkurang. Ternyata Ramdan adalah kekuatan buat kelas XI IPA 1, yang tadinya ga ada perwakilan kini gara - gara Ramdan turun gunung maka keberaniannya nular ke teman temannya.
Setelah rapat di tutup, Tari izin duluan ke luar dia berbisik pada Karin kalau dia mau ke toilet dahulu. Sedangkan Ramdan sesudah mantau rapat langsung ke Mushola untuk shalat duha. Sesudah shalat duha dia pergi ke kantin namun dia kaget karena ternyata Tari tidak ada di kantin.
Dengan langkah yang pasti Ramdan melangkah dan duduk di kursi samping Alvin
"Tari mana?kok gak di ajak ke kantin?" ucapnya
" Tadi katanya dia mau ke toilet dulu karena sakit perut " Kata Karin
"Ndan , gimana udah ada belum?" Tanya Arga yang tiba-tiba nongol
"Udah gue kirim filenya " Kata Ramdan
"Thanks ya" Kata Arga sambil pergi menuju ruang OSIS
Tiba-tiba ponselnya Ramdan bergetar dia mengambilnya terlihat Tari memanggil maka dengan cepat Ramdan menerima panggilan tersebut
"Ndan tolongin a...a..aku...a..ku terkunci di toilet, aku ga bisa keluar "
"Ri kamu tenang aku akan segera kesana"
Ramdan gak pakai mikir dua kali. Dia langsung lari secepat kilat ninggalin Alvin sama Karin yang masih bengong di kantin. Persetan sama image Waketos yang kalem, sekarang yang ada di otaknya cuma suara Tari yang ketakutan di telepon tadi.
Pas sampe depan toilet cewek, suasana sepi banget karena emang masih jam pelajaran.
"Ri! Tari! Kamu di dalem?" teriak Ramdan sambil gedor pintu utama.
"Ndan... aku di bilik ketiga. Pintunya macet, gak bisa dibuka dari dalem!" suara Tari kedengeran gemeteran, kayak mau nangis.
Ramdan nyoba buka pintu bilik itu, tapi emang keras banget. Kayaknya ada yang sengaja ngeganjel dari luar pakai kayu atau emang kuncinya udah karatan. Typical drama sekolah, tapi ini nyata.
"Tunggu, munduran dikit, Ri. Aku dobrak ya," kata Ramdan tegas.
BRAKK!
Sekali hantam pakai bahu, pintu itu terbuka. Tari langsung lemes, hampir jatuh kalau gak ditangkap sama Ramdan. Hoodie hitam Ramdan sekarang jadi sandaran buat Tari yang masih syok.
"Aman, udah ada gue di sini.Ri, aku bener bener minta maaf ya aku pegang tubuh kamu karena kamu keadaannya lagi lemes" Bisik Ramdan pelan
Bau parfum woodsy dari hoodie Ramdan entah kenapa bikin Tari ngerasa aman seketika. Ramdan langsung membawa Tari ke UKS dan di UKS Tari di tangani sama Dokter sedangkan Ramdan duduk di sampingnya sambil mengirimkan chat pada seseorang ternyata dia mengirimkan chat pada Alvin
" Vin ajakin Karin dan Tiara ke UKS, sekarang juga"
Alvin typing" Bos siap yang sakit?"
Ramdan Typing"udah cepet buruan sini"
Kemudian Ramdan langsung mencari no kontak Arga dan dia langsung mengirimkan chat
"Bisa ke ruang OSIS sebentar ada masalah ini bahaya"
Arga Typing"gue udah di ruang OSIS lagi ngecek laporan dari panitia pendaftaran pentas seni "
Ramdan Typing"oke tunggu gue datang "
Sesudah mengirimkan chat pada Alvin dan Arga, Ramdan langsung diam bersandar di sofa ruang UKS sambil ngeliatin Tari yang lagi di obatin
"Dia gak apa-apa kok hanya syok aja" kata dokter
" Oh iya makasih " Kata Ramdan
Tiba-tiba masuk Alvin, Karin dan Tiara
"Ndan Tari kenapa?" Tanya Tiara
" Terkunci di toilet, kalian jagain Tari ya jangan kemana-mana tanpa perintah gue, gue mau ke ruang OSIS bentar" Kata Ramdan sedikit panik tapi tenang
" Iya Ndan" kata Tiara
Ramdan pun langsung pergi ke ruang OSIS dan disana ada Arga yang lagi ngecek laporan panitia pendaftaran pentas seni
"Arga, ada masalah dengan kondisi sarana sekolah. Tadi Tari terkunci di toilet tapi gue rasa entah itu emang rusak kuncinya atau emang ada unsur kesengajaan dari tangan jahil" Kata Ramdan
" Toilet mana Ndan?"Tanya Arga
"Toilet yang dekat laboratorium" kata Ramdan
" gue rasa itu ada tangan jahil, karena toilet itu baru kemarin gue ganti kuncinya " Jelas Arga
"Kalau gitu takutnya hal ini kejadian lagi , apalagi ini sudah termasuk pembullyan aku rasa kita harus mengumpulkan anak-anak semua di aula untuk dimintai keterangannya, takutnya nanti malah ada korban lagi kan repot nanti sekolah yang di salahkan " Kata Ramdan
" Gue udah chat Anisa untuk mengumumkan nya , elo lagi panik gitu mendingan sekarang kamu minum nih " Kata Arga
Ramdan dan Arga pun langsung pergi ke aula dan di aula anak-anak sudah berkumpul dengan rasa penasarannya mereka ada apa di kumpulkan. Saat Ramdan masuk tatapan matanya langsung bertemu dengan tatapan mata Tari, Ramdan langsung bilang pada Alvin dengan kode rahasia
" kenapa bisa lolos"
" Kabur " Kata Alvin
Aula sekolah yang luas itu mendadak kerasa sempit dan pengap. Ramdan baru saja kembali dari UKS yang sudah nganterin Tari karena Tari tadi hampir pingsan terkunci di toilet.
Arga berdiri di depan pintu utama aula, menghalangi siapa pun yang mau keluar. Dia melipat lengannya di dada, matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan seperti predator. Suasana benar-benar mencekam; suara detak jam dinding aula sampai terdengar jelas karena saking heningnya.
Ramdan (Suaranya serak karena emosi, dia nendang kursi sampai hancur): "! SIAPA YANG PUNYA IDE GILA INI, TADI ADA SEORANG SISWI YANG TERKUNCI DI TOILET DAN AKU RASA ITU BUKAN KARENA KUNCI RUSAK TAPI ADA TANGAN JAHIL
Gak ada yang berani angkat bicara. Beberapa murid cewek mulai nangis saking takutnya liat Ramdan yang biasanya asik sekarang berubah jadi monster.
Arga (Suaranya tenang tapi bikin merinding, dia melangkah pelan ke tengah kerumunan): "Gue nggak butuh pahlawan di sini. Gue cuma butuh satu nama. Entah itu pelaku, atau saksi mata yang pura-pura tuli."
Ramdan ( Tatapan mata yang tajam)" Aku minta kalian Jujur atau mau Mulut kalian aku robek - robek biar pada jujur semua"
Anisa :" emang siapa yang terkunci nya dan di toilet mana itu?"
Ramdan : " Tari teman sekelas aku yang terkunci di toilet dan toiletnya itu yang di dekat laboratorium "
Anisa: " itu kuncinya baru aku ganti kemarin bahkan Arga langsung yang menggantinya "
Ramdan :" Hayooo siapa yang berani jujur
Saksi Mata (Suaranya bergetar): " Kak aku tadi liat kak Bela yang ada di depan pintu toilet sambil megangin kunci dan tersenyum bahagia"
Begitu nama "Bela" menggema di aula, suasana yang tadinya tegang mendadak jadi vakum udara. Hening. Semua mata tertuju pada Bela yang berdiri di barisan tengah, wajahnya yang tadi sombong mendadak pucat pasi, persis mayat.
Setelah saksi nyebut nama Bela, jangan bikin Arga langsung meledak. Justru bikin dia hening total. Heningnya orang pinter dan berkuasa itu jauh lebih nakutin daripada teriakan.
Ramdan tertawa. Bukan tawa bahagia, tapi tawa sinis yang bikin bulu kuduk semua orang berdiri. Dia melangkah pelan, mendekati meja kayu di depannya, lalu
BRAAAKKK!
Ramdan menggebrak meja itu dengan telapak tangannya sampai bunyinya memantul ke seluruh penjuru aula. Beberapa siswi di barisan depan terlonjak kaget, bahkan ada yang mulai terisak karena takut.
"Bela..." Suara Ramdan rendah, serak, tapi penuh racun. "Lo temen sekelas Arga.Harusnya sebagai kakak kelas itu memberikan perlindungan kepada adik Lo tau Tari punya asma. Dan lo kunci dia di ruangan pengap itu cuma buat liat dia menderita?"
Arga menatap Bela dengan pandangan yang lebih dingin dari es di kutub. 'Ikut gue ke ruang Kepsek sekarang, Bel. Dan jangan harap ada kata maaf yang bisa menyelamatkan posisi lo hari ini.' Arga berbalik tanpa menunggu jawaban, meninggalkan aula yang masih dicekam ketakutan.