Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bittersweet Symphony
Roda mobil bahkan belum benar-benar berhenti ketika Nicholas menyentak pintu dan melompat keluar. Ia tidak memedulikan apapun, apalagi suara berat Adam Whitmore—supir yang sudah mengabdi pada keluarga Harding selama belasan tahun—yang meneriakinya agar tetap di dalam.
Nicholas tidak mendengar apa pun selain gemuruh di kepalanya sendiri yang terasa mau pecah seiring kakinya berderap secepat kilat menembus koridor rumah sakit yang begitu dingin.
Ia berlari secepat macan yang sedang mengejar nyawa. Paru-parunya terasa seperti terbakar, namun kakinya seolah punya kendali sendiri untuk mengejar kemungkinan paling menakutkan yang ingin dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Langkahnya baru terhenti tepat di depan meja resepsionis. Tangannya mendobrak permukaan meja, memaksa perhatian seorang perawat yang tengah sibuk dengan telepon. Perempuan itu luar biasa tersentak karena gebrakan dari anak laki-laki berambut emas perunggu di depannya ini begitu tiba-tiba, menuntut atensi dengan kegelisahan yang nyaris hancur.
"Harding. Arnelia Harding. Where is she?" tanya Nicholas dengan suara bergetar, sebuah perpaduan antara isak tangis yang tertahan dan ketakutan yang menyesakkan.
Kekesalan perawat itu langsung menguap, digantikan oleh kecanggungan yang seolah menyetrum seluruh tubuhnya begitu mendengar nama Harding diucapkan.
Nama itu memang punya kuasa dimanapun Nicholas berada, seolah dengan menyebut nama belakangnya saja, efeknya dapat menyebabkan siapapun langsung mematuhi perintah yang Nicholas inginkan.
Tak kunjung dapat jawaban dari staf yang kini dengan canggung mencari keberadaan orang yang dimaksud Nicholas di layar komputer, dengan brutal Nicholas menggebrak meja lagi seraya melempar teriakan yang menggemparkan semua orang di ruang gawat darurat.
"CEPAT! DI MANA IBUKU SEKARANG?!"
"NICHOLAS HARDING!"
Nicholas berputar cepat ke arah suara berat yang memanggil namanya. Di ambang pintu ruang gawat darurat, ayahnya berdiri di samping seorang dokter dengan wajah semuram langit London sore itu—abu-abu, dingin, dan tanpa harapan.
"Dad, where is she? Where's Mom?" tanya Nicholas dengan napas yang terasa kian berat di dadanya.
Richard Harding tidak langsung menjawab. Ekspresinya sangat muram. Matanya berpindah sejenak ke arah dokter di sebelahnya sebelum kembali menjatuhkan pandangan pada Nicholas yang berdiri dengan air mata mulai menggantung di pelupuk.
Richard kemudian merendahkan tubuhnya, menyejajarkan pandangan dengan mata putra kebanggaannya itu. Satu tangannya yang kokoh meremas bahu Nicholas, menarik bahu kecil putranya itu ke dalam sebuah pelukan.
Pelukan yang diikuti oleh sederet kalimat yang memiliki efek seperti ledakan bom, sanggup meruntuhkan setiap lapisan jiwa Nicholas hingga tak berbekas.
"Ibumu sudah tiada, Nicholas."
°°°°
Sudah tiga hari...
Sudah tiga hari si brengsek itu tidak menampakkan batang hidungnya di Milford Hall.
Ms. Whiterspoon baru saja menutup sesi kelas hari ini dengan segudang tugas yang harus diselesaikan Fraya sebelum libur Natal tiba. Begitu Ms. Whiterspoon menghilang di balik pintu, koridor mulai riuh oleh derap langkah para siswa yang membereskan meja dan berbondong-bondong keluar kelas.
"What a day, huh?"
Louis yang duduk persis di depan Fraya, membalikkan badan sambil melempar senyum separuh.
"Yup. Sepertinya Ms. Whiterspoon paling anti lihat kita malas-malasan menjelang Natal, deh." ujar Fraya seraya menyampirkan tali tas ke bahunya.
Louis berdiri dan mulai berjalan keluar bersisian dengan Fraya. "Kamu biasanya tampak paling bersemangat kalau sudah masuk kelas Mrs. Whiterspoon. But you seem a bit down today."
Fraya mengangkat kedua alisnya, mencoba berkilah secepat mungkin.
"Masa? Sepertinya aku biasa-biasa saja, masih sama seperti kemarin."
Kini ganti Louis yang mengangkat alisnya tinggi-tinggi, menatap Fraya skeptis.
"Really? So it has nothing to do with Damian's absence today, is it not?"
Fraya berdecak sebal dan langsung melengos meninggalkan Louis. Namun, dengan pula cepat cowok itu menyejajarkan langkah mereka kembali sambil terkekeh meledek.
"Kamu mau aku pinjami kaca tidak? Supaya kamu tahu wajahmu sekarang terlihat se mendung apa. Siapa tahu kamu tidak percaya dengan ucapanku."
"Partridge, I'm fine!" tandas Fraya kesal tanpa mau menoleh sedikitpun.
Louis membuat manuver dengan berdiri tepat di depan Fraya untuk memblokir jalan agar cewek didepannya berhenti melangkah.
"Oke, kalau kamu memang tidak kesal seperti yang kamu bilang, bagaimana kalau kamu menemaniku makan siang hari ini? Yah, hitung-hitung bonding pertemanan karena dua minggu terakhir aku banyak absen dari kelas Mrs. Whiterspoon."
Fraya bersedekap, memicingkan mata dengan curiga. "What's your truly agenda, Partridge?"
Louis terkekeh. "Nothing. Aku hanya ingin makan siang denganmu. Diskusi sekaligus update tentang apa saja yang terjadi di Milford selama aku 'menghilang'. Selain dari kegemparan kamu dan Damian yang heboh sekali kemarin itu."
Fraya membuang napas sebal. "Bicaramu seolah-olah kamu baru pulang liburan dari Mars deh sampai butuh life update segala. Lagipula, memangnya cowok dengan reputasi se terkenal kamu tidak punya informan yang bisa memberi kabar seputar sekolah?"
Louis mengangkat kedua bahunya cuek.
"Tidak punya. Fraya, percayalah jika kukatakan aku tidak punya kuasa sebesar itu di sekolah ini sampai punya informan pribadi segala. Ingat ya, aku bukan Damian."
Mendengar nama itu disebut lagi, hati Fraya seperti kembali berdenyut, memikirkan kemungkinan yang terjadi pada Damian yang mendadak hilang bak ditelan bumi. Rasa penasarannya untuk menanyakan keberadaan Damian sudah di ujung lidah, namun mengingat Louis sejak tadi tidak berhenti menggodanya, mau tidak mau Fraya harus mengubur rasa ingin tahunya kuat-kuat.
"Jadi, bagaimana? Aku tunggu di pinggir lapangan baseball jam 12 nanti? You don't have to bring anything for lunch. I'll bring something," kata Louis dengan nada memohon.
Fraya mengembuskan napas panjang, namun akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
"Yes!" Louis berseru tertahan sambil mengepalkan tangan ke udara, seolah ia baru saja memenangkan jackpot. Fraya disebelahnya hanya bisa terkekeh sambil menggelengkan kepala.
Begitu Louis pergi, pikiran tentang Damian yang tadi sempat menguap kembali merangkak masuk tanpa permisi. Rasa penasaran yang masih merangkak didalam raganya itu akhirnya membuat Fraya merogoh saku jas untuk mengeluarkan ponsel yang sejak tadi tidak menunjukkan tanda-tanda adanya kehidupan.
Benar saja, begitu menatap layar ponselnya, ia kembali mengembuskan napas kasar seperti dua hari terakhir ini.
[Tuesday, 12.14] Kamu absen ya hari ini?
[Wednesday, 10.37] Are you okay?
[Thursday, 11.01] Are we going to have German course tomorrow?
Nol jawaban. Fraya jadi malu sendiri.
Desiran aneh di hatinya kemarin mungkin hanya alarm palsu sesaat. Mungkin Damian bukan seperti yang dikatakan Florence tempo hari. Semua tindakan sembrono cowok itu belakangan ini bisa saja hanya demi menjaga pamornya agar tetap terlihat sebagai penakluk perempuan di sekolah ini.
Fraya hendak memasukkan ponselnya kembali ke saku ketika seseorang menabrak bahunya dengan cukup keras dari belakang. Ponsel ditangannya terlepas, jatuh ke lantai dengan bunyi brak yang menggema di koridor sekolah yang mulai sepi.
"Oh my God, I'm so sorry..."
Masih setengah kaget, Fraya langsung berjongkok untuk mengambil ponselnya yang jatuh dalam posisi layar terbalik.
Seseorang di depannya juga ikut berjongkok dengan nada penuh penyesalan.
"Maafkan saya, saya benar-benar ceroboh sekali tadi."
Fraya menatap sekilas pria di depannya. Meskipun sedang panik karena ponselnya tidak menyala, ia sempat tertegun menyadari bahwa yang menabraknya adalah Henry Harrington, guru fisika baru pengganti Mrs. Lockwood yang namanya sedang jadi perbincangan panas di kalangan murid.
"Is your phone okay?" Mr. Harrington menunjuk ponsel di genggaman Fraya, menyentakkan kesadaran Fraya kembali menapak dibumi.
"Tidak. Sepertinya layarnya jatuh duluan, jadi mati total." kata Fraya, dalam hati ingin mengeluh. Namun beberapa hari ini tubuhnya terlalu lelah sampai raganya nyaris tak punya tenaga untuk sekadar melayangkan protes pada semesta atas rentetan kesialannya belakangan ini.
Lagipula, ia tidak mungkin menuntut ganti rugi atau sekadar meloloskan kekesalannya hari ini. Ia mungkin pemberani, tapi bukan berarti Fraya juga bisa kurang ajar.
"It's okay, Sir. I'll fix it later right after school's over," kata Fraya sambil berdiri, diikuti oleh Mr. Harrington yang berdiri menjulang dengan aroma parfum maskulin yang cukup menusuk indra penciuman.
"Boleh saya periksa dulu ponsel kamu? Siapa tahu saya bisa bantu menghidupkannya?" pinta Mr. Harrington sembari mengulurkan tangan.
"No, it's okay, Sir. I'm also late for Historical Class. Saya bisa memperbaikinya nanti."
Mr. Harrington memasukkan satu tangannya ke saku celana hitamnya.
"Kamu ada kelas Mr. Sutton? Tidak apa-apa, nanti saya yang memberitahunya kalau kamu terlambat sedikit. Sekarang biarkan saya periksa dulu. Di zaman sekarang, ponsel itu kebutuhan krusial. Saya tidak mau kegiatanmu terhambat karena benda pintar ini tidak dapat berfungsi karena kecerobohan saya."
Karena malas untuk mendebat, apalagi dengan guru pula, Fraya akhirnya menyerahkan ponselnya.
Mr. Harrington memeriksanya dengan dahi berkerut, lalu mengangguk kecil seolah tahu langkah apa yang harus dilakukan. Ia berjalan pergi begitu saja, membuat Fraya berdiri mematung dengan perasaan bingung.
Baru empat langkah menjauh, pria berwajah campuran Eropa-Asia itu menoleh.
"You coming with me, aren't you? Come on. It won't be long."
Fraya terkesiap sesaat, lalu dengan kikuk mengikuti langkah Mr. Harrington yang kembali berjalan entah kemana didepannya itu.
Lima belas menit kemudian di ruang kerja Mr. Harrington, guru fisika itu menyerahkan ponsel Fraya yang sudah kembali menyala. Fraya tidak tahu apa yang dilakukan pria itu sampai benda tersebut bisa berfungsi lagi.
"Here you go, Ms. Alexandrea."
"Thank you, Sir. That's very kind of you," ujar Fraya sambil memastikan ponselnya aman sebelum dimasukkan ke saku jas.
Ia baru saja hendak berdiri ketika suara Mr. Harrington menahannya.
"Kamu yang namanya sedang ramai diperbincangkan banyak murid di sini, kan?"
Fraya mengerutkan kening. "Excuse me, Sir?"
Mr. Harrington terkekeh samar.
"Well, belakangan ini saya sering mendengar namamu dibicarakan banyak murid. Sepertinya kamu sedang jadi primadona karena punya hubungan dengan salah satu murid paling terkenal sekaligus paling berkuasa di Milford."
Fraya ingin mendesah lagi untuk kesejuta kalinya. Bahkan kedekatannya dengan Damian sampai harus masuk ke ranah perbincangan guru.
Sambil tetap menjaga wibawa yang sudah ia balut kesabaran sebisa mungkin, Fraya menjawab tenang,
"Saya tidak tahu, Sir. Maybe you got a wrong person."
"Tidak," sergah Mr. Harrington cepat.
"Kamu Fraya Alexandrea, kekasih Mr. Harding, kan?"
Fraya ingin sekali mengumpat, tapi demi kesantunan, ia hanya tersenyum enggan.
"Dia bukan kekasih saya, Sir."
"Ah, benarkah? Sayang sekali. Padahal saya mau bilang kalau Mr. Damian Harding sangat beruntung bisa punya kekasih secantik dan sepintar kamu. Kalau saya jadi dia, saya pastikan akan mengejar mu sampai dapat, apa pun rintangannya."
Fraya sedikit terkejut mendengar kalimat tak terduga itu meluncur dari mulut seorang guru. Sejak dibukanya percakapan tidak penting ini, Fraya sudah merasakan keanehan yang seharusnya tidak perlu dibahas apalagi bersama dengan seorang guru seperti Mr. Harrington.
Tapi lagi-lagi, Fraya tetap berusaha menghadapi hari sialnya ini setenang mungkin.
"Terima kasih bantuannya, Sir. Saya izin ke kelas Mr. Sutton."
"Wait, I'll walk you out to Mr. Sutton's class," timpal Mr. Harrington cepat. Ia membukakan pintu untuk Fraya, bersikeras mengantar meski Fraya sudah menolak.
Di depan pintu kelas sejarah, kehadiran Mr. Harrington yang berkharisma mengantar Fraya masuk ke kelas sejarah langsung menyedot perhatian seisi kelas.
Ia menjelaskan alasan keterlambatan Fraya kepada Mr. Sutton, yang langsung memicu siulan genit dari beberapa murid. Mr. Sutton sampai harus berseru untuk meminta para murid kembali fokus pada pelajaran mereka.
Fraya berharap ia lebih baik tenggelam saja di dasar bumi daripada harus menanggung sisa hari ini. Tapi biasanya, semakin Fraya berharap, semakin juga Tuhan menjauhkan jangakauan tangannya dalam membantu seorang Fraya Alexandrea.
Walaupun sudah duduk paling belakang, pun ia masih mampu jadi pusat magnet para murid yang langsung menciptakan bisik-bisik sekaligus melempar rasa penasarannya pada Fraya yang kini duduk merosot di deretan kursi paling belakang sambil menundukkan wajahnya sedalam yang ia bisa.
°°°°
Acara makan siang Fraya dan Louis hari itu berjalan dengan baik dan menyenangkan. Hanya bedanya, ada rasa aneh yang tidak mengenakkan di hati Fraya ketika duduk di sana.
Bangku itu biasanya di isi dengan kegiatan belajar bahasa Jerman bersama Damian, yang biasanya penuh dengan omelan Fraya, dengan suara Damian yang berat namun menyebalkan pada saat ia menyebutkan deretan kalimat bahasa Jerman yang begitu panjang sekaligus rumit hingga bikin Fraya rungsing, serta derai tawa cekikikan di sela sesi belajar mereka jika Fraya sudah sangat suntuk.
Jadi, ada perasaan aneh serta kikuk yang muncul ketika yang dilihat didepan matanya ini bukan sosok Damian yang menyebalkan, melainkan Louis Partridge yang menyenangkan, berwibawa namun terasa mengganjal dihati Fraya. Seperti ada yang kurang pas dengan adanya Louis duduk di bangku tersebut.
Sore harinya setelah bel pulang berbunyi, Fraya pulang diantar Asa Hemmington.
Orang tua Fraya sedang pergi untuk mengurus sesi kemoterapi Mamanya yang dijadwalkan akan memakan waktu lebih dari 2 hari. Jadi selama masa pengobatan, Mama diharuskan untuk dirawat selama 2 hari 1 malam di rumah sakit Nuffield Health Cancer Center London.
Fraya barusaja selesai mandi. Ia menghempaskan tubuhnya yang begitu penat di atas kasur, membiarkan punggungnya menyelam diantara banyaknya bantal yang bertebaran dikasur. Matanya nyaris saja terpejam, membawanya hampir menyelami alam mimpi yang ia harap terisi dengan indah. Namun satu detik menuju ambang kedamaian, suara ponselnya mendadak berdering nyaring, merobek kesunyian di dalam kamarnya.
Fraya seketika melompat berdiri dan menyambar ponselnya yang ia letakkan di nakas meja belajar. Jantungnya nyaris copot, memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi pada Mamanya di rumah sakit.
Namun, yang muncul di layar ponselnya justru nama Damian. Si congkak Damian Harding.
Bukannya lega, jantung Fraya justru rasanya kian berdebar.
Dengan ragu, ia menekan tombol hijau dan menempelkan layar ponsel ke telinganya.
"Hi there."
Fraya mendengar suara Damian di ujung telepon sana. Hatinya kembali menciptakan desiran aneh yang ingin sekali Fraya enyahkan secepat yang ia bisa.
"Ada apa, Damian?" jawab Fraya tanpa basa-basi, membuat cowok di seberang telepon sana langsung terkekeh meledek. Seperti biasanya.
"Kamu lagi kesal, ya?" tanya Damian dengan suara lembut, yang diam-diam bikin Fraya jadi ingin tersenyum.
Fraya menggelengkan kepala, bersikukuh supaya bibirnya jangan sampai memberi senyum untuk si brengsek itu, "Aku sedang lelah, mau istirahat. Kamu mau ngapain telepon malam-malam begini?"
"Memangnya ini sudah malam, ya? Perasaan baru jam 8. Aku lihat langitnya juga masih cerah."
Fraya memandang semburat cahaya oranye keunguan di langit luar kamarnya, yang memang jika di lihat belum menunjukkan tanda kegelapan malam.
Beda dengan di Indonesia yang jam 6 sore saja sudah mulai gelap, matahari baru benar-benar beranjak dari langit London di waktu pukul 9 malam.
Sambil menghela napas, Fraya memberi jawaban lagi, "Aku hari ini sangat lelah, Damian. Jadi cepat katakan kamu mau apa, supaya aku bisa matikan sambungannya dan pergi tidur. Bahkan, sekarang mungkin aku sudah sangat terlelap kalau saja kamu nggak menggangguku dengan menelepon jam segini."
Damian mendesah kecewa yang terdengar dibuat-buat, "Benarkah? Berarti kamu selalu tidur dalam posisi lampu dinyalakan terang benderang gitu, ya?"
Fraya mengerutkan alisnya sejenak. Entah kenapa ia memberi jawaban dengan kebohongan kecil yang meluncur begitu saja dari lidah Fraya,
"Tidak. Aku sudah matikan dari tadi."
"Really? Lalu kenapa di tempatku berdiri sekarang, kamar yang sedang kulihat di depan mataku terang benderang, ya?"
Tubuh Fraya tersentak di tempat. Dan seperti baru saja disetrum listrik, Fraya melangkah menuju jendela kamarnya yang berkaca. Seketika Fraya melongo, sambil menutup bibirnya yang reflek terbuka.
Dari balik jendela kamarnya, Damian sedang berdiri di depan halaman rumah sambil bersandar di sisi mobil di belakangnya dengan satu tangan menempelkan ponsel ke telinga, dan satunya lagi ia masukkan ke dalam saku celana bahannya yang berwarna hitam.
"Kamu sejak kapan di situ?" Fraya tidak bisa menyembunyikan kekagetan dalam suaranya.
Damian terkekeh lagi di sana, tidak menjawab. Alih-alih, cowok berkemeja putih dibalut mantel panjang berwarna cokelat muda dibawah sana justru melayangkan permintaan dengan suaranya yang berat dan rendah tanpa melepaskan pandangan menembus kaca jendela Fraya.
"Can you come down here for a second? Aku butuh lihat kamu lebih dekat, supaya rinduku terobati."
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit