Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 27
Lorong itu telah berubah menjadi kuburan sunyi yang beraroma mesiu.
Namun halaman belakang. Itu adalah panggung eksekusi.
Lampu sorot menyilaukan mata. Bayangan Jay memanjang di atas batu marmer yang basah oleh darah. Di atas menara penjagaan, siluet para sniper tampak jelas. Titik merah laser mulai menari di dada dan keningnya saat Jay sudah sampai di halaman belakang.
Suara dari pengeras tersembunyi menggema pelan.
“Berhenti, Jay.” Suara Jackman rendah dan berat. Dingin dan tak tergoyahkan.
Perlahan, dari balkon utama mansion, sosok pria tua itu muncul. Jas hitamnya tetap rapi meski kekacauan terjadi di mana-mana. Tangannya bersandar santai di pagar besi tempa, seolah ini hanya tontonan malam biasa.
“Lihat dirimu,” lanjutnya. “Kau menodai rumahmu sendiri.”
Jay mengangkat wajahnya. Tatapannya tidak lagi seperti anak yang mencari pengakuan.
Ia tampak seperti musuh.
“Rumah?” suaranya serak namun tegas. “Ini bukan rumah. Ini penjara.”
Beberapa sniper mengokang ulang senjata. Jackman mengangkat satu tangan.
Semua berhenti. Keheningan mencekik.
“Kau pikir kau bisa keluar hidup-hidup?” tanya Jackman datar. “Puluhan senapan mengarah padamu. Satu perintah dariku— kau selesai.”
Jay tersenyum tipis. Jackman menyadari perubahan ekspresi putranya.
Jay tanpa rasa takut mengangkat senjatanya.
Bukan untuk menembak. Melainkan melemparkannya ke tanah.
Clang!
Bunyi logam menggema.
“Aku tidak datang untuk menang malam ini,” ucap Jay lantang. “Aku datang untuk mengakhiri ikatan ini.”
Tatapan ayah dan anak itu saling mengunci. Perang telah resmi dimulai. Jackman tersenyum tipis, senyum yang lebih berbahaya daripada peluru.
“Kau baru saja memilih menjadi musuhku, Jay.”
Jay mundur perlahan, tetap menatapnya.
“Kau yang membuatku menjadi musuhmu.”
Lalu. Tiba-tiba.
Dari sisi timur, mobil hitam meluncur keluar pagar dengan kecepatan tinggi. Tembakan sniper terlambat sepersekian detik.
Jay lebih dulu berlari menerobos bayangan taman, melompati pagar rendah, dan tepat saat rentetan peluru menghantam tanah di belakangnya. Sebuah mobil berhenti mendadak di sampingnya.
Pintu terbuka.
“Masuk Tuan!” teriak Drew.
Jay melompat masuk tepat sebelum peluru menghancurkan kaca belakang.
Mobil melesat meninggalkan mansion yang kini dipenuhi sirene dan teriakan. Di balkon, Jackman berdiri diam. Mansion itu masih berdiri.
Dinasti itu masih utuh.
Namun malam ini. Ia kehilangan kendali atas putranya.
Dan perang antara darah dan kekuasaan baru saja dimulai.
———
Di apartemen Jay, suasana terasa berbeda malam itu—terlalu sunyi.
Anna duduk di tepi ranjang, memangku sebuah kotak P3K kecil. Isinya sederhana dan hampir tak layak pakai lagi. Plester yang mulai menguning, kapas yang kemasannya kusut, obat pereda nyeri yang tanggal kedaluwarsanya sudah lewat berbulan-bulan.
Semua benda itu pernah ia gunakan untuk Jay.
Ia tersenyum tipis, mengingat bagaimana pria keras kepala itu dulu menggerutu saat luka kecilnya dibersihkan. Namun tetap diam, membiarkan Anna menempelkan plester di pelipisnya.
Anna merapikan isi kotak itu perlahan, seolah merapikan kenangan.
Lalu—
Tiba-tiba—
BRAK!
Sebuah hantaman keras mengguncang pintu depan.
Pintu itu tidak sampai jebol, masih berdiri kokoh, namun suaranya memekakkan telinga.
Anna tersentak.
Perlahan ia bangkit dan melangkah keluar kamar dengan hati-hati, berharap semua itu hanya kesalahpahaman.
Baru beberapa langkah menyusuri koridor—
“DOR!” Suara tembakan meledak.
“Aaah…!” Jerit Anna terkejut. Napas Anna tercekat. Tubuhnya membeku.
Langkah kaki terdengar di luar—cepat, teratur, penuh kendali.
Seseorang sedang berada di dalam apartemen itu.
“Ada apa ini?”
“Ada apa ini…?” bisik Anna nyaris tak bersuara.
Belum sempat ia melangkah lebih jauh—
BRAK!
Pintu depan akhirnya jebol. Engselnya terlepas, kayu terbelah. Beberapa pria bertopeng menerobos masuk dengan gerakan cepat dan terlatih.
“Amankan Nona Anna!” teriak salah satu dari pengawal Jay.
“Siap!” Teriak mereka semua dan kemudian membentuk brigade dengan senjata yang mereka punya.
Anna sangat terkejut, dengan pemandangan yang baru pertama kali ia saksikan. Namun ada yang lebih membuatnya terkejut, beberapa orang tiba-tiba sudah menodongkan senjata pada Anna.
Seolah tidak melewati brigade para pengawal. Jantung Anna berdegup. Wajah Anna pucat pasi.
“DOR!”
“DOR!”
Akhirnya musuh yang menodongkan senjata terkapar di depan Anna, di tembak mati pera pengawal Jay.
Dua orang langsung maju menyisir ruang tamu dengan posisi siaga. Satu lainnya menutup akses ke dapur.
Tiba-tiba pertahanan pengawal Jay memiliki celah, penyergapan itu seolah tak ada habisnya.
Anna mundur refleks, jantungnya serasa berhenti berdetak ketika beberapa orang kembali masuk ke dalam ruangan.
“DOR!”
“DOR!”
Namun sebelum salah satu pria itu mencapai koridor
“DOR!”
Tembakan demi tembakan terus melesat berseliweran di depan mata Anna.
“Kenapa.. mereka… menargetkanku.” Kata Anna tak mengerti.
Seorang pria.
Pria-pria berseragam gelap kemudian muncul dari tangga darurat. Mereka bergerak presisi—terlatih, tanpa ragu. Seolah itu adalah bala bantuan.
Baku tembak pecah.
DOR! DOR! DOR!
Peluru terus saja menghantam dinding, memecahkan kaca, membuat serpihan beterbangan. Ruang tamu berubah menjadi medan pertempuran sempit.
Anna menjerit pelan dan merunduk di balik sofa, menutup kepalanya dengan kedua tangan. Tangannya gemetar hebat. Napasnya tersengal, tak teratur.
Salah satu pria bayaran berhasil menerobos ke arah koridor lagi.
Ia melihat Anna.
“Di sana!”
Pria itu melangkah cepat, namun sebelum sempat meraihnya—
Bruk!
Salah satu pengawal Jay menghantamnya dari samping. Keduanya bergulat, saling pukul dan banting di atas lantai marmer yang kini dipenuhi serpihan kaca.
Suara tembakan kembali memekakkan.
Jeritan.
Benturan tubuh.
Semua terjadi terlalu cepat.
Anna hanya bisa meringkuk, air matanya mengalir tanpa ia sadari.
Lalu—
Tiba-tiba suasana berubah.
Langkah kaki terdengar dari pintu utama yang sudah rusak.
Tenang.
Tidak terburu-buru.
“DOR!” Satu tembakan.
Seorang pria bayaran yang hendak mengangkat senjata langsung jatuh.
“DOR!”
Tembakan kedua, ketiga. Keempat dan kelima.
Yang lain tersungkur sebelum sempat berbalik.
Semua orang di ruangan itu membeku sepersekian detik.
Jay berdiri di ambang pintu.
Wajahnya keras. Matanya dingin. Pistol terangkat stabil di tangannya.
Ia melangkah masuk dengan santai, seolah kekacauan ini bukan apa-apa.
DOR.
Tembakan terakhir mengakhiri perlawanan.
Sunyi.
Hanya tersisa napas berat dan suara benda jatuh perlahan.
Pengawal Jay mundur memberi ruang.
Jay menurunkan pistolnya perlahan saat matanya menemukan satu sosok yang meringkuk di balik sofa.
Anna.
Tubuhnya gemetar.
Jay membuang pistolnya begitu saja ke lantai.
Clack.
Tanpa berkata apa pun, ia berjalan cepat menghampirinya.
“Anna…”
Suaranya berubah. Tidak lagi dingin. Tidak lagi keras.
Lututnya menyentuh lantai saat ia menarik Anna ke dalam pelukannya.
Anna memeluknya erat, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, dunia akan runtuh.
“Aku takut…” suaranya pecah.
Jay menutup matanya sesaat, menahan amarah yang mendidih di dadanya.
Tangannya mengusap rambut Anna perlahan.
“Aku di sini,” bisiknya tegas. “Tidak ada yang akan menyentuhmu lagi.”
Di belakang mereka, para pengawal mulai membersihkan sisa kekacauan.
Namun bagi Jay—
Malam ini bukan sekadar serangan.
Ini adalah pernyataan perang.
Dan siapa pun yang mencoba menjadikan Anna sebagai kelemahannya—
Baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidup mereka.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
awas ya zavier jgn jtuh cnta am anna klo kmi udh liat dia
udh masuk part dar der dorrr