Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35
Keesokan harinya, suasana di rumah sakit khusus anak-anak itu terasa sedikit berbeda. Selama ini, kehadiran Anna tidak pernah menjadi perhatian, namun kali ini, iring-iringan mobil hitam yang mengawal di belakangnya memberikan kesan yang lebih mengancam.
Jay benar-benar menepati janjinya; ia mengirimkan tim pengamanan terbaiknya untuk menjaga setiap jengkal langkah Anna.
Anna melangkah masuk ke bangsal pediatrik dengan senyum yang merekah, seolah-olah beban ketegangan di kediaman Jay semalam tidak pernah ada.
Di tangannya, ia membawa beberapa tas besar berisi mainan, buku gambar, dan paket edukasi yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.
Begitu pintu bangsal terbuka, suara riuh rendah anak-anak menyambutnya. Bagi mereka, Anna bukan sekadar donatur; ia adalah “Kakak Peri” yang membawa warna di tengah putihnya dinding rumah sakit dan aroma tajam obat-obatan.
“Anna!” seru seorang bocah laki-laki berkepala plontos bernama Leo. Ia berlari kecil dengan tiang infus yang beroda di sampingnya.
Anna berjongkok, menyamakan tingginya dengan Leo, lalu mengusap pipi bocah itu dengan lembut.
“Lihat apa yang kubawa untukmu, Leo. Robot yang kau minta minggu lalu.”
Mata Leo berbinar. Di sudut ruangan, anak-anak lain mulai berkumpul. Anna membagikan hadiah-hadiah itu satu per satu, mendengarkan cerita mereka tentang pengobatan yang menyakitkan, atau sekadar impian mereka untuk bisa bermain bola lagi.
Untuk sejenak, Anna melupakan situasi tegangnya dan posisi sulitnya di sisi Jay semenjak ia mengenal Jay, di sini, ia merasa berguna secara murni.
Namun, di balik keceriaan itu, para pengawal Jay berdiri kaku di setiap sudut pintu keluar dan selasar rumah sakit. Mereka berkomunikasi melalui earpiece, mata mereka yang tajam terus menyapu setiap orang yang lewat—perawat, dokter, hingga pengunjung lain.
Tanpa sepengetahuan Anna, salah satu pengawal yang berdiri di dekat jendela kaca besar menyipitkan mata. Di seberang jalan, sebuah mobil van hitam dengan kaca gelap terparkir dalam durasi yang terlalu lama.
“Unit 1, ada pergerakan mencurigakan di sektor utara. Tetap waspada, jangan biarkan target menyadari,” bisik pengawal itu ke mikrofon kecil di kerah bajunya.
Anna, yang saat itu sedang asyik membantu seorang gadis kecil mewarnai, merasakan getaran di ponselnya. Sebuah panggilan suara dari Jay masuk.
“Sayang apa menyenangkan di rumah sakit bertemu anak-anak? Tapi sepuluh menit lagi, kau harus sudah di dalam mobil. Jangan membantah, Sayang.”
Senyum Anna perlahan memudar. Ia menatap anak-anak di sekelilingnya dengan tatapan nanar. Kebebasan yang ia perjuangkan dengan sentuhan manja semalam ternyata hanya bertahan beberapa jam sebelum bayang-bayang dunia Jay kembali menariknya ke dalam sangkar emas.
Tapi bagaimana lagi, dia sudah menjadi bagian dari kehidupan Jay, seorang pria yang mencintainya bahkan sebelum ia menengenal sosok Jay, pria itu sudah mencintainya. Bagaimana bisa Anna akan menyerah? Tidak. Anna tidak akan menyerah meski kebebasanya terkekang.
“Iya aku akan kembali Jay. Tunggu aku.” Kata Anna tersenyum.
Suasana di luar rumah sakit terasa lebih mencekam daripada yang Anna bayangkan. Meskipun ia berusaha bersikap tenang di depan anak-anak tadi, peringatan Jay melalui pesan singkat terus terngiang di kepalanya.
Namun, saat iring-iringan mobil mulai membelah jalanan kota yang padat, mata Anna tertumpu pada sebuah gerobak kecil di pinggir jalan yang menjajakan kembang gula berwarna merah muda yang mencolok.
Ternyata ada taman yang sedang mengadakan acara karnaval.
Seketika, memori masa kecil melintas di benaknya. Ia teringat Jay—pria yang hidupnya penuh dengan kemewahan, senjata, dan intrik politik yang kaku. Anna yakin, Jay yang dingin itu pasti belum pernah mencicipi manisnya kembang gula yang sederhana ini.
“Berhenti sebentar,” pinta Anna lembut namun tegas kepada sopir dan pengawal di sampingnya.
“Nona, instruksi Tuan Jay adalah langsung kembali ke kediaman,” sahut salah satu pengawal dengan nada waspada.
“Hanya lima menit. Aku ingin membeli kembang gula untuk Jay dan beberapa jajanan tradisional lainnya. Dia pasti menyukainya,” Anna memberikan senyum manis yang sulit ditolak, jenis senyum yang sama yang ia gunakan untuk meluluhkan Jay semalam.
Mobil akhirnya menepi di dekat sebuah taman kota yang sedang sangat ramai. Sial bagi para pengawal, taman itu tengah menyelenggarakan sebuah pentas seni rakyat. Ratusan orang berlalu-lalang, musik keras berdentum dari panggung utama, dan kerumunan penonton tumpah ruah hingga ke trotoar.
Anna turun dari mobil dengan langkah ringan, diikuti oleh empat pengawal yang langsung membentuk barikade manusia di sekelilingnya.
Namun, kepadatan massa benar-benar di luar kendali. Saat mereka mendekati penjual kembang gula, sekelompok pemain akrobat jalanan dengan kostum warna-warni melintas di antara mereka, memecah barisan pengawal.
Nona Anna! Tetap di dekat kami!” seru salah satu pengawal, namun suaranya tenggelam oleh sorak-sorai penonton dan dentuman musik.
Anna terpaku sejenak saat melihat awan manis berwarna merah muda itu diputar di atas lidi. Ia tersenyum membayangkan wajah Jay saat mencicipinya nanti.
Namun, tepat saat ia merogoh dompetnya, sebuah dorongan keras dari kerumunan membuatnya terhuyung.
Kekacauan itu terjadi begitu cepat dan rapi. Sebuah bom asap kecil tiba-tiba meledak di dekat kaki para pengawal, menciptakan kepulan putih yang menyesakkan mata.
Dalam hitungan detik, pandangan semua orang terganggu.
“Nona!” teriak pengawal utama, meraba-raba dalam kabut asap.
Saat asap menipis, penjual kembang gula itu masih di sana, namun sosok Anna telah lenyap. Kembang gula yang baru saja ia beli jatuh tergeletak di aspal, terinjak-injak oleh kerumunan yang panik.
Di kejauhan, sebuah mobil van hitam—yang sempat terlihat di rumah sakit tadi—melesat pergi meninggalkan taman dengan kecepatan tinggi.
Anna telah dibawa pergi.
Di tengah keriuhan pesta yang seharusnya menyenangkan, kebebasan singkat yang ia minta justru menjadi celah bagi musuh-musuh Jay untuk menyerang titik terlemah sang penguasa: wanita yang ia cintai.
Suasana di ruang kendali bawah tanah yang semula bising dengan denting papan ketik dan frekuensi radio, mendadak senyap mencekam.
Drew berdiri mematung, ponsel di tangannya terasa seberat timah.
Di ujung telepon, suara pengawal utama terdengar gemetar, melaporkan kekacauan di taman dan hilangnya Anna dalam kabut asap.
Drew menelan ludah yang terasa kering. Ia melirik punggung Jay yang tegap, berdiri di depan deretan monitor raksasa yang masih menampilkan grafik pelacakan sinyal telepon misterius semalam.
Seolah Drew tahu bahwa saat ini adalah waktu yang tepat merasakan kemurkaan Jay.
“Tuan...” suara Drew pecah, nyaris tak terdengar.
Jay tidak menoleh.
Matanya masih terpaku pada layar, namun firasatnya menangkap getaran ketakutan dalam suara tangan kanannya.
“Katakan, Drew. Jangan membuatku menunggu.”
“Nona Anna... Para pengawal, kehilangan jejaknya di taman kota. Ada serangan terencana di tengah kerumunan pentas seni. Dia... Dia dibawa pergi, Tuan.”
Bersambung
tpi bgitu la wanita 😅🤭
siapa ni yg nyulik anna, zavier kah atwa si penelepon misterius 🤔
gak kebyang semurka apa c jay skrg...
thor hayu up lagiii 😁