Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISTEM YANG MULAI BERGERAK
Langit pagi terlihat seperti kaca buram.
Awan menggantung rendah, menyelimuti halaman rumah Arka dengan warna kelabu yang terasa berat. Udara tidak dingin, tapi Nayla merasakan hawa yang menekan—seolah pagi itu datang membawa peringatan yang belum berbentuk kata.
Ia berdiri di dekat jendela kamarnya, tirai sedikit terbuka. Kamera kecil di sudut pagar berputar pelan mengikuti pergerakan tirai. Mata tak terlihat itu selalu ada, selalu tahu.
Ia menoleh ke meja kecil di sudut kamar.
Tas kecilnya terletak rapi di sana.
Di dalamnya, tersembunyi map LARAS WIDYA—dan selembar catatan yang terasa seperti pesan dari masa lalu.
Rumah ini bukan rumah. Ini ruang tunggu.
Kata-kata itu seperti pintu yang baru saja terbuka di kepalanya. Jika ini ruang tunggu, maka apa yang ditunggu?
Keputusan.
Atau penghapusan.
Nayla menghela napas panjang. Ia menyelipkan tas itu ke dalam lemari, di balik tumpukan pakaian yang jarang ia pakai, lalu berbalik ketika pintu kamarnya diketuk.
Pelayan masuk membawa sarapan.
“Selamat pagi, Nyonya.”
Nayla mengangguk kecil. “Pagi.”
Ia melirik lorong di balik pintu. Ada dua pelayan lain berdiri di ujung lorong—posisi mereka seperti tidak kebetulan.
“Apakah… hari ini ada tamu?” tanya Nayla, mencoba terdengar biasa.
Pelayan itu ragu sepersekian detik. “Tidak ada tamu yang dijadwalkan, Nyonya.”
“Arka di mana?”
“Di ruang kontrol.”
Nayla mengernyit. “Ruang kontrol?”
“Ruang kerja sisi timur, Nyonya.”
Pelayan itu menunduk dan keluar.
Pintu tertutup.
Namun, Nayla tahu: pagi ini bukan pagi biasa.
Ruang kerja sisi timur adalah bagian rumah yang jarang ia masuki. Lorong menuju ke sana lebih sempit, dengan lampu-lampu kecil yang menyala redup. Di beberapa titik, ada panel kaca kecil yang memperlihatkan rangkaian kabel dan perangkat elektronik—seperti tulang punggung sebuah mesin besar.
Ia berdiri di depan pintu baja tipis.
Kali ini, pintu itu tidak terkunci.
Ia masuk.
Ruang itu tidak seperti ruang kerja Arka yang biasa. Ini lebih menyerupai pusat kendali. Dindingnya dipenuhi layar—beberapa menampilkan denah rumah, beberapa menampilkan daftar akses, dan satu layar besar menampilkan tabel nama.
Arka berdiri di tengah ruangan, jasnya rapi seperti biasa, tangan bersedekap di depan dada.
“Kamu bangun lebih awal,” katanya.
“Aku ingin tahu apa yang terjadi,” jawab Nayla. “Pelayan bilang ini ruang kontrol.”
“Benar.”
Nayla melangkah lebih dekat, matanya menelusuri layar-layar itu.
Ia melihat kolom yang membuat dadanya menegang.
NAME — STATUS — ACCESS — NOTES
Beberapa nama ia kenal.
Mira Hapsari — Completed
Rania Putri — Completed
Sinta Prameswari — Completed
Dan di baris paling atas:
Nayla Ratnadi — ACTIVE — LIMITED
Nayla menelan ludah. “Apa arti ‘Limited’?”
Arka menoleh ke layar itu. “Aksesmu dikurangi.”
“Karena aku bertanya terlalu banyak?”
“Karena kamu mulai bergerak.”
Nayla mengangkat wajahnya. “Aku hanya ingin tahu.”
“Keinginan tahu adalah awal dari pergi,” jawab Arka.
Nayla menghela napas. “Lalu Laras?”
Nama itu membuat Arka menegang, hampir tak terlihat—tapi Nayla menangkapnya.
“Dia Pending,” lanjut Nayla. “Kenapa hanya dia?”
Arka menatap Nayla lama.
“Karena dia tidak menunggu.”
“Dan aku?” tanya Nayla. “Aku menunggu?”
Arka mendekat satu langkah. “Kamu masih di sini.”
“Karena kamu menahanku.”
“Aku menjagamu.”
“Kamu membatasi dunia agar aku tidak punya pilihan,” balas Nayla. “Itu bukan menjaga. Itu mengurung.”
Arka tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke layar lain—sebuah grafik garis yang naik turun.
“Lihat ini,” katanya. “Ini tingkat kepatuhan.”
Nayla mengikuti arah jarinya.
Garis biru berlabel NAYLA menunjukkan fluktuasi yang tidak stabil.
“Kamu tidak konsisten,” lanjut Arka. “Itu berbahaya.”
“Berbahaya bagi siapa?” Nayla bertanya.
Arka menatapnya. “Bagi sistem.”
“Dan sistem itu lebih penting dari aku?” Nayla bertanya lirih.
Arka terdiam.
Keheningan itu adalah jawabannya.
Siang itu, Nayla kembali ke kamarnya dengan perasaan seperti baru saja keluar dari ruangan tanpa udara. Ia duduk di tepi ranjang, memejamkan mata, mencoba menata ulang pikirannya.
Ini bukan rumah. Ini ruang tunggu.
Ia membuka lemari dan mengeluarkan tas kecilnya. Map Laras terasa lebih berat dari yang seharusnya.
Ia membuka map itu kembali.
Di bagian belakang, ia menemukan lipatan kertas kecil yang sebelumnya tidak ia perhatikan. Ia membukanya perlahan.
Di sana, tertulis serangkaian angka dan satu kalimat pendek:
Pintu servis, lorong barat, 02.40.
Nayla mengernyit.
Waktu? Atau sandi?
Ia menatap jam dinding.
Masih siang.
Tapi untuk pertama kalinya sejak ia memasuki rumah ini, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan hanya takut.
Harap.
Di luar tembok tinggi itu, Raka duduk di sebuah kedai kopi kecil, laptop terbuka di depannya. Ia menatap layar yang menampilkan potongan laporan lama, kontrak rumah sakit, dan catatan perusahaan cangkang.
Nama ARKA WIRATAMA muncul berulang-ulang.
Ia mengusap wajahnya, lelah, tapi tekadnya semakin keras.
Ia baru saja menemukan satu catatan kecil dari laporan keamanan lama:
Program Retensi — fase percobaan.
Raka mengetik cepat, menelusuri arsip-arsip lama.
Satu nama muncul.
LARAS WIDYA — STATUS: HILANG.
Dan catatan berikutnya:
Kasus dihentikan atas permintaan sponsor.
Sponsor.
Raka mengepalkan tangan.
“Na,” gumamnya, “kamu bukan orang pertama yang terjebak.”
Malam tiba.
Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, membentuk koridor cahaya yang rapi. Nayla berbaring di ranjang, berpura-pura tidur ketika pelayan mengecek kamarnya.
Pintu tertutup.
Lampu diredupkan.
Ia menunggu.
Jam dinding berdetak pelan.
02.12.
02.20.
02.33.
Jantung Nayla berdegup semakin cepat.
02.38.
Ia bangkit perlahan.
Mengambil tas kecilnya.
Menyelinap keluar kamar.
Lorong gelap, hanya diterangi lampu darurat kecil. Kamera di sudut langit-langit bergerak pelan—tapi tidak menyorot langsung ke arahnya.
Ia melangkah cepat tapi hati-hati.
Lorong barat.
Ia menemukan pintu kecil di balik rak hias.
Pintu servis.
Panel kecil di samping pintu menyala redup.
Ia teringat rangkaian angka di kertas Laras.
Dengan tangan gemetar, ia menekan angka-angka itu.
Panel berbunyi klik pelan.
Pintu terbuka setengah.
Nayla menahan napas.
Ia melangkah masuk.
Lorong sempit di baliknya terasa dingin dan lembap—berbeda dari marmer hangat rumah Arka. Ini bukan bagian yang ingin ditunjukkan rumah pada penghuninya.
Ia berjalan beberapa langkah.
Tiba-tiba, lampu kecil di lorong menyala.
Tulisan digital muncul di dinding:
ACCESS DETECTED
Nayla membeku.
Ia menoleh.
Di ujung lorong, lampu lain menyala satu per satu, seperti mata yang membuka.
Dan dari speaker kecil di langit-langit, terdengar suara Arka—tenang, datar, namun terasa lebih dekat dari seharusnya.
“Nayla,” katanya pelan.
“Kamu sedang bergerak.”
Nayla menelan ludah.
“Dan sistem… tidak menyukai kejutan.”
Di luar, hujan mulai turun.
Dan di dalam rumah itu, untuk pertama kalinya, sistem yang rapi mulai menunjukkan retakannya.
ACCESS DETECTED.
STATUS: ACTIVE.
CORRECTION PENDING.
Nayla menggenggam tas kecilnya.
Ia tahu—
jika ia mundur sekarang, ia mungkin tidak akan pernah mencoba lagi.
Dan jika ia maju…
tidak ada jaminan ia akan kembali.