Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.
Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Nana Minta Putus
Dimas menoleh cepat. “Saya mau ketemu Nana.”
Jordan menatapnya sejenak—menilai, bukan menghakimi. “Nama Anda?”
“Dimas.”
“Hubungan Anda dengan Nana?” tanya Jordan lagi, nada suaranya tetap datar.
Dimas menelan ludah. “Saya… calon suaminya.”
Jordan mengangkat alis tipis. “Calon?”
“Iya,” jawab Dimas cepat. “Kami belum menikah, tapi keluarga sudah tahu. Saya yang terakhir bersamanya sebelum… sebelum semua ini.”
Jordan tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah gerbang, lalu kembali menatap Dimas.
“Secara prosedur,” katanya tenang, “kami tidak bisa sembarang mengizinkan kunjungan. Apalagi dari pihak yang—”
“Saya nggak mau bikin dia tambah stres,” potong Dimas, suaranya bergetar. “Saya cuma mau pastikan dia baik-baik saja.”
Hening sejenak.
Jordan memperhatikan raut wajah Dimas—kecemasan yang tidak dibuat-buat, kelelahan yang serupa dengan yang ia lihat di mata Nana semalam.
“Baik,” kata Jordan akhirnya. “Saya akan izinkan. Tapi dengan syarat.”
Dimas menatapnya penuh harap. “Apa pun.”
“Pertemuan singkat. Di ruang terbuka. Dan kalau Nana tidak siap, Anda harus menghormatinya.”
Dimas mengangguk cepat. “Saya mengerti.”
Jordan memberi isyarat pada petugas. Gerbang besi terbuka perlahan.
“Silakan masuk,” ucap Jordan. “Saya akan dampingi.”
Dimas melangkah masuk dengan langkah ragu, dadanya berdebar keras.
Di dalam, Nana sedang duduk di bangku taman kecil, memegang cangkir kosong. Ketika ia mendongak dan melihat sosok yang begitu dikenalnya, napasnya tertahan.
“Dimas…?” suaranya hampir tak keluar.
Dimas berhenti beberapa langkah dari hadapannya.
“Nana,” panggilnya lirih.
Wajah Nana sempat berbinar sesaat. Mata yang sejak tadi redup itu berkilat kecil ketika melihat Dimas benar-benar berdiri di hadapannya—utuh, nyata, bukan bayangan semalam.
“Dimas…” ulangnya pelan, nyaris seperti anak kecil yang memastikan mimpi.
Dimas melangkah satu langkah lebih dekat, lalu berhenti, mengingat syarat yang barusan disampaikan Jordan. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
“Kamu… gimana?” tanyanya hati-hati. “Kamu baik-baik saja?”
Nana mengangguk refleks. Senyumnya muncul, tipis dan rapuh. Ada rasa hangat menjalar di dadanya—rasa bahwa masih ada seseorang yang datang mencarinya.
Namun hangat itu hanya bertahan beberapa detik.
Suara lain menyusup ke kepalanya.
Anak kami sarjana. Masa depannya bagus. Kenapa harus kepikiran nikah sama anak kampung!
Kata-kata itu muncul begitu jelas, begitu tajam, seolah ibunya Dimas berdiri di samping bangku taman ini dan mengucapkannya lagi.
Senyum Nana perlahan memudar.
Ia menunduk, menatap cangkir kosong di tangannya. Jari-jarinya mengusap bibir cangkir tanpa sadar.
“Aku senang kamu datang,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan. “Beneran.”
Dimas menghela napas lega. “Aku khawatir. Mereka nggak ngasih kabar apa-apa.”
Nana mengangguk kecil, lalu mengangkat wajahnya kembali. Tatapannya kini berbeda—lebih tertutup, lebih hati-hati.
“Tapi…” katanya ragu, lalu berhenti sejenak, menelan ludah. “Kamu sebaiknya pulang saja, Mas.”
Dimas tersentak. “Kenapa?”
Nana tersenyum—senyum yang tidak sampai ke mata.
“Aku di sini baik-baik saja,” katanya cepat, seolah ingin meyakinkan. “Ada dokter yang baik. Aku aman.”
“Itu bukan jawabanku,” kata Dimas lirih. “Apa aku salah datang?”
Nana menggeleng cepat. “Bukan.”
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Aku cuma… nggak mau bikin kamu tambah susah,” lanjutnya. “Ucapan ibumu… aku masih ingat.”
Dimas terdiam. Rahangnya mengeras.
“Kamu dengar itu,” katanya pelan, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.
Nana mengangguk. “Dan aku ngerti.”
Ia bangkit dari bangku, menjaga jarak setapak. Seperti tembok tak terlihat yang tiba-tiba berdiri di antara mereka.
“Kamu punya masa depan,” katanya lirih. “Aku sekarang… cuma masalah.”
Dimas melangkah refleks, lalu berhenti lagi. “Jangan bilang gitu.”
Nana tersenyum lagi, kali ini lebih pahit.
“Biar aku yang berhenti duluan,” ucapnya pelan. “Lebih gampang daripada kamu yang nanti disuruh memilih.”
Dimas membuka mulut, ingin membantah—namun tatapan Nana menghentikannya. Tatapan orang yang sudah terlalu lelah untuk bertahan.
“Aku minta satu hal saja,” lanjut Nana. “Pulanglah. Jangan datang lagi dulu. Biar aku… beresin diriku sendiri.”
Jordan yang berdiri tak jauh mengamati dengan tenang, namun matanya mengeras. Ia tidak ikut campur, tapi mencatat setiap perubahan ekspresi Nana.
Dimas menghela napas berat. “Kalau itu yang kamu mau, aku gak akan pergi. Aku pengen nemenin kamu di sini."
Nana tersentak mendengar kalimat itu.
“Aku nggak akan pergi.”
Kata-kata Dimas terdengar hangat—terlalu hangat untuk hati Nana yang sedang rapuh. Harusnya ia senang. Harusnya ia lega. Tapi justru dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.
“Dimas…” suaranya bergetar.
“Aku serius,” lanjut Dimas, melangkah setengah langkah lebih dekat. “Aku nggak peduli omongan siapa pun. Aku mau di sini. Nemenin kamu. Kalau kamu harus di sini, aku juga—”
“Jangan,” potong Nana cepat.
Suaranya meninggi, membuat Dimas terdiam. Bahkan Jordan yang berdiri agak jauh ikut menajamkan perhatian, meski tetap tidak mendekat.
Nana menggeleng pelan, lalu lebih keras. Air matanya mulai jatuh tanpa bisa dicegah.
“Jangan ngomong gitu,” katanya sambil terisak. “Kamu nggak ngerti.”
Dimas menatapnya bingung dan cemas. “Yang aku nggak ngerti apa?”
Nana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah—kali ini tidak lagi sunyi. Bahunya bergetar, napasnya tersengal.
“Aku capek, Mas…” isaknya. “Capek jadi alasan orang bertengkar. Capek jadi bahan omongan. Capek ngerasa kecil di hidup orang lain.”
Dimas maju refleks, lalu berhenti lagi. Tangannya terangkat, ragu antara ingin memeluk atau menahan diri.
“Kamu bukan beban,” katanya lirih. “Bukan masalah.”
Nana mengangkat wajahnya. Air mata membasahi pipinya, matanya merah dan penuh luka.
“Tapi aku merasa begitu,” katanya. “Setiap kali aku lihat kamu, aku ingat ibumu. Ingat caranya dia lihat aku—kayak aku ini kesalahan.”
Ia tertawa kecil di sela tangis. Tawa yang hampa.
“Aku bahkan nggak bisa marah,” lanjutnya. “Karena mungkin… dari sudut pandangnya, dia benar.”
“Tidak,” bantah Dimas cepat.
“Mas,” Nana menggeleng, suaranya melemah. “Aku sekarang di tempat kayak gini. Kamu sarjana. Masa depanmu panjang. Aku nggak mau kamu terus datang ke sini dan pelan-pelan… malu punya aku.”
Dimas membuka mulut, namun Nana lebih dulu melanjutkan, suaranya gemetar tapi tegas.
“Aku nggak mau kamu berkorban sampai akhirnya kamu nyesel.”
Air mata Nana jatuh semakin deras. Ia mengusapnya kasar, tapi tidak berhenti.
“Makanya…” katanya terputus-putus, “…lebih baik kita berhenti sekarang.”
Kata itu menggantung di udara.
Berhenti.
Dimas terpaku. “Apa?”
“Kita putus saja!"
***
Bersambung...