Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.
" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~
"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~
Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran tidur
Lampu ruang ICU menyala temaram. Bau antiseptik menggantung pekat di udara, berpadu dengan bunyi mesin yang selama berbulan-bulan hanya mengulang nada yang sama—datar, sabar, nyaris putus asa.
Namun malam itu…
ada yang berbeda.
“Bip… bip… bip—”
Seorang perawat yang sedang mencatat di meja perawat mendadak mengangkat kepala. Alisnya berkerut. Ia menoleh ke monitor jantung di salah satu ranjang.
“Eh…?” gumamnya pelan.
Garis yang selama ini lurus mulai beriak kecil. Tak stabil, tapi nyata.
Ia berdiri, melangkah cepat mendekat. “Pak Arelion?”
Tubuh laki-laki itu masih terbaring kaku, wajahnya pucat dengan selang pernapasan terpasang rapi. Kelopak matanya tertutup rapat, tak menunjukkan tanda sadar sedikit pun. Namun monitor di sampingnya tak lagi setenang biasanya.
Detak jantungnya meningkat.
Bukan drastis..
namun cukup untuk membuat jantung sang perawat ikut berdegup lebih cepat.
Ia menekan tombol panggil dokter.
Tak lama, dokter jaga masuk dengan langkah cepat. “Ada apa?”
“Detak jantung pasien meningkat sejak satu menit lalu. Ini bukan respon kejang… seperti ada stimulus lain,” jawab perawat itu, suaranya menahan heran.
Dokter mendekat, menatap layar monitor lama. Lalu matanya beralih pada wajah Arelion.
“Kadar oksigen stabil… tekanan darah naik tipis,” gumamnya. “Aneh.”
Ia menyorotkan senter kecil ke mata Arelion, memeriksa refleks pupil. Tak ada reaksi. Namun..
Jari Arelion.
Sedikit bergerak.
Nyaris tak terlihat. Seperti refleks yang ragu untuk hidup kembali.
Perawat itu menahan napas. “Dok… jari pasien—”
Dokter menoleh cepat. Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah.
“Kita catat. Ini respon pertama sejak koma.”
Sementara di lain tempat ,
Telepon itu berdering di ruang tunggu rumah besar yang telah lama dipenuhi sunyi.
Nada deringnya singkat, namun cukup untuk membuat jantung seorang wanita paruh baya berdebar tak karuan.
“Ada perkembangan,” ujar suara di seberang sana, tenang namun penuh tekanan. “Kami mohon keluarga segera datang ke rumah sakit.”
Tak butuh waktu lama.
Mobil hitam melaju menembus pagi yang masih pucat.
Di ruang ICU, aroma antiseptik kembali menyambut. Mesin-mesin berdengung dengan ritme yang sama seperti hari-hari sebelumnya, seolah waktu enggan bergerak di ruangan itu.
Ayah Arelion berdiri paling depan. Wajahnya tegas, namun rahangnya mengeras menahan sesuatu yang tak terucap. Sang ibu menggenggam tas kecil di dadanya, matanya sembab bahkan sebelum dokter keluar menghampiri.
Tak lama kemudian, langkah kaki lain terdengar.
Seorang perempuan muda memasuki lorong itu.
Althea.Tunangan Arelion.
Rambutnya tergerai rapi, gaunnya sederhana namun elegan. Wajahnya cantik dengan garis lembut, namun sorot matanya menyimpan kelelahan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang terlalu sering berharap dan terlalu sering takut kecewa.
Ia berhenti di depan pintu ICU, menatap ke dalam melalui kaca bening.
Arelion masih terbaring di sana.
Tenang. Diam. Seolah tertidur sangat dalam.
Perempuan itu mendekat, menempelkan telapak tangannya ke kaca.
“Hari ini aku datang lagi,” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Seperti biasa.”
Ia memang hampir selalu datang.
Setiap hari.
Kadang pagi, kadang sore.
Kadang hanya duduk diam, kadang berbicara panjang lebar, menceritakan hal-hal kecil yang tak pernah mendapat jawaban.
Dokter akhirnya keluar.
“Kami mendeteksi respons baru pada pasien,” jelasnya. “Masih sangat lemah, tapi… berbeda dari sebelumnya.”
Ibu Arelion menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa izin. Ayahnya mengangguk kaku, seolah takut harapan itu akan runtuh jika ia bereaksi terlalu cepat.
Perempuan cantik itu menahan napas.
“Respons… seperti apa?” tanyanya pelan, nyaris bergetar.
Dokter menoleh. “Gelombang otaknya menunjukkan aktivitas yang konsisten. Seperti… seseorang yang sedang mencoba bangun.”
Di balik pintu kaca, jari Arelion tampak bergerak sangat halus.
Namun tak ada yang benar-benar yakin apakah itu nyata atau hanya harapan yang menipu.
Tak ada yang bisa memastikan arti dari tanda-tanda itu.
Di dunia nyata, para dokter menyebutnya perkembangan positif. Grafik yang perlahan menanjak. Refleks kecil yang muncul sesekali. Harapan yang mulai berani diucapkan dengan suara keras.
Di taman cahaya, Arelion tahu kebenarannya tidak sesederhana itu.
Ia duduk di tepi tebing tinggi,tempat di mana cahaya di bawahnya berputar seperti pusaran sunyi. Berkali-kali ia berdiri di ujungnya, menatap ke bawah dengan satu harapan yang sama: jika ia jatuh cukup dalam, mungkin jiwanya akan terlepas dan kembali ke tubuh yang terbaring di dunia lain.
Ia pernah melompat.
Tanpa ragu.
Tubuh cahayanya terhempas, terurai seperti kabut yang dihantam angin. Namun rasa sakit itu tak pernah datang. Yang ada hanya hening—dan kemudian ia kembali berdiri di tempat semula, utuh, seolah dunia ini menolak melepaskannya.
“Aku sudah mencoba,” ucapnya datar suatu kali pada Malwa. “Lebih dari sekali.”
Malwa hanya terdiam. Sayapnya bergetar lemah. “Dunia ini bukan penjara yang bisa kau hancurkan dengan luka,” katanya akhirnya. “Ia menahanmu karena ada sesuatu yang belum selesai.”
Arelion menutup mata.
Belum selesai.
Dunia nyata, Athea duduk di ruang tunggu rumah sakit.
Ia masih menanti keajaiban—sama seperti berbulan-bulan yang lalu.
Ponselnya kembali bergetar.
Julian.
Sahabatnya, sekaligus sahabat Arelion.
“Kau masih di sana?” suara Julian terdengar sedikit tak sabar.
“Thea… ayahku bilang kondisi Lion sudah tak mungkin.”
Lion adalah pasien yang ditangani Dokter Willy—ayah Julian.
“Tapi tadi dokter bilang Lion menunjukkan perkembangan,” ucap Athea, suaranya bergetar.
“Itu bukan perkembangan,” potong Julian. “Itu tanda kalau dia… tidak akan bertahan.”
Kalimat itu menghantam Athea tanpa ampun.
Selama Arelion koma, Julian adalah orang yang paling setia berada di sisinya. Karena itu, Athea tak pernah menyangka kata-kata setajam itu justru keluar dari mulutnya.
“Maaf,” lanjut Julian lebih pelan. “Aku cuma nggak mau kamu terus hanyut di sunyinya dunia Lion.”
Athea tak menjawab.
Ia hanya diam, tenggelam dalam sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Benarkah ia harus menyerah?
Atau… sudah waktunya ia benar-benar melepaskan Arelion?
Athea menurunkan ponselnya perlahan.
Tangannya gemetar, bukan karena dingin,melainkan karena sesuatu di dadanya runtuh pelan-pelan. Ruang tunggu itu terasa lebih sempit, lebih sunyi dari biasanya. Deru pendingin ruangan terdengar seperti napas panjang yang melelahkan.
Di balik kaca ICU, Arelion terbaring tanpa suara.
Wajahnya tetap sama seperti berbulan-bulan lalu..tenang, nyaris damai..seolah dunia tidak pernah menyentuhnya dengan kejam. Namun justru ketenangan itu yang menyayat Athea.
Ia duduk memeluk dirinya sendiri.
Bukan perkembangan… tapi tanda ia tak bertahan.
Kalimat Julian berulang di kepalanya, seperti gema yang tak mau pergi.
“Kalau aku menyerah…” bisiknya nyaris tak terdengar, “apa kau juga akan menyerah, Lion?”
Ia teringat semua hari yang ia lewati di tempat ini. Kursi yang sama. Jam yang sama. Harapan yang sama. Ia tak pernah meminta keajaiban besar—hanya satu hal kecil: Arelion membuka mata. Menyebut namanya. Atau sekadar bernapas sedikit lebih kuat.
Athea mengusap matanya kasar.
Ia lelah.
Bukan karena menunggu,melainkan karena harus memilih antara bertahan atau melepaskan.
Dengan langkah gontai, ia mendekati kaca ICU. Telapak tangannya menempel di permukaan dingin itu.
“Aku capek, Lion…” suaranya pecah. “Aku nggak tahu harus menunggumu sampai kapan.”
Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Di taman cahaya, angin berdesir pelan.
Arelion menatap tangannya sendiri. Cahaya di jemarinya semakin tipis, berkilau seperti senja yang kelelahan.
Jika takdirku berakhir disini..aku ingin bertemu dengannya..lagi..
Seandainya aku bangun di dunia nyataku..aku harap hatiku tak melupakan nama itu..
Elora