NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sedikit Perhatian

Astaga, Putri!" seru bu Ambar, "makan saja nggak becus. Kamu ini kenapa sih malam ini? Aneh banget."

Putri menunduk dalam-dalam, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. "Maaf, Ma... Maaf..."

Sebelum bu Ambar sempat menceramahinya lagi, sebuah tangan kekar tiba-tiba mengambil alih piring Putri.

Devan menarik piring istrinya, lalu dengan gerakan cepat dan cekatan, ia memotong-motong daging steak itu menjadi potongan-potongan kecil yang mudah dimakan.

Suara pisau Devan yang tegas membungkam komentar-komentar miring di meja makan itu.

Setelah daging itu terpotong rapi, Devan menukar piringnya sendiri yang masih utuh dengan piring Putri yang sudah siap santap.

"Makan," perintah Devan singkat, tanpa menatap Putri.

Keheningan melanda meja makan. Pemandangan Devan melayani Putri adalah sesuatu yang langka, bahkan mustahil.

"Devan, kamu ngapain? Biar dia potong sendiri dong, manja banget," protes bu Ambar.

Devan meletakkan pisaunya sedikit kasar, dia menatap mamanya dengan sorot mata dingin yang tidak terbantahkan.

"Putri lagi nggak enak badan, Ma. Tangannya kram karena kebanyakan nyetrika baju kantor aku. Jadi wajar kalau aku bantu potongin dagingnya, kan?"

Suara Devan terdengar santai, tapi penuh penekanan yang membuat bu Ambar terdiam.

Devan kemudian menoleh pada Putri yang masih menatapnya tak percaya dengan mata basah.

Putri mulai merasa ada yang berbeda dari sikap suaminya? Apa ini adalah harapan baru untuknya?

"Dimakan, Put. Jangan dilihatin doang. Kamu mau aku suapin juga biar makin heboh meja ini?" bisik Devan, namun nadanya tidak setajam biasanya.

Putri buru-buru menggeleng, lalu menyuapkan potongan daging itu ke mulutnya. Rasanya hambar karena lidahnya yang pahit, dan perutnya bergejolak ingin memuntahkannya, namun ia tetap berusaha menelannya dengan susah payah.

Ia menelan daging itu bersamaan dengan rasa hangat yang asing yang kian menjalar di dadanya.

Bukan cinta, ia tahu Devan melakukan ini demi citra dirinya sendiri. Tapi bagi Putri yang sudah terbiasa diinjak, pembelaan kecil ini terasa seperti oase di padang pasir.

Di bawah meja, tanpa sadar Devan mengepalkan tangannya. Ia melihat betapa lemahnya cengkeraman tangan Putri tadi. Getaran itu bukan getaran orang gugup, itu getaran orang yang saraf-sarafnya sedang menjerit kesakitan.

"Sakit apa kamu sebenernya, Put?" tanya Devan membatin, pikiran Devan berkecamuk. "Kenapa kamu diem aja? Kenapa kamu nggak teriak kalau kamu sakit?"

Malam itu, di tengah pesta keluarga yang mewah, Devan untuk pertama kalinya merasa takut. Takut jika dugaannya benar, takut jika sosok kurus di sampingnya ini benar-benar sedang menghilang perlahan tepat di depan matanya.

Suasana di meja makan keluarga Pramudita, sedikit mereda setelah aksi Devan memotongkan daging untuk Putri, namun ketegangan di udara masih terasa pekat.

Pak Pramudita, ayah Devan yang duduk di ujung meja dengan penuh wibawa, berdehem pelan. Ia mengelap mulutnya dengan serbet, lalu menatap anak dan menantunya bergantian.

"Jadi, bagaimana kehidupan rumah tangga kalian di rumah baru?" tanya pak Pramudita dengan suara beratnya yang khas. "Apa Putri sudah bisa menyesuaikan diri menjadi nyonya rumah?"

Putri meletakkan sendoknya perlahan, mencoba menjawab meski perutnya masih terasa diaduk-aduk. "Sudah, Pa. Putri masih belajar banyak hal, tapi..."

"Belajar?" sela bu Ambar tiba-tiba. Wanita paruh baya itu menatap Putri dengan sorot mata meremehkan, masih belum puas mencari celah. "Harusnya hal-hal dasar mengurus suami itu sudah dikuasai sebelum menikah. Tamara dulu bahkan sudah ambil kursus memasak gourmet di luar negeri, demi persiapan

menikah dengan Devan, beda sekali kelasnya."

Nama Tamara kembali disebut, hati Putri mencelos. Selalu ada bayang-bayang kakaknya yang sempurna di setiap sudut percakapan.

"Ma," tegur Devan pelan, namun nada suaranya menyiratkan peringatan.

"Kenapa? Mama cuma bicara fakta." Bu Ambar mengibaskan tangannya dengan anggun. "Mama cuma khawatir. Lihat istri kamu itu! Kurus, pucat, tidak bercahaya. Nanti kalau kolega bisnis Papa lihat, mereka pikir keluarga Pramudita salah pilih mantu. Padahal kan memang..."

Bu Ambar menggantungkan kalimatnya, namun semua orang di meja itu tahu kelanjutannya. Padahal memang salah pilih, karena yang diinginkan adalah Tamara, bukan Putri si anak buangan.

Putri merasakan kerongkongannya panas. Bukan karena marah, tapi karena rasa mual yang mendesak naik akibat stres dan daging yang tadi dipaksa untuk ditelan, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

"Maaf, Ma, Pa, Mas Devan..." Putri berdiri dengan kaki gemetar. Ia membekap mulutnya sedikit. "Putri izin ke kamar mandi sebentar."

Tanpa menunggu jawaban, Putri bergegas melangkah cepat, setengah berlari menuju toilet tamu yang terletak di dekat ruang keluarga.

Bu Ambar mendengus. "Tidak sopan, orang tua lagi bicara malah ditinggal pergi."

Devan tidak menanggapi mamanya, matanya terpaku pada punggung Putri yang menjauh. Ia melihat langkah istrinya yang terhuyung, seolah menahan beban berat, firasat buruk Devan kembali muncul.

"Aku susul Putri sebentar," ucap Devan, lalu bangkit dari kursinya tanpa mempedulikan protes bu Ambar.

Di dalam kamar mandi mewah bernuansa marmer itu, Putri berlutut di depan kloset. Ia memuntahkan semua isi perutnya, daging yang tadi ia makan, semuanya keluar, bercampur dengan cairan asam yang menyakitkan.

"Hhh... hhh..."

Napasnya tersengal hebat, dadanya sakit sekali, seperti dihimpit batu besar.

Setelah perutnya kosong, ia masih terbatuk-batuk. Saat ia meludah untuk terakhir kalinya, ia melihat warna merah terang lagi. Darah...

Kali ini jumlahnya lebih banyak dari biasanya.

Air mata Putri menetes, ia ketakutan. Ia buru-buru menekan tombol flush, membiarkan pusaran air membawa pergi bukti penyakitnya.

Ia merangkak menuju wastafel, membasuh mulut dan wajahnya berkali-kali dengan air dingin, berusaha menghilangkan jejak pucat dan sisa darah di bibirnya.

Putri menatap cermin, wajahnya seperti mayat hidup. Ia merogoh tas kecilnya, mengambil lipstik dengan tangan gemetar, memoleskannya tebal-tebal agar bibirnya terlihat merah merona, menutupi kepucatan yang mematikan.

"Kamu kuat, Putri. Sebentar lagi pulang, tahan," bisiknya menyemangati diri sendiri.

Saat Putri membuka pintu kamar mandi, ia terlonjak kaget.

Devan berdiri di sana. Bersandar pada dinding kamar mandi dengan tangan bersedekap. Wajahnya datar, namun matanya menatap tajam, seolah sedang memindai seluruh tubuh Putri.

"Mas Devan? Mas ngapain di sini?"

"Lama banget," ucap Devan dingin, "muntah lagi kamu?"

Jantung Putri berdegup kencang. Apakah Devan mendengar suaranya tadi?

"Cuma... cuma cuci muka, Mas. Udaranya agak panas di dalam," elak Putri, berusaha tersenyum senormal mungkin.

Devan menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tinggal satu jengkal.

Ia menatap bibir Putri yang merah merona karena lipstik, kontras dengan kulit wajahnya yang masih pucat.

"Kamu pikir aku bodoh?" desis Devan pelan, "aku denger suara kamu muntah-muntah di dalem."

Putri menunduk, meremas gaunnya. "Aku cuma masuk angin, Mas. Perutku kaget makan daging tadi."

"Masuk angin terus? Tiap hari?" Devan memicingkan mata. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Gejala-gejala itu... mual, muntah, pusing, lelah.

Sebuah dugaan konyol melintas di benak Devan, dugaan yang seketika membuat darahnya berdesir aneh.

"Kamu." Devan menatap perut rata Putri. "Kamu hamil?"

Mata Putri membelalak lebar. Hamil? Bagaimana mungkin? Mereka bahkan tidak pernah bersentuhan selayaknya suami istri.

"Mas... kita nggak pernah_"

"Siapa tau kamu hamil sama orang lain sebelum nikah sama aku, kan?" potong Devan tajam, kalimat kejam itu keluar lagi sebagai mekanisme pertahanan dirinya. Padahal dalam hati, ia tahu tuduhan itu tidak berdasar, Putri juga selalu di rumah, dia tahu itu.

Putri menatap Devan dengan pandangan terluka yang amat dalam. "Demi Tuhan, Mas... aku tidak serendah itu."

Air mata menggenang di pelupuk mata Putri, membuat mascara-nya sedikit luntur.

Melihat air mata itu, Devan terdiam. Ia sadar ia sudah keterlaluan. Ia sadar tuduhannya tidak masuk akal, tapi ia bingung, kalau bukan hamil, kenapa Putri terus-terusan muntah dan terlihat sekarat?

"Kalau bukan hamil, terus kamu kenapa?" tanya Devan penuh penekanan, suaranya kini terdengar frustrasi, bukan lagi marah. "Kenapa kamu kayak mayat hidup begini, Put? Jawab aku!"

Putri menggigit bibir bawahnya, menahan isak tangis. Ia tidak bisa memberitahu Devan sekarang. Tidak di sini, tidak di saat Devan masih menatapnya dengan tatapan penuh curiga, bukan kasih sayang.

"Aku cuma capek, Mas. Tolong... aku mau pulang," lirih Putri, suaranya pecah. "Aku mohon, Mas... bawa aku pulang."

Tubuh Putri limbung ke depan, dengan sigap, Devan menangkap bahu istrinya sebelum Putri jatuh ke lantai.

Saat telapak tangan Devan menyentuh kulit Putri, ia merasakan hawa dingin yang menusuk, istrinya sedingin es.

"Sial," umpat Devan pelan.

Tanpa banyak bicara, Devan merangkul bahu Putri erat, menopang berat badan istrinya yang ringan itu.

"Kita pulang," putus Devan tegas.

tidak peduli lagi dengan makan malam, tidak peduli dengan omongan bu Ambar atau pertanyaan pak Pramudita. Yang ia tahu, ia harus membawa Putri pergi dari sana sebelum istrinya itu benar-benar ambruk di hadapannya.

Untuk pertama kalinya, dalam perjalanan menuju mobil, Devan tidak melepaskan rangkulannya, membiarkan kepala Putri bersandar lemah di dadanya yang bidang.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!