NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Keesokan paginya dimana Swari baru saja memandikan Alex dan Alexandria yang akan masuk ke sekolah barunya.

Ratri masuk ke kamar Swari yang sibuk memakaikan pakaian Alexandria.

"Alex, sama Budhe saja ya." ucap Ratri.

Alex menganggukkan kepalanya sambil sesekali tangannya menepuk bahu Swari.

"Mama, Alex nggak mau sekolah. Alex mau dirumah saja." ucap Alex.

Navy tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat Alex tinggi-tinggi ke udara, membuat bocah itu terpekik senang sekaligus kaget.

"Wah, masa jagoan Pakde takut sekolah? Di sekolah baru nanti, Alex bisa jadi kapten bola, lho! Nanti kalau Alex berani sekolah, Pakde belikan robot yang paling besar!" rayu Navy sambil mengedipkan mata ke arah Swari.

Alex yang mendengar kata "robot" langsung berhenti merengut. Matanya yang bulat berkedip-berkedip menatap Navy.

"Robot yang bisa jalan sendiri, Pakde?"

"Tentu saja! Makanya, Alex harus hebat seperti Mama," Navy menurunkan Alex dan mengusap kepalanya dengan bangga.

Swari hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kakak iparnya yang sangat memanjakan anak-anaknya. Setelah memastikan semua perlengkapan sekolah siap, ia mencium kening kedua anaknya bergantian.

"Pakde Navy hanya sayang sama Mas Alex," ucap Alexandria yang cemburu karena Alex mendapatkan hadiah robot kalau mau sekolah.

Navy tertawa melihat wajah Alexandria yang ditekuk.

Ia langsung berjongkok di depan keponakan perempuannya itu dan mencubit pipinya gemas.

"Aduh, Tuan Putri Pakde cemburu ya? Tenang saja, Alexandria. Kalau Alex dapat robot, Alexandria mau apa? Boneka yang bisa bicara? Atau set masak-masakan yang ada lampunya?"

Alexandria yang mendengarnya langsung tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi kecilnya yang rapi.

"Aku mau rumah-rumahan untuk boneka yang ada liftnya, Pakde!"

"Siap, laksanakan!" Navy memberi hormat ala tentara, membuat suasana pagi itu penuh dengan tawa.

Swari menatap pemandangan itu dengan hati yang menghangat.

Enam tahun ia berjuang sendirian di negeri orang, dan melihat anak-anaknya mendapatkan limpahan kasih sayang dari sosok pria seperti Navy adalah hal yang paling ia syukuri. Namun, di sisi lain ia sangat merindukan mendiang suaminya.

Seharusnya, Pradutha-lah yang berada di posisi Navy sekarang.

"Ayo, sudah jam tujuh. Kita berangkat sekarang, nanti telat," ajak Ratri sambil menggandeng tas sekolah si kembar.

Swari berdiri di depan cermin besar di kamar tamu rumah Ratri.

Ia menarik napas dalam, mematut penampilannya.

Hari ini ia memilih kemeja sutra berwarna emerald yang dipadukan dengan celana bahan berpotongan high-waist warna krem.

Rambutnya yang dulu panjang tergerai, kini ia potong sebahu dengan gaya bob yang elegan, memberikan kesan wanita karier yang profesional namun tetap lembut.

Ia memoleskan lipstik berwarna nude dan menatap matanya sendiri.

"Ini untuk masa depan mereka, Swari. Kamu bukan lagi wanita rapuh yang melarikan diri," bisiknya pada bayangan di cermin.

Swari turun ke ruang makan dan melihat Navy sudah rapi dengan kemeja batiknya, sedang menyesap kopi hitam terakhirnya.

"Sudah siap, Konsultan?" goda Navy sambil meletakkan cangkir.

"Perusahaan Mas butuh sentuhan dinginmu. Selera pasar di sini mulai jenuh dengan desain yang itu-itu saja. Mas butuh gaya minimalis-modern ala Kanada-mu."

"Aku akan berusaha yang terbaik, Mas. Tapi ingat, kalau kinerjaku buruk, Mas harus tetap profesional," jawab Swari sambil tersenyum tipis sambil mengambil kotak bekal yang sudah disiapkan kakaknya.

Setelah itu mereka berdua masuk kedalam mobil menuju ke perusahaan Navy.

"Kamu sarapan dulu, Swa." ucap Navy yang fokus menyetir.

Swari menganggukkan kepalanya dan membuka kotak bekal yang berisi roti bakar selai nanas dan selai kacang.

"Mbak Ratri masih lupa kalau aku alergi kacang,"

"Masih alergi kacang?" tanya Navy.

"Iya, Mas. Setiap makan kacang, langsung sesak nafas." jawab Swari.

Swari menaruh roti bakar selai kacang dalam tas plastik.

Setengah jam kemudian mereka telah sampai di perusahaan Navy.

"Ayo, kita masuk kedalam. Aku akan memperkenalkan kamu sebelum meeting pagi kita dengan investor utama." ajak Navy.

Swari merapikan rambutnya dan segera ia mengikuti Navy yang berjalan di depannya.

"Selamat pagi Pak Navy," sapa sekretaris Navy yang bernama Sita.

"Sita, kumpulkan semua orang di ruang meeting sekarang juga." ucap Navy.

Sita menganggukkan kepalanya dan segera memanggil semua karyawan yang ada di perusahaan Navy

Swari berjalan di koridor kantor yang modern itu dengan detak jantung yang sedikit lebih kencang dari biasanya.

Ia mencoba mempertahankan wajah profesionalnya, meskipun dalam hati ia masih meraba-raba bagaimana rasanya bekerja di Jakarta setelah sekian lama.

Navy membuka pintu ruang rapat yang luas. Beberapa orang di dalamnya langsung berdiri memberikan hormat.

Navy memberi isyarat agar semua orang kembali duduk, lalu ia menatap Swari dengan bangga.

"Selamat pagi semuanya. Sebelum kita memulai agenda hari ini, saya ingin memperkenalkan anggota baru tim kita. Beliau adalah Swari Aruna sekaligus konsultan desain interior lulusan Kanada dengan pengalaman proyek internasional selama enam tahun terakhir. Mulai hari ini, ia akan memimpin departemen desain kita untuk proyek apartemen 'Grand Mahameru'."

Terdengar gumaman kekaguman dan tepuk tangan sopan dari staf kantor.

Swari mengangguk dengan senyum tipis yang elegan.

"Terima kasih, Pak Navy. Senang bisa bergabung dan bekerja sama dengan rekan-rekan semua."

Namun, suasana tenang itu mendadak berubah tegang ketika Sita, sekretaris Navy, mendekat dan berbisik ke telinga atasannya.

"Pak, investor utama dari BSG sudah tiba. Mereka sudah di lobi dan sedang menuju ke sini," lapor Sita.

Navy menganggukkan kepalanya dan ia meminta Swari untuk masuk ke ruangan kerjanya yang sudah disiapkan.

"Kamu siapkan proposal grand Mahameru, ya. Setelah itu kamu menyusul ke ruang meeting yang ada di lantai tiga." ucap Navy yang kemudian keluar menemui investor.

Swari menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tiba-tiba tak beraturan.

Di dalam ruang kerja barunya yang beraroma kayu ek dan kertas baru, ia segera membuka laptop dan menyusun file-file presentasi Grand Mahameru.

Jemarinya menari lincah di atas keyboard, namun pikirannya sesekali melayang pada anak-anaknya yang sedang memulai hari pertama mereka di sekolah.

"Semua akan baik-baik saja, Swari. Ini hanya pertemuan bisnis," gumamnya menyemangati diri sendiri.

Setelah memastikan semua sketsa digital dan konsep interior minimalis-modernnya siap, ia menyambar iPad dan beberapa sampel material kain.

Ia melangkah keluar menuju lift, menuju lantai tiga. Begitu pintu lift terbuka, ia melihat Sita yang tampak sedikit gugup sedang menunggu di depan pintu ruang rapat besar.

"Mbak Swari, silakan masuk. Pak Navy dan para investor sudah menunggu," ucap Sita sambil membukakan pintu.

Swari masuk dengan langkah tegap. Ruangan itu terasa dingin oleh hembusan AC yang maksimal.

Di ujung meja oval yang panjang, Navy tampak sedang tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana dengan pria-pria berjas di depannya.

"Ah, ini dia konsultan kita," Navy berdiri, memberi isyarat pada Swari untuk mendekat.

"Swari, perkenalkan, ini tim dari Baskara Surya Group (BSG), investor tunggal kita."

Langkah Swari mendadak terhenti tepat di tengah ruangan saat memandang wajah lelaki yang ia kenal enam tahun yang lalu.

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!