Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kehangatan yang Terlarang
Cahaya matahari pagi yang lembut merambat masuk melalui jendela, membelai wajah Genevieve yang kini tidak lagi sepucat kemarin. Ia mengerjapkan matanya pelan, merasakan paru-parunya sedikit lebih lega meskipun hidungnya masih terasa tersumbat dan memerah—sisa-sisa demam yang mulai mereda.
Saat ia mencoba menggerakkan kepalanya, ia menyadari bahwa bantal yang ia gunakan terasa berbeda. Tidak empuk seperti bulu angsa, melainkan keras namun kokoh dan memiliki hawa dingin yang menenangkan.
Genevieve tersentak kecil saat menyadari bahwa ia tidak tidur di atas bantal, melainkan di atas lengan kekar Valerius.
Gadis itu menoleh pelan dan mendapati sang vampir sedang terpejam di sampingnya. Valerius tampak sangat tenang dalam tidurnya—jika makhluk seperti dia memang benar-benar bisa tidur.
Rambut gelapnya sedikit berantakan di atas seprai, dan rahangnya yang tegas tampak lebih rileks.
Genevieve terdiam, menatap lengan Valerius yang ia tiduri. Seharian? Ia melirik jam di dinding dan menyadari bahwa ia telah melewatkan satu hari penuh dalam ketidaksadaran. Itu berarti Valerius tetap berada di posisi itu, membiarkan lengannya menjadi sandaran bagi Genevieve tanpa bergerak sedikit pun agar tidak mengusik tidurnya.
"Pasti sangat pegal..." bisik Genevieve sangat pelan, hampir tidak terdengar.
Rasa ragu yang kemarin menghantuinya mendadak tertutup oleh rasa haru yang aneh. Bagaimana mungkin makhluk yang ia anggap monster bisa memberikan pengabdian yang begitu sunyi? Ia melihat ke arah tangannya sendiri yang tanpa sadar mencengkeram kemeja hitam Valerius sepanjang malam.
Namun, di tengah rasa terima kasih itu, ia kembali teringat akan kondisi tubuhnya. Ia menunduk dan melihat kancing gaun tidurnya sudah tertutup rapi kembali, meski ia yakin ia tidak melakukannya sendiri. Harum mawar liar kini menyelimuti seluruh tubuhnya, seolah kulitnya telah dibasuh dengan sari bunga paling murni saat ia terlelap.
Valerius tetap memejamkan matanya, menjaga napasnya tetap teratur dan dangkal.
Di balik kelopak matanya, ia sebenarnya sedang menikmati setiap detik perhatian yang diberikan Genevieve. Ia merasakan jemari mungil gadis itu menarik pinggiran selimut, menyelimuti tubuh dinginnya dengan penuh kehati-hatian—sebuah gerakan yang sangat manusiawi, sangat tulus, dan sangat ironis bagi makhluk yang tidak lagi membutuhkan kehangatan kain.
“Kau terlalu baik, Genevieve. Itulah yang akan menghancurkanmu,” batin Valerius, bibirnya hampir saja membentuk senyum kemenangan.
Ia mendengar suara langkah kaki Genevieve yang sangat pelan, berjinjit di atas lantai kayu tua yang sesekali berderit halus. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak menimbulkan suara, seolah-olah Valerius adalah manusia biasa yang membutuhkan istirahat setelah terjaga seharian.
Genevieve meraih handuknya dan menghilang ke dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian, terdengar suara gemericik air hangat yang mengisi bak mandi. Uap panas mulai merayap keluar dari celah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka, membawa aroma sabun yang bercampur dengan sisa-sisa wangi mawar dari tubuhnya.
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, Valerius membuka matanya. Merah darah yang pekat.
Ia langsung duduk dengan tegak, sama sekali tidak merasakan pegal di lengannya—karena tubuhnya sekeras baja dan sekuat batu nisan. Ia menatap selimut yang menutupi dadanya, lalu menghirup aroma yang tertinggal di bantal tempat Genevieve tidur tadi.
Beberapa menit kemudian.
Genevieve melangkah keluar dari kamar mandi dengan sisa uap hangat yang masih menempel di kulitnya. Ia menatap tempat tidur yang kini telah tertata rapi, sangat rapi untuk ukuran seseorang yang baru saja bangun tidur. Ia mematung sejenak, menoleh ke kiri dan ke kanan, bahkan memeriksa ke balik lemari tua, namun Valerius benar-benar telah lenyap tanpa meninggalkan suara pintu yang tertutup.
Rasa sesak yang aneh muncul di dadanya—bukan karena demam, melainkan karena rasa bersalah yang mengusik.
"Padahal aku baru mau bilang terima kasih," gumamnya pelan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Ia teringat betapa beratnya kepalanya kemarin, dan bagaimana lengan kokoh itu rela menjadi bantalannya selama berjam-jam.
Di mata Genevieve yang masih polos, tindakan Valerius itu adalah sebuah pengorbanan yang manis, sebuah sisi lembut dari makhluk yang selama ini ia anggap sebagai ancaman. Ia merasa bersalah karena telah sempat menuduhnya macam-macam di dalam hati, padahal pria itu justru menjaganya sepanjang malam.
Gadis itu tidak tahu, bahwa di luar jendela—tersembunyi di balik rimbunnya pohon ek yang besar—Valerius berdiri menempel pada batang pohon, mengawasi bayangan Genevieve dari balik tirai.
Valerius mendengar gumaman terima kasih itu. Ia mendengar detak jantung Genevieve yang mulai stabil dan penuh rasa syukur.
Sebuah senyum tipis yang dingin tersungging di bibir sang vampir. Baginya, rasa bersalah Genevieve adalah kemenangan kecil; semakin gadis itu merasa berhutang budi, semakin mudah baginya untuk masuk lebih dalam ke dalam hidupnya.
"Sama-sama, Puan kecil," bisik Valerius pada angin yang berhembus. "Tapi jangan salah paham... kau masih milikku untuk kusiksa dengan cara yang lain
keren
cerita nya manis