NovelToon NovelToon
Vows Of Silence

Vows Of Silence

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Bad Boy / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Belas

Kenneth tidak menunggu hari esok untuk memulai serangan psikologisnya. Sesaat setelah Hazel jatuh tertidur karena kelelahan di dalam pelukannya, Kenneth meraih ponsel terenkripsi miliknya.

Ia memilih satu foto yang diambilnya tadi; foto punggung polos Hazel yang melengkung indah, di mana jejak kemerahan dan bekas gigitan karyanya terlihat sangat kontras di bawah lampu merah ruangan itu.

Ia mengirimkan foto itu ke sebuah nomor internasional yang sudah lama ia simpan. Tanpa kata-kata, tanpa nama pengirim. Hanya sebuah gambar yang cukup untuk meruntuhkan kewarasan pria mana pun yang sangat menjaga kehormatan adiknya.

Di London, Inggris...

Arthur Cavanaugh sedang berada di tengah pertemuan bisnis penting saat ponselnya bergetar. Ia membukanya, mengharapkan laporan keuangan, namun yang ia temukan adalah sebuah foto yang membuat dunianya seolah berhenti berputar.

Arthur mengenali lekuk itu. Ia mengenali tahi lalat kecil di belikat kanan adiknya. Darahnya mendidih, tangannya gemetar hebat hingga ponsel di tangannya nyaris retak.

Siapa pun yang mengirim ini tahu persis bagaimana cara menusuk jantungnya tanpa menggunakan pisau.

Keesokan Paginya di SMA Queenstown...

Hazel masuk ke gerbang sekolah dengan langkah sedikit kaku, tubuhnya masih merasakan sisa-sisa hukuman Kenneth semalam. Ia memakai turtleneck putih di balik seragamnya untuk menutupi semua jejak gila itu.

Di lorong, ia bertemu dengan Kenneth yang sedang berdiri bersama gengnya. Kenneth menatapnya datar, seolah mereka tidak pernah berbagi keringat dan desahan beberapa jam yang lalu.

Namun, saat James datang merangkul Hazel, Kenneth mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura sedang memeriksa pesan.

"Ada apa, Ken? Wajahmu serius sekali," tanya James yang merasa suasana hati sahabatnya itu sedang aneh.

"Hanya sedang menunggu balasan dari seseorang di London," jawab Kenneth tenang, matanya melirik Hazel yang seketika memucat mendengar kata London.

"Sepertinya dia baru saja menerima kejutan kecil dariku."

Hazel menelan ludah. Ia tahu kakaknya sedang di London. Apakah Kenneth melakukannya?

Tiba-tiba, ponsel Hazel berdering. Nama 'Brother Arthur' muncul di layar. Getarannya terasa seperti bom waktu.

James melirik ponsel itu, "Oh, kakakmu menelepon? Tumben sekali jam segini."

Kenneth menyunggingkan senyum yang paling mengerikan yang pernah Hazel lihat senyum kemenangan yang murni.

"Angkatlah, Hazel. Mungkin dia merindukan adik manisnya."

Hazel menggeser layar. Suara Arthur di seberang sana tidak terdengar seperti biasanya. Suaranya rendah, tajam, dan penuh dengan kemurkaan yang tertahan.

"Hazel Bellvania... jelaskan padaku siapa pria yang sudah menyentuhmu, atau aku akan terbang ke Queenstown sekarang juga dan membakar sekolah itu sampai rata dengan tanah."

Hazel menatap Kenneth dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena panik. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. Setelah menjauh dari James dengan alasan ingin ke toilet, ia menarik Kenneth ke sudut koridor yang sepi dan gelap, tepat di bawah tangga darurat.

"Ken! Jelaskan padaku sekarang!" bisik Hazel dengan suara gemetar, menunjukkan layar ponselnya yang masih berisi pesan ancaman dari Arthur. "Kakakku tahu! Dia mendapatkan foto punggungku yang penuh bekas... bekas perbuatanmu semalam! Kau yang mengirimnya, kan? Kau ingin menghancurkan ku di depan kakakku?"

Kenneth terdiam sejenak, menatap Hazel dengan ekspresi yang sangat datar dan tenang ekspresi yang sulit dibaca. Ia perlahan maju, mengurung Hazel di antara tembok dan tubuhnya yang tinggi. Ia menyesap aroma rambut Hazel, lalu berbisik dengan nada yang sangat meyakinkan.

"Hazel, sayang... berpikirlah jernih," ucap Kenneth dingin, jemarinya mengusap dagu Hazel dengan lembut. "Untuk apa aku melakukannya? Mengirim foto seksi milikku sendiri kepada kakakmu hanya akan membuat posisiku dalam bahaya. Kau pikir aku sebodoh itu?"

Kenneth menatap mata Hazel dalam-dalam, menanamkan keraguan di sana. "Kau adalah milikku. Rahasiaku yang paling berharga. Menyerahkan mu pada Arthur sama saja dengan membuang mainan kesukaanku sebelum aku bosan. Apa aku terlihat seperti pria yang suka berbagi koleksi pribadinya?"

Hazel tertegun. Logika Kenneth terasa masuk akal baginya yang tidak tahu tentang dendam masa lalu itu. "Lalu... siapa? Siapa yang bisa masuk ke ruangan itu dan mengambil fotonya?"

Kenneth menyeringai tipis, mengarahkan pandangan Hazel ke arah lorong di mana Zacky sedang berdiri memperhatikannya dari kejauhan sambil merokok.

"Mungkin si tikus itu," bisik Kenneth, membelokkan kecurigaan Hazel dengan sempurna. "Zacky tahu tentang kita. Dia mungkin ingin menghancurkanmu agar James menjauh, atau dia ingin memerasmu melalui Arthur. Kau tahu betapa liciknya dia, kan?"

Hazel menoleh ke arah Zacky dengan tatapan penuh kebencian. Di pikirannya, Zacky adalah satu-satunya orang yang mungkin melakukan hal sekejam itu. Ia tidak sadar bahwa Kenneth sedang memainkannya seperti pion di atas papan catur.

Kenneth menarik Hazel ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh manipulasi. "Jangan takut. Aku akan mengurus Arthur. Biarkan dia marah di London sana. Selama kau tetap bersamaku, tidak akan ada yang berani menyentuhmu."

Padahal di dalam hatinya, Kenneth sedang tertawa puas. Ia baru saja melempar umpan, dan Arthur sudah memakannya. Kini, ia hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk melihat kehancuran total di wajah pria yang telah menyakiti kakaknya itu.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰 🥰 🥰

1
Triana Oktafiani
Selalu menarik cerita2mu 👍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
😍
terimakasih
ceritanya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
falea sezi
lanjut
falea sezi
kapok kau kenzo
falea sezi
suka deh g bertele tele sat set
falea sezi
aneh wong kakak mu yg ngemis cinta ampe gila kok Arthur di salahkan hadehhh ampe bales dendam ke adeknya abis ini qm pasti nyesel kenn
falea sezi
bodohnya qm hazel
falea sezi
jahat nya kennet
falea sezi
q ksih hadiah deh
falea sezi
tolol harusnya biarin aja tau hadeh
Rahmawaty24
Semangat kk ceritanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!