Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Neraka Makin Dalam II
Dyon berjalan lagi ke arah Lestari yang masih meringkuk di lantai. Napasnya berat, bau arak menyengat banget.
"Lo... lo pikir gue nggak bisa apa-apa sama lo?" Suaranya pelan sekarang. Tapi pelan yang lebih ngeri dari teriak. Pelan yang dingin. "Lo pikir gue takut bunuh lo?"
"Ku—kumohon... kumohon jangan... aku... aku janji aku bakal lebih baik... aku bakal kerja lebih keras... kumohon..." Lestari nangis, nangis sambil menundukan kepala sampe dahi nya nyentuh lantai. Posisi sujud. Tapi bukan sujud ke Tuhan. Sujud ke manusia. Sujud minta ampun ke orang yang nggak punya hati.
Dyon diem sebentar. Natap Lestari yang sujud di kakinya.
Terus dia... tendang.
Tendang perut Lestari.
Keras.
"UUUHHH!" Lestari terlipat, tubuhnya kayak udang, tangan nya meluk perut. Sakit. Sakit banget. Kayak isi perut nya mau keluar semua.
Nggak bisa napas. Napas nya sesek. Mulut terbuka tapi udara nggak masuk.
"Jangan lebay. Tendangan gue nggak sekuat itu." Dyon ludah ke lantai, tepat di samping kepala Lestari. "Besok lo bangun jam tiga pagi. Gue mau lo masakin gue bubur. Gue mau makan bubur buat sarapan. Kalau nggak ada, gue hajar lo lagi."
Dia berbalik, jalan gontai ke kamarnya. Pintu dibanting—BRAK.
Hening.
Hening yang cuma diisi sama suara Lestari yang nyoba napas. Napasnya pendek dan terengah-engah, kayak ikan di darat.
Perutnya sakit banget. Pinggang juga. Pipi juga. Semua sakit.
Dia nggak bisa gerak. Cuma bisa tergeletak di lantai ruang tamu yang dingin, yang kotor, yang... yang jadi saksi bisu siksaan dia.
Entah berapa lama dia tergeletak di situ. Sepuluh menit? Dua puluh menit? Sejam? Dia nggak tau.
Yang dia tau, waktu akhirnya dia bisa gerak sedikit—gerak perlahan, merangkak—badan nya udah kebas. Kaki nya kesemutan. Tangan nya lemes.
Dia merangkak ke kamar gudang. Merangkak kayak binatang. Nggak bisa jalan. Terlalu sakit.
Sampai di kamar, dia nutup pintu, nyenderan punggung ke pintu, duduk di lantai.
Napasnya masih sesengukan. Tangannya masih meluk perut yang sakit.
Tapi yang paling sakit bukan perut.
Yang paling sakit adalah...
Dia nggak punya kemana-mana.
Nggak bisa pulang. Ayahnya udah jual dia. Ibunya nggak bisa nolongin. Nggak punya temen. Nggak punya siapa-siapa.
Dia terjebak.
Beneran terjebak.
Di sini.
Di neraka ini.
Lestari merem. Air mata ngalir lagi—kayaknya air mata nya nggak pernah kering.
"Ya Allah... Ya Allah kumohon... kalau Engkau sayang sama aku... kalau Engkau masih peduli... keluarkan aku dari sini... atau... atau matikan aja aku sekarang... aku nggak kuat lagi... nggak kuat..."
Doanya putus asa. Doa yang nggak seharusnya keluar dari mulut orang beriman. Tapi dia udah... dia udah mentok.
Dari luar pintu, dari ruang tamu, terdengar suara.
Suara tawa.
Tawa Dyon.
Tawa Wulandari.
Mereka... ketawa bareng? Setelah semua itu?
Lestari nyeret badannya ke pintu, nempelin telinga di celah pintu yang ada lubang kecil bekas paku.
"Istri lo penurut juga ya, Yon." Suara Wulandari. Nada nya... bangga? Puas?
"Ya iyalah, Mah. Gue kan udah didik dari awal. Lo pukul sekali, dia takut. Lo pukul dua kali, dia nurut. Gampang." Dyon ketawa. Ketawa yang... yang kayak lagi bahas cara melatih anjing.
"Lumayan. Jadi pembantu gratis. Nggak usah bayar. Tinggal kasih makan seadanya. Hemat."
Mereka ketawa. Ketawa keras. Ketawa yang bikin dada Lestari sesak.
Lestari mundur dari pintu. Duduk lagi di tikar. Menatap kosong ke gelap.
Pembantu gratis.
Bukan istri.
Bukan manusia.
Pembantu. Gratis.
Tangannya terkepal. Erat. Kuku-kukunya menancap di telapak tangan sampe sakit. Tapi dia nggak peduli.
Di tengah sakit. Di tengah putus asa. Di tengah air mata yang nggak berhenti.
Ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dada Lestari.
Sesuatu yang kecil. Tapi... ada.
Kemarahan.
Bukan kemarahan yang meledak-ledak. Tapi kemarahan yang dingin. Yang pelan. Yang... mengendap.
"Suatu hari..." bisiknya pelan. Suara nya serak, putus-putus. "Suatu hari... aku harus keluar dari sini... entah gimana caranya... tapi aku... aku nggak bisa mati di sini... nggak bisa..."
Dia nggak tau caranya gimana.
Nggak tau harus kemana.
Nggak tau siapa yang bakal nolong.
Tapi di hatinya—di hati yang udah remuk, yang udah hancur—ada satu tekad kecil yang mulai menyala.
Tekad buat bertahan.
Bukan cuma bertahan buat hidup.
Tapi bertahan... buat kabur.
Buat bebas.
Buat...
Buat jadi manusia lagi.
Pagi itu—Jumat pagi—Lestari bangun jam tiga kurang seperempat. Badannya sakit semua. Perut nya masih nyeri, pinggang nya kaku, pipi nya bengkak.
Tapi dia harus masak bubur. Kalau nggak... dia bakal dipukul lagi.
Dia masak bubur dengan beras yang direbus lama sampe lembek. Nggak ada ayam. Nggak ada kaldu. Cuma beras, air, garam, sama bawang goreng sisa kemarin yang udah melempem.
Jam enam pagi, bubur nya siap. Disajikan di mangkuk plastik, ditaruh di meja.
Dyon keluar dari kamar. Mukanya masih kusut. Mata nya merah. Tapi nggak semarah semalam.
Dia duduk. Liat bubur. Cicip satu sendok.
Hening.
Lestari berdiri di samping meja, tangan didepan, gemetar. Nunggu reaksi.
"Hambar," kata Dyon datar.
Lestari menelan ludah. "A—aku... aku tambahin garam—"
"Nggak usah. Gue makan aja."
Dia lanjut makan. Nggak bilang apa-apa lagi.
Lestari berdiri di situ, nggak tau harus ngapain. Nggak dipukul. Nggak dimarahin.
Itu... itu udah aneh banget.
Selesai makan, Dyon berdiri, ambil tas kain yang udah robek di tali nya, terus jalan ke pintu.
"Gue keluar. Nyari kerjaan. Jangan kemana-mana."
Pintu ditutup.
Lestari masih berdiri di situ. Sendirian. Ngeliatin mangkuk kosong bekas bubur Dyon.
Nggak ada ucapan makasih.
Nggak ada senyum.
Nggak ada... apa-apa.
Cuma... mangkuk kosong.
Dan Lestari yang harus cuci mangkuk itu.
Lagi.
Lagi.
Dan lagi.
Siang itu, Lestari lagi jemur baju di belakang. Bajunya sendiri nggak ada—dia cuma punya dua daster lusuh, dipake gantian. Sekarang lagi jemur daster satu, yang satunya dipake. Besok gantian.
Tiba-tiba dari rumah sebelah—rumah Pak Dengklek—kedengeran suara.
"LESTARI! LESTARI NAK!"
Lestari noleh. Pak Dengklek berdiri di pagar pembatas yang cuma setinggi pinggang, pagar bambu yang udah lapuk.
"I—iya, Pak?" Lestari mendekat, suara nya pelan.
Pak Dengklek natap dia lama. Matanya yang udah rabun, berkabut, kayak... kayak liat sesuatu yang menyedihkan.
"Nak... lo... lo sakit ya? Kok mukanya bengkak gitu?"
Lestari refleks nutup pipi nya pake tangan. "Nggak, Pak. Aku cuma... cuma kejedot—"
"Kejedot pantat kau! Bapak tua tapi nggak buta!" Pak Dengklek melipat tangan—tangan nya keriput, tulang-tulangnya keliatan jelas. "Lo... lo di... dipukul kan? Sama Dyon?"
Lestari diem. Nggak bisa jawab. Tenggorokan nya kering.
"Bapak denger semalam. Bapak denger teriak-teriak. Bapak pengen nolongin tapi... tapi Bapak udah tua. Bapak nggak kuat lawan Dyon..."
Air mata Pak Dengklek keluar. Air mata orang tua yang nggak bisa ngelakuin apa-apa.
Lestari... dadanya sesak. Ini... ini pertama kalinya ada orang lain yang ngeliat penderitaan dia. Yang peduli.
"Pak... aku... aku nggak apa-apa..." Suara nya bergetar parah.
"Lo bohong, Nak. Lo nggak apa-apa mana ada orang yang nangis tiap malem kayak lo? Bapak denger. Dinding rumah tipis. Bapak denger lo nangis. Bapak... Bapak nggak bisa tidur kalau denger lo nangis kayak gitu..."
Lestari nggak kuat. Dia jatuh berlutut, tangan nya nahan pagar bamboo, nangis. Nangis keras. Nangis yang dari tadi ditahan akhirnya keluar.
"Pak... aku... aku nggak tau harus gimana... aku nggak bisa kemana-mana... aku... aku terjebak..."
Pak Dengklek meraih tangan Lestari yang nahan pagar—tangan nya hangat meskipun keriput. "Nak... Bapak doain lo. Bapak doain lo kuat. Doain lo dapet jalan keluar. Suatu hari nanti... suatu hari lo pasti bebas. Percaya sama Bapak."
Lestari menatap mata Pak Dengklek yang berkaca-kaca. Mata orang tua yang peduli. Yang nggak bisa ngelakuin apa-apa tapi masih punya hati.
"Makasih, Pak... makasih..." Lestari cuma bisa bisik itu.
Pak Dengklek ngangguk pelan. Terus dia balik, jalan pelan ke rumahnya, punggung nya bungkuk.
Lestari masih berlutut di situ. Ngeliatin Pak Dengklek yang menjauh.
Dan entah kenapa...
Doanya barusan... doanya yang minta dimatiin...
Sekarang berubah.
"Ya Allah... jangan matikan aku. Biarkan aku hidup. Biarkan aku... biarkan aku buktiin kalau aku nggak cuma budak. Biarkan aku bebas. Suatu hari nanti. Kumohon..."
Angin bertiup pelan.
Baju-baju di jemuran bergoyang.
Dan Lestari berdiri. Pelan. Sakit. Tapi... berdiri.
Karena dia mulai sadar—
Kalau dia mau bebas...
Dia harus bertahan dulu.
Bertahan sampai kesempatan itu datang.
Dan dia... dia bakal nunggu.
Sekuat apapun sakit nya.
Semengerikan apapun neraka ini.
Dia bakal nunggu.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁