Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Dukungan untuk Bintang
"Apa yang dilakukannya hari ini?" Tanya Xavier sambil memeriksa kembali berkas yang menumpuk dihadapannya itu.
"Tidak ada, Nona pergi ke kafe langganannya Tuan muda axel, sekarang mereka sedang berkumpul bersama kedua teman Tuan muda Axel." Lapor Mark sang asisten sekaligus tangan kanannya yang setia.
"Tuan... Tuan... Ada berita buruk..." Ucap seseorang dari sebrang sana.
"Ada apa?" Sahut Xavier singkat.
"Ada kecelakan yang menimpa kafe tempat Tuan muda Axel berkumpul saat ini..
"Apa!!!"
Apa! Apa... Yang terjadi?" Tanya Xavier sambil berlari dengan diikuti Mark dibelakangnya.
"Kasihan sekali, padahal aku dengar disana ada Tuan muda Axel sedang berkumpul bersama teman-temannya." Ucap salah satu penonton yang memadati halaman kafe itu.
Kafe itu dipasangi garis polisi, dan masih terlihat puing-puing bangunan yang runtuh, bahkan pohon besar itu masih disana belum disingkirkan.
"Aku dengar para Tuan muda itu masih terjebak didalam," Ucap yang lainnya.
Mendengar ucapan itu, Xavier menjadi hilang kesabaran, dengan perasaan yang khawatir, Xavier bergegas menerobos kerumunan orang itu, lalu berlari dengan cepat dan masuk kedalam bangunan yang masih rawan itu.
Konsep kafe itu tentang alam. Jadi bangunan itu sengaja dibuat dengan menggunakan kayu pilihan, serta pepohonan yang memang dipelihara hingga besar.
"Tuan...! Tunggu sebentar, kita tunggu konfirmasi dari petugas dulu!" Teriak Mark sambil berlari menyusul Xavier yang terlihat sudah memasuki bangunan itu.
"Wah... Adik... Kau sangat keren, bisa meramalkan cuaca!" Ucap Axel memuji Bintang sambil bertepuk tangan.
"Tuan muda, jangan terlalu dibesar-besarkan, bintang hanya..." Ucapan Bintang langsung terpotong oleh ucapan Axel.
"Jangan panggil aku tuan muda lagi, panggil aku Kakak keempat, atau Kak Axel... Ayo coba panggil," Ucap Axel dengan antusias.
"Hemmm kak Axel..." Ucap Bintang menuruti permintaan Axel.
"Hei... Gadis pintar..." Ucap Axel sambil mencubit pipi Bintang dengn gemas dan senyum lebar.
'Akh... jangan sampai si Singa itu mendengar aku manggil saudaranya Kakak, kalau tidak entah apa yang akan terjadi padaku, ehhh... tapi, Untunglah aku tidak terlambat, jadi kaki kak Axel masih bisa diselamatkan,' Ucap Bintang dalam hatinya sambil tersenyum kecil.
"Oh ya, Adik Bintang, untuk menebus pengorbanan mu, aku enggak mau tahu, ya... Pokoknya aku gak mau tahu, Kau harus menjadi adikku juga," Ucap Han sambil menggoyang-goyangkan ujung gaun yang dipakai Bintang.
"Karena kau juga penyelamat ku, maka aku akan mengirimkan satu set perhiasan, kau tahu kelurga Rivera mempunyai bisnis di bidang design perhiasan," Ucap Han lagi dengan bangga.
"Sekarang kau juga menjadi adik perempuanku, karena kau penyelamat ku juga, jika ada model pakaian yang terbaru, maka akan aku kirimkan tiga set pakaian yang paling terbaru, kau tahu, kelurga Moses mempunyai bisnis dibidang tekstil design pakaian," Ucap Narendra tidak mau kalah sambil memegang tangan Bintang dengan wajah yang berbinar..
"Minggir, karena hari ini kau sudah menyelamatkan aku, pria terganteng dari keluarga Alexander ini, maka hari ini Kak Axel memutuskan akan selalu melindungi mu, maksudnya aku akan jadi pelindung mu, jadi jika ada yang mengganggumu, atau ada yang membuatmu tidak nyaman, maka katakan saja pada kakak, maka Kak Axel akan membereskannya untukmu, oke," Ucap Axel dengan wajahnya yang arogan, membuat Han dan Narendra langsung mencibir sinis.
"Ahkkk... Tidak... Tidak usah terlalu difikirkan... Bintang juga tidak melakukan apa-apa, Lagi pula ini kan hanya sebuah kecelakaan...jadi Bintang..." Ucap Bintang sambil meringis ngeri mendengar ucapan ketiga pria yang ada dihadapannya itu.
Tapi, sebelum Bintang sempat menyelesaikan ucapannya, sudah ada satu tangan kekar yang mendarat dilehernya mencekik kuat leher mungil itu.
"Ya sebuah kecelakaan yang luar biasa, Nona Miller apa kau lupa apa yang dikatakan seseorang padamu?" Ucap Xavier sambil terus mencekik leher Bintang.
"KAK! KAK Xavier APA YANG TELAH KAU LAKUKAN! HEI... LEPASKAN ADIK PEREMPUAN KU, DIA TIDAK BERSALAH! JUSTRU ADIK BINTANG LAH YANG SUDAH MENYELAMATKAN KAMI... KAK!" Teriak Axel panik sambil menarik kasar dan kuat tangan Xavier yang sudah menempel dileher Bintang.
Axel Alexander, usia 17 tahun, putra keempat dari keluarga Alexander.
Pria yang mempunyai rambut kecoklatan serta bola mata yang berwarna biru, hidung yang mancung dan bibirnya yang sedikit tebal, berwajah simetris, pria dengan tinggi 187 serta bertubuh atletis dan berkulit putih.
Dia Tuan muda yang paling ramah dari tiga Tuan muda Alexander yang lainnya, Axel saat ini seorang pelajar satu kelas dengan Bintang karena beberapa kali keluar dari sekolah.
*
*
"Apa nenek tahu, apa yang sudah aku lakukan, hari ini aku seperti seorang damkar, yang menolong orang-orang yang terjebak dalam kekacauan itu, dengn langkah yang tegap aku ikut pergi menyelamatkan mereka..." Ucap Axel sambil mempraktekan orang yang sedang sibuk menyelamatkan seseorang dalam satu kekacauan.
"Akh... Saat itu, Bintang hanya kebetulan lewat, lalu melihat Kak Axel yang sedang bersantai, jadi bintang mampir untuk sekadar menyapa, saat itu kami mendengar angin yang bergemuruh, lalu ya begitulah..." Ucap Bintang sambil tertawa kecil.
"Akh... Adik Bintang, Kau telah mematahkan hati dan ceritaku, kau kan bisa berpura-pura tidak tahu, akhhh... Tidak seru..." Ucap Axel dengan cemberut lalu langsung duduk dan meneguk minumannya dengan sekali teguk.
"Jangan hiraukan Dia, dari awal Dia bercerita Nenek tahu jika Dia sedang berbohong.. " Ucap Natasha sambil tertawa renyah dan menunjuk pada Axel yang bertambah cemberut, sedangkan Xavier hanya menatap Bintang dengan datar.
"Akh... Lebih baik aku main keluar sajalah, kalian tidak seru..." Ucap Axel sambil berdiri lalu mengibaskan poninya dan melenggang keluar taman itu dengan berdengus pelan.
####