Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Tak Terduga-2
Kanaya menatap Raihan, dengan senyuman yang terlihat sedikit kaku, kemudian mengangguk."Oh gitu, ya udah gak apa-apa. Kalo gitu kamu jemput adek kamu aja, takut ada apa-apa. Aku pulang bentar lagi aja, makanan sama minuman aku belum habis, nanti aku bisa pulang naik taksi kok."jawab Kanaya, dan wajah Raihan terlihat makin tak nyaman.
"Eh, tapi kalo bisa jangan naik taksi deh Yank, masa aku yang jemput kamu pulangnya naik taksi."ucap Raihan. Raihan lalu menatap Gavin dan Alex, kemudian bertanya.
"Gav ,Lex ada yang bisa anterin cewek gue pulang gak nanti?"Tanya-nya, sementara Alex dan Gavin terlihat saling pandang.
"Gue mesti nganterin Karina Rai, kita juga gak searah, Gav Lo aja , Lo kan searah."Ujar Alex yang malah menunjuk Gavin
Gavin menghembuskan napas sejenak, kemudian mengangguk."Ya udah, biar gue aja yang nganterin Kanaya."Jawab Gavin. membuat Raihan akhirnya tersenyum.
"Ya udah yank, kalo gitu kamu pulang sama Gavin aja ya, jangan naik taksi, oke?"Tanya Raihan lalu mengelus kepala Kanaya dan menciumnya, Kanaya hanya mengangguk dan tersenyum.
"Iya Rai,"jawab Kanaya singkat.
"Ya udah kalo gitu aku pulang dulu, bro gue duluan ya. Titip cewek gue!"ujar Raihan yang akhirnya berpamitan, lalu meninggalkan dua pasang manusia yang sama-sama terdiam .
"Nay?"tegur Karina, yang mengaburkan lamunan Kanaya.
"Ya Rin...?"tanya Kanaya.
"Lo ngerasa gak, kayaknya... cowok Lo itu anak mamih deh."ucap Karina, yang membuat Kanaya terpaku sejenak kemudian menggeleng pelan. Sedangkan Gavin, tampak memperhatikan Kanaya dengan tatapan sulit di artikan.
--
Beberapa saat kemudian...
Kanaya dan Gavin akhirnya pulang bersama, setelah Kanaya menghabiskan makanannya di kafe, dan kebetulan Karina juga harus cepat pulang, yang langsung di antar oleh Alex.
Di dalam mobil hanya ada keheningan, Gavin dan Kanaya sama-sama tak ada yang berniat membuka pembicaraan antara mereka. Ini adalah kali pertama bagi Gavin maupun Kanaya kembali berada dalam suasana yang cukup dekat, setelah Kanaya resmi menjadi kekasih dari Raihan. Hingga beberapa saat berlalu akhirnya bersuara.
"Jadi gimana?"tanya Gavin, yang membuat Kanaya langsung menatap ke arahnya.
"Gimana apanya?"tanya Kanaya. Tampak tak mengerti ucapan pria di sampingnya.
"Apa Raihan,good kisser?"tanya Gavin, yang membuat Kanaya terkejut, dengan matanya yang menajam. Gadis itu kemudian berdehem pelan dan menjawab.
"Please deh Gav, jangan ikut-ikutan Karina!"jawabnya, wajahnya tampak kesal dengan pertanyaan Gavin, sementara Gavin malah tertawa mendengar ucapan Kanaya.
"Gue yakin sih, pasti gue lebih hebat di banding Raihan, bener kan?"Tanya Gavin lagi, yang membuat pipi Kanaya bersemu merah, untungnya waktu yang sudah beranjak malam, membuat keadaan cukup gelap, sehingga Gavin tak melihat rona merah di wajah Kanaya.
Dan Kanaya memilih tak menjawab pertanyaan pria di sampingnya itu.
--
Dan kini, Kanaya telah sampai di rumahnya, kebetulan tak ada satupun orang di rumahnya saat ini, selain satpam yang berjaga di pos rumahnya, Bu Lastri dan suaminya kebetulan sedang ada urusan katanya, dan membuat mereka harus pergi selama beberapa hari kedepan.
"Lo, mau masuk dulu?"tawar Kanaya pada Gavin. Awalnya Gavin akan menolak tawaran Kanaya, namun tiba-tiba ada panggilan alam yang membuatnya harus buru buru ke kamar mandi, dan akhirnya Gavin mengangguk.
"Boleh numpang ke toilet Lo kan Nay, kebelet gue."ucap Gavin yang di angguki Kanaya.
"Ya udah, masuk aja."jawab Kanaya, kemudian Kanaya dan Gavin pun masuk ke dalam rumah, Kanaya mengantarkan Gavin terlebih dulu menuju toilet, sebelum Kanaya menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaian, Kanaya merasa cukup gerah setelah seharian ini, menemani Raihan, awalnya ia ingin mandi namun mengingat Gavin yang masih ada di rumah nya, Kanaya memilih mengurungkan niatnya.
Kanaya pun kembali ke lantai bawah setelah mengganti baju untuk melihat keadaan Gavin, yang sepertinya belum keluar dari toilet.
Dan saat itulah, tiba-tiba lampu di rumah Kanaya mati, yang di di susul suara petir setelahnya, kemudian terdengar suara gemericik air, sepertinya hujan cukup deras, dan juga suara petir yang kembali beberapa kali terdengar, dan hal itu sontak membuat Kanaya takut.
"Nay"suara Gavin terdengar, membuat Kanaya tersentak karena kaget, Kanaya memang cukup parno dalam keadaan hujan dan gelap seperti ini.
Gavin pun menghampiri Kanaya, dengan membawa senter di hpnya untuk menerangi langkahnya.
"Mati lampu ya?"Tanya Gavin yang di angguki Kanaya.
"Ya udah, gue pulang sekarang gak apa-apa kan?"Lanjut Gavin, yang membuat Kanaya menggeleng cepat.
"Jangan Gav, gue takut sendirian gelap-gelapan gini."ucap Kanaya yang kini sudah berada di samping Gavin sambil menggenggam tangan pria itu. Gavin menatap tangannya yang di genggam Kanaya kemudian menghela nafas.
Sepertinya, tak ada pilihan lain, akhirnya Gavin pun memutuskan untuk menemani Kanaya, paling tidak, sampai lampu di rumah gadis itu menyala. Gavin dan Kanaya akhirnya memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu rumah Kanaya, dengan Kanaya yang duduk di samping Gavin tanpa mau melepaskan tangan pria itu.
"Nay."panggil Gavin, yang membuat Kanaya menatap ke arahnya.
Dalam penerangan seadanya dapat Kanaya lihat Gavin yang terus menatapnya dengan pandangan yang berbeda, Gavin juga terus mendekat kan wajahnya pada Kanaya, seharusnya Kanaya menolak dan mendorong Gavin untuk menjauh darinya, namun alih alih seperti itu, Kanaya malah terdiam kaku dan hanya mampu membalas tatapan pria itu.
"Sorry Nay, kayaknya... lagi-lag gue gak bisa."ucap Gavin sebelum mendaratkan bibirnya di atas bibir ranum Kanaya.
Cup.
Bibir Gavin dan Kanaya pun kembali bertemu, dan Gavin, langsung melumat lembut bibir ranum kekasih sahabatnya itu, dan Kanaya pun tak menolak, dan terlihat memejamkan matanya.
Setelahnya, Gavin terus mencumbu intens, dan Kanaya pun seakan lupa akan status mereka saat ini, gadis itu malah ikut membalas ciuman Gavin, mereka melakukannya cukup lama, bahkan kini posisi Kanaya sudah tertidur di atas sofa dengan Gavin di atasnya.
Ctas!
Tiba-tiba lampu rumah Kanaya kembali menyala, dan mengembalikan kesadaran Kanaya dan Gavin. Kanaya yang sadar akan posisinya sekarang, langsung mendudukkan dirinya dan mendorong Gavin agar tak lagi menindih tubuhnya.
"S-Sorry, Nay."Ucap Gavin, wajahnya tampak merasa bersalah.
Kanaya terdiam, ia menarik nafasnya dalam, sambil memegang bibirnya, yang membengkak, sama seperti Gavin, ada rasa bersalah juga yang kini Kanaya rasakan.
"I-Iya Gav, gue juga salah." Ucap Kanaya,"Mmm... Sebaiknya, Lo pulang sekarang aja yah."Lanjut Kanaya, bukan maksud mengusir Gavin, Kanaya hanya ingin menetralkan kembali jantungnya, setelah kejadian yang baru saja di alaminya.
"Y-Ya udah, gue pulang."ucap Gavin, lalu mengelus pelan kepala Kanaya, kemudian beranjak meninggalkan Kanaya, yang kini memegangi dadanya.
-Bersambung