NovelToon NovelToon
V.I.P (KILL YOU)

V.I.P (KILL YOU)

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Mata-mata/Agen / TKP / Psikopat itu cintaku / Agen Wanita
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dae_Hwa

“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”

Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?

Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VIP8

“Kita harus bergerak cepat, Ram. Kondisi makin nggak kondusif,” ujar Bella setelah menghancurkan alat penyadap suara yang di masukan dalam tasnya entah oleh siapa.

Abirama mengangguk setuju. Ia merogoh ponsel di dalam saku celana, menatap layar tanpa sinyal.

“Sial, mau sampai kapan jaringan ini kacau balau?!” desisnya geram.

Pria bertubuh tegap itu mendengus kesal. Ia mengangkat ponselnya tinggi-tinggi ke udara, memutar tubuh, berjalan beberapa langkah ke kanan lalu ke kiri—seolah sinyal bisa ditangkap hanya dengan mencari sudut yang tepat.

“Percuma,” kata Bella pelan. “Kita tidak akan mendapatkan satu bar pun sampai bantuan itu selesai bekerja.”

Abirama berhenti melangkah. “Bantuan?” Ia menoleh cepat, keningnya berkerut.

Bella mengangguk, mendekati Abirama dan berbisik pelan. “Di perairan sekitar pulau ini, ada seorang hacker yang sedang bekerja. BIN pasti telah mengutus seseorang, karena semenjak aku menginjakkan kaki di pulau ini — aku belum mengirimkan laporan pertama.”

Ia melirik ke arah gelap laut yang terlihat dari kejauhan. “Di dalam sana, di jarak aman dari garis pantai, utusan itu pasti sedang berusaha meretas dan melumpuhkan sejenak jaringan Pulau Darasila—supaya perangkat tertentu bisa menyerap sinyal dan menyelinap masuk ke jaringan mereka tanpa terdeteksi sistem.”

Bella menarik kerah baju sahabatnya, bibirnya semakin rapat di telinga dengan bulu-bulu halus yang sudah berdiri semua.

“Oleh karena itu, nyalakan selalu Wi-Fi ponselmu, jangan dimatikan,” bisik Bella dengan suara menekan.

Abirama mengernyit, masih tak paham.

“Begitu sistem mereka dipadamkan, pulau ini akan lumpuh sesaat. Dan begitu aktif kembali, ponsel kita akan langsung tersinkron ke jaringan mereka — tanpa melewati pengaman,” lanjut Bella singkat. “Itu satu-satunya celah. Kamu paham ‘kan, Ram?”

Abirama mengangguk cepat. “Aku paham.”

Bella kembali menatap laut gelap. “Sekarang kita harus berpencar.”

“Kamu ke mana?” tanya Abirama.

“Balai desa. Aku harus menjemput anak-anak itu dan membawa mereka keluar dari pulau ini,” jawab Bella. “Kamu sebaiknya lekas kembali ke penginapan, siapkan timmu.”

Bella merogoh tasnya, mengambil bungkusan hitam dan mengeluarkan beberapa isinya, memberikan pada Abirama. Alis Abirama terangkat.

“Kamera pengintai,” kata Bella. “Ambil sebagian. Kita pasang di area yang tak terjangkau CCTV mereka.”

Pria berwajah tegas itu mengangguk paham. Kemudian, keduanya lekas berpencar.

Sementara itu, lima kilometer dari garis pantai—di bawah permukaan laut yang gelap dan sunyi.

Sebuah kapal selam riset milik BIN melayang stabil, lampu-lampu luarnya redup, hampir menyatu dengan hitamnya samudra. Di dalam ruang kendali sempit, layar-layar besar menyala kebiruan, dipenuhi grafik jaringan, peta node sinyal, dan aliran data yang bergerak cepat.

Seorang pria dengan hoodie hitam yang menutupi sebagian kepala, duduk di tengahnya. Mata tajamnya tak lepas dari deretan kode yang terus berubah.

Jari-jarinya menari cepat di keyboard khusus, sesekali menyentuh panel sentuh di samping kursinya. Di salah satu layar, terbaca jalur kabel bawah laut Pulau Darasila. Di layar lain, relay komunikasi lokal berkedip—dipantau, dipetakan, lalu satu per satu ditandai merah.

“Ck! Sistem kalian cukup rapi,” gumamnya datar. “Tapi, kalian terlalu percaya diri.”

Ia menggeser tuas kecil. Grafik tiba-tiba melonjak. Di salah satu layar lain, keluar garis lingkaran berputar-putar.

“Sedikit lagi,” bisiknya dengan sudut bibir terangkat. “Ayo cepaaaaat.”

BIP!

Lampu indikator berubah hijau, mata sang hacker pun berkilat.

“YESSSSSSSH!”

Di darat, sistem Pulau Darasila mendadak lumpuh, listrik pun padam total—suatu celah yang ditunggu Bella.

Dan di tempat yang berbeda, Abirama baru saja tiba di depan penginapan. Dalam gelap gulita, ia mengeluarkan ponselnya, memastikan ikon Wi-Fi pada benda pipih itu benar-benar sudah diaktifkan.

Pria itu berdiri tegak seraya menghela napas berat, lalu mengusap tengkuknya sekali, kebiasaan lama setiap kali ia mulai tak sabar. Pandangannya bolak-balik antara layar ponsel dan bangunan penginapan yang gelap total.

“Lama juga ...,” gumamnya pelan.

Ia menunggu dengan gelisah, sesekali kakinya menendang kerikil kecil tanpa sadar. Hingga, beberapa menit kemudian — lampu penginapan akhirnya menyala.

Hampir bersamaan, benda pipih dalam genggamannya bergetar. Ikon Wi-Fi tersambung begitu saja ke sistem jaringan Darasila.

Sorot kesal berubah binar, ia cepat mengetik pesan dan mengirimkan ke kontak Bella.

Abirama : Aku di penginapan. Jangan lupa matikan nada dering dan getar ponsel mu.

Usai pesan terkirim, Abirama menyimpan ponselnya dan segera melangkah masuk. Penginapan itu terasa semakin sunyi—dan entah kenapa, lebih mencekam dari sebelumnya.

‘Situasi ini ... wajar ‘kan? Ini nyaris subuh,’

Saat langkahnya hampir mencapai pintu lift, seorang petugas resepsionis tiba-tiba menyusulnya.

“Pak, sebentar,” ucapnya sopan. “Lift belum bisa digunakan.”

Abirama menoleh. “Kenapa?”

“Listrik sempat padam total tadi,” jelas petugas itu. “Sistem lift masih dalam proses penyesuaian ulang. Untuk sementara, kami sarankan tamu menggunakan tangga darurat.”

Ia melirik ke arah koridor samping, ke pintu besi bertanda Emergency Staircase.

“Kalau Bapak mau, saya bisa menemani. Tangga darurat agak gelap dan jarang dilewati malam-malam begini.”

Abirama menatapnya beberapa detik—cukup lama untuk menangkap keganjilan kecil di balik senyum profesional itu.

“Tak perlu,” jawabnya datar.

Namun petugas itu tetap melangkah sejajar, seolah keputusan sudah diambil.

“Prosedur, Pak,” katanya ringan. “Kami diminta memastikan tamu sampai dengan aman.”

Abirama tidak membantah lagi, melangkah pelan. Tapi, telapak tangannya perlahan mengepal. Tatapannya sempat melirik singkat ke pergelangan tangan sang petugas—dan di sanalah ia melihatnya.

Tato itu.

Sederhana, tapi identik dengan yang Bella deskripsikan.

Beberapa anak tangga berhasil mereka lewati. Suasana sunyi semakin membuat Abirama bergidik. Namun, pria itu menahan diri untuk tidak bereaksi, pikirannya sibuk menyusun kemungkinan terburuk.

Sementara itu, di lobby utama, lift yang katanya sedang dalam penyesuaian ulang — baru saja terbuka. Dua pria bertubuh besar keluar dari sana, salah satunya mendorong troli yang mengangkat dua pria tak sadarkan diri, yakni rekan kerja Abirama.

“Cepat dikitlah kerjamu itu,” gerutu pria kepala plontos sambil melirik jam di pergelangan tangannya. “Udah mau pagi ini. Tamu elit mau datang, jangan sampai berantakan pulak nanti.”

Pria gondrong yang tengah menyeret dua rekan Abirama menggeram pelan sambil membetulkan pegangan di besi troli.

“Yo ... sabar toh,” sahutnya datar. “Iki wong dua kan berat. Kowe maunya cepet, tapi ndak mau ikut ngangkat.”

“Halah, banyak cakap kau,” balas pria plontos itu ketus. “Pokoknya sebelum fajar menyingsing, semua harus bersih. Jangan ada satu pun yang keliatan mondar-mandir.”

“Iyo, ngerti,” gumam si gondrong. “Tak bereskan sekarang. Wong-wong iki tak taruh di tempat biasa.”

Si plontos menghela napas panjang, lalu menendang pelan salah satu tas yang tergeletak di lantai.

“Ya udah,” sahutnya malas. “Kau urusin badannya. Biar aku yang beresin barang-barang mereka.”

Pria yang bertugas melenyapkan semua barang bukti, mengangkat dua tas dan segera melangkah. Sebelum mencapai pintu utama, pria botak itu menoleh sekilas ke belakang.

“Kau nanti tunggu di dermaga,” perintahnya. “Jangan ke mana-mana. Kalau kapal udah siap, kabari aku. Jangan buat masalah kau!”

.

.

Sementara itu, di lantai tiga, Abirama berdiri terpaku di ambang kamar kosong. Keningnya berkerut heran melihat dua rekannya tak berada di dalam sana.

“Dit? Har?” panggilnya, tetapi tak ada sahutan.

Ia melangkah menuju kamar mandi, mendorong pintu tak terkunci.

“Ke mana mereka?” gumamnya.

Ia menyibak kain jendela, menelisik area luar dari balik kaca, hanya kegelapan yang ada.

‘Apa ... mereka diculik?’

Pikiran itu menyelinap cepat, pandangannya menyapu kamar sekali lagi. Ranjang rapi. Lantai bersih. Tak ada bekas tanda-tanda perlawanan.

‘Ini terlalu rapi untuk kamar dua detektif yang diculik,’ batinnya bermonolog. Matanya bergerak cepat, memindai sudut-sudut ruangan. ‘Tapi ... bukannya yang terlalu rapi itu justru ....’

Abirama menatap lurus ke arah pintu. Tanpa ragu, ia melangkah cepat, meraih gagang dan menariknya hingga terbuka.

Namun, seseorang sudah menantinya di ambang pintu — petugas resepsionis berdiri tegak dengan senyum seringai, menodongkan stun gun (alat kejut listrik) ke perut Abirama.

Bzzzzztt! Bzzzttt!

*

*

*

1
Sriwahyuu
cepat sembuh author kesayangan kami😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
amiinnnn
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jadi sedih otor. semoga ga ada yang bahaya yah. cepat sembuh dan pulih.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
belum taaauuuuu dia
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
izzz jabir kalilah kau babang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasar si babang, masih aja nakal
Anna
Cepet pulih mentor terbaikk kuhhhh, mau selama apapun Anda hiastus. Saya akan tetap setia menunggu 🫶
Anna
Dinda heyyyy tolong. Bahkan Mas Edwin saja di bikin semapot tanpa menyentuh ama Mbak Bella. 🤣
Anna
Definisi peduli tapi gengsi🫢🤣
jay naomi
semoga cepat sembuh semangat othor q.
Wenty Lucia Wardhani
cepat sehat author kesayangan....🥰🥰🥰
youyouen Rahayu
syafakillah kak semg ALLAH mengangkat segala penyakit kak author,diberikan kesehatan seperti semua dn bisa berkarya lagi,love you kak author semngtt sellu yaaa akn ku nanti setiap upnya,dengan sesabar mungkn,maaf ya kak author kalau aku sellu mengintip trs🙈🙈 di cerita ini.
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
😂😂
CallmeArin
semoga segera di angkat penyakitnya Thor 🤲🏻
Sayuri
aamiin ya Allah 🥺
Sayuri
y Allah kget q :(
k dehwa lekas sembuh 😩
Sayuri
kmu blm tw ja bu bella gmn din.. klo tau, bs trcngang
Sayuri
yg hcker kpal selam itu y tor?
Sayuri
/Joyful/
Sayuri
ber berbagi apa papa ed?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!