Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Pedang Karat dan Tongkat yang Merepotkan
Li Yuan melangkah perlahan menuju pedang yang tertancap di atas batu. Pedang itu tampak menyedihkan; permukaannya penuh karat, gagangnya hanya terbungkus kain usang, dan sama sekali tidak memancarkan aura kegagahan.
"Masa gua semegah ini isinya cuma pedang rongsokan?" gerutu Li Yuan. "Tapi ya sudahlah, daripada pakai dahan kayu terus. Kalau tidak bisa buat menebas, minimal bisa buat menggaruk punggung."
Li Yuan memegang gagang pedang itu. Ia bersiap mengeluarkan tenaga Pengerasan Dasar tingkat tiga miliknya.
"Satu... dua... TARIIIIK!"
SRAAAK!
Bukannya pedang itu yang tercabut dengan gagah, Li Yuan justru terjungkal ke belakang karena pedang itu tercabut dengan sangat mudah, seolah-olah hanya tertancap di tumpukan pasir.
"Ehh? Ringan sekali?" Li Yuan menimang-nimang pedang itu. Anehnya, meskipun terlihat berkarat, pedang itu terasa sangat seimbang di tangannya. Saat ia mencoba mengayunkannya, karat-karat di permukaan pedang itu sedikit rontok, menampakkan kilatan logam hitam di bawahnya.
Sementara itu, di sudut ruangan yang dipenuhi debu, Dong Dong sedang sibuk mengendus-endus tumpukan barang antik. "Emas... bukan. Tulang... bukan. Hah? Apa ini?"
Kaki Dong Dong tersandung sebuah tabung logam panjang yang tertutup debu tebal. Dengan penasaran, ia mengelap debu itu. Seketika, tabung itu menyusut dan memanjang dengan sendirinya, menyesuaikan dengan ukuran tubuh Dong Dong.
"Uaaa! Benda ini hidup!" teriak Dong Dong kaget.
Tongkat itu berwarna merah tua dengan ujung berlapis emas. Di tengahnya terdapat ukiran naga yang sangat detail. Saat Dong Dong memegangnya, sebuah aliran energi yang sangat besar menyengat tangannya, membuat bulu-bulunya berdiri tegak.
"Lihat, Li Yuan! Aku menemukan tongkat jemuran yang bisa berubah ukuran!" Dong Dong memutar-mutar tongkat itu dengan mahir. "Terasa sangat pas di tanganku. Aku merasa seperti pahlawan dari legenda kuno!"
"Pahlawan apanya? Kau lebih mirip monyet sirkus yang mau atraksi." ejek Li Yuan sambil mencoba menebas udara dengan pedang karatnya.
Namun, suasana komedi itu tidak bertahan lama. Begitu mereka berdua memegang senjata masing-masing, panci yang mendidih di tengah ruangan tadi tiba-tiba meledak.
DUAARR!
Bukannya air panas yang menyembur, melainkan gumpalan asap hitam yang membentuk sosok kakek tua berambut putih dengan wajah yang sangat masam.
"Siapa... SIAPA YANG BERANI MENYENTUH PERALATAN MASAKKU DAN MENGAMBIL SENJATA TITIPANKU?!" teriak hantu kakek itu dengan suara menggelegar.
Li Yuan dan Dong Dong langsung berpelukan erat karena ketakutan. "Bukan kami, Kek! Tadi ular besar yang melempar kami ke sini! Salahkan ularnya!" teriak Li Yuan sambil menunjuk ke arah pintu masuk.
Hantu kakek itu melayang mendekat, matanya menatap tajam ke arah pedang di tangan Li Yuan, lalu ke arah tongkat di tangan Dong Dong. Ia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba menghela napas panjang yang terdengar seperti ban bocor.
"Hah... sudah seribu tahun, dan yang datang justru bocah dekil dan monyet kelaparan. Takdir memang sedang melucu rupanya." gumam sang kakek sambil memijat keningnya.
"Maaf, Kek," Dong Dong memberanikan diri bicara. "Tongkat ini keren sekali. Namanya apa? Apakah bisa dipakai untuk memetik pisang di pohon yang sangat tinggi?"
Hantu kakek itu hampir saja menghilang karena emosi. "Itu adalah Tongkat Penghancur Bintang! Dan kau ingin memakainya untuk mengambil pisang?! Dan kau, Bocah! Pedang itu adalah Pedang Hitam Takdir yang bisa membelah gunung! Jangan kau pakai untuk menggaruk punggung!"
Li Yuan nyengir kuda. "Habisnya karatan begini, Kek. Jadi, karena kami sudah memegangnya, apakah ini artinya kami resmi jadi murid Kakek dan dapat makan gratis?"
Kakek itu menatap mereka dengan tatapan pasrah. "Melihat kalian, sepertinya aku harus kerja ekstra keras. Cepat habiskan cairan di dalam panci itu! Itu adalah Esensi Sumsum Naga. Jika kalian tidak mati setelah meminumnya, kalian akan langsung melonjak ke ranah Arus Qi!"
Li Yuan dan Dong Dong saling pandang. Tanpa pikir panjang, mereka langsung berebut menuju panci itu seperti orang yang tidak makan selama satu bulan.
"Eitss, jangan dihabiskan semua, Monyet Rakus!"
"Kau yang jangan serakah, Manusia Kerempeng!"
Hantu kakek itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan dua murid barunya. "Dunia ini benar-benar akan hancur di tangan mereka..."