Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Megah yang Menyimpan Luka
Malam itu, rumah megah keluarga Santoso tampak seperti biasa—lampu-lampu kristal menyala lembut, lantai marmer berkilau, dan para penjaga berdiri di titik-titik yang sudah ditentukan. Tidak ada yang mencurigakan.
Tidak ada yang tahu bahwa di dalam rumah itu,
Elisabet sedang berjalan sendirian menembus masa lalunya sendiri.
Langkahnya pelan, hampir tanpa suara. Ia memastikan lorong benar-benar sepi sebelum berhenti di depan pintu kamar ayahnya.
Kamar yang dilarang keras untuk dimasuki siapa pun.
Bahkan setelah ayahnya meninggal, pintu itu tetap terkunci—seolah di baliknya tersimpan sesuatu yang tidak boleh disentuh.
Elisabet menatap gagang pintu itu lama.
“Ayah…” bisiknya.
“Apa yang sebenarnya Ayah sembunyikan dariku?”
Ia memutar kunci cadangan yang selama ini ia simpan diam-diam.
Klik.
Pintu terbuka.
Udara di dalam kamar terasa berbeda—dingin, kaku, dan berat. Aroma kayu tua dan kertas lama menyambutnya, membuat dadanya terasa sesak tanpa alasan jelas.
Ia masuk dan menutup pintu perlahan.
Kamar itu rapi, terlalu rapi. Meja kerja besar di sudut ruangan penuh map dan dokumen yang tersusun teratur. Rak buku menjulang hingga langit-langit, dipenuhi buku-buku hukum, ekonomi, dan catatan yang tidak pernah ia pahami saat kecil.
Elisabet mulai menyisir ruangan itu satu per satu.
Ia membuka map pertama.
Lalu yang kedua.
Lalu yang ketiga.
Angka-angka.
Nama perusahaan.
Transaksi lintas negara.
Semakin lama membaca, wajahnya semakin pucat.
“Ini… bukan kekayaan biasa,” gumamnya.
Ia akhirnya mengerti.
Harta keluarga mereka bukan hanya hasil kerja keras atau bisnis bersih. Ada jalur gelap, ada perdagangan ilegal, ada kerja sama yang tidak seharusnya dilakukan manusia yang mengaku bermoral.
Dan lebih dari itu
banyak pihak mengincar semuanya.
Tangan Elisabet gemetar saat menutup dokumen terakhir. Matanya berkaca-kaca.
“Selama ini aku hidup nyaman… di atas penderitaan orang lain?” suaranya pecah.
Ia melangkah mundur, berniat keluar dari kamar itu—terlalu banyak yang harus dicerna.
Namun saat ia berbalik,
sebuah buku di rak tersenggol oleh lengannya.
Buku itu jatuh.
Dan bersama suara jatuhnya, terdengar klik pelan.
Rak buku di depan matanya bergerak.
Perlahan.
Membuka sisi lain ruangan yang selama ini tersembunyi.
Napas Elisabet tercekat.
“Tidak mungkin…” bisiknya.
Dengan jantung berdegup keras, ia melangkah masuk ke ruang rahasia itu.
Di dalamnya, lampu kecil otomatis menyala.
Dan di sanalah semuanya berubah.
Dinding-dinding ruangan itu dipenuhi foto.
Foto dirinya sejak bayi—dalam pelukan ayah dan ibu kandungnya.
Foto ulang tahunnya.
Foto hari pertamanya sekolah.
Foto-foto yang selama ini ia kira telah hilang.
Dadanya terasa nyeri.
“Ayah…” air matanya mulai jatuh tanpa bisa dicegah.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Di antara foto-foto itu,
ia melihat gambar lain.
Ayahnya…
bersama seorang perempuan.
Lebih muda.
Lebih dekat dari yang seharusnya.
Marcellina.
Ibu tirinya.
Kenangan pahit masa lalu menghantamnya sekaligus—tatapan dingin, senyum palsu, sikap manis yang selalu terasa dipaksakan.
“Jadi ini…” suara Elisabet bergetar.
“Ini alasan semuanya?”
Air mata membasahi pipinya, tapi ia cepat menghapusnya dengan kasar.
“Tidak,” katanya tegas.
“Aku tidak boleh berhenti sekarang.”
Ia terus menyisir ruangan itu.
Foto-foto lama ayahnya saat muda.
Bersama pria-pria asing dengan wajah keras.
Dan di sudut ruangan…
...----------------...
Sebuah brankas.
Hitam. Berat. Berdebu.
Perhatian Elisabet langsung tertuju padanya.
Ia membersihkan debu di permukaannya, lalu mencoba membukanya.
Gagal.
Sekali lagi.
Gagal.
Layar kecil di brankas menyala.
PERINGATAN: Kesalahan berikutnya akan memusnahkan seluruh isi.
Elisabet mundur selangkah.
“Tidak… tidak…” gumamnya panik.
Ia tidak mungkin mengambil risiko itu.
Dengan tubuh lemas, ia duduk di kursi di dekatnya, menatap brankas itu kosong. Beberapa menit berlalu begitu saja.
Hingga ingatan itu datang.
Malam hujan.
Teriakan.
Darah.
Ayahnya menahan tubuhnya sendiri untuk melindungi Elisabet remaja.
Dan di telinganya, ayahnya berbisik:
enam angka.
“Jangan lupa…”
“Ini penting…”
Elisabet menutup mata.
Ia ingat.
Ia tidak pernah melupakan.
Ia bangkit, melangkah kembali ke brankas, dan memasukkan PIN itu dengan tangan yang kini lebih mantap.
Tanggal itu.
Hari pertama ia dan ayahnya menghabiskan waktu seharian penuh hanya berdua.
Bunyi mekanisme bergerak.
Brankas terbuka.
Elisabet menahan napas.
Di dalamnya ada map hitam dengan gradasi emas.
Ia membukanya.
Dan dunia yang selama ini ia kenal… runtuh sepenuhnya.
Dokumen-dokumen itu menjelaskan semuanya.
Tentang kekayaan ayahnya.
Tentang kesepakatan gelap.
Tentang perjanjian bahwa ia harus menikahi Marcellina, atau keluarganya akan menjadi tumbal.
Tentang keterlibatan ayahnya dalam Perisai Malam.
Dan terakhir
Satu kertas.
Laporan kematian ayahnya.
Direncanakan.
Disusun.
Dilaksanakan.
Pelakunya: Marcellina Hartono dan antek-anteknya.
Alasannya sederhana dan keji:
saat Elisabet berusia 19 tahun,
90 persen aset keluarga berpindah atas namanya.
Elisabet menatap kertas itu lama.
Lalu…
amarahnya meledak.
“KAU MEMBUNUH AYAHKU!!” teriaknya tertahan, suara parau penuh kebencian.
Tangannya gemetar hebat. Napasnya tidak beraturan.
Ia kini berusia empat puluh tahun
dan luka masa lalu yang ia kira telah sembuh,
ternyata hanya terkubur.
“Hidup ini terlalu singkat,” katanya dengan suara bergetar namun penuh tekad,
“untuk dihabiskan oleh rahasia busuk kalian.”
Air mata jatuh deras, bercampur amarah yang tak lagi bisa dibendung.
Namun di balik tangis itu,
lahir sesuatu yang baru.
Keberanian.
Kesadaran.
Dan keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.
Elisabet menutup map itu, berdiri tegak, dan menatap ruangan rahasia itu dengan mata yang kini berbeda.
Bukan lagi mata korban.
Melainkan mata seseorang yang siap melawan.
Dan di rumah megah itu,
tanpa seorang pun menyadari,
perang yang sesungguhnya…
baru saja dimulai.
Api yang Tidak Lagi Bisa Dipadamkan
Elisabet menutup kembali brankas itu dengan tangan yang masih gemetar. Bunyi logam bertemu logam terdengar pelan, namun di telinganya terasa seperti dentuman.
Ruangan rahasia itu kini terasa sempit.
Bukan karena ukurannya
melainkan karena beban kebenaran yang menekan dadanya.
Ia berdiri lama, memandang foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto terakhir sebelum semuanya berubah. Ayahnya tersenyum tipis. Ibunya berdiri di samping, matanya lembut namun lelah.
“Kalian tahu, kan…” bisik Elisabet lirih.
“Bahwa aku akhirnya tahu semuanya?”
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan yang menusuk.
Perlahan, Elisabet merapikan kembali map hitam itu. Ia tidak membawanya keluar. Belum. Terlalu berisiko. Terlalu berbahaya jika seseorang tahu ia sudah sampai sejauh ini.
Ia menyembunyikannya kembali
tepat seperti ayahnya dulu.
Saat melangkah keluar dari kamar, langkahnya jauh berbeda dari saat ia masuk.
Tidak ada lagi keraguan.
Yang tersisa hanya satu perasaan dominan
marah yang terarah.
Wajah yang Palsu, Senyum yang Sama
...----------------...
Pagi berikutnya, rumah besar itu kembali hidup.
Para pelayan lalu-lalang.
Suara sendok dan piring beradu di ruang makan.
Segalanya tampak normal.
Terlalu normal.
Marcellina Hartono duduk di ujung meja, mengenakan gaun elegan berwarna krem. Rambutnya tersanggul rapi. Wajahnya tenang, nyaris lembut—seperti tidak pernah melakukan dosa apa pun.
“Elisabet,” sapa Marcellina dengan senyum tipis.
“Kamu tampak lelah. Tidak tidur nyenyak?”
Elisabet menarik kursi dan duduk tepat di hadapannya.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk sesaat..
hanya sesaat..
ada kilatan sesuatu di mata Marcellina.
Takut?
Atau hanya bayangan?
“Aku tidur sangat nyenyak,” jawab Elisabet pelan.
“Malam ini memberiku banyak jawaban.”
Marcellina mengangkat alis samar.
“Oh?”
Elisabet mengambil cangkir tehnya. Tangannya stabil. Suaranya tenang. Terlalu tenang.
“Dulu aku selalu bertanya-tanya,” katanya perlahan,
“kenapa Ayah berubah di tahun-tahun terakhir hidupnya.”
Marcellina menyandarkan tubuh ke kursi.
“Orang sakit memang berubah,” katanya enteng.
Elisabet tersenyum kecil.
“Sakit karena rasa bersalah,” balasnya.
Udara di ruang makan mendadak terasa dingin.
Marcellina menatap Elisabet lebih lama dari seharusnya.
“Kamu sedang menuduh sesuatu?”
Elisabet meletakkan cangkirnya.
“Aku tidak menuduh,” katanya pelan namun tajam.
“Aku hanya mulai memahami.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada emosi berlebihan.
Justru itu yang membuat Marcellina tidak nyaman.
Ia tersenyum kembali, tapi kali ini kaku.
“Berhati-hatilah dengan apa yang kamu pikirkan, Elisabet. Terlalu banyak rahasia di keluarga ini. Tidak semuanya aman untuk dibuka.”
Elisabet berdiri.
“Tenang saja,” katanya sambil menatap lurus ke mata Marcellina.
“Aku tidak berniat membuka semuanya.”
Ia membungkuk sedikit, mendekat, suaranya nyaris berbisik:
“Aku berniat mengakhirinya.”
Marcellina tidak bergerak. Tapi jari-jarinya mengepal di bawah meja.
Elisabet berbalik dan meninggalkan ruang makan.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun,
Marcellina Hartono merasa
kendali itu mulai terlepas dari tangannya.
Keputusan
Di dalam kamar, Elisabet menutup pintu perlahan lalu bersandar di sana.
Kayu dingin itu menahan punggungnya, seolah menjadi satu-satunya penopang yang tersisa.
Napasnya akhirnya bergetar.
Amarah itu masih ada.
Masih panas.
Masih menyala di dadanya seperti bara yang menolak padam.
Namun kini ia tahu satu hal
ia tidak bisa berjalan sendiri.
Bukan karena ia lemah,
melainkan karena musuh yang ia hadapi terlalu lama bersembunyi di balik bayangan.
Elisabet melangkah ke meja kecil di sudut kamar. Tangannya meraih ponsel. Layarnya menyala, memantulkan wajahnya yang tampak lebih dewasa dari usia yang seharusnya.
Ia membuka daftar kontak lama.
Jarinya berhenti pada satu nama.
LEO.
Nama itu seperti gema masa kecil
pria yang selalu berdiri beberapa langkah di belakang ayahnya,
yang menemaninya ke sekolah tanpa pernah banyak bicara,
yang pertama kali mengajarinya bahwa dunia tidak selalu aman, bahkan di dalam rumah sendiri.
Sejak ayahnya meninggal, nama itu hampir tak pernah ia sentuh.
Bukan karena lupa.
Melainkan karena terlalu banyak kenangan yang ikut terbuka bersamanya.
Elisabet menatap layar itu lama.
Lalu mengetik satu pesan singkat.
“Aku sudah tahu semuanya.
Dan aku tidak akan lari.”
Pesan terkirim.
Ia menutup mata sejenak.
Di luar sana—di lorong-lorong kekuasaan yang sunyi, di ruang-ruang gelap tempat rahasia disimpan rapat—orang-orang mulai merasakan sesuatu yang tidak mereka duga.
Pewaris itu bukan hanya tahu.
Ia siap melawan.
Elisabet melangkah ke depan cermin.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri.
Tidak lagi gadis yang kehilangan ayah.
Tidak lagi anak yang dipaksa menerima kenyataan tanpa penjelasan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...