Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5.
Keesokan paginya, lutut Aurely masih perih. Setiap melangkah, ada rasa nyeri yang mengingatkannya pada kejadian kemarin. Bukan hanya jatuhnya, tapi juga sikapnya.
Ia berdiri di depan cermin kecil di kamar. Luka itu sudah dibersihkan lagi oleh ibunya, diobati dan dibalut kain perban. Tapi rasa bersalah tidak bisa ditutup oleh perban.
“Aku keterlaluan,” gumamnya.
Aurely akhirnya memaksa diri ikut ke pasar meski lututnya masih nyeri.
Sesampai di pasar, Ia berjalan terpincang-pincang di belakang Ayahnya.
“Kalau masih sakit, pulang aja,.. kamu juga tidak bisa kerja kalau sakit begitu.” ujar Ayahnya dengan lembut.
“Pakai ojek on line. “ ucap Ayahnya lagi sambil merogoh uang di saku celananya.
Aurely menggeleng. “Aku mau ketemu orang yang kemarin nolongin aku, Yah.”
Ayahnya menatap , agak heran. “Siapa?” tanya Pak Baskoro, karena Aurely belum cerita pada Ayahnya, siapa orang yang sudah menolongnya.
“Mas… Rizky,” jawabnya pelan. “Sama dua anak kecil.”
Ayahnya mengangguk pelan, seolah paham. “Oh… ya sana. Jangan ngrepoti kalau mereka sedang kerja.”
Aurely mengangguk dan jantung Aurely berdetak lebih cepat. Entah perasaan apa yang ada di dalam dada.. Malu untuk mengakui kesalahan atau takut tidak dimaafkan..
Dengan langkah terpincang pincang Aurely memberanikan diri melangkah ke kios terbesar. di pasar itu. Bukan karena kuat, tapi ia bertekat tidak ingin terus bersembunyi.
Kios terbesar di pasar, di ujung pasar di pinggir jalan.. tampak sibuk seperti biasa. Uap makanan di etalase rumah makan mengepul. Aroma lezat menyebar. Beberapa orang pelanggan sudah duduk di kursi rumah makan. Pelanggan lainnya berdiri di depan etalase toko roti.. Pelayan pelayan terlihat sibuk.
Elin dan Elang duduk di karpet di balik etalase toko roti.. Mereka sedang menyusun kotak kotak makanan. Wajah mereka ceria. Seolah kejadian kemarin tidak pernah ada.
Dan di sana… di balik etalase toko roti.. Rizky berdiri.. Ia sedang mencatat pesanan.
Saat melihat Aurely melangkah mendekat.. ia berhenti sejenak. Tatapan mereka bertemu.
Aurely menunduk lebih dulu.
“Mas…” suaranya pelan saat berada di depan etalase, suara itu hampir tenggelam oleh riuh pasar. “Kemarin aku.. ”
“Lututnya sudah mendingan?” potong Rizky ringan. “Kok sudah ke pasar lagi.”
Tak ada senyum di bibir Rizky, namun juga tidak ada tatapan tajam rasa benci dan dendam.. Aurely tertegun. Bukan itu yang ia kira..
“Eh… masih sakit sedikit,” jawabnya jujur.
Rizky mengangguk. “Bagus kalau sudah dibersihin dan diobati. Lain kali hati hati . Jalan desa licin dan naik turun.”
Tidak ada nada dingin. Tidak ada sindiran. Seolah-olah kemarahan Aurely kemarin hanyalah angin lewat.
Elin mendongak dan menatap Aurely, lalu tersenyum kecil. “Mbak jangan ngebut lagi ya. Nanti jatuh lagi.”
Aurely tersenyum kaku dan mengangguk kecil. Dadanya terasa sesak.
“Mas Rizky…” akhirnya ia bicara lagi. “Aku mau minta maaf. Aku marah-marah. Aku… malu sama diriku sendiri.” ucap Aurely dan memberanikan diri menatap Rizky..
Rizky berhenti menulis. Ia menatap Aurely.. bukan dengan iba, bukan dengan penilaian.
“Semua orang pernah jatuh,” katanya pelan. “Ada yang jatuh badannya. Ada yang jatuh harga dirinya.”
Aurely menelan ludah. Elin dan Elang menoleh sesaat..
“Kalau lagi jatuh,” lanjut Rizky, “wajar kalau refleksnya nolak ditolong. Tapi itu nggak bikin kamu jadi orang jahat.”
“Mas nggak marah?” tanya Aurely lirih.
Rizky tersenyum tipis. “Kalau aku marah sama semua orang yang lagi sakit hati, capek sendiri.”
Jawaban itu membuat mata Aurely panas.
Elin berdiri.. dan berjalan keluar.. menyodorkan satu botol kecil berisi air minum. “Minum dulu, Mbak. Kata Mama, orang yang kakinya luka tidak boleh dehidrasi.”
Aurely menerima botol itu dengan tangan gemetar. “Makasih…”
Ia duduk di bangku kayu depan kios. Ia merasa duduk di sana bukan sebagai orang luar.. Namun orang yang sudah diterima keberadaan.
Aurely masih duduk di bangku kayu, memegang botol air pemberian Elin. Tangannya dingin, padahal udara pasar cukup hangat. Ia meneguk sedikit, mencoba menenangkan dadanya yang masih naik turun.
Di kejauhan ia melihat Ayahnya sudah mulai bekerja.. mengangkat angkat karung karung dan karton karton besar.. Ayahnya tersenyum padanya dan sekali memberi kode agar ia duduk saja.
Dari dalam kios terbesar itu, Ia mendengar suara perempuan...
“Lin… Elang… kalian sudah susun kotaknya?”
Suara itu lembut, tegas, dan hangat, bukan suara ibu paruh baya seperti yang Aurely bayangkan.
Aurely melihat Elin menoleh ke arah belakang, “Sudah, Ma!” suara lantang Elin.
Elang menambahkan dengan bangga, “Aku yang hitung jumlahnya, Ma!”
Beberapa detik kemudian, seorang perempuan keluar dari ruang belakang kios itu.
Aurely spontan berdiri setengah, lalu terdiam.
Perempuan itu… cantik.
Usianya mungkin awal tiga puluhan. Rambut hitamnya disanggul sederhana, wajahnya bersih tanpa riasan tebal, hanya lipstik tipis berwarna natural. Mengenakan kemeja putih lengan panjang dan apron cokelat muda. Gerakannya cekatan, tapi senyumnya.. hangat dan menenangkan.
“Bagus,” ucapnya sambil mengelus kepala Elang dan Elin. “Terima kasih sudah bantu Mama.”
“Sama sama Ma..” suara Elin dan Elang hampir bersamaan. “Itu lo Ma.. Mbak yang jatuh kemarin.” Lanjut Elang sambil menoleh ke arah Aurely.
Perempuan itu pun pandangannya beralih ke Aurely.
“Oh?” alisnya terangkat sedikit. “Ini Mbak yang kemarin jatuh itu ya?”
Aurely refleks menunduk. “Iya, Bu… maaf..”
Perempuan itu mendekat... Tidak menatap luka dulu, tapi menatap wajah Aurely.. tenang, tanpa menghakimi.
“Saya Widowati,” katanya sambil tersenyum. “Panggil saja Bu Wiwid.”
Rizky di balik etalase menyela ringan, “Mama-nya Elin dan Elang.”
“Oh…” Aurely mengangguk kaku. “Saya Aurely...”
“Lututnya bagaimana?” tanya Bu Wiwid lembut.
“Sudah dibersihkan… masih sakit sedikit.”
Bu Wiwid mengangguk pelan. “Syukurlah. Anak-anak cerita semalam. Katanya Mbaknya lagi capek banget.”
Elin langsung mengangguk cepat. “Mbaknya marah tapi bukan orang jahat, Ma!”
Elang ikut menimpali, serius.
“Iya Ma. Mbaknya jatuh dua kali. Jatuh motor sama jatuh perasaan.”
Rizky terkekeh kecil. “Elang…”
Aurely tercekat. Wajahnya memanas.
Bu Wiwid tertawa pelan, bukan mengejek, lebih seperti memahami. “Anak-anak memang jujur sekali,” katanya sambil duduk di bangku seberang Aurely. “Kadang terlalu jujur.”
Aurely menunduk.
“Saya… minta maaf, Bu. Kemarin saya bersikap tidak sopan.”
Bu Wiwid menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Kalau semua orang harus sempurna saat hidupnya runtuh, dunia ini akan sepi sekali.”
Kalimat itu membuat Aurely tercekat.
Bu Wiwid melirik ke arah lutut Aurely. “Kamu baru pindah ke sini?”
Aurely mengangguk. “Baru beberapa hari.”
“Berarti masih adaptasi,” simpul Bu Wiwid. “Pindah tempat itu melelahkan. Apalagi pindah hidup.”
Aurely menelan ludah. Ia merasa… dibaca. Tanpa perlu banyak bertanya.
Bu Wiwid berdiri.
“Kalau lututmu belum kuat berdiri lama, duduk saja di dalam dulu,” katanya sambil menunjuk kursi di dalam etalase toko roti. “Temani Elin dan Elang.”
Elin langsung bersinar.
“Iya Mbak! Temenin kita!”
Aurely tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, senyum itu tidak dibuat-buat.
Ia duduk di dalam, membantu Elin menempel label kecil di kotak makanan. Tangannya masih kikuk, tapi Elin dan Elang sabar mengajarinya.
Beberapa saat kemudian, Bu Wiwid kembali dengan dua gelas teh hangat dan kue kue.. Ia letakkan di meja dekat Aurely.
“Minum dan dimakan. Jangan ditolak,” katanya sambil tersenyum.
Aurely menerimanya. “Terima kasih, Bu.”
Bu Wiwid duduk di sebelahnya. “Aurely… boleh saya tanya satu hal?”
Aurely menegang sedikit.
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting