NovelToon NovelToon
Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Aku Berharga Saat Ku Jatuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Menjadi Pengusaha / Cinta Murni
Popularitas:26.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arias Binerkah

Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.

Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.

Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.

Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..

Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5.

Keesokan paginya, lutut Aurely masih perih. Setiap melangkah, ada rasa nyeri yang mengingatkannya pada kejadian kemarin. Bukan hanya jatuhnya, tapi juga sikapnya.

Ia berdiri di depan cermin kecil di kamar. Luka itu sudah dibersihkan lagi oleh ibunya, diobati dan dibalut kain perban. Tapi rasa bersalah tidak bisa ditutup oleh perban.

“Aku keterlaluan,” gumamnya.

Aurely akhirnya memaksa diri ikut ke pasar meski lututnya masih nyeri.

Sesampai di pasar, Ia berjalan terpincang-pincang di belakang Ayahnya.

“Kalau masih sakit, pulang aja,.. kamu juga tidak bisa kerja kalau sakit begitu.” ujar Ayahnya dengan lembut.

“Pakai ojek on line. “ ucap Ayahnya lagi sambil merogoh uang di saku celananya.

Aurely menggeleng. “Aku mau ketemu orang yang kemarin nolongin aku, Yah.”

Ayahnya menatap , agak heran. “Siapa?” tanya Pak Baskoro, karena Aurely belum cerita pada Ayahnya, siapa orang yang sudah menolongnya.

“Mas… Rizky,” jawabnya pelan. “Sama dua anak kecil.”

Ayahnya mengangguk pelan, seolah paham. “Oh… ya sana. Jangan ngrepoti kalau mereka sedang kerja.”

Aurely mengangguk dan jantung Aurely berdetak lebih cepat. Entah perasaan apa yang ada di dalam dada.. Malu untuk mengakui kesalahan atau takut tidak dimaafkan..

Dengan langkah terpincang pincang Aurely memberanikan diri melangkah ke kios terbesar. di pasar itu. Bukan karena kuat, tapi ia bertekat tidak ingin terus bersembunyi.

Kios terbesar di pasar, di ujung pasar di pinggir jalan.. tampak sibuk seperti biasa. Uap makanan di etalase rumah makan mengepul. Aroma lezat menyebar. Beberapa orang pelanggan sudah duduk di kursi rumah makan. Pelanggan lainnya berdiri di depan etalase toko roti.. Pelayan pelayan terlihat sibuk.

Elin dan Elang duduk di karpet di balik etalase toko roti.. Mereka sedang menyusun kotak kotak makanan. Wajah mereka ceria. Seolah kejadian kemarin tidak pernah ada.

Dan di sana… di balik etalase toko roti.. Rizky berdiri.. Ia sedang mencatat pesanan.

Saat melihat Aurely melangkah mendekat.. ia berhenti sejenak. Tatapan mereka bertemu.

Aurely menunduk lebih dulu.

“Mas…” suaranya pelan saat berada di depan etalase, suara itu hampir tenggelam oleh riuh pasar. “Kemarin aku.. ”

“Lututnya sudah mendingan?” potong Rizky ringan. “Kok sudah ke pasar lagi.”

Tak ada senyum di bibir Rizky, namun juga tidak ada tatapan tajam rasa benci dan dendam.. Aurely tertegun. Bukan itu yang ia kira..

“Eh… masih sakit sedikit,” jawabnya jujur.

Rizky mengangguk. “Bagus kalau sudah dibersihin dan diobati. Lain kali hati hati . Jalan desa licin dan naik turun.”

Tidak ada nada dingin. Tidak ada sindiran. Seolah-olah kemarahan Aurely kemarin hanyalah angin lewat.

Elin mendongak dan menatap Aurely, lalu tersenyum kecil. “Mbak jangan ngebut lagi ya. Nanti jatuh lagi.”

Aurely tersenyum kaku dan mengangguk kecil. Dadanya terasa sesak.

“Mas Rizky…” akhirnya ia bicara lagi. “Aku mau minta maaf. Aku marah-marah. Aku… malu sama diriku sendiri.” ucap Aurely dan memberanikan diri menatap Rizky..

Rizky berhenti menulis. Ia menatap Aurely.. bukan dengan iba, bukan dengan penilaian.

“Semua orang pernah jatuh,” katanya pelan. “Ada yang jatuh badannya. Ada yang jatuh harga dirinya.”

Aurely menelan ludah. Elin dan Elang menoleh sesaat..

“Kalau lagi jatuh,” lanjut Rizky, “wajar kalau refleksnya nolak ditolong. Tapi itu nggak bikin kamu jadi orang jahat.”

“Mas nggak marah?” tanya Aurely lirih.

Rizky tersenyum tipis. “Kalau aku marah sama semua orang yang lagi sakit hati, capek sendiri.”

Jawaban itu membuat mata Aurely panas.

Elin berdiri.. dan berjalan keluar.. menyodorkan satu botol kecil berisi air minum. “Minum dulu, Mbak. Kata Mama, orang yang kakinya luka tidak boleh dehidrasi.”

Aurely menerima botol itu dengan tangan gemetar. “Makasih…”

Ia duduk di bangku kayu depan kios. Ia merasa duduk di sana bukan sebagai orang luar.. Namun orang yang sudah diterima keberadaan.

Aurely masih duduk di bangku kayu, memegang botol air pemberian Elin. Tangannya dingin, padahal udara pasar cukup hangat. Ia meneguk sedikit, mencoba menenangkan dadanya yang masih naik turun.

Di kejauhan ia melihat Ayahnya sudah mulai bekerja.. mengangkat angkat karung karung dan karton karton besar.. Ayahnya tersenyum padanya dan sekali memberi kode agar ia duduk saja.

Dari dalam kios terbesar itu, Ia mendengar suara perempuan...

“Lin… Elang… kalian sudah susun kotaknya?”

Suara itu lembut, tegas, dan hangat, bukan suara ibu paruh baya seperti yang Aurely bayangkan.

Aurely melihat Elin menoleh ke arah belakang, “Sudah, Ma!” suara lantang Elin.

Elang menambahkan dengan bangga, “Aku yang hitung jumlahnya, Ma!”

Beberapa detik kemudian, seorang perempuan keluar dari ruang belakang kios itu.

Aurely spontan berdiri setengah, lalu terdiam.

Perempuan itu… cantik.

Usianya mungkin awal tiga puluhan. Rambut hitamnya disanggul sederhana, wajahnya bersih tanpa riasan tebal, hanya lipstik tipis berwarna natural. Mengenakan kemeja putih lengan panjang dan apron cokelat muda. Gerakannya cekatan, tapi senyumnya.. hangat dan menenangkan.

“Bagus,” ucapnya sambil mengelus kepala Elang dan Elin. “Terima kasih sudah bantu Mama.”

“Sama sama Ma..” suara Elin dan Elang hampir bersamaan. “Itu lo Ma.. Mbak yang jatuh kemarin.” Lanjut Elang sambil menoleh ke arah Aurely.

Perempuan itu pun pandangannya beralih ke Aurely.

“Oh?” alisnya terangkat sedikit. “Ini Mbak yang kemarin jatuh itu ya?”

Aurely refleks menunduk. “Iya, Bu… maaf..”

Perempuan itu mendekat... Tidak menatap luka dulu, tapi menatap wajah Aurely.. tenang, tanpa menghakimi.

“Saya Widowati,” katanya sambil tersenyum. “Panggil saja Bu Wiwid.”

Rizky di balik etalase menyela ringan, “Mama-nya Elin dan Elang.”

“Oh…” Aurely mengangguk kaku. “Saya Aurely...”

“Lututnya bagaimana?” tanya Bu Wiwid lembut.

“Sudah dibersihkan… masih sakit sedikit.”

Bu Wiwid mengangguk pelan. “Syukurlah. Anak-anak cerita semalam. Katanya Mbaknya lagi capek banget.”

Elin langsung mengangguk cepat. “Mbaknya marah tapi bukan orang jahat, Ma!”

Elang ikut menimpali, serius.

“Iya Ma. Mbaknya jatuh dua kali. Jatuh motor sama jatuh perasaan.”

Rizky terkekeh kecil. “Elang…”

Aurely tercekat. Wajahnya memanas.

Bu Wiwid tertawa pelan, bukan mengejek, lebih seperti memahami. “Anak-anak memang jujur sekali,” katanya sambil duduk di bangku seberang Aurely. “Kadang terlalu jujur.”

Aurely menunduk.

“Saya… minta maaf, Bu. Kemarin saya bersikap tidak sopan.”

Bu Wiwid menatapnya lama, lalu tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Kalau semua orang harus sempurna saat hidupnya runtuh, dunia ini akan sepi sekali.”

Kalimat itu membuat Aurely tercekat.

Bu Wiwid melirik ke arah lutut Aurely. “Kamu baru pindah ke sini?”

Aurely mengangguk. “Baru beberapa hari.”

“Berarti masih adaptasi,” simpul Bu Wiwid. “Pindah tempat itu melelahkan. Apalagi pindah hidup.”

Aurely menelan ludah. Ia merasa… dibaca. Tanpa perlu banyak bertanya.

Bu Wiwid berdiri.

“Kalau lututmu belum kuat berdiri lama, duduk saja di dalam dulu,” katanya sambil menunjuk kursi di dalam etalase toko roti. “Temani Elin dan Elang.”

Elin langsung bersinar.

“Iya Mbak! Temenin kita!”

Aurely tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, senyum itu tidak dibuat-buat.

Ia duduk di dalam, membantu Elin menempel label kecil di kotak makanan. Tangannya masih kikuk, tapi Elin dan Elang sabar mengajarinya.

Beberapa saat kemudian, Bu Wiwid kembali dengan dua gelas teh hangat dan kue kue.. Ia letakkan di meja dekat Aurely.

“Minum dan dimakan. Jangan ditolak,” katanya sambil tersenyum.

Aurely menerimanya. “Terima kasih, Bu.”

Bu Wiwid duduk di sebelahnya. “Aurely… boleh saya tanya satu hal?”

Aurely menegang sedikit.

1
Siti Naimah
apakah Aurel dapat panggilan kerja dari PT tersebut ya?jadi bingung nih
Siti Naimah
duh2 si Nurul..kena hukum sebab akibat.kayaknya sudah mulai berjalan satu2...tapi mau apalagi ya kok mau ketemu sama Rizky?jangan2 mau meneruskan kelicikan nya lagi?🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
eeh Mbah Arjo..? ini mbah Arjo yg Kodasih bukan?
Ai Emy Ningrum: satu kabupaten 😂😂
total 5 replies
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
halah mau ngeles aja lagi

org salah bukan ngaku salah dan memperbaiki mlh tmbh keblinger
aduhh untung mbah arjo g mau soalnya apa berat saingan nya org sudah bikin janji 😅🤣🤣🤣🤣
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎: nahh iya kan ada tuh perjajian dulu sama mbah arjo dan si om.wowo 👻👻👻
total 2 replies
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
hayoh weee arep gpo meneh kw
hadehh licik ya kan jgn harap akan menang
Siti Naimah
hayo Nurul... kejahatan apalagi yang mau kau rencanakan buat mencelakai Aurel dan tempat kerjanya? ingat bisa jadi dirimu dan keluargamu yang bakal hancur
Lisa
Akhirnya yg punya ide jahat kalah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
malah nambah2i masalah mu loh Nurul 😋
Ai Emy Ningrum: semua akan menyesal pada waktu nya , ingat itu Nurul 🫵🏻😹😹😹
cemas2 kau lah sekarang
total 3 replies
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
lha dalah kenapa mlh jd 2 orang yg menjatuhan sih
ohh ndak kapok2 nya
apa mau dekam di pe jara lebih lama lagi
boar di intilin om wowo di teroro bru tau
Arieee
😡😡😡Nurul si biang kerok yang gak kapok kalo belum masuk penjara
Arias Binerkah: Iya tuh Nurul anak Pak Sastro pelit bin licik
total 1 replies
Lisa
Moga setelah diadakan pengajian org² yg biasa makan.di warung itu lebih yakin bahwa warung itu bersih dr hal² mistis
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
ini si Nenek Lyncah kenapa jadi ikut2an Nurul 🙄🙄
Ai Emy Ningrum: bikin duet maut 😹😹 nyanyi dangdut sambil ngedebus 👻👻
total 12 replies
Siti Naimah
woalah..itu kok ada aja orang yg mau disuruh sama Nurul dan Nelly..maklum mungkin diberi upah yg banyak ya?
nurul supiati
masuk penjara om wowo sekalian 🤣🤣🤣 nurul dan bpknya🤣🤣
Arieee
Nurul kalo gak masuk penjara gak mungkin kapokkkkkkK 😡😡😡😡😡
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
lahfalah piye too iki
mlh dadi kocar kacir
mg2 wae dang di out ben dang kapok
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ehhh hayoo siapa neror itu

nahh udh di pringatin kok mlh ttp ngeyel aja
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
lhaaa udh mimpi kek gtu malah masih di terusin lagi mau nyebar rumor klo pake pesugihan .blm kapok rupanya
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ehh di bilang om wowo nanti ya kok pake pesugihan segala hadehh cari mati rupanya
udh kalah tp g ngaku mlah mau bikin masalh baru lagi wis iki fix dek e ora waras utek e
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉andiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
pas para mahasiswa ngecek dapur dan gudang harusnya sekalian di videoin, biar ada bukti tuuh /Shy/
Ai Emy Ningrum: hmm 🧐🤔 ada mungkin seksi video2 nya ...sungguh sangat ngeselin 😕🫤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!