NovelToon NovelToon
Dikejar, Brondong

Dikejar, Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Murid / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Berondong
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: sky00libra

Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.

Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.

Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.

Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DB—08

Akhir-akhir ini, Bumantara menemukan semua hal tentang Arumi — perempuan yang ia inginkan. Arumi yang punya kekasih, bahkan Bumantara tau siapa nama laki-laki itu, tapi bukan hanya itu yang dia ketahui.

Bumantara juga tahu, tentang laki-laki yang bernama Dipta Artos, yang sudah lama mendua kan hubungannya dari Arumi. Dan ... Itu adalah kebahagiaan untuk Bumantara, karena ia bisa memiliki Arumi tanpa bersusah-susah merebut nya dari bajingan itu.

"Pria bajingan itu tidak cocok untuk mu Arumi," gumam Bumantara, menatap Arumi yang sedang makan siang di kantin.

Bumantara yang tidak pernah menginjakkan kakinya di kantin para murid yang bersih dan juga tempat nya para guru itu, akhirnya ia merelakan kedua kakinya melangkah ke kantin ini, hanya untuk bisa memperhatikan Arumi.

Bahkan para siswa yang ada kantin itu terkejut melihat kedatangan Bumantara yang duduk di kursi paling ujung. Mereka bertambah terkejut saat muncul kedatangan Axel dan Kenzo yang mendekati Bumantara.

"Bos Buma, dicariin disana malah nongkrong disini," ujar Axel, mengambil gorengan di atas meja. "Asik juga yah kantin disini. Lebih ke arah penuh cahaya ilahi," sambung Axel terkikik.

"Bu — Bumantara, boleh aku ikut duduk disini?" tanya seorang gadis, yang menunduk malu-malu.

Dan, Bumantara tidak mengenal gadis yang saat ini sedang melindungi padangan nya dari Arumi yang sangat cantik hari ini. Para siswa disana menegang — akan keberanian perempuan yang bernama, Citra kelas XIA — si culun.

"Gila si Citra. Berani banget ngajakin Bumantara ngobrol, mana mau duduk disana lagi." Bisik-bisik para siswa yang masih bisa di dengar Bumantara dan bahkan Arumi.

Arumi yang penasaran pun menengok ke belakang, dan melihat Bumantara yang sedang menelengkan kepala nya, dan Arumi merasa ia seorang guru jadi dengan berbaik hati memanggil perempuan yang bernama Citra itu.

"Hei ... Kamu Citra, kan?"

Citra yang di panggil menengok dan mengangguk. "Iya," lirih Citra.

"Kamu bisa gabung sama ibu disini. Ini meja nya masih panjang, kok," ajak Arumi, tersenyum, sembari menepuk-nepuk bangku panjang di sebelah nya.

Namun, bukan Citra yang bergerak. Justru Bumantara, beranjak dari duduk nya sambil memasukan sebelah tangan nya ke saku celana. "Anda bisa duduk disini," kata Bumantara, menyuruh gadis itu yang tersenyum semringah.

"Terimakasih —" kata Citra, yang terhenti karena Bumantara melewati nya begitu saja.

Dan, itu membuat Axel tergelak, karena wajah perempuan itu langsung memerah malu. Bagaimana tidak. Bumantara yang langsung pergi tanpa mendengar kan ucapan perempuan itu, bahkan Bumantara malah mendudukkan kan bokong nya di dekat Arumi yang tadi hanya menawarkan ke Citra.

"Kamu ngapain? Ibu tadi nawarin Citra, karena kamu lama jawab permintaan Citra yang ingin duduk di bangku dekat kamu tadi, Bumantara," ucap Arumi, yang terkejut, tidak habis pikir dengan Bumantara yang dengan santai nya duduk di sebelah nya.

Dan, seperti nya Arumi melupakan kejadian seminggu yang lalu, tentang Bumantara yang tidak sopan kepada nya. Karena Arumi merasa dia adalah guru baru, yang baru mengajar di sekolah Unggulan Cahaya. "Bukan nya anda tadi mengajak saya, Arumi," bisik Bumantara, menarik ujung sudut bibirnya, sembari mengambil es jeruk milik Arumi yang sisa setengah.

"Eh ... Itu milik saya Bumantara!" seru Arumi kesal, karena sedari tadi Bumantara bicara yang tidak jelas.

"Rasanya manis Arumi. Seperti pemilik nya," kata Bumantara, tersenyum, menatap wajah cantik itu yang panik.

Arumi berdeham. "Kurang ajar banget," gumam Arumi, bergegas bangun dari duduk nya, lalu beranjak pergi meninggal kan Bumantara, bahkan ia melupakan bayaran untuk makanan nya tadi.

Bumantara yang sempat mendengar makian Arumi terkekeh tanpa suara, bahkan ia juga sempat melihat pipi putih itu merona, kemerahan seperti tomat.

"Bos Buma, sudah selesai kan? Ayo balik ke kantin gelap," ajak Axel.

Bumantara melirik Axel dan Kenzo yang tersenyum-senyum, lalu Bumantara beranjak dari duduknya. "Bayarkan semuanya, Kenzo," perintah Bumantara, dengan kode yang hanya di mengerti oleh kedua temannya, lalu pergi dari kantin yang kate Axel penuh cahaya ilahi itu.

"Siap ... Bos!"

*****

Sore hari, waktunya jam pulang sekolah, Bumantara mengikuti motor Arumi yang melaju kearah gang kontrakan.

Bumantara menghentikan motornya dibawah pohon mangga, memperhatikan Arumi yang sedang bicara bersama tetangga kontrakan nya, dan setelah Arumi masuk ke dalam kontrakan nya —Bumantara berjalan menunju kearah perkumpulan laki-laki di depan kontrakan yang sedikit jauh dari milik Arumi.

Bumantara berdiri didepan orang-orang itu yang memperhatikan nya, ia berdeham untuk membasahi tenggorokan nya. "Ada yang mau kerja sama saya?!" Bumantara menatap para laki-laki yang terdiri dari lima orang.

"Kerja apa, bro?" tanya pria yang sedikit berkulit putih, seperti koko china, yang malah menanggapi omongan seorang Bumantara yang saat ini masih mengenakan seragam sekolah.

"Ada lagi?" tanya Bumantara, menaik kan alisnya, menatap ke empat pria lain nya.

Mereka menggeleng, lalu melengos tetap melanjutkan permainan kartunya. "Ada-ada aja, anak SMA ngajakin kerja. Duit dari mana? Duit jajan aja pasti minta sama orang tua," ujar pria yang sedikit kurus, sambil mencibir.

Bumantara yang mendengarkan nya hanya bisa menghela kan napas. "Bisa ikut saya kesana sebentar," kata Bumantara, kepada pria yang yang tadi, sembari menunjukkan arah tempat motor sport nya terparkir.

"Boleh, boleh... Bro aku kesana dulu," pamit koko china — alias Brio, yang beranjak dari duduk nya sambil mengikuti Bumantara yang sudah berjalan terlebih dahulu.

Sesampainya di dekat motor Bumantara, mereka berdua sama-sama terdiam, dengan Bumantara yang selalu memperhatikan kontrakan milik Arumi.

"Bro, mau ngomong apa?" tanya Brio.

Bumantara mengalihkan padangan nya kearah Brio. "Kontrakan itu, milik Arumi. Saya mau anda memantau Arumi. Memberi tahukan saya jika ada pria lain yang datang ke kontrakan nya, dan juga saat Arumi kenapa-kenapa anda juga harus melaporkannya. Apapun itu."

Brio terkejut, lalu menggeleng. "Bro lo kalo mau berniat jahat sama Mbak Arumi, urusan nya sama kami disini. Pergi sana lo, jauhin niatan buruk lo yang ingin menganggu, Mbak Arumi," usir Brio marah.

"Siapa nama anda? Berapa bayaran yang anda mau? Dan saya menyukai Arumi, saya ingin melindungi nya. Tapi, saya butuh orang-orang yang dekat nya," tanya Bumantara.

"Menyukai nya?" Brio berdeham, lalu menatap kontrakan Arumi, sembari berpikir. "Nama gue Brio, bro. Lo serius bisa bayar gue berapa pun? Dan ini enggak membahayakan Mbak Arumi kan?" tanya Brio, meski tadi dia menolak, dan marah. Namun, ia butuh duit.

Apalagi jika pekerjaan nya hanya memberikan laporan, dan membantu target yang di pinta, bukan kah pria muda ini bilang sedang menyukai Arumi. Bumantara mengangguk.

"Oke, gue terima pekerjaan ini bro. Dan gue mau di bayar perbulan lima juta," kata Brio. Brio pikir ini sudah cukup mahal untuk anak sekolah, yang pasti tidak kerja.

"Bagus ... ini nomor saya. Lakukan pekerja anda dengan benar," ujar Bumantara, meletakan kartu namanya di tangan Brio.

Bersambung....

1
mungkin
hah....menghela napas
mungkin
bau kecemburuan sudah terlihat
mungkin
ugal-ugalan juga nih brondong, gimana ngga luluh juga tuh Arumi
mungkin
geng kapak ya?
mungkin
nih kerasa gemas nya
mungkin: jangan gini thor
total 1 replies
mungkin
muda ² udah punya pengaruh itu
mungkin
nih rasakan💪 dari Bumantara
mungkin
cam kan itu/Panic/
mungkin
namanya juga pesona brondong licik
mungkin
ya lanjutkan saja
mungkin
jangan malu-malu masih banyak yang perlu dibahas
Anala.: apa saja itu🤭
total 1 replies
mungkin
cinta tidak mengenal salah
Anala.: eyaasa🤭
total 1 replies
mungkin
nyaris saja
mungkin
ini itu tentang ngajar dan ngejar ya, dengan karakter tokoh yang keren
mungkin
lanjut thor. Arumi ngga simple aja thor pelajaran nya
Anala.: 1+1> gitu yah🤣
total 1 replies
mungkin
oh...manis
mungkin
jadi pebinor pun tak apa/Panic/
Anala.: menurut lo🤭
total 1 replies
mungkin
oh masih sopan awalan nya
mungkin
hahahaha
Anala.: yeee tau kan😄
total 1 replies
Anala.
beg0 dia itu🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!