Angel mencintai Malvin dengan sepenuh hati. Sampai dia menghabiskan waktunya hanya untuk mendapatkan perhatian Malvin. Dia bahkan memaksa orang tuanya untuk menjodohkan mereka. Pernikahan yang dia impikan bisa berakhir bahagia nyatanya berakhir tragis.
Dia terbunuh di tangan Malvin dan sepupunya sendiri. Arwah nya keluar dari tubuh nya. Rahasia - rahasia yang tidak di ketahui perlahan terungkap. Bahkan dia melihat seseorang yang mencintainya dengan tulus padahal dulu dia menghina pria itu demi seorang Malvin.
---------
"Maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu! Aku bersumpah jika aku akan membalas mereka semua. " --- Langit Al Ghassal.
"Jika aku di berikan kesempatan kedua, aku berjanji akan mencintaimu." --- Angelina Chloe Dominic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hilang Kendali
Gemuruh kuat menjatuhkan air hujan lebat menjadi derai lembut seiring berirama. Potongan gemercik air gerimis memantul di bebatuan menciptakan suara yang cukup keras. Deburan ombak menjadi perpaduan antara ketenangan dan kekuatan, menyelami pikiran. Meresapi setiap insting yang kuat.
Angel berdiri di antara bebatuan dengan mata terpejam, telinga yang terbuka peka akan suara di sekitar. Tangan nya terbentang mencoba menyerap sisa - sisa kehidupan yang ada, menyatukan dengan aliran kekuatan deras yang bergejolak dalam tubuh nya. Kekosongan, ketenangan dan kedamaian terkumpul menjadi satu menghilangkan segala pikiran yang membebankan.
Pikiran yang terus berkonsentrasi, perlahan tangan nya bergerak mengikuti udara. Mata masih tertutup tapi tubuh nya mulai menari membentuk strategi pertarungan. Tubuh nya mengeluarkan cahaya yang berbeda dari segala sisi. Perlahan mata itu terbuka dan tubuh nya melayang dengan tangan terbentang. Mengumpulkan kekuatan dalam satu kepulan menjadi sebuah cahaya terang. Cahaya itu di lesatkan rapat mengarah pada air terjun yang sedang mengalir deras. Seketika suara dentuman mengalun. Batu menjadi sekumpulan abu. Air terjun yang mengalir mengikuti alur nya menjadi roboh menyisakan air - air yang tenang dan tidak sekeras tadi.
Angel turun dengan perlahan, dia menatap penuh kekaguman pada kedua tangan nya. "Hebat banget.. Jadi ini kekuatan ku?" Angel masih terpukau dan tidak sadar jika sudah Satu minggu berlalu dia berada di dalam dimensi antar waktu yang menghubungkan dengan dunia luar.
Di dalam sini dia di ajarkan cara bertarung, pertahanan dan juga menyerang penuh strategi tetapi tetap memiliki jiwa yang tenang. Awal nya hanya satu hari Angel pikir dia akan menyerah karena latihan nya cukup kuat dan bahkan dalam waktu Satu Minggu tubuh nya penuh luka. Tapi sesaat setelah dia mengingat dendam dan tujuan nya semangat yang memudar kembali berkobar.
Disana Hakito dan Kakek Ronald tersenyum tipis. Tidak! Apa yang di keluarkan Angel bahkan tidak sampai setengah. Kekuatan nya lebih besar dari itu tapi Angel masih tidak menyadarinya. Kakek Ronald memberikan isyarat.
Hakito tersenyum smirk menatap atasan nya. "Jangan menyesal, Tuan, "
Hakito berubah menjadi seekor naga besar dengan tubuh seperti seekor ular. Dia terbang membelah udara menuju tempat Angel berdiri. Angel yang tidak siap terkejut saat sesuatu melilit tubuh nya dan semakin erat membuatnya kesulitan untuk bernafas.
"A---pa yang kau lakukan?" tanya nya, suaranya setengah berbisik. Ekor yang melilit membuat nafasnya semakin pendek.
Dalam wujud seekor Naga, Hakito berkata. "Ini baru permulaan, jika kamu tidak bisa melepaskan diri maka bagaimana kamu bisa menghadapi mereka yang mungkin kekuatan nya lebih besar dariku.. Cobalah lepaskan dirimu sendiri.. Jangan menjadi wanita yang lemah. Apa hanya itu yang bisa kamu lakukan?"
Tangan di bawah sana Mengepal, Angel benci di remehkan karena itu akan mengingatkan dia dengan sebuah pengkhianatan di masa lalu. Angel menutup matanya, berusaha untuk tenang dan berkonsentrasi tapi kemarahan lagi - lagi mendominasi pikiran nya. Fokus nya terpecah dan dendam menguasai nya.
Cahaya kembali muncul, warna api menyala dan dalam sekejap tubuh Angel di lingkari oleh kabut api membara membuat Hakito merasa terbakar dan melepaskan lilitan nya. Angel tidak jatuh tapi melayang dengan energi yang terkumpul menjadi satu dia menciptakan sebuah pedang dengan bila perak yang memancarkan cahaya putih salju. Dia berjalan di udara menyerang Hakito dari berbagai sisi dengan pedang itu.
Hakito menghindar setiap cahaya energi kekuatan dari pedang itu mengarah padanya. Tapi dengan cepat Angel melesat menembus cahaya muncul di hadapan Hakito dengan sosok yang berbeda. Bukan Angel yang lemah, bukan juga Angel yang pasrah. Tapi sosok yang lebih cenderung kemarahan. Kemarahan yang terkumpul menjadi satu. Kekuatan tidak terkendali. Dia terus menyerang Hakito secara membabi buta membuat sang Guru kewalahan.
"Kekuatan nya tidak terkendali, " Kakek Hakito geleng - geleng kepala. Dia memunculkan sebuah tali pada tangan nya, melempar dan melilit tubuh cucunya yang hilang kendali. Seketika tubuh Angel menjadi lemas dan jatuh ke bawah. Hakito yang masih menjadi seekor Naga menahan tubuh Angel dan membawa tubuh Angel sebelum mengenai batu besar yang ada di bawah sana. Dengan perlahan tubuh Angel di letakkan di rumput hijau.
"Apa yang terjadi, Tuan? Kenapa Angel bisa hilang kendali?"
"Kemarahan dan dendam menguasai nya. Jika terus seperti ini maka energi suci yang di miliki ke Tujuh Kristal akan berubah menjadi energi kegelapan dan mungkin bisa mengubah Angel menjadi sosok yang lebih mengerikan, "
Hakito terkejut, matanya menatap tubuh Angel yang matanya terpejam. "Bagaimana mungkin?"
"Jika pemilik Tujuh Kristal menjadi jahat maka itu juga bisa menghancurkan energi suci yang tersimpan pada Tujuh Kristal.. Karena itu setiap kali amarah memenangkan dirinya maka Angel akan lepas kendali.. Jika Angel kalah melawan amarah nya, maka dia bisa menjadi lebih jahat dari Penyihir kegelapan.. Bahkan kekuatan nya bisa melebihi siapapun,"
•
•
•
Angel membuka kelopak mata secara perlahan, dia mendesis lirih memegangi kepalanya yang terasa berdenyut sakit. Tubuh nya seperti di hantam batu besar yang sulit di tahan dan akhirnya berubah menjadi sebuah beban.
Angel duduk secara perlahan masih memegangi kepalanya yang sangat pusing. " Apa yang terjadi?"
"Kamu sudah bangun, Nak?" Kakek Ronald datang dari arah pintu masuk.
Angel tersenyum kecil meski tenaga nya terasa lemah. "Kek, kenapa aku bisa ada disini?"
"Makanlah dulu, setelah itu kita akan bicara. " Kakek Ronald duduk di sisi ranjang. Mengambil sesendok nasi dengan lauk nya dan menyuapi cucu tersayang nya. Angel membuka mulut nya menerima makanan itu sekalipun tenggorokan nya terasa sakit di telan. Makanan yang seharusnya lezat berubah menjadi pahit di lidah.
"Istirahatlah dulu, setelah itu kita bicara." kata Kakek Ronald setelah nasi di piring sudah masuk semua ke perut Angel. Angel tidak menjawab dan hanya mengangguk. Dia masih ingin bertanya tapi tubuh nya terasa sangat lelah. Jadi dia memilih untuk menyimpan pertanyaan itu sampai besok.
•
•
•
BERSAMBUNG