Ketika pernikahan yang selama ini ku anggap sempurna,ternyata hanya sebuah kebohongan membuat kehidupan ku hancur lagi dan lagi.
Namun aku bertahan berharap bisa mengubah pernikahan palsu itu benar-benar nyata,namun semakin aku bertahan rasanya semakin aku jatuh dan hancur mengetahui lebih banyak hal yang lebih menyakitkan.
"Aku mau bercerai"
"Setelah kau membuat ku bergantung pada mu,kau ingin bercerai dengan ku?JANGAN HARAP!.KAU TIDAK AKAN BISA PERGI DARI KU SELAMANYA SAMPAI AKU MATI!"
"Kenapa tidak?,AKU AKAN PERGI SELAMANYA SAMPAI KAU TIDAK PERNAH MELIHAT KU SAMPAI KAU MATI!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hantari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Lusia membawa Alessia ke rumah sakit terdekat untuk membersihkan beling-beling kaca yang menancap di telapak tangannya, sebelum itu akan menjadi infeksi dan membahayakan kesehatannya.
Sepanjang dokter membersihkan tangan Aulia sampai selesai di perban,Lusia terus mendumel tentang bagaimana brengsek nya pria seperti Oliver yang memperlakukan istri nya berbeda dengan wanita lain yang jelas-jelas memang sudah mantan nya.
"Sebegitu khawatirnya kah dia sampai tidak melihat orang lain di sekitarnya,bahkan sampai melukai orang lain seperti ini?,sekhawatir apapun dia setidaknya meminta maaf pada mu,tapi dia justru pergi begitu saja tanpa meminta maaf",kesalnya.
Alessia tersenyum getir melihat tangannya yang sudah selesai di perban oleh dokter,"Tentu saja dia sangat khawatir, Yasmine adalah wanita yang Ia cintai,dia adalah dunianya.Jadi saat dunianya terluka maka matanya hanya akan tertuju padanya memastikan dunianya tidak kesakitan atau terluka",ucapnya dengan tatapan kosong mengingat kembali bagaimana selama tiga tahun Ia menikah dengan Oliver dan menganggapnya cintanya dan dunianya,Ia tidak ingin melihat dunianya terluka sedikitpun atau Ia sendiri akan lebih terluka daripada suaminya itu sendiri dan siapapun,Yah Oliver adalah dunianya yang tidak ingin Ia lihat terluka apalagi bersedih,Ia ingin selalu membuat nya bahagia dan senang.
Lusia terdiam mendengar nya,Ia bisa melihat bagaimana rapuhnya wanita di hadapannya itu,padahal Ia mengenal Aulia sejak dulu sebagai wanita ceria,energik,berani dan tangguh karna hidup sendirian di dunia tanpa keluarga, bahkan dulu wanita lembut dan kalem itu dulu melawannya dan gengnya dengan berani dan tidak kenal takut.
Tapi lihatlah sekarang, wanita itu benar-benar berubah bukan hanya penampilan nya tapi sikapnya benar-benar berubah dan perubahan itu bukan perubahan yang baik,namun perubahan nya memprihatikan karna rasa percaya dirinya hilang,Ia juga menjadi rendah diri dan tidak percaya atas dirinya.
Lusia sebagai seorang yang perasa tidak suka melihat nya,namun Ia mengerti kenapa Alessia sampai seperti itu."Mungkin ini terdengar aneh bagi mu,tapi aku mau menjadi teman mu mulai sekarang,aku siap mendengar keluh kesah mu kapan pun,aku mau jadi teman bercerita mu Alessia".ucapnya berharap kondisi Alessia tidak semakin parah.
Sebagai seorang yang mengambil jurusan psikologi saat kuliah dulu meski tidak sampai menyelesaikannya,Lusia tau sedikit kondisi mental seseorang dan mengerti hanya dengan melihat tingkah dan ekspresi nya.
Alessia tentu saja sangat senang atas kesediaan Lusia yang mau menjadi temannya."Terimakasih aku pasti akan membuat mu repot ke depan mha", ucapnya dengan tertawa di sela hati nya yang sedang berdenyut-denyut namun Lusia cukup menghibur.
Kenapa dulu dia bisa membenci orang selucu Lusia begini?
"Nah gitu dong tertawa kan kelihatan lucu dan cantiknya"
"Iya-iya mulai sekarang aku akan banyak tertawa",jawab Alessia kembali dengan nada bercanda seperti awal,namun Ia tidak tau kalau Lusia bisa mengerti isi hatinya hanya dengan melihat ekspresi dan reaksi nya saat ini yang sama sekali tidak terlihat nyata.
"Aku tau tidak mudah melupakan atau menghapus cinta begitu saja, semuanya butuh waktu,dan aku yakin waktu itu akan tiba untuk mu.karna pria seperti itu tidak pantas untuk kau perjuangkan,dia sama sekali tidak layak mendapatkan wanita sebaik dan setulus kamu Al"
"Terimakasih, sudah lah berhenti membahas itu kita kembali saja.Aku lelah"
"Oke deehh my friend",Lusia menjawab dengan semangat hingga membuat Alessia menggeleng kepalanya dan tertawa kecil.
Keduanya akhirnya keluar dari rumah sakit itu,namun saat mereka di lorong dan hampir sampai pada meja resepsionis, mereka melihat Oliver yang sedang membayar sesuatu.
"Sebegitu nya ya?,aku bahkan tidak pernah melihat mu sepeduli itu saat aku terluka,yang dulu bahkan lebih parah dari itu"
Lusia akan berbicara seperti biasa untuk mengatakan ucapan serapah,namun belum sempat Ia mengatakan sepatah katapun Alessia langsung menarik tangannya dan berjalan lebih cepat saat melihat orang yang sejak tadi memenuhi pikiran nya.
"Kenap jalan buru-buru banget sih Alessia,lihat tuh suami kamu nggak mau negur dulu?", Tanya Lusia dengan nada tertawa dan mengejek namun terus mengikuti langkah Alessia tanpa memperhatikan Oliver.
Namun Oliver melihat mereka sehingga Ia langsung menghampiri keduanya, mengikuti sampai keduanya keluar dari dalam rumah sakit.
"Alessia"
Suara itu menghentikan keduanya dan berbalik melihat sang empunya suara yang sedang berjalan ke arah mereka dengan langkahnya yang panjang dan tegas.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?", tanya nya setelah berada tepat di depan Alessia dan Lusia.
"Ini semua karna anda tuan Oliver yang mengirim Alessia ke rumah sakit!",ketus Lusia kehilangan rasa hormatnya pada seorang Oliver Dirgantara yang sangat di segani dan di hormati oleh kalangan-kalangan atas di negara mereka hingga negara-negara lain.
Tatapan Oliver langsung berubah mendengar ucapan Lusia,hingga matanya langsung tertuju pada tangan Alessia yang di balut perban."Apa yang terjadi?, bagaimana bisa itu terluka?",tanya nya dengan tatapan nya yang menelisik perubahan raut wajah Alessia.
Alessia tersenyum menyeringai melihat tangannya kemudian menggeleng."Ini hanya luka kecil tidak separah wanita yang saat ini di dalam sana".Ucapnya akhirnya tanpa sadar mengatakan secara tidak langsung alasan sikapnya berubah pada suaminya itu.
Oliver memicingkan matanya yang tajam,"Apa maksud mu?,kenapa kau bisa tau Yasmine ada di rumah sakit?"
Glen yang sejak tadi berada di belakang Tuan nya itu,sangat mengerti ucapan Alessia karna Ia paling mengerti perasaan perempuan, karna Ia sering menghadapi wanita yang sedang merajuk seperti isterinya dan saat-saat Istri nya cemburu Ia sangat mengerti,tapi Ia sangat yakin kalau tuan nya itu tidak akan mengerti.
"Tuan,aku yang memiliki kekasih saja sudah menempatkan nya sebagai istri ku,agar aku mengerti dan lebih dekat dengan nya karena aku begitu mencintainya,sehingga aku ingin selalu berada di dekat nya dan di sisi nya untuk lebih mengerti perasaan nya sebagai seorang perempuan agar saat menikah nanti hubungan kami akan berjalan sebaik itu dan semulus itu hingga tidak akan pernah ada ke salah pahaman di antara kami kelak"
"Ah rasanya aku merindukan istri ku", gumam nya melihat Alessia dan Oliver yang saat ini seolah sedang beradu tatapan.
"Tuan itu sudah pasti nyonya Alessia cemburu dengan mu karena lebih memperhatikan wanita lain"
Namun Glen hanya mengatakan nya dalam hati, tidak berani mengungkapkan nya langsung di telinga sang tuan."Bagaimana pun aku masih sangat menyayangi pekerjaan ku"
telat kamu cemburu olav karena Ale sudah hilang rasa cinta dan pedulinya untuk mu terbang di bawa angin
padahal gak sakit di bikin sakit
sakit beneran baru tau rasa dia
Kamu tahu rasanya bagaimana diabaikan bahkan ramah pada orang lain