NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Selingkuh / Mafia / Konflik etika
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mawar Putih Untuk Siapa?

Dave segera menaiki lift dan kembali bersikap normal, seolah kejadian barusan tak pernah ada. Wajahnya kembali datar, langkahnya mantap seperti CEO pada umumnya. Namun di balik itu, dadanya berdegup tak karuan.

Sementara itu, Elia masih berdiri di tempat yang sama. Jantungnya berlari tanpa aba-aba, bibirnya terasa masih basah oleh sentuhan Dave beberapa detik lalu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, meski pipinya tak bisa berbohong.

Lea berdeham pelan.“Halo, Nyonya Elia. Perkenalkan, saya Lea,” ujarnya dengan nada formal yang dipaksakan, jelas sambil menahan tawa.

Elia hanya diam, senyum-senyum sendiri seperti orang kehilangan arah.

Lea mendekat sedikit, lalu berbisik, “Kau kenapa, Elia?” Matanya menyipit penuh selidik, menatap wajah Elia yang merona tak wajar.

Elia menggeleng pelan. “Oh, hai. Aku Elia,” katanya akhirnya, ikut menanggapi candaan Lea dengan suara dibuat setenang mungkin.

Keduanya sama-sama menahan tawa. Rasanya sedikit konyol, tak satu pun dari mereka menyangka akan bertemu dalam situasi seperti ini. Elia sebagai istri CEO, Lea sebagai sekretarisnya. Dunia rasanya sempit sekali.

Di dalam lift yang melaju naik, Dave menyandarkan punggungnya. Dadanya naik turun, napasnya sedikit memburu. Ia menutup mata sesaat.

“Ada apa dengan perasaanku?” gumamnya pelan.

“Tidak mungkin aku mulai mencintainya.”

Ia membuka mata, menatap pantulan dirinya di dinding lift. Berusaha meyakinkan diri sendiri. Namun kali ini, hatinya tak sepenuhnya mau menuruti logika.

Karena sudah cukup lama tak bertemu, Lea dan Elia pun mengobrol sejenak. Sesekali mereka bersikap formal setiap kali ada orang lain yang melintas atau memperhatikan, seolah hubungan mereka tak lebih dari sekadar rekan kerja biasa.

“Lea, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu,” ucap Elia. Wajahnya mendadak suram, senyumnya menghilang.

“Kapan pun kau ingin bercerita, aku siap mendengarkan,” jawab Lea dengan tulus.

“Kapan kau ada waktu?” tanya Elia.

“Sabtu dan Minggu aku libur.”

Elia mengangguk pelan. “Baiklah, aku akan menghubungimu nanti.”

“Baik, aku tunggu.”

Setelah itu, Elia pamit pulang. Ia sudah berjanji akan pergi setelah mendapat ciuman dari Dave. Percakapan singkat itu pun harus diakhiri sebelum ada yang mencurigai kedekatan mereka berdua.

Bayangan ciuman tadi masih melekat jelas dalam ingatannya. Meski awalnya Elia sempat ragu, pada akhirnya Dave tetap memberikannya dan perasaan hangat itu enggan pergi begitu saja. "Dave, apakah kau merasakan apa yang aku rasakan? Jika aku tidak jatuh cinta padamu, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini". Lirih Elia.

Ting!

Pintu lift terbuka, Elia melangkah keluar dan langsung disambut sapaan para karyawan yang kini telah mengetahui identitasnya. Bahkan penjaga yang tadi sempat berdebat dengannya kembali menghampiri.

“Nyonya Elia,” serunya, membuat Elia terhenti sesaat saat hendak masuk ke dalam mobil.

Elia menoleh. “Ya?”

“Saya sekali lagi meminta maaf atas sikap saya yang kurang sopan kepada Anda. Tolong jangan sampaikan hal ini pada Tuan Dave. Saya belum siap jika harus dikeluarkan dari pekerjaan,” ucapnya lirih.

“Saya juga memiliki dua orang anak yang masih sangat kecil. Jika saya dipecat, saya tidak tahu harus bagaimana,” lanjutnya dengan suara sedikit bergetar. Penjaga itu masih teringat jelas ucapan Elia tentang konsekuensi atas sikapnya tadi.

Elia menutup pintu mobilnya perlahan. “Kau tidak perlu khawatir. Dave tidak akan memecatmu. Kau hanya menjalankan tugasmu sebagai staf keamanan di sini,” ucapnya lembut.

“Oh iya, ngomong-ngomong, berapa usia anakmu?” tanya Elia.

“Yang satu berusia lima tahun, dan yang satu lagi baru satu tahun, Nyonya,” terangnya.

Elia kemudian mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. Ia mengambil uang pecahan seribu baht sebanyak lima lembar. “Ini, ambillah. Untuk membeli susu dan keperluan anakmu,” ucap Elia sambil menyodorkan uang tersebut.

Penjaga itu terdiam. Ia menatap Elia lekat-lekat, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia alami. “I-ini untuk saya, Nyonya?” tanyanya ragu.

Elia mengangguk sambil tersenyum. “Iya, untuk membeli susu dan keperluan lainnya. Sampaikan salamku pada istrimu,” ucapnya, lalu masuk ke dalam mobil.

“Terima kasih, Nyonya,” ucapnya dari balik jendela mobil. Elia menurunkan sedikit kacanya dan membalas dengan anggukan serta senyum. Penjaga itu pun segera mengawal mobil Elia hingga menyeberangi jalan raya, memastikan perjalanannya tidak terhambat.

Dave diam-diam memperhatikan Elia saat ia menyerahkan sejumlah uang kepada petugas itu. Gerakannya tenang, nyaris tak ingin diperhatikan siapa pun. Pemandangan itu membuat Dave tersenyum kecil; ada rasa teduh yang mengalir pelan di dadanya. Selain cantik dan cerdas, Elia juga memiliki hati yang begitu tulus.

Namun senyum itu tak bertahan lama.

Entah apa yang menahannya, Dave sendiri tak mengerti. Mengapa hingga kini hatinya belum juga tergerak untuk memberi ruang bagi Elia masuk sepenuhnya ke dalam perasaannya. Padahal Elia telah menunjukkan segalanya. Perhatian, kesabaran, dan ketulusan yang jarang dimiliki orang lain.

Dave mengalihkan pandangan, menekan perasaan yang tiba-tiba mengusik. Ia sadar, bukan Elia yang kurang. Hanya saja, hatinya telah terlanjur terpaut pada sesuatu yang seharusnya tak ia pertahankan.

Jam pulang kantor pun tiba. Dave segera bergegas meninggalkan kantor karena sejak siang Bianca terus merengek ingin bertemu. Ada satu permintaan yang tak bisa ia abaikan. Bianca ingin dibelikan bunga mawar putih. Demi menuruti keinginannya, Dave tak punya alasan untuk menolak. Dalam perjalanan pulang, ia pun menyempatkan diri mampir ke toko bunga di pinggir jalan.

Selesai dari toko bunga, Dave segera melangkah keluar sambil menenteng buket mawar putih di tangannya. Pada saat yang hampir bersamaan, Lea melintas bersama Kiki dengan sepeda motornya.

“Itu kan… Tuan Dave,” gumam Lea pelan, matanya mengikuti sosok pria itu hingga beberapa detik.

Ia sempat terdiam, berpikir sejenak. Pandangannya kembali tertuju pada bunga yang dibawa "Dave.

Apa bunga itu untuk Elia?" batinnya. "Wah, kalau begitu Tuan Dave romantis sekali."

Seperti biasa sesampainya di apartemen Bianca, Dave segera menyuruh Nick untuk pulang dan menjemput nya saat ia sudah selesai.

Pintu di ketuk, Bianca mengintip terlebih dahulu siapa yang datang. Saat pintu sudah dibuka, Dave melihat Bianca hanya memakai setelan bikini. Pria itu pun langsung mendorong Bianca sambil bersentuhan bibir di atas tempat tidur.

"Aku sangat merindukan mu, Sayang" ucap Bianca dengan suara nya yang serak menggoda.

"Aku juga sayang"

Dave menarik setelan bikin dua potong itu dengan cepat. Ia sangat tidak sabar untuk mencicipi kedua benda gembar dengan indera perasa nya. "Tubuh mu harum sekali, sayang". Puji Dave sambil mengendus aroma yang menguar di tubuh Bianca.

"Apalagi yang dibawah" ujarnya lalu ia mengarahkan kepala Dave kebagian inti terlarang nya. Pinggul nya naik turun, tubuhnya menggeliat saat Dave memainkan indera perasa nya dengan lembut. "Ah!"desahan nikmat itu akhirnya keluar juga dari mulut nakal Bianca. Keduanya pun kembali melanjutkan permainan dewasa itu hingga mencapai akhir.

Nafas nya kedua nya terengah-engah dan tubuh yang masih berkeringat. "Bersihkan dulu tubuh mu, Sayang" titah Bianca. Wanita itu mengangguk dan mengecup bibir Dave sekilas.

"Ah bunga nya cantik sekali, sayang" ujar Bianca saat hendak masuk ke dalam bilik mandi.

"Iya seperti dirimu" sahut Dave. Bianca tersenyum mendengar itu lalu melanjutkan langkahnya ke dalam bilik mandi.

Saat tiba di rumah, Lea sudah tak sabar untuk menghubungi Elia. Ia bahkan belum sempat membersihkan diri, pikirannya masih dipenuhi sosok Dave dengan bunga di tangannya.

Telepon berdering. Elia menatap nama yang muncul di layar, lalu segera menggeser panggilan.

“Halo.”

“[Halo, Elia],” sapa Lea di seberang sana.

“Iya, Lea. Ada apa?”

“[Biar ku tebak pasti saat ini hatimu sedang berbunga-bunga seperti mawar putih, ya?]” tanya Lea setengah mengejek, namun nada suaranya terdengar ikut berbahagia.

Elia justru mengernyit bingung. “Maksudmu apa, Lea?”

“[Hmmm… kau sedang berpura-pura ya? Sudahlah, jangan malu-malu denganku. Kita kan sudah bersahabat sejak lama],” balas Lea ringan.

“Lea, aku sungguh tidak mengerti. Tadi kau bilang mawar putih apa maksudnya?”

“[Memangnya suamimu belum memberikannya padamu?]”

“Memberikan apa sih, Lea?” Elia semakin dibuat penasaran.

“[Tadi saat menuju pulang, di jalan aku tidak sengaja melihat Tuan Dave keluar dari toko bunga. Dia baru saja membeli mawar putih],” jelas Lea akhirnya.

Deg!

Hati Elia terasa seperti tertusuk ribuan duri halus. Tubuhnya meremang, napasnya mendadak terasa berat dan tak beraturan.

“[Halo, Elia? Kau masih di sana?]” suara Lea berubah khawatir.

“Iya… Eh, Lea, barusan kau bilang kau melihat Dave keluar dari toko bunga dan membeli mawar putih?”

“[Iya, benar],” jawab Lea mantap.

“Kau tidak salah lihat, kan?”

“[Tentu saja tidak, Elia. Aku melihatnya dengan jelas. Mobil putihnya yang biasa dipakai ke kantor juga terparkir di sana],” terang Lea.

Elia terdiam sejenak, lalu berkata lirih, “Kau tahu… sekarang sudah hampir pukul tujuh malam. Tapi Dave belum juga sampai di rumah.”

Lea tersentak. “[Apa? Tuan Dave belum pulang? Kalau begitu, dia membeli bunga itu untuk siapa?]”

Sejak awal, Elia tak pernah ingin menceritakan kehidupan rumah tangganya kepada siapa pun, bahkan pada Lea sekalipun. Namun kali ini dadanya terasa terlalu sesak untuk menanggung semuanya sendiri. Ia tak ingin menuduh, apalagi mencurigai suaminya tanpa bukti.

Tapi di sisi lain, ada rasa sakit yang tak bisa ia abaikan. Dan dorongan kuat untuk mengetahui apa sebenarnya yang Dave lakukan di belakangnya.

Lea mendengarkan semuanya dengan jelas dari seberang telepon. Ia tak pernah menyangka akan mendengar kisah seperti itu dari Elia. Dan diam-diam ia kagum pada kesabaran sahabatnya. Namun di sisi lain, ada rasa kesal yang ikut bercampur di dadanya. Tanpa disadari, air matanya ikut jatuh saat mendengar isak Elia.

“[Elia, maafkan aku. Aku tidak bermaksud ikut campur urusan rumah tanggamu. Tapi kalau kau sudah tidak sanggup, kau bisa mengajukan pembatalan pernikahan],” saran Lea lirih.

“Aku tidak ingin menjadi janda, Lea,” jawab Elia pelan namun tegas. “Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup. Kalaupun aku bersama pria lain, mungkin aku akan menemukan hal yang sama… atau bahkan lebih buruk.”

“[Ya, tapi setidaknya, Elia-]”

“Elia tutup dulu ya. Sepertinya itu suara mobil Dave. Nanti aku hubungi lagi,” potong Elia cepat.

“[Baiklah],” jawab Lea pasrah.

Elia segera mengakhiri panggilan. Ia menyeka air matanya, meski sia-sia bagian bawah kedua matanya sudah terlanjur memerah dan sedikit bengkak karena tangis yang tertahan.

“Kau sudah pulang?” tanya Elia basa-basi saat Dave masuk. Pandangannya refleks mengarah ke tangan suaminya. Kosong. Tak ada mawar putih seperti yang diceritakan Lea.

“Iya. Kau sudah masak? Aku lapar sekali,” jawab Dave sambil melangkah menuju ruang makan, seolah tak ada yang istimewa hari ini.

“Sudah. Tunggu sebentar, aku siapkan dulu,” balas Elia.

Dalam hati, Elia berharap Lea salah melihat orang itu. Ia juga berharap meski kecil kemungkinan bahwa Dave memang membeli bunga itu untuknya dan akan memberikannya nanti. Dengan perasaan yang hancur, Elia tetap melayani Dave, menyiapkan makan malam seperti biasa.

Meski senyumnya terukir rapi, satu pertanyaan terus berputar di kepalanya "Jika bukan untukku… lalu untuk siapa mawar putih itu?"

Selepas makan malam, seperti biasa Dave langsung beranjak menuju kamarnya.

“Eh, Dave… kau mau aku buatkan susu atau kopi?” tanya Elia sekadar basa-basi.

“Susu saja. Jangan pakai gula,” jawab Dave singkat.

“Baik. Ada lagi?”

“Cukup.”

“Eh, Dave, tunggu.”

Dave melirik malas. “Apalagi?”

“Apa kau melupakan barang atau sesuatu di dalam mobil?” tanya Elia hati-hati.

Dave sempat terdiam, lalu menatap Elia tajam. “Tidak ada. Sudah cukup, Elia. Jangan terlalu banyak bertanya. Tubuhku sudah sangat gerah,” ujarnya ketus. Ia segera menaiki anak tangga dengan langkah cepat, meninggalkan Elia yang masih berdiri dengan tatapan penuh kecewa.

“Nick… dia pasti tahu,” gumamnya lirih.

Dengan langkah ragu, Elia melangkah keluar. Namun saat menatap halaman rumah, dadanya kembali terasa sesak, mobil itu sudah tidak ada.

1
kalea rizuky
mana karma. buat jalang enaknaja dia dia sukain alex dan bahagia punya anaknya rela q mending di buat kegugudan trs rahim. rusak itu baru adil
kalea rizuky
laki bejat selingkuh ampe nidurin
sutiasih kasih
demi jalang.... n ancamannya km gercep ambil tindakan dave....
hadeuh dave.... ank siapa yg brtanggung jawab siapa🤣🤣🤣
Nnar Ahza Saputra
alex bertindak,, itu kn anak.ny alex,,,
kalea rizuky
cpet bkin Cerainthor gk sbar nunggu Dave gila
sutiasih kasih
lanjut thor
sutiasih kasih
lagian... istri sah di anggp musuh... di hindari....
eeee mlah lbh milih mnjatuhkn pilihan ke jalang....
istri di cuekin... eeee sm si jalang prhatian bgt...
skrg minta ksempatan.... g tau malu n g tau diri km dave.... elia km kasih barang bekasan jalang...
🙄🙄
Cookies
lanjut
Cookies
lanjut thor
kalea rizuky
nyesel mu g guna uda makan itu jalang bergilir lu doyan kam
sutiasih kasih
mkanya jgn nafsu yg km gedein dave.... smpe" buta mata dan hatimu...
udah g usah drama dave... bukankah perempuan pujaanmu adalah bianca...
jdi kmbali lah ke bianca...😅😅
sutiasih kasih
jgn prnah ada kata kmbali elia...
rugi dpt bekasan si bianca jalang...
dave g cocoj dpt perempuan sebaik km elia...
dave cocoknya dpt perempuan jalang..
sutiasih kasih
istri cantik... paket komplit... harus brsaing dgn perempuan yg cm modal selangkangan🙄🙄
sutiasih kasih
ya elah.... bini di rumsh nungguin dgn setia....
suami lgi main lndir sm jalang di luar....
ntar jalangnya hamil....
istri sah harud ngalah dan prgi...
Melinda Cen
lanjut perbnykkan eps nya dong
Nnar Ahza Saputra
gugat cerai aza... pergi nd menjauh,,,
Melinda Cen
lanjut
Melinda Cen
yeee akhirnya Dave menyesal. jgn mau kembali lg elia
Cookies
lanjut
Melinda Cen
lanjut thor, semoga elia berpisah dengan Dave. dan Dave kan menyesal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!