Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANTAN ORGANISASI
mantan tangan kanannya. Orang yang dulu ia percayai memimpin pasukan. Orang yang dulu ia anggap saudara.
Kini berdiri sebagai pemburu.
Damar tertawa kecil sambil menepuk-nepuk pistol di tangannya.
“Kau masih keras kepala. Bahkan saat hampir mati.”
Armand meludah darah ke tanah.
“Kau menjual semua yang kita bangun,” katanya dingin.
“Kau menjual darah anak buahmu demi uang.”
Damar mengangkat bahu.
“Dunia tidak dibangun oleh idealisme, Armand. Dunia dibangun oleh siapa yang berani mengambil.”
Ia menunjuk tas di tangan Armand.
“Serahkan sisanya. Kembalikan apa yang kau curi dari orang-orang itu.”
Armand tertawa pendek — batuk berdarah.
“Kalian menyebutnya mencuri. Aku menyebutnya menyelamatkan dunia dari monster.”
Damar mendekat satu langkah.
“Kau selalu suka jadi pahlawan.”
Ia lalu mengangkat ponsel.
Layar menyala.
Video.
Rumah Bastian yang hancur. Darah di lantai. Tubuh para pelayan tergeletak kaku. Jeritan samar masih terdengar di rekaman.
Napas Armand tercekat.
Tangannya gemetar.
Matanya memerah.
“Jangan…” suaranya pecah.
“Jangan sentuh keluargaku.”
Ia mengangkat pistol ke arah Damar, tapi tubuhnya goyah.
Damar tersenyum tipis, puas.
“Keputusanmu yang menentukan nasib mereka.”
Ia memberi isyarat kecil. Semua senjata mengarah lebih tajam ke tubuh Armand.
“Serahkan data. Atau kau mati sekarang. Dan mereka menyusul.”
Armand menatap layar itu lagi.
Anak-anaknya tidak terlihat.
Tidak ada Safira.
Tidak ada Clarissa.
Tidak ada Adrian.
Harapan kecil menyala.
Ia menutup mata sesaat.
Dalam gelap, ia melihat mereka tertawa kecil di ruang makan. Mendengar suara langkah kecil berlari memanggil namanya. Mengingat janji-janji sederhana yang tak pernah sempat ditepati.
“Ayah tidak selalu bisa ada… tapi ayah akan selalu melindungi kalian.”
Ia membuka mata.
Tenang.
Tegas.
“Kau tahu satu hal yang tidak pernah kau pahami, Damar,” katanya pelan.
“Aku tidak takut mati.”
Damar menyeringai.
“Aku tahu.”
“Tapi aku takut… mereka hidup di dunia yang kau bangun.”
Hening satu detik.
Lalu Armand melangkah mundur.
Ke arah jurang. Melihat ke bawah dimana tebing tinggi dan air laut yang meminta untuk di beri tumbal. dengan satu tarikan nafas dan senyum yang terukir di wajah nya Armand pun melompat.
Damar membelalak.
“Armand—!”
Terlambat.
Armand menjatuhkan tubuhnya ke dalam kegelapan.
Angin menghantam wajahnya. Dunia berputar. Luka-lukanya berteriak.
SPLASH!!!
Air laut menelan tubuhnya dengan brutal. Dingin menusuk tulang. Arus menariknya ke bawah. Dunia menjadi hitam dan sunyi, hanya suara detak jantungnya sendiri.
Ia menahan napas, berjuang melawan pusing dan rasa sakit.
Dalam kegelapan itu, satu pikiran bertahan:
Hidup.
Bertahan.
Kembali.
Di atas tebing, semua orang berlari ke tepi.
“Tidak ada tubuh!”
“Ombaknya terlalu kuat!”
“Dia pasti mati!”
Damar berdiri paling depan, menatap laut gelap.
Diam lama.
Lalu tertawa pelan.
“Aku hampir lupa…” gumamnya.
“Dia selalu menemukan jalan.”
Ia berbalik tajam.
“Sebar pasukan! Sisir pantai! Gunakan drone! Cari hidup atau mati!”
Anak buahnya bergerak cepat.
Namun jauh di dasar hatinya, Damar ia melihat kembali ke laut ’’sangat mustahil selamat saat melompat kesana, hanya keajaiban yang mungkin menyelamat kan.’’ Gumam nya.
...----------------...
VISUAL DAMAR
...----------------...
LAUT BATAM — ANTARA HIDUP DAN MATI
Air asin memenuhi paru-paru Armand.
Tubuhnya berputar tak terkendali di bawah arus gelap. Jaketnya terasa seperti menariknya ke dasar. Luka tembak di bahu dan perut kembali terbuka, darah bercampur air laut, mengaburkan pandangannya.
Dingin menggigit tulang.
Kepalanya berdengung.
Ia berusaha menendang, menggerakkan lengan, tapi tenaga hampir habis. Setiap gerakan terasa lambat, berat, seperti melawan seluruh samudra.
Paru-parunya menjerit minta udara.
Bayangan kabur melintas di matanya.
Wajah Safira.
Tawa Clarissa.
Tatapan tegar Adrian.
Senyum Elisabet.
“Belum…” bisiknya dalam air.
“Belum sekarang…”
Kakinya menghantam sesuatu keras batu karang. Rasa sakit meledak di tulang keringnya. Namun benturan itu justru membawanya lebih dekat ke permukaan.
Ia menendang sekali lagi.
Cahaya samar muncul di atas.
Dengan sisa tenaga terakhir, Armand mendorong tubuhnya ke arah terang.
NAPAS PERTAMA
Kepalanya menerobos permukaan laut.
Ia terbatuk hebat, memuntahkan air asin, tubuhnya terombang-ambing di antara ombak yang masih ganas. Tangannya mencakar udara kosong, mencari apa pun untuk bertahan.
Matanya menangkap bayangan gelap.
Sebuah puing kayu.
Bagian peti kemas yang pecah.
Ia meraih.
Jari-jarinya nyaris terlepas, tapi ia menggigit bibir menahan sakit dan mengunci genggaman.
Tubuhnya menggigil hebat.
Angin malam menusuk kulit basahnya seperti pisau.
Namun ia masih hidup.
Untuk sekarang.
Armand menoleh ke arah tebing jauh di belakang. Lampu-lampu kecil tampak bergerak. Senter menyapu laut. Teriakan samar terbawa angin.
Mereka masih mencari.
Ia menarik napas panjang dan membiarkan tubuhnya hanyut perlahan menjauh dari garis pantai.
Arus laut membawanya ke arah gelap.
Ke arah yang tak ia ketahui.
HANYUT
Waktu kehilangan makna.
Menit terasa seperti jam.
Setiap gelombang menghantam tubuhnya, memperparah luka. Darahnya terus keluar, membuat tubuhnya semakin lemah.
Kelopak matanya berat.
Pikirannya mulai melayang.
Ia teringat hari pertama bertemu Elisabet — tatapan tajam yang menantangnya.
Pertengkaran kecil mereka.
Tawa mereka di tengah kelelahan.
Janji untuk melindungi keluarga, apa pun harganya.
“Maaf…” gumamnya lemah.
“Aku belum selesai…”
Tangannya mulai kehilangan kekuatan.
Pegangannya melonggar.
Dunia kembali gelap.
BAYANGAN DI ATAS AIR
Suara mesin.
Jauh… lalu mendekat.
Getaran halus merambat melalui air.
Dalam kabut kesadarannya, Armand merasa tubuhnya terguncang oleh gelombang yang berbeda. Bukan ombak alami.
Matanya terbuka sedikit.
Cahaya menyilaukan menembus kelopak matanya.
Senter.
Suara orang.
“Di sana! Ada sesuatu mengapung!”
“Bukan kayu… itu manusia!”

Langkah tergesa di dek perahu.
Tangan-tangan kasar tapi kuat meraih tubuhnya, menariknya naik. Tubuhnya terbanting pelan ke permukaan dingin kapal.
Ia batuk, memuntahkan air dan darah.
Seseorang berlutut di sampingnya.
“Masih hidup,” kata suara berat.
“Tapi parah.”
Armand berusaha membuka mata.
Siluet beberapa orang mengelilinginya. Wajah-wajah asing. Pakaian mereka sederhana — nelayan? Penyelundup? Atau sesuatu di antaranya.
Seorang pria tua dengan kulit legam dan mata tajam menatapnya lama.
“Kau jatuh dari tebing, ya?” katanya pelan.
“Laut tidak biasanya mengembalikan orang hidup.”
Armand mencoba bicara, tapi hanya suara serak keluar.
“Air… tolong…”
Pria itu memberi isyarat cepat.
“Beri dia air. Hangatkan tubuhnya. Cepat!”
Seseorang menyelimuti tubuhnya dengan kain kasar. Yang lain menempelkan botol ke bibirnya.
Sedikit demi sedikit, kesadaran Armand kembali.
Namun sebelum ia benar-benar pulih, dunia kembali gelap.
TEMPAT YANG TIDAK TERCATAT
Saat Armand membuka mata lagi, bau obat menyengat hidungnya.
Langit-langit kayu.
Lampu redup.
Suara ombak lebih jauh, lebih tenang.
Ia terbaring di ranjang sempit, tubuhnya penuh perban. Dadanya terasa berat, setiap napas menusuk.
Seorang pria duduk di kursi dekat jendela.
Pria tua yang sama.
“Kau keras kepala,” katanya tanpa menoleh.
“Seharusnya sudah mati dua kali.”
Armand menelan ludah.
“Di… mana aku?”
“Pulau kecil. Tidak ada di peta resmi,” jawab pria itu.
“Tempat orang-orang yang ingin menghilang.”
Armand menatap langit-langit.
“Kenapa menolongku?”
Pria itu menoleh, menatapnya tajam.
“Karena aku mengenali tatapanmu,” katanya pelan.
“Tatapan orang yang membawa terlalu banyak rahasia… dan terlalu banyak musuh.”
Hening sejenak.
“Apa namamu?” tanya pria itu.
“Armand.”
Pria itu mengangguk perlahan.
“Aku Surya.”
Ia berdiri.
“Beristirahatlah. Luka-lukamu dalam. Kalau kau bangun terlalu cepat, laut akan menyelesaikan pekerjaan yang gagal tadi malam.”
Armand menutup mata perlahan.
Namun jauh di dalam pikirannya, satu hal berdenyut:
Elisabet.
Anak-anak.
Dan perang yang belum selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...