Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Rasta terpaku bagaikan patung. Bagaimana tidak? Anak itu mirip sekali dengannya. Ia bagaikan sedang melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Rasta ingin berkata sesuatu, tapi apa? Lidahnya terasa kelu.
Sadar jika Rasta sedang memperhatikan Vita, Viola menarik Vita merapat ke pinggangnya.
"Yuk, sayang, kita pulang. Ntar keburu siang," ajak Viola. Ia cepat-cepat mengajak Vita menghampiri motornya. Melewati Rasta begitu saja, menganggap seolah tidak bertemu dengannya siang itu.
Rasta bagaikan orang bodoh yang tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa memandangi kepergian Viola dan anak itu. Dia bingung harus berbuat apa dan harus bagaimana.
Anak itu pastilah anak Viola yang dulu sedang ia kandung saat pergi. Tetapi kenapa anak itu sangat mirip dengan Rasta? Apa jangan-jangan semua yang dikatakan Viola benar?
Bahwa anak itu memang hasil benihnya Rasta? Bahwa Viola tidak pernah selingkuh?
Tapi, bagaimana dengan foto itu?
*
Rasta langsung menghubungi Baim dan mengajaknya ketemuan di suatu kafe untuk membahas anak yang dilihatnya tadi.
"Gue barusan ketemu sama Viola dan anak itu," ujar Rasta, wajahnya pucat. Memikirkan berbagai kemungkinan yang ternyata selama ini tidak sesuai dengan perkiraannya.
Baim mengangguk tenang. "Terus?"
"Anak Viola itu ... Kenapa mirip banget sama gue?" tanya Rasta, suaranya terdengar hampa.
Baim tetap santai, menyeruput minuman pesanannya. "Nggak kaget. Karena gue udah pernah liat duluan.
Rasta terkejut. "Lo pernah ketemu sama anak itu? Kenapa lo nggak bilang sama gue?"
"Sejak kita ke klub malam itu, gue jadi penasaran. Makanya gue diam-diam mengintai rumah Viola untuk memantau anak itu." Baim menyeringai. "Dia cantik, dan mirip banget sama lo. Itu artinya?"
Baim mengangkat kedua alisnya, menunggu Rasta, yang wajahnya semakin pucat, mengeluarkan argumennya.
Rasta mengusap kasar wajahnya. Lalu, ia mendongak. "Apa dia beneran anak gue?"
Dada Rasta mendadak dipenuhi oleh rasa sesak. Perasaan yang sama sekali tidak ia inginkan justru menyusup pelan-pelan. Menyesal sekaligus merasa jijik pada dirinya sendiri.
"Menurut lo? Nggak mungkin kan kalau anak itu darah daging orang lain tapi mirip sama lo. That's right. Gue yakin seratus persen kalau dia anak kandung lo. Tapi, kalau lo belum benar-benar yakin, lo bisa melakukan tes DNA."
Rasta membuang napas panjang. Pikirannya kalut, dipenuhi oleh dugaan-dugaan yang ia sendiri tidak tahu, mana yang benar dan mana yang salah.
"Tapi, Viola selingkuh," tandas Rasta, seolah ia sedang mencari perlindungan dari rasa sesal yang pelan-pelan mulai memenuhi dadanya. Yang sebentar lagi pasti akan mencekiknya tanpa ampun.
"Dan lo masih percaya kalau Viola selingkuh?" Baim membalas dengan penuh keyakinan, dia sepenuhnya berada di pihak Viola. Tidak peduli meskipun Rasta adalah sahabat baiknya.
"Kalau Viola nggak selingkuh, jadi foto itu .... " Rasta terdiam.
"Bisa jadi jebakan untuk bikin lo sama Viola berpisah," sambung Baim, menatap Rasta lekat.
"Astagaaaaa." Rasta mendesah panjang. "Siapa yang ngelakuin itu? Masa mama sih? Gue dapat foto itu dari mama"
"Maka dari itu, lo harus selidiki, Ta." Baim menepuk bahu Rasta. "Lo harus selidiki kebenarannya sebelum lo semakin menyesal andaikan Viola terbukti tidak bersalah," Baim menambahkan.
Rasta terdiam. Kini, ia dililit erat oleh perasaan yang membuatnya tidak nyaman. Jika semua tebakan Baim adalah benar, maka betapa bodohnya Rasta. Bertapa berdosanya ia terhadap Viola, istri yang secara tidak sengaja sudah ia sakiti, dan anak yang tidak berdosa.
Rasta membuka galeri di ponselnya. Ia masih menyimpan foto Viola bersama laki-laki itu. Demi alasan yang tidak bisa dimengerti, Rasta tidak pernah bisa menghapus foto itu. Ia menunjukkan foto tersebut kepada Baim.
"Lo kenal seseorang atau siapa pun yang bisa melacak keberadaan orang ini gak sih?" tanya Rasta.
Baim menatap foto itu lama, terutama wajah laki-laki yang sedang tidur sambil memeluk Viola, lalu dia mengangguk, "gue bisa bantu. Akan gue usahakan."
*
Viola tidak tahu apa yang dipikirkan Rasta setelah melihat Vita. Seharusnya, jika matanya normal, Rasta akan bertanya-tanya mengapa Vita sangat mirip dengannya. Mungkin akan muncul dugaan tentang kebenaran itu, dan Rasta akan menyelidikinya.
Tetapi entahlah. Rasta sama sekali tidak terlihat di resto hari itu. Hingga menjelang malam, Rasta tetap tidak terlihat. Mobilnya yang biasanya terparkir di depan, pun tidak kelihatan. Viola tidak tahu apa yang sedang Rasta lakukan.
Apa mungkin Rasta tidak peduli dan tidak akan melakukan sesuatu?
"Gue yakin Pak Rasta gak bakalan diem aja," kata Widia ketika Viola meminta pendapatnya dan telah menceritakan pertemuan tidak sengaja di depan minimarket tadi siang.
"Semoga aja gitu."
"Tenang aja. Pak Rasta pasti akan segera cari tau."
Viola mengangguk. Kini, ia merasa lebih tenang. Viola berharap Rasta bisa mengungkap kebenaran. Semua Viola lakukan demi Vita, hanya demi Vita. Sama sekali tidak berharap untuk menjalin hubungan lagi dengan Rasta.
Viola sudah mengubur rasanya dalam-dalam semenjak Rasta mengusirnya malam itu.
*
Untuk sementara, Rasta tidak mempunyai keberanian untuk muncul di hadapan Viola. Tetapi, dia sangat ingin bertemu dengan Vita lagi. Maka, yang bisa Rasta lakukan adalah memantau rumah Viola dari jarak aman.
Mobilnya ia parkir lebih jauh. Rasta berlindung di balik pohon, mengamati rumah Viola sejak pagi, berharap Vita akan keluar dari rumah.
Ia sempat melihat Sinta, mantan ibu mertuanya, pergi entah ke mana sambil membawa tas belanja. Mungkin ia pergi ke pasar. Rasta juga sempat melihat pemandangan Viola yang sedang menjemur baju dengan rambut tergerai panjang.
Pintu rumah Viola terbuka, namun tidak ada tanda-tanda seseorang akan keluar dari sana.
Rasta membuang napas panjang, mulai merasa lelah. Apa dia datangi saja rumahnya? Tapi, Rasta harus bilang apa? Masa iya dia harus jujur jika ingin bertemu dengan anaknya.
Tapi mungkin tidak akan terjadi apa-apa jika Rasta berkata jujur. Viola pasti bisa mengerti.
Akhirnya, setelah melewati perdebatan batin, Rasta berjalan mendekati rumah Viola. Kakinya hampir menyentuh lantai teras ketika sebuah bola menggelinding keluar. Rasta menangkapnya bersamaan dengan munculnya anak itu dari dalam.
"Hai," Rasta tertegun sejenak. Anak ini cantik, benar-benar mirip sekali dengan Rasta bagaikan pinang dibelah dua.
"Maaf, itu bolaku," balas dia.
Rasta berjongkok sambil mengulurkan bola itu kepadanya. "Siapa namamu?"
"Namaku Vita," jawab Vita.
"Vita?"
Secara otomatis, otak Rasta merekam kembali percakapannya dengan Viola dulu.
"Kalau nanti kita punya anak perempuan, aku mau menamainya Vita. Singkatan dari Viola dan Rasta. Kamu setuju?" Rasta yang mengatakan itu.
"Vita? It's a beautiful name. Aku setuju."
Ya Tuhan ... setelah semua perlakuan buruk yang Rasta lakukan terhadapnya, Viola tetap menamai anak mereka sesuai dengan keinginannya.
Rasta semakin yakin, ia tidak ragu lagi. Vita adalah anaknya. Anak kandungnya.
"Nama yang cantik, sama seperti orangnya," Rasta tersenyum, berusaha menyembunyikan matanya yang berembun.
"Vita ... " terdengar suara Viola dari dalam rumah. Dan....
"Vita!"
Rasta dan Vita menoleh bersamaan. Terlihat di sana, Sinta, yang baru saja pulang dari pasar sambil menenteng tas jinjing berisi sayuran. Wajahnya merah padam, menatap tajam Rasta.
"Vita, masuk ke dalam rumah cepat!" perintahnya. Vita ketakutan melihat neneknya murka.
Sinta menarik Vita menjauh dari Rasta. Ia melototi Rasta sambil berteriak, "Ngapain kamu ke sini? Pergi! Jangan temui Vita dan Viola lagi!"
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu