"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa di Atas Ladang Ranjau
Pagi hari menjelang pesta ulang tahun Tuan Besar Arkananta terasa seperti keheningan yang menyesakkan sebelum badai besar menghantam. Mansion Arkananta telah disulap menjadi sebuah istana megah dengan dekorasi emas dan perak yang berkilauan di bawah cahaya lampu kristal. Namun bagi Alana, setiap hiasan yang dipasang di dinding-dinding tinggi itu terasa seperti jerat yang perlahan-lahan mencekik lehernya. Hari ini bukan sekadar pesta; ini adalah hari di mana "Elena" harus tampil sempurna tanpa cela di hadapan seluruh klan Arkananta dan kolega bisnis internasional mereka yang bermata tajam.
Di dalam kamar utama yang luas, Alana berdiri mematung di depan cermin full-body. Seorang penata rias terkenal baru saja menyelesaikan sentuhan terakhirnya—sapuan lipstik merah gelap yang memberikan kesan berani namun misterius. Alana mengenakan gaun haute couture berwarna merah marun gelap dengan potongan off-shoulder yang memamerkan leher jenjangnya. Gaun itu tidak hanya mahal; itu adalah sebuah pernyataan kekuasaan. Merah yang melambangkan keberanian, namun bagi Alana, warna itu terasa seperti darah yang menyatu dengan tema "takhta berlumuran dosa" yang pernah diucapkan Arkan.
Pintu penghubung antar kamar terbuka dengan suara klik yang pelan. Arkan melangkah masuk, mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna mengikuti lekuk tubuhnya yang atletis. Pria itu berhenti sejenak di ambang pintu. Matanya yang biasanya sedingin es menyapu penampilan Alana dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ada jeda beberapa detik yang terasa sangat lama, di mana napas Arkan seolah tertahan di tenggorokan.
"Tuan? Apakah ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Alana cemas. Ia meremas kain gaunnya yang halus, takut jika ia telah melakukan kesalahan dalam penyamarannya bahkan sebelum pesta dimulai.
Arkan mendekat tanpa suara, langkah sepatu pantofelnya beradu pelan dengan lantai kayu parket yang mengkilap. Ia berhenti tepat di belakang Alana, menatap pantulan gadis itu di cermin besar. Tatapan mereka bertemu dalam cermin, menciptakan tegangan listrik yang asing.
"Tidak ada yang salah," bisik Arkan, suaranya rendah dan berat. "Justru kau tampak terlalu meyakinkan. Sampai-sampai aku hampir lupa bahwa wanita di depanku ini hanyalah seorang sekretaris yang sedang berakting."
Arkan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari saku jasnya. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian dengan mata zamrud besar yang berkilau hijau tajam. "Ini milik mendiang ibuku. Kakek akan mengenalinya begitu kau masuk ke ruangan itu. Mengenakan ini berarti kau adalah menantu kesayangannya, atau setidaknya, itu yang harus dia percayai."
Tangan dingin Arkan menyentuh kulit leher Alana saat ia mengaitkan kalung itu. Alana sedikit bergidik; bukan karena hawa dingin, melainkan karena debaran jantungnya yang mendadak tidak beraturan. Posisi mereka begitu dekat sehingga Alana bisa mencium aroma parfum sandalwood yang maskulin dan sisa kopi pahit dari napas pria itu.
"Ingat, Alana," Arkan berbisik tepat di dekat telinganya, mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuhnya, "di pesta nanti, jangan pernah lepaskan lenganku. Kevin akan mencari celah sekecil apa pun saat kita terpisah. Dia telah mengundang beberapa teman lama Elena dari masa sekolahnya di luar negeri. Kau harus bersiap untuk serangan mendadak yang tidak ada dalam catatan."
Alana mengangguk pelan, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Saya siap, Tuan. Saya sudah menghafal semua profil teman-teman Elena yang Anda berikan semalam, termasuk kebiasaan-kebiasaan kecil mereka."
"Bagus. Ayo, limusin sudah menunggu di depan," ujar Arkan sambil menyodorkan lengannya untuk dikait oleh Alana.
Hotel bintang lima tempat acara berlangsung telah dikepung oleh wartawan dan fotografer. Saat pintu limusin terbuka, lampu kilat kamera menyambar-nyambar seperti petir di malam hari. Arkan menggandeng tangan Alana dengan gerakan protektif, wajahnya kembali ke mode "CEO Dingin"—datar, angkuh, dan tak tersentuh oleh emosi apa pun.
Di dalam aula utama yang luar biasa luas, Tuan Besar Arkananta duduk di sebuah kursi tinggi yang menyerupai singgasana di atas panggung kecil. Wajahnya dipenuhi keriput namun matanya masih setajam elang yang mengintai mangsa. Di sampingnya, Kevin berdiri dengan senyum miring yang menyimpan rencana busuk.
"Kakek, lihat siapa yang datang. Pasangan emas kita," suara Kevin menggema dengan nada provokatif yang halus.
Arkan dan Alana melangkah maju dengan anggun, membungkuk hormat di hadapan sang penguasa klan. "Selamat ulang tahun, Kakek. Semoga panjang umur dan kekuatan selalu menyertai Anda untuk memimpin kami," ucap Arkan dengan nada formal yang kaku.
Tuan Besar tidak langsung menjawab. Ia menatap Alana lama sekali, dari ujung kepala hingga kalung zamrud yang melingkar di lehernya. Suasana di sekitar mereka mendadak sunyi senyap, seolah-olah semua tamu menahan napas.
"Elena... kau memakai kalung itu," suara Tuan Besar berat dan serak. "Arkan benar-benar mencintaimu rupanya, sampai dia memberikan satu-satunya peninggalan ibunya yang paling berharga padamu."
Alana menarik napas dalam, mencoba menjaga agar suaranya tidak bergetar. "Ini adalah kehormatan besar bagi saya, Kakek. Saya berjanji akan menjaganya dengan baik, sebagaimana saya berusaha menjaga hati dan kehormatan Arkan setiap harinya."
Kevin mendengus keras, sebuah tawa sinis tertahan. "Cinta? Ah, betapa manisnya sandiwara ini. Omong-omong tentang masa lalu, Elena, bukankah kau punya teman lama yang sangat ingin menemuimu? Dia baru saja mendarat dari Paris pagi ini khusus untuk merayakan ulang tahun Kakek."
Kevin memberi isyarat ke arah kerumunan tamu. Seorang wanita cantik dengan gaun perak metalik melangkah maju dengan penuh percaya diri. Sarah, sahabat karib Elena saat mereka menempuh pendidikan di Swiss. Alana merasakan telapak tangannya mulai berkeringat dingin. Dalam dokumen yang diberikan Arkan, Sarah digambarkan sebagai sosok yang sangat teliti dan mengetahui rahasia-rahasia tergelap Elena yang tidak diketahui keluarga.
"Elena! Oh mon dieu, aku tidak percaya kau benar-benar menikah dengan pria kaku ini!" Sarah berseru sambil mencoba memeluk Alana dengan akrab.
Alana membalas pelukan itu dengan hati-hati, mencoba meniru gaya bicara Elena yang sedikit angkuh. "Sarah, lama tidak berjumpa. Senang melihatmu bisa meluangkan waktu datang ke sini."
Sarah melepaskan pelukannya dan menatap wajah Alana dengan dahi berkerut, seolah sedang memindai setiap inci wajah sahabatnya. "Suaramu... terdengar sedikit berbeda? Dan sejak kapan kau memakai parfum dengan aroma mawar? Bukankah kau selalu bilang parfum bunga itu hanya untuk 'gadis-gadis desa yang membosankan'?"
Situasi mulai memanas. Kevin melirik Arkan dengan tatapan mengejek, menikmati kebingungan Alana. Arkan tetap berdiri tegak, namun Alana bisa merasakan otot lengan Arkan yang ia pegang menegang keras.
"Kecelakaan itu merusak sedikit pita suaraku, Sarah. Aku masih dalam masa pemulihan," Alana menjawab dengan cepat, otaknya berputar mencari alasan logis. "Dan soal parfum... Arkan lebih menyukai aroma yang lembut dan menenangkan. Aku belajar bahwa menyesuaikan diri dengan selera suami adalah kunci kebahagiaan rumah tangga yang baru."
Sarah tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar tajam. "Wow, Arkananta benar-benar berhasil menjinakkan macan Swiss kita. Tapi Elena, kau tentu tidak lupa kan tentang janji gila kita di tepi Danau Jenewa? Tentang tato kecil yang kita buat sebagai tanda persahabatan abadi kita?"
Kevin hampir saja melompat karena kegirangan mendengar kata "tato". "Tato? Elena punya tato? Ini berita baru, bahkan bagiku. Mengapa kau tidak pernah menceritakannya, Kak?"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Alana. Tato? Informasi itu tidak ada dalam berkas mana pun! Jika ia tidak bisa membuktikan keberadaan tato itu sekarang, atau salah menyebutkan lokasinya, seluruh penyamaran mereka akan hancur lebur di bawah kaki Tuan Besar Arkananta.
"Cukup, Kevin. Ini pesta ulang tahun Kakek, bukan sesi interogasi masa lalu remaja yang konyol," Arkan mencoba mengintervensi, suaranya mengandung ancaman yang jelas.
"Kenapa kau begitu defensif, Kak? Kecuali jika... kau takut rahasia besar istrimu terbongkar di sini?" tantang Kevin, suaranya cukup keras untuk menarik perhatian tamu-tamu penting di sekitar mereka.
Tuan Besar Arkananta berdeham keras, membuat semua orang terdiam seketika. "Elena, jika kau memang memiliki tanda persahabatan itu, tunjukkanlah. Aku tidak suka ada rahasia yang tersembunyi di dalam keluarga ini, sekecil apa pun itu."
Alana merasa lututnya lemas. Ia melirik Arkan, mencari bantuan dalam mata pria itu. Namun untuk pertama kalinya, Arkan pun tampak terdesak. Di saat genting itu, Alana teringat akan sebuah catatan kecil yang terselip secara tidak sengaja di halaman terakhir berkas medis Elena yang ia baca semalam—sebuah catatan tentang "perawatan penghapusan pigmen kulit".
Alana menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia menatap Sarah dengan tatapan dingin yang menyerupai Arkan. "Maaf, Sarah. Tapi tato itu sudah kuhapus dengan laser sebulan sebelum hari pernikahanku. Arkan ingin aku tampil sempurna tanpa noda apa pun di kulitku sebagai istrinya, dan aku setuju bahwa kenangan masa lalu yang kekanak-kanakan itu tidak perlu lagi aku bawa ke dalam masa depan kami sebagai Arkananta."
Sarah tertegun, kehilangan kata-kata. "Dihapus? Tapi kau bilang itu akan ada selamanya!"
"Tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan, Sarah," sahut Arkan dengan nada dingin yang mengakhiri seluruh perdebatan tersebut. "Kakek, jika sesi tanya jawab ini sudah selesai, kami ingin menikmati jamuan makan malam."
Tuan Besar mengangguk pelan, meski tatapannya masih menyimpan sedikit kecurigaan. Kevin tampak sangat kecewa karena rencananya gagal total di detik terakhir.
Saat mereka berhasil menjauh dari kerumunan menuju sudut balkon yang sepi, Arkan melepaskan napas yang sejak tadi ia tahan. Ia menatap Alana dengan intensitas yang berbeda dari sebelumnya.
"Kau beruntung, Alana. Sangat beruntung," bisik Arkan. "Bagaimana kau bisa memikirkan alasan tentang laser itu?"
"Saya hanya mencoba menghubungkan titik-titik dari berkas medis yang saya baca, Tuan. Saya asumsikan seorang Elena yang perfeksionis akan menghapus jejak masa lalunya sebelum masuk ke keluarga ini," jawab Alana, napasnya masih tersengal karena adrenalin yang meluap.
Arkan tidak menjawab, namun ia mengulurkan tangan secara perlahan dan merapikan anak rambut Alana yang sedikit berantakan. Sentuhan itu terasa lebih lembut dari biasanya. "Kau lebih dari sekadar pengganti, Alana. Kau adalah kejutan yang tidak pernah kuprediksi akan muncul dalam hidupku."
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Seorang pelayan dengan wajah pucat pasi mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Arkan. Wajah Arkan seketika berubah menjadi seputih kertas.
"Ada apa, Tuan?" tanya Alana dengan firasat buruk.
"Paviliun rahasia," jawab Arkan dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Elena... dia menghilang dari kamarnya."