Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Araina menunduk, rasa bersalah membuncah di dadanya. "Aku benar-benar minta maaf atas tingkah Arion tadi. Mulutnya memang seperti itu kadang sulit dikendalikan sampai bikin sakit hati."
Namun Bulan hanya tersenyum kecil, matanya berbinar penuh ketegaran. Dia tipe gadis yang memilih tak ambil pusing, memendam luka agar tetap bahagia.
Baginya, kebahagiaan lebih berharga daripada kepahitan kata-kata kosong yang terucap sembarangan.
" Santai saja, aku nggak apa-apa kok." Ucapnya tersenyum manis pada kedua sahabatnya.
Lalu mereka pergi dari parkiran sekolah, Langkah mereka bertiga bergema ringan menyusuri lorong, seolah setiap jejak membisikkan kisah penuh harapan.
Di antara tawa yang mengalun, suara bulan pun setia menemani, melukis pagi itu dengan kehangatan yang tak pernah pudar.
...****************...
Mobil meraung ringan memasuki pintu gerbang sekolah DHS dimana para murid dari kalangan atas dan para murid berprestasi belajar.
"Wah, Aruna dan Anjani!" seseorang berseru saat melihat dua mobil mewah berhenti di parkiran khusus.
Namun, yang menjadi fokus mereka adalah mobil baru yang datang bersama mereka itu.
"Apa ada murid baru?" salah seorang berbisik saat melihat mobil putih berhenti tepat di depan gerbang sekolah DHS.
"Entah, siapa ya kira-kira?" salah satunya juga bingung.
Aruna dan Anjani keluar dari mobil, jelas mereka mendapatkan mobil itu sebagai hadiah setelah masuk DHS.
Fokus mereka tidak ada pada Aruna dan Anjani, tapi pada mobil putih yang satunya dimana orang yang membuat mereka penasaran itu tak juga keluar dari mobil.
"Silakan, Nona!" supir membuka pintu dan mempersilakan Aurora keluar dari mobil.
Kaki yang di balut sepatu berwarna putih mewah itu turun, seolah menunjukkan dia bukan dari kalangan biasa. Tubuh di tarik dan angin langsung melesat kecil menerpa wajahnya yang cantik.
Semua orang terpana, rambut itu di gerai tertiup angin meninggalkan wangi yang tak biasa.
Tatapan Aurora menyapu lembut melihat sekeliling sekolah elit milik Draco itu, dia jelas tahu tempat itu bukan sekedar sekolah. Namun, semua orang menggantungkan harapan untuk lulus dengan nilai terbaik.
"Hey-hey, siapa dia?" mereka semua melihat dan berbisik heboh saat melihat kedatangan Aurora.
"Iya, murid baru, kah?" yang lain bertanya seoleh mencari jawaban dari setiap ucapan yang teman-temannya katakan.
"Mungkin, tapi kenapa dia datang bersama Aruna dan Anjani?" yang lain malah salfok akan kedatangan Aurora bersama dua putri dari keluarga elit itu.
"Iya, tapi dia cantik sekali, dan wajahnya malah agak mirip Aruna, benarkan?"
"Benar, tapi gadis itu versi agak tingginya dan badannya pun proposional, indah bak gitar Spanyol!" yang lain memuji saat melihat tubuh Aurora yang bagus.
Sedangkan Anjani yang melihat perhatian semua penghuni DHS ada pada Aurora ada rasa kesal yang merayap perlahan ke hatinya, dan itu menimbulkan rasa iri juga benci.
"Jani, ayo!" hingga tepukan pada pundaknya membuat Anjani terhenyak.
Dia menoleh dan mengangguk pelan pada Aruna. Anjani menggandeng Aruna seolah ia pamer pada sosok Aurora kalau dialah yang di anggap adik sejak awal.
Sedangkan Aurora, dia hanya tersenyum sinis dalam hati, rasanya ia ingin sekali tertawa lepas melihat bagaimana Anjani seolah ingin menunjukkan bagaimana ia dekat pada sosok Aruna.
"Tunjukkan saja, aku tak butuh kasih sayang itu, Anjani!" gumam Aurora pelan nyaris seperti bisikan di tengah malam yang senyap.
...****************...
Ruang kepala sekolah DHS.
"Kau Aurora Bellazena?" tanya kepala sekolah bernama Izar Hanif itu.
"Benar, Pak!" angguk Aurora, dia akan sopan pada sosok yang terlihat tak mungkin kenal dirinya.
Izar Hanif, adalah kepala sekolah DHS yang si rekrut langsung oleh sang pemilik, dia jujur dan mampu membawa DHS terkenal sebab kepiawaiannya dalam bicara dan kecerdasannya dalam memimpin.
"Baik, kamu akan masuk kelas IPA!" kata Izar.
"Baik," Aurora hanya bisa setuju, dia tak membantah apapun sebab mau kelas manapun ia tak peduli.
Aurora di antar oleh salah satu guru di sana sosok wanita berhijab bernama Mikayla itu tersenyum lembut.
"Kamu suka main piano?" tanyanya.
"Sedikit, apa di sini ada ruang musik?" Aurora suka musik jadi dia bertanya sebab ia berniat masuk ke sana sebagai tempat nyaman yng akan ia pilih.
"Ada, banyak ektrakurikuler disini, musik, olahraga sampai perpustakaan besar yang menyediakan banyak buku untuk kalian semua ada di sini, kamu bisa memilih sesuai dengan apa yang kamu bisa!" ungkap Mikayla.
"Baik, Terima kasih informasinya, Bu!" kata Aurora, dia sopan dan ucapannya pun lembut hingga membuat Mikayla merasa senang.
Mikayla terus menunjukkan setiap sisi sekolah elit di mana ia mengajar, dan Aurora senang mendengarkan setiap hal yang sang guru berhijab itu ucapkan.
"Oper!" suara seseorang menghentikan langkah Aurora dan Mikayla.
Mata Aurora menyipit untuk menegaskan siapa yang sedang bermain di lapangan basket kali ini. Wajahnya tak menunjukkan riak berarti.
Namun, satu hal ia seperti melihat sesuatu yang berharga di sana. Sosok lain yang terkenal dalam pergaulan anak muda dan Playboy.
'Oh, Arion Draco?' batin Aurora.
...****************...
Di lapangan basket yang penuh keramaian, mata Arion terpaku, tertambat pada sosok Aurora dan Bu Mikayla yang sedang berbicara.
"Aurora? Itu benar dia, kan? Aku tak sedang bermimpi?" bisiknya penuh harap, tangan gemetar mengusap matanya, takut bila semua ini cuma ilusi.
Pikirannya berlomba, "Jadi dia sekolah di sini? Artinya dia sudah bertemu dan tinggal bersama keluarganya..."
Namun, konsentrasinya runtuh seketika saat bola basket melayang deras, menghantam kepalanya.
Arion meringis, tapi rasa sakit itu tak mampu mengalihkan pandangannya yang terus mengikut langkah Aurora menjauh.
Jantungnya berdetak seperti genderang perang, mata yang dulu redup kini berkilat bagaikan bintang kejora.
Akhirnya, kesempatan langka ini datang juga. Arion berdiri di sana, terpaku, menatap dengan hati bergetar, seolah seluruh dunia berhenti hanya untuknya dan Aurora.
Teman-temannya mendekat, mata mereka penuh rasa khawatir. "Bos, sakit nggak?" tanya Galaxsi dengan nada polos, seolah takut mendengar jawaban yang sebenarnya.
Arion tersenyum tipis, matanya menatap jauh ke depan. "Nggak, aku malah merasa bahagia sekarang."
Galaxsi dan Abi saling berpandangan, ragu dan bingung, tangan mereka tak sengaja menggaruk-garuk hidung seolah mencari alasan yang masuk akal.
"Bos kok bisa senyum? Padahal dia tadi kena bola, kan sakit itu..." bisik Galaxsi, nada suaranya hampir tidak terdengar.
Abi hanya menggeleng pelan, bibirnya berbisik tanpa kata, "Aku juga nggak paham."
Mereka berdiri terpaku, menghadapi Arion yang tampak tenang, tapi sedikit aneh menurut mereka.
...****************...
Sedangkan Aurora mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju kelas bersama Bu Mikayla.
Aurora tak mengindahkan keberadaan Arion yang tengah melihatnya dari kejauhan, seakan keberadaan Arion tak berarti dalam hidupnya.
"Bagaimana menurutmu, Aurora, tentang sekolah ini?" tanya Bu Mikayla sambil menyelinap di antara langkah mereka, suara lembutnya menyelusup di udara pagi.
Aurora tersenyum, tapi ada kilau tak terucapkan di balik tatapannya yang melirik sekeliling sekolah tempat itu lebih dari sekadar bangunan biasa baginya.
"Bagus, Bu... Tak ada yang bisa menandingi tempat ini," jawabnya antusias.
selalu d berikan kesehatan😄