NovelToon NovelToon
PANTASKAH AKU BAHAGIA

PANTASKAH AKU BAHAGIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: yunie Afifa ayu anggareni

Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia

"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7:MEJA MAKAN YANG PANAS

Malam itu, suasana di ruang makan kediaman Anantara terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Alsya duduk di kursinya, berusaha fokus pada piringnya, tapi dia bisa merasakan tatapan tajam Papa Saga yang seolah ingin menembus kepalanya.

Di seberangnya, Eliza duduk dengan tenang, sesekali melirik Alsya dengan tatapan yang sulit diartikan—antara kasihan dan cemas.

"Papa dengar dari wali kelas kalian, kamu berangkat sekolah dibonceng cowok asing kemarin?" suara berat Saga memecah keheningan.

Alsya meletakkan sendoknya. Dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Pasti ada saja "cepu" di sekolah yang melapor. "Iya. Motor aku mogok karena kehujanan, terus dia nawarin tumpangan."

Mama Luna mendengus sinis sambil memotong daging steak-nya. "Cowok asing itu anak baru yang katanya bermasalah juga, kan? Alsya, kamu itu perempuan. Sudah dicap tukang bully di sekolah, sekarang mau ditambah lagi dicap sebagai cewek murahan yang mau dibonceng siapa saja?"

Deg. Kata "murahan" itu benar-benar menusuk jantung Alsya.

"Aku nggak murahan, Ma! Samudera itu cuma temen sekolah," jawab Alsya, suaranya mulai meninggi.

"Temen sekolah atau pelarian karena kamu ditolak sama Revaldi?" sahut Saga makin tajam. "Revaldi itu anak rekan bisnis Papa. Kamu sudah cukup memalukan dengan mengejar-ngejar dia sampai dia risih. Sekarang kamu malah cari gara-gara sama anak baru itu? Kamu mau bikin nama Papa makin hancur?"

"Papa cuma peduli sama nama baik Papa!" teriak Alsya akhirnya. Dia berdiri dari kursinya.

"Papa pernah nanya nggak sih, kenapa motor aku bisa mogok? Kenapa aku harus nunggu hujan sendirian kemarin? Papa bahkan lihat aku di seberang jalan tapi Papa malah pergi gitu aja sama Eliza!"

Saga menggebrak meja makan sampai gelas-gelas berdenting. "Jaga bicara kamu, Alsya! Papa melakukan itu supaya kamu mandiri, supaya kamu sadar kalau kamu nggak bisa terus-terusan berulah dan berharap dimaafkan!"

"Mandiri atau emang nggak peduli?" Alsya tertawa getir, air matanya sudah menggenang. "Aku tahu, di mata kalian, cuma Eliza yang berharga. Aku ini cuma sampah yang nggak sengaja ada di keluarga ini, kan?"

"Alsya, loe jangan ngomong gitu..." potong Eliza dengan nada lirih.

"Diem loe, El! Gue nggak butuh pembelaan dari anak emas kayak loe!" bentak Alsya ke arah Eliza.

"Masuk ke kamar kamu sekarang!" perintah Saga dengan suara menggelegar. "Jangan keluar sampai kamu bisa sopan sama orang tua dan saudara kamu!"

Tanpa kata lagi, Alsya berlari menuju kamarnya. Dia tidak membanting pintu kali ini. Dia hanya menguncinya pelan, lalu merosot di balik pintu sambil memeluk lututnya. Di dalam kegelapan, dia merogoh saku seragamnya yang masih tergeletak di kursi. Dia menemukan sapu tangan milik Samudera yang belum sempat dia kembalikan.

Wangi maskulin itu masih ada di sana. Anehnya, hanya dengan memegang kain itu, amarah Alsya sedikit mereda.

Dia mengambil ponselnya, lalu mencari kontak baru yang diam-diam dia simpan tadi siang. Nama kontaknya: Samudera.

Alsya ragu sejenak, jarinya gemetar di atas layar. Akhirnya, dia mengetik sebuah pesan singkat.

Alsya: Gue boleh telepon?

Hanya butuh waktu sepuluh detik sampai ponsel Alsya bergetar. Bukan balasan pesan, tapi sebuah panggilan masuk dari Samudera.

Begitu Alsya mengangkatnya, suara berat di seberang sana langsung terdengar.

"Loe kenapa lagi? Bokap loe ngamuk?" tanya Samudera, seolah dia punya indra keenam tentang hidup Alsya.

Mendengar suara itu, pertahanan Alsya runtuh. Dia tidak menjawab, hanya suara isakan kecil yang terdengar di sambungan telepon.

"Sya?" panggil Samudera, suaranya melembut, tidak sedingin biasanya. "Loe denger gue? Keluar lewat jendela kamar loe sekarang. Gue ke sana."

"Hah? Loe gila? Rumah gue dijaga ketat, Sam!" jawab Alsya kaget, suaranya parau karena habis menangis.

"Gue nggak nanya rumah loe dijaga siapa. Gue nanya loe berani nggak? Gue tunggu di taman deket komplek loe sepuluh menit dari sekarang. Jangan telat, atau gue yang nekat masuk ke dalem."

Pip. Sambungan diputus sepihak.

Alsya menatap jendela kamarnya. Ini gila. Kalau Papa tahu, dia bisa habis. Tapi di satu sisi, dia merasa kalau dia tetap di kamar ini, dia akan benar-benar gila karena kesepian.

Alsya menghapus air matanya, memakai jaket hoodie-nya, dan mulai membuka jendela. Untuk pertama kalinya, Alsya akan melakukan pemberontakan yang bukan sekadar cari perhatian, tapi untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!