NovelToon NovelToon
Apa Adanya Peno

Apa Adanya Peno

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Imam Setianto

Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.

Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.

Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8

Sampai disawah milik pak Somad mereka langsung berlomba membabat rumput untu memenuhi karung mereka masing masing, jadilah tidak sampai satu jam karung mereka sudah penuh.

"pulang Min, No!" ucap Wanto mengajak Dimin dan Peno pulang.

"ayo lik, lagian sebentar lagi sudah mau dhuhur!" jawab Dimin.

Bertiga pun mengangkat karung mereka masing masing, disungginya diatas kepala dan berjalan berbaris menyusur pematang menuju kearah desa.

Sesampainya dijalan desa mereka berpencar menuju kolam ikan masing masing, yang paling gampang adalah Peno dan Dimin, sebab kolam mereka berdekatan dengan rumah, sedangkan kolam milik Wanto sedikit jauh dari rumahnya.

Sampai rumah Peno langsung menuju belakang rumah dimana kolam ikanya berada, empat kolam ikan yang masing masing kolam berukuran lima kali delapan meter berjajar dibelakang rumah nampak begitu terawat, tak ada satupun rumput yang tumbuh disetiap pematang kolam itu, tepat ditengah ada gubug yang juga bersih terawat, tempat dimana Peno sering duduk disana.

Satu karung rumput langsung dibagi oleh Peno untuk empat petak kolam, nampak begitu rumput jatuh di air kolam segerombolan ikan bawal langsung berlomba menyambar rumput rumput itu, hal itulah yang sering membuat Peno betah lama lama dikolam, menyaksikan ikan makan denga lahapnya.

Bosan melihat ikan Peno masuk kerumah, mandi dan bersiap untuk sholat dhuhur, sambil menunggu adzan dhuhur Peno bermain ponsel diteras depan, dan tepat dengan bapaknya yang pulang dari sawah.

"sudah rapi saja kamu No, mau mimpin tahlil dimana?" tanya bapak yang melihat Peno sudah pakai sarung dan baju koko.

"dikuburan pak, orang lagi nunggu waktu dhuhur malah dibilang mau tahlilan!" jawab Peno sedikit sewot.

"ha ha ha ha......, ya siapa tahu kamu diundang tahlil dirumah siapa gitu!" kata bapak lagi.

"ngga ada yang ngundang tahlil pak, ini lagi nunggu undangan dari mushola untuk sholat!" jawab Peno lagi.

"daripada nunggu ya mending kamu yang ngundang No!" ucap bapak.

"ah iya juga ya, ya wis lah aku ke mushola dulu pak, assalamualaikum!" kata peno lalu meninggalkan bapaknya yang istirahat diteras.

"waalaikumsalam!" jawab bapak.

Sesampainya didepan mushola peno bertemu dengam mbah Patma yang akan kemushola juga.

"mau kemana mbah?" tanya Peno.

"mau jalan jalan No, kamu mau kemana?" jawab mbah patma dan bertanya balik oada Peno.

"jalan jalan kemana mbah, kan ini waktunya dhuhur!?" tanya Peno lagi.

"jalan jalan ke mushola!" jawab mbah Patma cuek sambil terus berjalan kemushola.

"ealah aku yang lupa, jalan jalannya mbah kan kemushola ya!" ujar Peno sambil tepuk jidat dan menyusul mbahnya kemushola.

"mbah, biar aku yang adzan, mbah tugasnya jadi imam saja nanti!" kata Peno saat tahu mbahnya mau ambil mic buat adzan.

"ya wis, nih micnya, kalau kaya gini tiap hari kan bagus, kamu yang adzan mbah yang jadi imam!" ucap mbah Patma sambil duduk kembali setelah micnya diberikan pada Peno.

Peno pun mengumandangkan adzan dengan suara apa adanya, hal itu membuat mbah Patma jadi geleng geleng kepala, tapi bagi mbah Patma Peno mau adzan dan urutan bacaannya benar saja sudah bersyukur, sebab cucunya ini memang kalau kemushola seperti musiman, kadang rajin kadang tak terlihat entah kemana.

Satu persatu orang yang akan jamaah sholat dhuhur pun muali berdatangan, dan mbah Patma pun segera meminta Peno untuk iqamah.

"iqamah No!" ucap mbah Patma.

Peno pun langsung berdiri dan mengumandangkan iqamah dan serentak para jamaah berdiri untuk menunaikan sholat.

"ngga mampir No?" tanya mbah Patma selesai mereka sholat dan akan pulang kerumah masing masing.

"engga mbah, nanti kalau aku mampir pasti disuruh mikirin kayu hitam putih, aku lagi males mikir, he he he he......!" jawab Peno beralasan, padahal alasan sebenarnya adalah ia sudah sangat lapar dan ingin segera makan siang dirumah.

"itu kan biar otakmu encer terus ga beku kaya balok es, he he he he.....!" ucap mbah Patma ikutan bercanda.

"kalau keenceran bisa bahaya mbah, nanti bisa rembes lewat telinga, hi hi hi......!" ujar Peno lagi.

"ealah, itu sih namanya teler, wis sana, mbah juga mau pulang!" ucap mbah Patma mengusir Peno dan melangkah menuju rumahnya.

peno pun segera berjalan pulang kerumahnya, sampai rumah ia langsung ganti baju dan segera menuju meja makan didapur.

"kok pulang dari musholanya lama No?" tanya mamak yang sedang meladeni bapak mengambilkan makan, sedangkan Peni sudah asik makan dengan lahapnya.

"ngobrol dulu sama mbah kakung mak!" jawab Peno langsung duduk disamping Peni dan memulai makan.

"assalamualaikum, no, Penoooooo!" ucap seseorang berteriak didepan rumah memanggil nama Peno.

"waalaikumsalam, siapa iti No, coba dilihat dulu!?" kata mamak meminta Peno untuk melihat kedepan.

"si Maman mak, iya, aku kedepan dulu!" ucap Peno lalu bangkit berjalan kedepan rumah.

"kamu Man, ada apa, aku lagi makan dulu!" kata Peno setelah menemui Maman.

"ya wis sana dilanjut makannya, aku nunggu disini saja, nanti Eko sama Dimin juga mau kesini!" jawab Maman.

"oke, tunggu ya, aku makan dulu!" ucap Peno lalu masuk kembali untuk melanjutkan makannya.

Setelah selesai makan Peno pun kembali menemui Maman diteras rumahnya dan ternyata Eko sama Dimin juga sudah datang.

"nanti malam kepasar malam di desa sebelah No!" ucap Maman mengajak Peno.

"ngapain kepasar malam, mau naik komedi putar!?" tanya Peno.

"ya lihat lihat No, siapa tahu kecantol cewe disana!" Eko ikut merayu Peno biar ikut.

"nah iya No, dan siapa tahu bisa dapat uang tambahan, kan biasanya dipasar malam ada permainan catur yang tiga langkah mati, yang menang biasanya dapat rokok lima bungkus, kan lumayan tuh bisa ngrokok dan dijual juga!" sambung Dimin.

"nah kalau itu aku mau, kita kuras rokok para bandar catur itu!" kata Peno bersemangat jika mendengar kata kata main catur.

"oke, nanti kita berangkat habis maghrib saja!" kata Maman.

"naik apa Man?" tanya Dimin.

"jalan kaki lah, kan kita cuma punya kaki, ha ha ha ha.......!" kata Peno berkelakar.

"ha ha ha ha...........,miskin miskin!" ujar Maman ikut tertawa juga.

Ya mereka menertawakan diri sendiri yang memang tidak punya apa apa, paling mentok mereka punya sepeda, itupun milik orang tua yang biasa dipakai untuk kesawah dan mengangkut rumput.

"ya wis, nanti kita kumpul dirumah mbahku dulu, baru kita berangkat!" ucap Peno.

"oke sipp, nanti kalau kita dapat banyak rokok, kita jual saja sama yu War, pasti dia mau!" kata Eko mulai berandai andai.

"iya, semoga saja kita bisa dapat lebih dari dua puluh bungkus!" ucap Dimin.

"oke, kalau gitu samapi jumpa nanti malam, aku pulang dulu, tadi disuruh bapak beli pelet, kalau kelamaan disini bisa bisa aku yang diceburin kekolam jadi pakan bawal, ha ha ha ha......!" ucap Maman berpamitan.

Dan Eko sama Dimin pun ikut berpamitan juga.

1
Was pray
kamu itu atlit catur no... bukan atlit karate... malah oemanasannya dengan adu jotos bukan adu bidak ... 😄😄
Was pray
ada propinsi blangkon tengah ntar ditambah prop. blangkon menthol Thor.... 🤣🤣🤣
Was pray
peno ketemu bidak cantik sebelum bergulat dengan bidak catur.... tapi sayang bidak cantik gak begitu punya atitut... 🤣🤣🤣
Zulkarnain Husain
lanjut thorr
Was pray
peno krsedak pion udah bisa diatasi ya Thor? jangan keselek bidak catur lagi no... ntar othor nya gak up up karena ngurusi kamu yg kerepotan buat ngeluarin bidak catur dari kerongkonganmu... 🤣🤣
Was pray: peno diingtin Thor ... sesuk nek main sekak dicekeli wae bentenge catur Ojo mbok emplok... padake telo goreng po no? .. 🤣🤣🤣
total 2 replies
Was pray
peno lagi pingsan kelekegen Bidak catur ya Thor? sehingga gak muncul2
Ilham
lanjut bg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!