NovelToon NovelToon
Scandal In Berlin

Scandal In Berlin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Kharisma

Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan

Sedan sport mewah Mercedes-AMG milik Maximilian meluncur mulus membelah jalanan aspal yang membelah hutan pinus lebat di pinggiran Berlin. Di dalam kabin yang kedap suara itu, hanya terdengar deru mesin yang halus dan suara bariton Max yang sedang menjelaskan cetak biru pabrik baru.

"Pabrik ini akan menjadi jantung dari sistem penggerak elektrik kita, Sophie. Aku ingin integrasi total antara desain dan efisiensi energi. Jika ini berhasil, Jerman tidak hanya akan memimpin otomotif, tapi juga masa depan mobilitas," jelas Max. Ia bicara dengan semangat yang jarang ia tunjukkan, sesekali melirik Sophie dari balik kacamata hitamnya.

Sophie mendengarkan dengan seksama, jemarinya sibuk mencatat poin-poin penting di tabletnya. "Konsepnya luar biasa, Tuan. Tapi, apakah Anda sudah mempertimbangkan dampak logistik jika pasokan litium dari Eropa Timur terhambat?"

"Itulah sebabnya aku membawamu, untuk memikirkannya sebelum hal itu—"

Tiba-tiba, kalimat Max terputus. Mesin mobil yang tadinya bertenaga mendadak mengeluarkan suara batuk yang aneh. Pedal gas yang diinjak Max terasa kosong. Layar dasbor digital mendadak berkedip merah sebelum akhirnya mati total.

Mobil itu melambat secara drastis, hingga akhirnya berhenti tepat di bahu jalan yang sepi, dikelilingi oleh pepohonan pinus yang menjulang tinggi dan kabut tipis.

Hening.

Sophie mengerutkan kening, menatap dasbor yang gelap, lalu menatap Max. "Tuan Hoffmann? Apakah ini bagian dari rencana 'efisiensi energi' yang Anda maksud?"

Max tidak menjawab. Ia mencoba menekan tombol start-stop berkali-kali, namun mesin itu tetap mati. "Ini tidak mungkin. Mobil ini baru saja keluar dari servis rutin minggu lalu."

"Sepertinya mobil seharga empat miliar ini punya pendapat lain," sindir Sophie pelan sambil melipat tangannya di dada.

Max menggeram, ia keluar dari mobil dan membuka kap depan. Sophie menyusul, berdiri di sampingnya sambil memperhatikan Max yang tampak kebingungan menatap mesin yang terlihat sangat rumit dan penuh kabel elektronik.

"Bagaimana? Bisa Anda perbaiki?" tanya Sophie dengan nada polos yang dibuat-buat.

Max mendongak, wajahnya sedikit merah karena malu dan kesal. "Dengar, Nona Adler, aku adalah CEO, bukan teknisi bengkel! Dan jangan menatapku seolah-olah ini salahku. Ini masalah sistem!"

"Tentu saja. Dan sistem ini memilih untuk mogok di tengah hutan saat suhu mulai turun," balas Sophie. "Mungkin Anda lupa mengisi bensin? Atau mobil ini terlalu canggih sampai ia butuh istirahat?"

"Aku tidak lupa mengisi bensin! Jangan konyol!" sergah Max sambil membanting kap mesin dengan keras—yang sayangnya tidak membuahkan hasil apa pun selain debu yang beterbangan.

Max segera meraba saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berjalan ke tengah jalan sambil memutar-mutar badannya.

"Ada sinyal?" tanya Sophie yang kini bersandar di pintu mobil.

"Tidak ada. Nol. Kosong," Max menatap layar ponselnya dengan benci. "Bagaimana mungkin di pinggiran Berlin tidak ada sinyal sama sekali?"

"Hutan ini sangat lebat, Tuan. Sinyal tidak peduli seberapa maju negara ini," Sophie berjalan mendekat dan ikut memeriksa ponselnya sendiri. "Punya saya juga mati."

Max menghela napas panjang, mengacak rambutnya yang biasanya tertata rapi hingga kini terlihat sedikit berantakan. "Lalu sekarang apa? Kau mau kita berjalan kaki lima belas kilometer kembali ke kota dengan sepatu hak tinggimu itu?"

Sophie melirik sepatunya, lalu melirik sepatu oxford mahal Max. "Dan Anda ingin berjalan dengan sepatu yang harganya setara biaya sewa apartemen saya? Kita akan lecet sebelum sampai di tikungan pertama."

Max terdiam, ia melihat ke arah langit yang mulai menggelap. "Suhu akan turun drastis. Masuk ke dalam mobil. Kita tunggu sampai ada kendaraan lewat."

Mereka kembali masuk ke dalam kabin mobil yang kini mulai terasa dingin karena pemanas ruangan tidak bisa menyala. Mereka duduk berdampingan dalam keheningan yang canggung. Max menyandarkan kepalanya ke jok kulit, sementara Sophie memeluk tubuhnya sendiri karena kemeja tipisnya tidak mampu menahan hawa dingin hutan.

"Kau kedinginan?" tanya Max tanpa menoleh.

"Saya baik-baik saja," jawab Sophie singkat, meski giginya sedikit bergemeretak.

Tanpa berkata apa-apa, Max melepas jas wol hitamnya dan melemparkannya ke pangkuan Sophie. "Pakai. Aku tidak ingin asistenku mati membeku dan aku dituduh pelakunya.”

Sophie tertegun sejenak, merasakan kehangatan yang masih tertinggal di kain jas itu. Ia memakainya, dan aroma maskulin Max—campuran kayu cendana dan sedikit aroma kopi—langsung menyelimutinya.

"Terima kasih, Tuan," bisik Sophie.

"Jangan berpikir macam-macam. Itu hanya agar kau tetap bisa mengetik besok," sahut Max ketus, namun ia sendiri menggosok-gosok lengannya yang hanya terbalut kemeja tipis.

...****************...

Malam semakin larut, dan hutan pinus yang tadi terlihat indah kini berubah menjadi lautan kegelapan yang mengancam. Suhu di pinggiran Berlin merosot tajam, menembus kaca jendela mobil dan menyelimuti kabin dengan hawa beku yang menusuk tulang.

Sophie melirik jam di dasbor yang redup. Sudah hampir tiga jam, dan jalanan di depan mereka tetap sunyi senyap. Tidak ada lampu sorot kendaraan, tidak ada suara mesin lain. Hanya ada suara angin yang bersiul di antara dahan pohon.

Di kursi pengemudi, Maximilian tampak sangat menderita. Pria itu menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam, wajahnya yang biasanya angkuh kini terlihat pucat. Bahunya sedikit bergetar, dan jemarinya yang menggenggam kemudi tampak memutih. Kemeja putih tipis yang ia kenakan jelas bukan tandingan untuk malam musim gugur yang ekstrem ini.

Sophie menunduk, menatap jas wol milik Max yang menyelimuti tubuhnya. Ia merasa hangat, sementara pemilik jas itu sedang membeku demi dirinya.

"Tuan Hoffmann?" panggil Sophie pelan.

Max tidak membuka matanya, hanya bergumam lemah. "Tetaplah diam, Sophie. Simpan energimu agar tetap hangat."

Sophie merasa tidak tega. Ia mencoba melepas jas itu dari bahunya. "Ambil kembali jas Anda. Anda lebih membutuhkannya daripada saya."

"Sudah kukatakan jangan..." Max membuka matanya sedikit, namun suaranya terhenti saat melihat Sophie sudah setengah melepas jas tersebut. "Pakai kembali, itu perintah."

"Perintah Anda tidak berlaku saat Anda hampir terkena hipotermia, Max!" sergah Sophie, tanpa embel-embel 'Tuan'.

Max tetap keras kepala dan mendorong tangan Sophie agar tetap memakai jas itu. Sophie menghela napas panjang, merasa frustrasi dengan gengsi pria di sampingnya ini. Namun, ia tidak bisa membiarkan Max seperti itu.

Sophie kemudian meletakkan tabletnya. Ia mulai menggosokkan kedua telapak tangannya dengan sangat cepat dan kuat. Ia melakukannya berulang kali hingga telapak tangannya terasa panas karena gesekan. Setelah merasa suhunya cukup hangat, Sophie bergerak mendekat—sangat dekat—hingga ia bisa merasakan sisa-sisa napas dingin Max.

Dengan lembut namun pasti, Sophie menempelkan kedua telapak tangannya yang hangat ke pipi dan rahang Maximilian.

Max tersentak kaget. Matanya terbuka lebar, menatap langsung ke mata Sophie yang hanya berjarak beberapa inci darinya. Sentuhan mendadak itu terasa seperti aliran listrik yang menyengat, namun panas dari tangan Sophie merambat masuk ke kulitnya yang membeku, memberikan rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan.

"Nona Adler... apa yang kau lakukan?" bisik Max, suaranya parau dan bergetar.

Sophie tidak melepaskan tangannya. Ia terus memberikan kehangatan itu, menatap mata Max dengan sorot mata yang tidak lagi penuh kebencian, melainkan empati yang tulus.

"Hanya ini yang bisa saya lakukan," jawab Sophie lirih. "Anda terlalu keras kepala untuk menerima kembali jas Anda. Jadi, biarkan saya membantu dengan cara ini."

Max terpaku. Ia bisa merasakan kelembutan tangan Sophie dan aroma sabun pencuci tangan dari kantor yang masih tertinggal di sana. Di dalam mobil yang gelap dan dingin itu, semua tembok pertahanan yang Max bangun seolah runtuh. Ia tidak lagi melihat Sophie sebagai putri musuhnya, melainkan sebagai satu-satunya sumber cahaya dan kehangatan di tengah kegelapan.

Max perlahan mengangkat tangannya, memegang pergelangan tangan Sophie agar wanita itu tidak melepaskan tempelannya. Ia memejamkan mata lagi, kali ini bukan karena dingin, tapi karena ia ingin menikmati momen ini—momen di mana untuk pertama kalinya, tidak ada dendam di antara mereka.

"Tanganmu... hangat," gumam Max hampir tak terdengar.

Sophie merasakan jantungnya berdegup kencang. Posisi ini terlalu intim, terlalu berbahaya untuk hatinya yang selama ini ia kunci rapat. Namun, di tengah hutan sunyi ini, ia membiarkan dirinya menjadi manusia biasa, hanya untuk malam ini saja.

Hawa dingin di dalam kabin mobil kini terasa seperti jarum-jarum es yang menusuk kulit. Maximilian sudah sampai di batas kemampuannya; bibirnya membiru dan tubuhnya bergetar hebat di bawah cahaya bulan yang masuk melalui kaca jendela.

Ia menoleh ke arah Sophie, menatap wanita itu dengan sorot mata yang tidak lagi tajam, melainkan rapuh dan memohon.

"Sophie..." suaranya pecah, hampir seperti bisikan putus asa. "Aku tidak peduli jika kau akan menampar wajahku lagi seperti kemarin. Aku tidak peduli jika kau akan membenciku selamanya setelah ini. Tapi tolong... peluk aku. Aku benar-benar kedinginan."

Sophie terpaku. Ia melihat Maximilian Hoffmann—pria yang selalu tampak tak terkalahkan, angkuh, dan berkuasa—kini tampak begitu kecil dan hancur di hadapannya. Dendam yang selama ini ia pelihara seolah membeku sesaat, kalah oleh naluri kemanusiaan yang mendesak di dadanya.

Tanpa satu patah kata pun, Sophie bergerak mendekat. Ia melepaskan sedikit jas yang tersampir di bahunya, lalu melingkarkan lengannya ke tubuh tegap Max. Ia menarik kepala pria itu untuk bersandar di bahunya, memberikan seluruh kehangatan tubuhnya yang tersisa.

Max tersentak sesaat, tidak percaya bahwa Sophie benar-benar mengiyakan permintaannya. Namun, begitu ia merasakan kehangatan dari tubuh Sophie meresap ke dalam kemeja tipisnya, Max segera melingkarkan tangannya di pinggang Sophie.

Ia mengeratkan pelukan itu dengan kuat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sophie. Max bernapas dalam-dalam, menghirup aroma tubuh Sophie yang menenangkan.

Rasanya bukan hanya tubuhnya yang menjadi hangat, tapi kekosongan di dalam hatinya yang selama ini ia tutup dengan kebencian, tiba-tiba terasa penuh.

"Terima kasih," bisik Max dengan suara teredam di bahu Sophie.

Sophie terdiam, tangannya perlahan mengusap punggung Max untuk meredakan getaran tubuh pria itu. Di dalam mobil yang terkunci oleh kegelapan hutan Berlin, posisi mereka begitu intim. Tidak ada lagi CEO dan asisten. Tidak ada lagi penguasa dan pelayan. Hanya ada dua orang yang saling mendekap demi bertahan hidup.

Bagi Max, pelukan Sophie adalah satu-satunya kenyamanan yang pernah ia rasakan setelah bertahun-tahun hidup dalam kedinginan emosional. Ia tidak ingin melepaskannya. Ia ingin waktu berhenti di detik ini, di mana Sophie Adler tidak sedang melarikan diri darinya, melainkan sedang menjaganya tetap hidup.

Tanpa mereka sadari, batas-batas kebencian itu perlahan mulai mencair di tengah suhu yang membeku.

1
Amaya Fania
loh bukannya max punya adek kemarin?
Ika Yeni
ceritanyaa bagus torr menarikk,, semangat up ya thir😍
Babyblueeee: Ditunggu yaaaa 🤭
total 1 replies
Amaya Fania
udah gila si richard, anak sendiri mau dipanggang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!