NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: KUNJUNGAN DARI "TEMAN LAMA

Subuh masih kelam ketika Min-jae tiba di titik kumpul di pinggiran hutan akademi. Udara pagi yang dingin menusuk jaket training-nya. Di tempat parkir tanah lapang, sudah terlihat beberapa kendaraan operasional akademi dan sebuah van dengan logo Hunter Association.

Ji-woo dan Seo-yeon sudah lebih dulu datang. Ji-woo terlihat bersemangat dengan pelindung lengan dan betis yang dikenakannya, sambil memegang tongkat kayu berat yang ujungnya dibalut besi—senjata standar untuk siswa. Seo-yeon memakai tas ransel besar berisi perlengkapan medis, wajahnya sedikit tegang tapi penuh tekad.

"Min-jae! Kamu datang!" sapa Ji-woo dengan suara lantang, memecah kesunyian pagi.

"Sudah siap?" tanya Seo-yeon, menawarkan sebotol minuman hangat. "Aku bawa teh herbal. Bisa membantu menghangatkan."

Min-jae menerimanya dengan senyum. "Terima kasih. Kalian sudah cek perlengkapan?"

"Mereka sudah," sahut suara dari belakang. Guru Choi mendekat, ditemani dua orang pria berbadan tegap dengan seragam Hunter Association berpangkat D. "Ini Pengawas Kim dan Pengawas Park. Mereka akan berada di luar Gerbang selama kalian masuk. Ingat, mereka hanya turun tangan jika ada situasi darurat yang mengancam nyawa. Selain itu, ini misi kalian."

Pengawas Kim, yang lebih tua, menganggak pada mereka. "Gerbang F-rank, jarak tempuh maksimal 300 meter dari pintu masuk. Lingkungan stabil. Tapi tetaplah waspada. Komunikasi radio akan aktif, tapi sinyal bisa terinterferensi di dalam. Jika kehilangan kontak, segera kembali ke pintu masuk."

Pengawas Park, yang lebih muda, membagikan alat komunikasi kecil dengan klip untuk disematkan di kerah. "Frekuensi sudah disetel. Uji coba."

Mereka menguji komunikasi. Suara sedikit bergema, tapi jelas.

"Baik," kata Guru Choi. "Sekarang, aku akan antar kalian ke lokasi Gerbang. Berjalan kaki, sekitar dua kilometer ke dalam hutan. Anggap ini bagian dari pemanasan."

Perjalanan melalui hutan di pagi buta itu sunyi, hanya diisi oleh suara langkah kaki dan kicauan burung pertama. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan. Min-jae menggunakan kesempatan ini untuk melatih sensing-nya secara pasif. Ia merasakan kehidupan di sekelilingnya—semut yang merayap di tanah, burung yang bertengger di dahan, aliran udara yang bergerak pelan. Latihan dengan Guru Han mulai membuahkan hasil; sensing-nya sekarang lebih halus, kurang menguras energi.

Setelah berjalan hampir empat puluh menit, mereka tiba di sebuah clearing. Di tengah lapangan itu, berdiri sebuah struktur yang membuat nafas Min-jae tersisa sesaat.

Gerbangnya.

Bukan pintu fisik, melainkan sebuah distorsi di udara. Seperti kain realitas yang direnggangkan, membentuk oval setinggi sekitar tiga meter. Di dalam peregangan itu, terlihat pemandangan yang berbeda—dinding batu gua yang diselimuti lumut hijau bercahaya, persis seperti di gambar. Suara tetesan air dan gemerisik angin kecil terdengar dari dalam. Energi yang memancar darinya terasa… asing. Seperti listrik statis yang menggelitik kulit.

"Ini dia, Greenwood Cave," kata Guru Choi. "Energinya stabil. Tingkat ancaman rendah. Kalian punya tiga jam. Lebih dari itu, kami akan masuk menjemput." Ia menatap ketiganya. "Apakah ada pertanyaan terakhir?"

Ji-woo menggeleng, menggenggam tongkatnya erat. Seo-yeon mengatur napas. Min-jae mengangguk, matanya tak lepas dari distorsi di depan mereka.

"Baik. Masuklah dalam formasi yang sudah direncanakan. Semoga sukses."

Ji-woo melangkah pertama, melewati 'bidang' distorsi itu. Tubuhnya seolah melebur ke dalam cahaya hijau samar, lalu menghilang. Seo-yeon menyusul. Min-jae menarik napas dalam, lalu melangkah maju.

Sensasinya aneh. Seperti melangkah melalui tirai air yang hangat, lalu dingin seketika. Tekanan di telinganya naik sejenak, lalu hilang. Saat ia membuka mata, ia sudah tidak lagi di hutan.

Ia berdiri di dalam gua. Udara terasa lebih lembab dan padat. Suhu lebih dingin. Dinding-dinding batu dipenuhi oleh lumut hijau bercahaya yang memberikan penerangan cukup untuk melihat sekitar sepuluh meter ke depan. Langit-langit gua rendah, dihiasi stalaktit runcing. Suara tetesan air bergema dari suatu tempat jauh.

"Kita masuk," bisik Ji-woo, suaranya terdengar sedikit teredam oleh lingkungan gua.

Min-jae segera mengaktifkan sensing-nya, memperluas jangkauan. Ia merasakan lorong yang membentang ke depan, beberapa cabang kecil, keberadaan serangga kecil di dinding. Tidak ada tanda monster besar dalam radius tiga puluh meter.

"Jelas untuk sekarang," lapornya. "Kita lanjut sesuai rute peta."

Mereka mulai bergerak, dengan Ji-woo di depan, Seo-yeon di tengah, dan Min-jae di belakang sambil terus memindai lingkungan. Gua ini lebih luas dari yang dibayangkan. Lorong utama cukup untuk dua orang berjalan berdampingan, tetapi penuh dengan batu-batu besar dan akar yang mencuat dari celah.

Setelah berjalan sekitar seratus meter, Min-jae merasakan sesuatu. Bukan monster, tapi getaran energi yang berbeda. "Berhenti," bisiknya. "Di depan, sekitar dua puluh meter, ada percabangan. Di cabang kiri, ada sumber cahaya lebih terang—mungkin Luminous Moss."

Mereka melanjutkan dengan lebih hati-hati. Benar saja, di cabang kiri, dinding gua dipenuhi oleh gumpalan lumut hijau neon yang lebih besar dan terang. Itu adalah sampel yang mereka cari.

"Ji-woo, jaga jalur. Seo-yeon, siapkan wadah. Aku akan ambil sampel," perintah Min-jae. Ia mendekati dinding, mengambil pisau kecil dari tas, dan mulai mengikis lumut dengan hati-hati ke dalam wadah plastik transparan. Lumut itu terasa hangat di sentuhan, dan energinya terasa seperti denyut lembut.

**[Spesies teridentifikasi: Luminous Moss (F-rank). Sifat: Emisi cahaya pasif, kandungan Mana rendah. Aman.]** Sistem memberikan informasi tambahan.

Setelah mengisi tiga wadah, Min-jae menyimpannya dengan aman. "Satu tugas selesai. Sekarang kita bisa—"

Tiba-tiba, sensing-nya menangkap gerakan. Cepat, kecil, dan banyak. Dari arah cabang kanan lorong.

"Kontak!" serunya dengan suara rendah. "Banyak, ukuran kecil, bergerak cepat. Arah sini!"

Ji-woo langsung mengambil posisi defensif, tongkatnya siap. Seo-yeon mundur beberapa langkah, tangan sudah memegang kantong bubuk penenang—perlengkapan standar untuk healer dalam misi rendah.

Dari kegelapan, muncul sekelompok makhluk. Bukan Goblin.

"Tikus Gua Mutan," gumam Min-jae, mengenalinya dari buku. Ukurannya sebesar kucing, dengan bulu abu-abu kusam dan mata merah. Gigi mereka panjang dan tajam. Mereka adalah hama F-rank, tidak terlalu berbahaya sendiri, tapi berkelompok bisa berbahaya.

Ada sekitar lima belas ekor. Mereka mendesis, mendekat dengan langkah mengendap-endap.

"Jangan panik," kata Ji-woo. "Mereka takut suara keras dan gerakan tiba-tiba. Aku akan buat keributan."

Ji-woo menghentakkan tongkatnya ke batu. Suara keras bergema di gua. Beberapa tikus mundur ketakutan. Tapi beberapa yang lain justru terpancing, melompat ke arahnya.

"Min-jae, halangi yang kirinya!" teriak Ji-woo sambil menghajar satu tikus yang mendekat.

Min-jae bereaksi. Daripada mencoba mengangkat batu (yang terlalu berat), ia fokus pada kerikil dan pecahan batu kecil di lantai. Dengan dorongan psikis yang terfokus, ia meluncurkan hujan kerikil tajam ke arah sekelompok tikus di sayap kiri.

*Ciiit!* Beberapa tikus terkena, berteriak kesakitan dan mundur. Mereka tidak terluka parah, tapi cukup untuk mengacaukan formasi mereka.

Seo-yeon mengambil kesempatan untuk melempar bubuk penenang. Awan putih menyebar, membuat beberapa tikus menjadi lesu dan bingung.

Ji-woo menangani sisanya dengan tongkatnya, menghalau tanpa membunuh—instruksinya adalah menghindari pertempuran tidak perlu.

Dalam waktu kurang dari dua menit, kelompok tikus itu tercerai-berai, melarikan diri ke dalam kegelapan.

"Semua baik-baik saja?" tanya Seo-yeon, segera memeriksa Ji-woo yang bernafas berat.

"Baik, cuma keringatan," jawab Ji-woo, tersenyum. "Kerja bagus, Min-jae! Hujan kerikil itu keren!"

Min-jae mengangguk, lega. Itu adalah pertama kalinya ia menggunakan kekuatannya dalam situasi tekanan nyata. Dan itu berhasil. "Kita harus cepat keluar. Keributan tadi mungkin menarik perhatian yang lain."

Mereka bergerak cepat kembali ke arah pintu masuk. Sepanjang jalan, Min-jae terus memindai. Sensing-nya menangkap sesuatu yang aneh—sebuah getaran energi yang berbeda, kecil dan terisolasi, di sebuah ceruk tersembunyi di dekat pintu keluar. Bukan monster. Lebih seperti… benda.

"Tunggu sebentar," katanya, menyimpang sedikit dari rute. Di balik tiraian akar, di sebuah celah batu, terdapat sebuah benda logam kecil. Sebuah medali, atau lencana, berkarat dan setengah terkubur.

Min-jae mengambilnya. Di permukaannya, terukir logo yang ia kenal: ular yang memakan ekornya sendiri. Ouroboros. Dan di baliknya, ada tulisan yang hampir pudar: **"Proyek Anchor - Sektor 7"**.

Jantungnya berdebar. Apa yang dilakukan medali Ouroboros di dalam Gerbang F-rank ini? Dan apa arti "Anchor"?

"Min-jae, apa itu?" tanya Ji-woo, mendekat.

"Sepertinya… sampah orang lain," jawab Min-jae cepat, menyembunyikan medali itu di saku. "Tidak penting. Ayo kita pergi."

Mereka sampai di pintu keluar tanpa insiden lebih lanjut. Melangkah kembali melalui distorsi itu, dan tiba-tiba mereka kembali di hutan, di bawah sinar matahari pagi yang sekarang sudah terang.

Guru Choi dan kedua pengawas sedang menunggu. "Tepat waktu. Bagaimana?"

"Kami dapat sampel. Ada konflik kecil dengan Tikus Gua, tapi berhasil diatasi," lapor Ji-woo.

"Bagus. Serahkan sampel untuk diverifikasi. Istirahat dulu, minum air." Guru Choi memeriksa mereka satu per satu. "Tidak ada yang terluka?"

"Tidak, Guru."

"Baik. Misi dinyatakan sukses. Poin prestasi akan ditambahkan ke akun kalian."

Min-jae merasa lega dan sedikit bangga. Mereka berhasil. Misi pertama mereka berjalan lancar.

Namun, di dalam saku, medali Ouroboros terasa panas bagai bara.

Pulang ke akademi, mereka berpisah dengan janji akan merayakan kecil-kecilan besok. Min-jae langsung pulang ke rumah. Paman Dae-hyun belum kembali, sehingga rumah terasa sangat sunyi.

Di kamarnya, Min-jae mengeluarkan medali itu dan menelitinya. Dengan sensing-nya, ia mencoba merasakan lebih dalam. Ada sisa energi yang samar di medali itu—energi yang mirip dengan getaran Gerbang, tapi lebih… stabil. Seolah benda ini berfungsi sebagai penstabil.

*Anchor.* Apakah ini seperti jangkar untuk menstabilkan sesuatu? Mungkin untuk Gerbang?

Ia mencoba mencari informasi di internet akademi tentang "Proyek Anchor". Tidak ada hasil. Pencarian tentang Ouroboros dan proyek rahasia hanya menghasilkan artikel umum tentang penelitian dimensi mereka.

**[Analisis objek: Medali Logam dengan residu energi penstabil dimensi. Kemungkinan fungsi: Beacon atau regulator. Risiko: Tidak terdeteksi.]**

Sistem membantunya sedikit, tapi tidak banyak.

Kebingungan Min-jae terpecahkan oleh bel pintu. Siapa ini? Paman Dae-hyun seharusnya masih di luar kota.

Ia melihat melalui monitor pintu. Seorang perempuan muda berdiri di luar, dengan rambut panjang hitam dan pakaian kasual yang rapi. Wajahnya… familiar.

Min-jae mengais ingatan. Yoo Na-rae. Teman masa kecil Min-jae. Tapi mereka belum bertemu sejak ia 'bangkit' dari koma.

Ia membuka pintu. "Na-rae."

"Min-jae!" Na-rae tersenyum lebar, tapi matanya terlihat lelah. "Aku dengar kamu baru pulang dari misi pertamaku. Aku ingin melihat kamu langsung."

"Masuklah," kata Min-jae, membukakan jalan. "Langsung dari akademi?"

"Ya. Aku dapat izin khusus karena… ada sesuatu yang ingin kubicarakan." Na-rae duduk di sofa, tangannya meremas-remas. "Sebenarnya, ini agak aneh. Tapi… sejak kecelakaanmu, ada hal yang menggangguku."

Min-jae duduk di hadapannya, perhatian penuh. "Apa itu?"

"Kamu ingat, sebelum kecelakaan, kita sering membahas tentang akademi, tentang jadi Hunter, kan?" Na-rae menatapnya. "Kamu selalu ragu. Kamu bilang kamu tidak yakin punya bakat, dan kamu lebih tertarik pada penelitian ayahmu. Tapi sekarang… kamu seperti berbeda. Kamu langsung masuk akademi, bahkan ikut misi dengan percaya diri."

Min-jae merasa tenggorokannya kering. Ini adalah bahaya terbesar: orang yang mengenal Min-jae asli akan melihat perbedaannya. "Kecelakaan… mengubah perspektifku," jawabnya dengan hati-hati. "Aku sadar, untuk mencari tahu tentang ayah, aku harus kuat dulu."

Na-rae mengangguk, tapi ekspresinya masih ragu. "Mungkin. Tapi ada hal lain. Beberapa hari setelah kamu koma, ada orang yang mendatangiku. Dari Ouroboros."

Min-jae menegakkan badan. "Apa yang mereka mau?"

"Mereka bertanya tentangmu. Tentang kebiasaanmu, minatmu, apakah kamu pernah menunjukkan 'gejala aneh' sebelum kecelakaan." Na-rae menggigit bibirnya. "Aku bilang tidak. Tapi mereka terus mendesak. Bahkan menawarkan uang untuk informasi. Aku menolak, tentu saja. Tapi… aku merasa mereka sedang menyelidikimu. Dan bukan dengan niat baik."

Min-jae merasakan terima kasih yang besar pada Na-rae. "Terima kasih sudah memberitahuku."

"Ada lagi," lanjut Na-rae, suaranya lebih rendah. "Ayahku bekerja di bagian logistik untuk salah satu subkontraktor Ouroboros. Dia dengar kabar burung bahwa ada 'insiden' di lab mereka sekitar setahun lalu—tepat saat ayahmu hilang. Dan kata mereka, insiden itu bukan kecelakaan biasa. Ada yang 'keluar' dari eksperimen itu. Sesuatu atau seseorang."

Min-jae membeku. *Ada yang 'keluar'.* Apakah itu… dirinya? Apakah proses transmigrasinya terkait dengan insiden itu?

"Na-rae," katanya, serius. "Ini penting. Apa yang ayahmu dengar lebih detail?"

Na-rae menggeleng. "Hanya desas-desus. Tapi ada satu kata yang sering muncul: 'Dual Resonance'. Itu istilah teknis dari penelitian mereka. Ayahku tidak mengerti artinya."

*Dual Resonance.* Resonansi ganda. Jiwa ganda? Ingatannya yang bertabrakan? Sistem di kepalanya?

Segalanya mulai terhubung. Ouroboros, penelitian ayah Min-jae, insiden lab, transmigrasi dirinya, dan medali Anchor di dalam Gerbang.

"Min-jae," Na-rae memandangnya dengan khawatir. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kamu seperti… bukan dirimu yang dulu. Dan aku tidak mengatakan itu buruk. Kamu sekarang terlihat lebih kuat, lebih fokus. Tapi juga lebih… tertutup. Sedih."

Min-jae menarik napas panjang. Ia tidak bisa mengatakan kebenaran. Tapi ia juga tidak ingin berbohong pada Na-rae, satu-satunya orang yang sejauh ini menunjukkan kepedulian tulus.

"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang," katanya, jujur. "Tapi yang aku tahu, ada sesuatu yang terjadi pada ayahku, dan Ouroboros terlibat. Dan sekarang mereka tertarik padaku. Aku harus berhati-hati. Dan aku butuh bantuan."

Na-rae menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. "Aku mengerti. Kamu tidak harus cerita semuanya. Tapi ketahuilah, aku ada di sini untukmu. Seperti dulu."

"Terima kasih, Na-rae. Itu sangat berarti."

Setelah Na-rae pergi, Min-jae merasa sedikit lebih ringan. Ia tidak sendirian. Ia punya teman yang bisa dipercaya. Tapi juga, beban pengetahuannya bertambah.

Ia mengambil medali Ouroboros dan memandanginya. *Proyek Anchor - Sektor 7.*

Apakah ada medali serupa di Gerbang lain? Apakah ini terkait dengan stabilisasi Gerbang? Dan apa hubungannya dengan 'Dual Resonance'?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengisi pikirannya. Tapi satu hal yang pasti: Ouroboros memiliki rencana yang lebih besar, dan ia—entah bagaimana—terjebak di dalamnya.

Misi pertamanya ke Gerbang berhasil. Tapi petualangan sebenarnya, tampaknya, baru saja dimulai.

Dan kali ini, ia tidak hanya harus bertahan dari monster. Ia harus bertahan dari konspirasi manusia yang jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!