"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Pembeli Misterius
Jumat pagi, Suyin bangun dengan perasaan sedikit gelisah. Mimpi semalam tentang Meifeng yang mencoba merebut gelang gioknya masih terngiang di kepala.
"Cuma mimpi," gumamnya sambil mengusap wajah. Tapi kenapa rasanya seperti peringatan?
Setelah ritual pagi—mandi, sarapan roti panggang dengan selai strawberry, dan secangkir kopi—Suyin sempatkan masuk ke ruang dimensi untuk cek tanaman.
WUSH!
Pemandangan yang menyambutnya selalu bikin hati senang. Bedengan sayuran tumbuh subur, tanaman tomat di pojok sudah mulai berbunga lagi, dan udara di ruang dimensi selalu segar dan menenangkan.
Suyin menyiram semua tanaman dengan telaten, mengecek satu per satu kondisi daun—apa ada yang menguning, layu, atau kena hama. Sejauh ini, nihil. Semua tanaman tumbuh sempurna tanpa gangguan.
"Alhamdulillah," ucapnya sambil tersenyum.
Saat kembali ke apartemen, paket pesanan online dari toko pertanian sudah sampai—dua kardus besar penuh benih berbagai jenis tanaman. Suyin langsung excited.
"Yes! Akhirnya datang!"
Ia buka kardus dengan semangat anak kecil buka kado ulang tahun. Di dalam ada puluhan bungkus benih: tomat cherry, cabai habanero, terong jepang, timun mini, brokoli, kembang kol, wortel rainbow, bit merah, kale, arugula, basil, rosemary, mint, bahkan benih strawberry dan blueberry!
"Ini... ini surga," gumam Suyin sambil menyusun semua bungkus benih di lantai ruang tamu. Total ada 25 jenis tanaman baru!
Ditambah 15 jenis yang sudah ditanam sebelumnya, berarti sekarang total 40 jenis. Masih kurang 60 jenis lagi buat unlock Level 2.
"Pelan-pelan. Nggak usah buru-buru," Suyin mengingatkan diri sendiri.
Tapi tangannya sudah gatal pengen langsung nanem semua.
Ia lihat jam—masih pukul tujuh pagi. Kantor mulai jam sembilan. Masih ada waktu sekitar... satu jam setengah. Kalau di ruang dimensi, itu setara lima belas jam!
"Cukup buat nanam beberapa jenis," putusnya.
Suyin langsung bawa masuk semua bungkus benih, plus beberapa pot plastik tambahan yang juga baru dibeli, ke ruang dimensi.
Di dalam ruang dimensi, Suyin menghabiskan waktu—yang terasa seperti berjam-jam tapi di luar cuma sejam—untuk menanam berbagai jenis tanaman baru.
Ia buat bedengan baru untuk sayuran besar seperti brokoli dan kembang kol. Pot-pot untuk tanaman herbal seperti basil, rosemary, dan mint—biar gampang dipindah-pindah. Area khusus untuk tanaman buah seperti strawberry dan blueberry di dekat mata air—katanya buah butuh air yang cukup.
Tomat cherry, cabai habanero, terong jepang—semua ditanam di bedengan terpisah biar nggak bercampur.
Suyin kerja dengan penuh semangat, tangannya kotor tanah tapi senyum nggak lepas dari wajah. Ini terapi banget. Jauh lebih menyenangkan daripada presentasi ke klien cerewet di kantor.
"Seandainya bisa full time jadi petani aja," gumamnya sambil tertawa. "Tapi belum waktunya. Harus stabil dulu bisnis sampingannya."
Setelah selesai menanam, Suyin menyiram semua tanaman baru dengan air dari mata air. Lalu ia duduk sebentar di kursi lipat, minum air ajaib, dan menikmati pemandangan "kebun" yang makin luas dan beragam.
"25 jenis baru dalam sehari. Progress!" serunya bangga.
Sebelum keluar, ia sempatkan panen tomat yang sudah matang—32 buah. Masukkan ke keranjang, simpan di gudang penyimpanan.
Dengan perasaan puas, Suyin keluar dari ruang dimensi dan langsung mandi cepat—badan kotor tanah semua.
Jam menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh. Perfect. Masih sempat sarapan lagi dan berangkat kerja.
Di kantor, hari Jumat biasanya lebih santai. Tapi hari ini beda—ada klien besar yang mau konsultasi proyek rumah mewah di kawasan Pondok Indah.
"Suyin, kamu handle klien ini ya. Namanya Pak Xiao. Dia CEO perusahaan besar, jadi jangan sampai kecewa," pesan Pak Hendra.
Suyin manggut. "Siap, Pak."
"Dia datang jam dua siang. Ruang meeting A sudah aku booking."
Siang itu, Suyin menyiapkan portfolio desain terbaiknya. Laptop, tablet untuk presentasi 3D, sampel material—semua sudah ready.
Jam dua kurang lima, resepsionis kabarin bahwa klien sudah datang.
Suyin jalan ke lobby—dan langkah kakinya melambat.
Di lobby berdiri seorang pria tinggi, mungkin awal tiga puluhan, mengenakan setelan hitam yang jelas mahal. Rambutnya rapi, wajahnya... tampan dengan cara yang intimidating. Garis rahang tegas, mata tajam berwarna cokelat gelap, aura kuat yang bikin orang di sekitarnya secara otomatis ngasih jalan.
"Pak... Xiao?" tanya Suyin, berusaha terdengar profesional walau jantungnya tiba-tiba berdebar—entah kenapa.
Pria itu menoleh. Tatapannya langsung menusuk—seperti bisa melihat sampai ke dalam jiwa.
"Ya. Anda Lin Suyin?" suaranya dalam, tenang, tapi ada kekuasaan di sana.
"Benar. Saya desainer yang akan handle proyek Bapak. Silakan ikut saya."
Mereka berjalan ke ruang meeting dalam diam yang agak canggung—setidaknya bagi Suyin. Pria ini memancarkan aura yang bikin nervous. Seperti... bukan orang biasa.
Di ruang meeting, Suyin mulai presentasi. Menjelaskan konsep desain, pilihan material, estimasi budget. Pak Xiao mendengarkan dengan serius, sesekali bertanya dengan pertanyaan yang... sangat detail. Bahkan lebih detail dari arsitek profesional.
"Anda paham interior dengan baik, Pak," puji Suyin.
"Saya suka memastikan semua hal yang saya investasikan worth it," jawabnya datar.
Presentasi berjalan lancar. Pak Xiao approve beberapa konsep, minta revisi di bagian lain. Profesional dan efisien.
Tapi ada satu momen yang aneh.
Saat Suyin menjelaskan konsep indoor garden untuk ruang tamu—tanaman hijau di dalam rumah buat kesegaran—mata Pak Xiao tiba-tiba menatap tajam ke tangan Suyin.
Ke gelang giok.
"Gelang itu... dari mana?" tanyanya tiba-tiba, memotong penjelasan Suyin.
Suyin refleks menarik tangan. "Oh, ini... warisan keluarga."
"Giok hijau dengan urat putih." Pak Xiao menyipitkan mata. "Giok Yunnan kualitas tinggi. Langka."
Suyin makin was-was. "Bapak... kolektor giok?"
"Bisa dibilang begitu." Tatapannya masih di gelang, seperti sedang menganalisa sesuatu. "Apa Anda tahu asal-usul gelang itu?"
"Dari nenek saya. Pusaka keluarga. Kenapa, Pak?"
Pak Xiao diam sebentar, lalu tersenyum tipis—tapi senyumnya nggak sampai ke mata.
"Tidak apa-apa. Hanya... mengingatkan saya pada sesuatu."
Ia kembali fokus ke presentasi, tapi Suyin merasa ada yang aneh. Cara pria ini menatap gelangnya... seperti dia tahu sesuatu.
Setelah meeting selesai—sekitar satu jam—Pak Xiao berdiri untuk pergi.
"Desainnya bagus. Saya approve. Lanjutkan," ucapnya sambil berjabat tangan dengan Suyin.
Tapi saat tangan mereka bersentuhan, Suyin merasakan sensasi aneh—seperti aliran listrik kecil. Hangat. Dan... familiar?
Pak Xiao juga sepertinya merasakannya. Matanya melebar sedikit, menatap Suyin lebih intens.
"Anda... ada yang berbeda," ucapnya pelan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri.
"Maaf, Pak?"
"Tidak. Lupakan." Ia melepas jabatan tangan. "Saya akan hubungi kantor Anda untuk detail kontrak. Sampai jumpa, Ms. Lin."
Pak Xiao pergi meninggalkan Suyin yang berdiri di ruang meeting, bingung dan sedikit... deg-degan?
"Apa-apaan tadi," gumam Suyin sambil memegang dadanya yang masih berdebar.
Ada sesuatu tentang pria itu. Sesuatu yang bikin Suyin merasa... tertarik? Takut? Atau campuran keduanya?
Dan cara dia menatap gelang giok—seperti dia tahu gelang ini bukan gelang biasa.
"Jangan parno, Suyin. Mungkin dia cuma kolektor barang antik biasa," ucapnya pada diri sendiri.
Tapi deep down, Suyin tahu—pertemuan dengan Pak Xiao tadi bukan kebetulan biasa.
Sore hari, Suyin pulang ke apartemen dengan pikiran masih penuh dengan klien misterius tadi.
Begitu buka pintu apartemen, ia kaget—Bibi Wang sudah duduk di depan pintu unitnya, nungguin dengan tas belanja besar.
"Bi! Kenapa nggak telpon dulu?"
"Aku telpon tadi, tapi nggak diangkat. Ini penting, Suyin!" Bibi Wang berdiri, wajahnya bersemangat. "Ada orang yang mau beli sayuran kamu dalam jumlah BESAR!"
Suyin langsung waspada. "Siapa?"
"Pemilik restoran organik di kawasan Senopati. Namanya Bu Lina. Dia datang ke arisan tadi siang, nyobain tomat dan sayuran kamu yang aku bawa. Langsung jatuh cinta! Dia mau pesen rutin setiap minggu!"
"Berapa banyak?"
Bibi Wang mengeluarkan notes dari tas. "Dia mau:
10 kg tomat per minggu
5 kg sawi campur per minggu
5 kg kangkung per minggu
3 kg bayam per minggu
20 kepala selada per minggu
Plus sayuran lain kalau ada."
Suyin menghitung cepat di kepala. Total sekitar 23 kg sayuran per minggu, belum tomat. Itu... banyak banget!
"Kamu sanggup, Suyin?" tanya Bibi Wang khawatir.
Suyin mikir sebentar. Dengan ruang dimensi yang bisa panen cepat, seharusnya sanggup. Tapi...
"Harga yang Bu Lina tawarkan berapa?"
"Dia mau bayar harga premium. Tomat Rp 15.000 per kg, sayuran Rp 20.000 per kg, selada Rp 12.000 per kepala. Dia bilang kualitas kamu setara import!"
Suyin menghitung lagi. Kalau semua pesanan terpenuhi, itu sekitar Rp 750.000 per minggu dari satu restoran aja!
"Dan dia bilang," lanjut Bibi Wang, "kalau kualitas konsisten, dia bisa rekomendasiin ke teman-teman pemilik restoran lain. Bisa jadi pelanggan tetap!"
Ini peluang emas. Tapi Suyin harus realistis—dia masih kerja full time di kantor. Nggak bisa 24/7 fokus ke sayuran.
"Aku... harus mikir dulu, Bi. Ini komitmen besar."
"Aku tahu. Makanya Bu Lina kasih waktu sampai Senin buat jawab. Ini kartu namanya." Bibi Wang kasih kartu nama yang elegan—Lina's Organic Kitchen, Senopati.
Suyin menerima kartu itu, pikirannya berputar cepat.
Kalau terima tawaran ini, bisnis sayurannya naik level. Dari jualan kecil-kecilan ke supplier restoran. Income pasti meningkat drastis.
Tapi risikonya—harus produksi konsisten, harus jaga kualitas, dan harus lebih hati-hati nutup-nutupin rahasia ruang dimensi.
"Terima kasih, Bi. Aku akan pikirin baik-baik."
Setelah Bibi Wang pulang, Suyin masuk ke apartemen dan langsung ambruk di sofa.
Hari ini... overwhelming.
Klien misterius yang entah kenapa bikin deg-degan. Tawaran supplier ke restoran. Semua terjadi terlalu cepat.
Suyin menatap gelang giok di tangannya.
"Nenek, apa semua ini bagian dari rencana-Mu? Atau aku yang terlalu ambisius?"
Gelang bersinar lembut—seperti biasa. Nggak ada jawaban verbal, tapi Suyin merasa... didorong untuk maju. Jangan takut. Ambil peluang.
Ia memutuskan masuk ke ruang dimensi.
WUSH!
Di dalam, Suyin langsung cek semua tanaman. Yang ditanam pagi tadi sudah mulai berkecambah. Tomat, sayuran, herbal—semua tumbuh sehat.
Kalau diperhitungkan dengan percepatan waktu, dalam tiga hari bisa panen besar-besaran. Cukup untuk penuhi pesanan restoran.
"Aku... bisa," gumam Suyin dengan tekad baru. "Aku HARUS bisa."
Ia duduk di dekat mata air, merencanakan strategi.
RENCANA:
Terima tawaran restoran
Tanam lebih banyak varietas yang diminta
Sistem panen dan packing yang lebih rapi
Cari cara delivery yang aman
Tetap jaga rahasia ruang dimensi
Suyin menulis semua di notes ponsel. Besok weekend—waktu yang perfect buat full fokus ke produksi.
Tapi satu hal yang masih mengganggu pikirannya—Pak Xiao, klien tadi siang.
Cara dia menatap gelang. Cara dia bilang "mengingatkan pada sesuatu". Dan sensasi aneh saat berjabat tangan...
"Siapa sebenarnya dia?" bisik Suyin.
Tapi pertanyaan itu harus ditunda. Sekarang prioritas adalah bisnis.
Suyin keluar dari ruang dimensi dengan tekad baru.
Hidup berubah cepat. Dan ia siap menghadapinya.
Apapun yang terjadi.