Menikah selama 12 tahun, Siti Nurmala yang begitu setia kepada suaminya sampai mengorbankan mimpinya sebagai dokter spesialis, malah dikhianati Suami dan anak-anaknya.
Yusuf Kaliandra, berselingkuh dengan Keponakan Nurmala dan menikahinya secara siri, bahkan didukung oleh anak-anaknya, Raden dan Sofia.
Nurmala yang sakit hati pergi dengan gugatan cerai.
Di tengah usahanya mencari pekerjaan, Ia bertemu dengan juniornya saat kuliah. Dewangga Pramudya!
Pria tampan pemilik rumah sakit, duda anak 1 yang kemudian dengan gigih mengejarnya!
Akankah Nurmala bisa menerima cinta baru diantara ketakutan dan ketidakpercayaan diri yang timbul akibat pengkhianatan Yusuf?
Bagaimana reaksi anak-anaknya melihat Nurmala yang begitu menyayangi putra dari Dewangga?
Selamat membaca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mediasi 1
Nurmala mendapatkan izin untuk menghadiri sidang pertama perceraiannya dengan mudah.
Dewangga tidak banyak bertanya jadi proses izinnya lebih cepat.
Agar tidak terlalu lelah, Nurmala berangkat ke Jakarta pada tanggal 26 sore dan berencana menginap di rumah Retno.
Nurmala agak meragukan bahwa Yusuf akan datang, mengingat pria itu sangat tinggi hati dan tidak pernah mau kalah, kemungkinan Yusuf akan absen. Tapi bisa jadi juga Yusuf akan datang. Jadi Nurmala harus siap dengan segala kemungkinannya.
"Nurma!!!" Suara cempreng yang sangat familier membuyarkan lamunan Nurmala.
Retno, dengan langkah ceria menghampirinya seraya melambaikan tangan.
"Haiiiii"
"Haiiii... makasih loh udah repot-repot jemput Aku, padahal Aku yakin Bu pengacara kondang ini pasti sibuk"
"Ahhh, jangan gitu... Demi Nurmala sohibku tercinta, Aku rela melakukan apa saja, cieee hahah"
Mendengar candaan Retno, suasana hati Nurma yang tadinya cemas kini menjadi lebih tenang.
"Ya udah yuk Kita ke rumah. Bi Iyem udah masak yang enak-enak buat Kamu"
"Asikkk, oke deh!"
Setelahnya, kedua sahabat yang telah berbagi kasih sayang selama hampir 20 tahun itu keluar dari stasiun menuju tempat parkir dimana mobil Retno berada.
Karena jalanan macet, Mereka berdua baru sampai di kediaman Retno setelah menempuh perjalanan hampir 2 jam. Padahal jika tidak macet hanya butuh waktu 30 menit saja.
Bi Iyem menyambut hangat kedatangan Nurmala yang memang sudah sering main bahkan menginap di rumah Retno sejak masa kuliah pertama.
Beberapa waktu lalu, Nurmala tampak lebih tua, wajahnya sedikit kusam dan kurus. Begitu melihat Nurma yang sekarang, Bi Iyem merasa pangling.
"Teh Nurma sekarang jadi cantik lagi ya" Ceplosnya tanpa sengaja.
"Masa sih bi? Memangnya terakhir Kita ketemu Aku jelek ya Bi?"
"Ya nggak jelek juga teh, cuma kurang seger gitu, kalo orang jawa bilang, ketok alum, layu..."
"Bi..." Tegur Retno.
"Eh... Hehe maaf teh Saya nggak bermaksud.."
"Nggak apa-apa Ret, apa yang dibilang Bi Iyem bener kok. Aku emang kayak kembang layu pas masih sama Yusuf"
Retno mengangguk, tatapannya memperlihatkan rasa prihatin sekaligus kesedihan.
"Yang penting, Kamu udah ambil keputusan yang tepat. Sejujurnya, dari dulu Aku kurang suka sama Yusuf. Tapi Kamu dulu kecintaan banget sama Dia, jadi Aku nggak tega mau ngasih tahu Kamu"
"Ngasih tahu apa?"
"Udah... Itu nggak penting sekarang, yang penting Kamu harus istirahat lebih awal. Kamu perlu siapin mental buat sidang mediasi besok, Aku nggak tahu si Ucup bakalan dateng apa enggak, tapi kalau Dia ternyata dateng, Kamu harus siap adu mulut sama Dia. Aku yakin Dia nggak bakalan mau kalah walaupun udah jelas salah"
"Kamu bener"
Setelahnya, kedua orang itu pergi membersihkan diri masing-masing, makan malam dan tidur lebih awal untuk menghadapi sidang pertama besok.
Keesokan paginya Retno dan Nurmala tiba di pengadilan agama Jakarta Selatan lebih awal dari jadwal. Selain mempersiapkan dokumen kelengkapan untuk identifikasi, Mereka juga mempersiapkan diri agar lebih tenang dan fokus menghadapi Yusuf yang ternyata akan datang.
Persidangan akan dimulai 30 menit lagi, Nurma dan Retno yang menunggu di dalam mobil, kini bersiap untuk turun dan ingin menunggu di depan ruang persidangan.
Saat itulah, mobil yang sangat familier bagi Nirmala baru saja sampai. Itu adalah mobil Yusuf.
Tapi, ternyata Pria itu juga membawa kejutan lainnya, yaitu kedatangan kedua anaknya bersama dengan Niken.
"Wah... Aku belum pernah ketemu sama laki modelan Yusuf, beneran nggak punya malu dan nggak waras. Masa sampe ngajak anak-anakmu sama selingkuhannya juga, dan liat deh keponakanmu, aduduh, udah berasa jadi Nyonya, Dia!" Ucap Retno, Dia geram bukan main. Di matanya, Yusuf dan selingkuhannya sama-sama gila.
"Udah biarin aja, mending Kita duluan aja, daripada nanti ribut di parkiran, lebih malu. Malah bagus kalo Niken datang sekalian, jadi bukti berjalan, tuntutan Aku jadi lebih gampang di prosesnya" Jawab Nurmala.
Meski sudah memantapkan hati, tapi melihat wajah-wajah penghianat itu, amarah dan kekecewaan di hati Nurma kembali menyeruak. Ternyata melihat mereka berdua saja sudah cukup untuk membuka kembali rasa sakit hatinya yang amat dalam.
"Kamu benar, ya udah yuk, Kita duluan aja"
Kata Retno, Nurma pun mengangguk setuju.
Namun, saat hendak melangkahkan kakinya menjauhi area parkir, panggilan keras nan menyebalkan membuat langkah Keduanya terhenti.
"Nurma diam Disana!" Yusuf melangkah cepat menghampiri Nurma diikuti oleh kedua anaknya dan juga Niken yang memasang wajah mencemooh.
Nurma berbalik, menatap laki-laki itu dengan datar.
"Apa?" Sahutnya dingin.
Yusuf terkejut sesaat. Nurmala tampak sangat berbeda dari sebelumnya, terlebih lagi sikapnya yang sinis dan dingin padanya.
"Udah bikin masalahnya? Sekarang mending Kamu pulang. Udah tua bukannya anteng di rumah malah bikin masalah aja!"
'Apa? Bikin masalah katanya? Nih orang beneran Sinting kayaknya' Nurma mencibir dalam hati. Batlru saja hendak menjawab, anak laki-lakinya menimpali dengan nada penuh emosi,
"Iya nih, Mama tuh ngapain sih pake kabur dari rumah segala, bikin repot aja. Mendingan Mama minta maaf sama Kita semua, terutama sama Papa, biar Papa mau baikan lagi sama Mama, kalau nggak nanti Mama di gantiin sama Mama Niken!"
"Iya, Mama nih ngeselin banget sih, kan rumah jadi nggak ada yang ngurusin, berantakan, nih liat baju Aku juga nggak ada yang nyetrikain, mending mama nurutin kak Raden deh, minta maaf sama Kita, biar Kita bolehin Mama balikan lagi sama Papa"
Sahut Sofia.
Dih....
"Ya udah, gantiin aja! kan bukannya Kalian udah bahagia ya dapat Mama baru di rumah? Kenapa nyuruh Mama balik? Mama juga mau kali nyari Papa baru sama Anak baru yang lebih imut lebih sopan lebih nurut. Kan Kamu juga nggak mau punya Mama kaya pembantu? suruh aja Mama Niken Kamu itu buat ngurus rumah, paling tahun depan udah jadi nenek-nenek!
Yuk ah Ret, mual Aku liat muka mereka, bikin asam lambung naik aja"
Nurmala pun langsung menggandeng tangan Retno dan pergi meninggalkan Yusuf serta anak-anaknya yang ternganga.
"PffftttPuahahahahaaa" Retno tidak bisa menahan tawanya mendengar semua ucapan Nurma.
Nurmala memang kelihatannya sangat lemah lembut, tapi sekali marah, Ia takkan ragu untuk semua kata-kata pedas yang menusuk sampai ke ginjal.
"Kamu lihat kan? Anak-anakku dulu nggak kaya gitu Ret, entah apa yang dimasukkan ke otak Anak-anakku sampai Mereka jadi kurangajar begitu. Yusuf sama Niken beneran nggak punya nurani, Selingkuh sampai tega mendoktrin anak supaya benci sama Ibunya. Nauzubillahi mindzalik"
"Kamu benar. Tapi, Kamu masih mau hak asuhnya nggak? Kalo mau aku bisa ajukan ke hakim nanti"
"Nggak usah. Mereka udah bahagia sama Papa dan Mama barunya.
Retno tersenyum, kemudian menepuk lembut punggung sahabatnya, Jika sudah bisa melepaskan segalanya seperti ini, berarti sakit hati yang dialami oleh Nurma itu sudah luar biasa pedihnya.
harus ada anti hero yang membuat cerita seruu🎸🎸