NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. TERIMA!

Aku harap Arkan ini tobat ya☺ gimana guys? 🤗

HAPPY READING! 🥞

Setelah langkah kaki Arkan menghilang dari ruangan, Aluna merangkak dengan sisa tenaganya menuju ponselnya yang telah hancur.

 Saat ia memungutnya, benda itu dengan mudah patah menjadi dua di tangannya.

Ia mendekap bangkai ponsel itu di dadanya, mengabaikan tetesan darah dari bibirnya yang menetes perlahan, mengotori lantai gym.

​Aluna berjalan menuruni tangga menuju kamarnya dengan langkah gontai.

Matanya nampak layu.

Di belakangnya, pengawal berbadan kekar itu mengikuti setiap gerakannya bagaikan bayangan.

Napas Aluna terasa sesak—setiap tarikan napas terasa seperti duri yang menusuk paru-paru.

 Ia masih menangis sesenggukan, tidak peduli lagi pada harga diri di depan pria asing yang menjaganya.

 Pengawal itu hanya diam, menatap lurus ke depan dengan wajah datar, seolah tangisan Aluna hanyalah suara angin lewat.

​Sesampainya di kamar, Aluna menutup pintu perlahan.

Begitu ia kunci dari dalam, pertahanannya runtuh total.

 Ia merosot di balik pintu, jatuh terduduk di lantai dengan kaki yang tak lagi sanggup menopang beban batinnya.

​"Hiks... hiks... sial... sialan..." ia menjerit tertahan di sela isak tangisnya.

​Dengan amarah yang membuncah, ia melemparkan belahan ponselnya ke sembarang arah hingga menghantam dinding.

BRAK!

Ia menangis sekencang-kencangnya, menumpahkan segala rasa sakit, hinaan, dan ketakutan yang ia pendam. Suaranya menggema di kamar yang luas itu, sebuah ratapan pilu dari seorang wanita yang kini merasa tidak lebih berharga daripada barang rongsokan.

​Di luar pintu, sang pengawal tetap berdiri tegak tak berkutik.

 Baginya, tangisan histeris di dalam kamar tak ada gunanya untuk dipikirkan.

Tidak ada belas kasihan, tidak ada empati.

...****************...

 Aluna menggenggam beberapa lembar hansaplast dan sebotol kecil salep pemberian Bu Lastri.

Wanita tua itu mungkin menyadari luka di wajahnya saat Aluna berpapasan dengannya tadi.

Dengan sisa-sisa air mata yang masih menggenang,

Aluna berdiri di depan cermin besar, menatap bayangannya sendiri yang tampak begitu menyedihkan.

​Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia melepas lapisan pelindung hansaplast dan menempelkannya perlahan pada luka di pipinya.

Rasa perih itu kembali menusuk.

Selanjutnya, ia mengoleskan salep dingin pada bibirnya yang membengkak akibat gigitan kasar Arkan.

​"Sshhh..." Aluna sedikit meringis.

​Rasa sakit fisik ini seolah menjadi pengingat betapa hancurnya hidupnya sekarang.

Sejak dulu, Aluna merasa sudah cukup kuat menghadapi ayahnya yang gemar berjudi dan menimbun utang, namun ayahnya tidak pernah sekalipun melakukan kekerasan verbal maupun fisik sekejam ini.

 Arkan telah melampaui batas pada seorang perempuan sepertinya.

​Ia menundukkan kepala, membiarkan rambutnya yang berantakan menutupi wajah dari pantulan cermin. Ia tidak sanggup lagi menatap dirinya sendiri.

​'Sakit... aku sangat sakit di sini...' batinnya merintih pilu.

​Ia ingin berteriak meminta tolong, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan.

Matanya kini menatap kosong ke lantai, memancarkan kehampaan yang dalam.

...****************...

​Di ruang kerjanya, Arkan berusaha keras memfokuskan pikiran pada tumpukan laporan bisnis.

Ia mengusap wajahnya berkali-kali, mencoba mengusir pikiran buruk yang terus menghantuinya.

Lima cangkir kopi hitam yang ia teguk seolah tak mampu menenangkan sarafnya yang tegang.

Dengan geram, ia melempar tumpukan kertas di meja hingga berhamburan, lalu meremas kelopak matanya sendiri.

​Ia menatap jemari telunjuknya. Di sana, masih tertinggal bercak merah mengering—darah bibir Aluna.

Arkan meraih tisu basah, menggosok kulitnya dengan kalap hingga memerah, namun di matanya, noda itu seolah tak mau hilang.

 Ia membuang muka dari meja kerjanya dengan napas memburu.

​"Sialan! Gara-gara wanita itu..." desisnya penuh kebencian.

​Kalimat Aluna di ruang gym tadi berputar-putar di kepalanya.

“Mas... aku tidak pernah menemukan pelanggaran soal ini di kontrak. Pernikahan ini hanya sandiwara, kan?!”

 Arkan membanting vas biru antik seharga 200 juta yang selama dua tahun ini menghiasi mejanya.

​PYAR!!!

​Pecahan berserakan di lantai.

"Bangsat... ini salah dia. Bukan aku!" Arkan meyakinkan dirinya sendiri, meski dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak ia pahami.

​"Dion! DION!" teriaknya memanggil asisten pribadinya.

​Dion segera muncul, mengintip dari celah pintu dengan wajah waspada.

 "Ya, Tuan? Ada perlu apa?"

​"Sialan, cepat belikan ponsel baru! Model terbaru yang paling mahal!" perintah Arkan tak boleh dibantah.

​Setelah Dion mengangguk dan bergegas pergi, Arkan menjatuhkan tubuhnya ke kursi sofa.

Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruangan sambil menghela napas panjang.

...****************...

​"Nyonya, Anda mau ke mana?" tanya pengawal yang menjaganya.

​"Ke dapur. Tidak boleh?" sahut Aluna dingin.

​Pria kekar itu tertegun sejenak, lalu mengekor di belakangnya. "Kalau begitu, saya ikut."

​Aluna mengabaikannya dan terus melangkah menuruni tangga. Ia merasa harus melakukan sesuatu— jika ia terus membiarkan dirinya terkurung dalam kesedihan, ia merasa perlahan akan gila.

 Ia melirik ke arah jendela besar, matahari sudah mulai turun. ' Sudah sore rupanya? '

Aluna bahkan tidak sadar waktu berjalan begitu cepat.

​Di dapur, beberapa pelayan yang sedang asyik bergosip mendadak bungkam saat melihat kehadirannya.

​"Dia datang tuh," bisik salah satu dari mereka dengan nada tidak suka.

​"Iya, bikin malas saja. Ayo pergi," sahut yang lain sembari melenggang pergi meninggalkan Aluna sendirian.

​Aluna terdiam sesaat mendengar itu, namun ia segera menggelengkan kepala.

 Ia tidak punya energi lagi untuk meladeni. Ia mulai berjinjit, mencari bahan makanan yang bisa diolah.

Bu Lastri menghampirinya dengan raut wajah khawatir.

"Nyonya, kenapa Anda di sini? Silakan duduk di ruang makan saja, biar kami yang siapkan."

​"Saya ingin memasak, Bu. Masakan sederhana saja kok. Tidak akan menambah banyak cucian piring, nanti saya cuci sendiri," ucap Aluna lembut sembari tersenyum tipis.

Bu Lastri terpaku, perlahan melepaskan pegangannya pada lengan Aluna.

​Dengan cekatan, Aluna mulai memotong bawang bombay, mengiris daging ayam, dan menyiapkan bumbu.

Ia menyalakan kompor, lalu mulai meracik nasi goreng khas buatannya.

 Bu Lastri yang berdiri di sampingnya tampak terkagum—teknik Aluna memasak sangat lincah, mirip abang-abang gerobak pinggir jalan yang mahir memainkan wajan besar.

​Setelah beberapa puluh menit, harum gurih nasi goreng memenuhi dapur. Aluna menyajikannya ke dalam tiga piring.

"Bu, tolong cicipi rasanya... lidah saya sedang agak hambar untuk merasakannya."

​Bu Lastri sempat ragu, namun atas desakan Aluna, ia pun mencicipinya. Mata wanita tua itu membelalak lebar.

 "Ini... enak sekali, Nyonya! Sungguh enak!"

​Senyum tulus akhirnya terbit di wajah Aluna.

Sejenak, rasa sakit hatinya teralihkan oleh keberhasilan kecilnya.

​Sore itu, Arkan pulang lebih awal. Entah mengapa, ia tampak sedikit lebih bersemangat.

Di tangannya, ia memegang kotak ponsel bermerek mahal yang masih tersegel. Begitu masuk ke mansion, ia langsung bertanya pada pengawal, "Di mana Aluna?"

​"Nyonya berada di dapur, Tuan."

​Arkan segera melangkah ke sana. Ia mendapati Aluna tengah menata piring-piring di meja makan. Tanpa banyak bicara, Arkan meletakkan kotak ponsel itu diam-diam di samping Aluna, berhasil mengejutkannya hingga ia hampir menjatuhkan box handphone.

​"Apa ini..." lirih Aluna. Ia mendongak dan menemukan wajah datar Arkan tepat di depannya.

​"Ponsel baru. Jaga baik-baik." ucap Arkan singkat.

​Aluna menatap kotak mahal itu dengan pandangan kosong. Tidak ada binar bahagia. Ia justru memberikan kotak itu kepada Bu Lastri.

"Bu, ini untuk Ibu saja. Kalau Ibu tidak suka, berikan pada anak Ibu, aja."

​"Loh, ini kan dari Tuan untuk kamu, Nyonya," Bu Lastri mendadak pucat.

​Aluna melirik Arkan dengan tatapan sinis.

"Saya? Oh, untuk apa ponsel, Bu? Kalau saya mau menelepon teman, saya pakai telepati saja," sindirnya telak.

​Arkan merasa terpukul.

Bu Lastri yang merasa suasana memanas segera meletakkan kotak itu dan menunduk dalam.

​Mencoba mengalihkan kekesalannya karena pemberiannya ditolak mentah-mentah, Arkan menarik kursi kasar dan duduk.

Ia menarik salah satu piring nasi goreng yang aromanya sangat menggoda. Tanpa bertanya, ia menyuapkan sesendok besar ke dalam mulutnya.

​Matanya tak menyangka sesaat. "Bu Lastri! Ini masakanmu? Enak sekali!" puji Arkan.

​"Tu—Tuan, itu bukan saya yang memasak..." bisik Bu Lastri.

​Seketika, tatapan tajam Arkan beralih pada Aluna yang berdiri mematung di samping bu Lastri.

Pria itu tampak tidak percaya, rahangnya mengeras sesaat.

 "Jangan berbohong, Bu Lastri." tegas Arkan, suaranya merendah.

​Bu Lastri hanya bisa menunduk dalam, tak berani menatap mata tuannya. Aluna, yang merasa suasana semakin menyesakkan, memilih untuk tidak membela diri.

Ia justru menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya sendiri sambil berpaling.

"Enak sekali, Bu Lastri. Masakan Anda ini kalau dijual pasti akan laris manis," puji Aluna, lalu ia melenggang pergi begitu saja meninggalkan meja makan.

​Arkan masih terpaku di tempatnya. Ia menatap Bu Lastri yang masih mematung di pojokan.

"Katakan dengan jujur, siapa yang masak ini?"

​"I—itu Nyonya, Tuan... saya tidak berbohong," lirih Bu Lastri, menunduk ketakutan.

​Tanpa sepatah kata lagi, Arkan bangkit dan mengejar Aluna yang baru saja hendak menaiki tangga.

Dengan gerakan cepat, ia menyambar pergelangan tangan Aluna, menariknya hingga tubuh wanita itu berbalik dan dagunya diangkat paksa.

Aluna meronta, namun cengkeraman Arkan lebih kuat dari tenaganya.

​"Mas, lepas..."

​"Sudah kau obati?" tanya Arkan tiba-tiba.

​"Apanya?"

​"Bibirmu," balas Arkan singkat.

Ia kemudian melepaskan wajah Aluna dengan sedikit sentakan, hampir membuat wanita itu kehilangan keseimbangan.

Aluna menatapnya dengan pandangan nanar, tak habis pikir dengan isi kepala pria di hadapannya.

​"Untung saja sudah kau tutup dengan salep. Jangan sampai ada orang luar yang tahu perbuatan saya padamu. Mengerti?!"

Ia menarik kepala Aluna agar mata mereka bertemu paksa.

 "Mengerti, Aluna?"

​"I—iya."

​"Sekarang, terima ponsel itu."

​Aluna menggeleng lemah, "Aku tidak mau, Mas. Donasikan saja ponsel itu—"

​"BANGSAT! TERIMA YA TERIMA! BU LASTRI! BAWA PONSELNYA KE SINI!" teriak Arkan hingga suaranya menggema di seluruh ruangan.

​Bu Lastri berlari kecil menghampiri mereka, menyerahkan kotak ponsel mahal yang terbungkus pita merah muda cantik.

 Tangan Aluna dipaksa menerima benda itu. Ia hanya bisa terdiam saat melihat senyum miring kemenangan di wajah suaminya.

​"Gunakan dengan hati-hati. Jangan sampai rusak lagi," ucap Arkan dengan entengnya, seolah dia amnesia bahwa dialah pelakunya yang telah menghancurkan ponselnya.

​Aluna membuka pita dan segel kotak tersebut.

 Matanya membelalak saat melihat isinya. "iPhone, Mas? Ponselku sebelumnya merek Advan..."

​"Ya terserah! Sama saja!" potong Arkan ketus, tak suka dibanding-bandingkan.

 "Ponselmu yang dulu itu sudah jadul! Ini keluaran terbaru."

​Aluna baru saja hendak membantah, namun ia teringat rasa sakit akibat kekerasan sebelumnya.

Ia memilih diam, menyalakan ponsel itu, dan mengatur akunnya. Saat masuk ke menu kontak, ia mendapati nomor Arkan sudah terdaftar di sana sebagai kontak utama.

​"Kenapa? Kenapa lihat-lihat?" sahut Arkan saat menyadari Aluna memperhatikannya.

​Aluna mendengus dalam hati. "Tidak ada."

​"Kau tidak bahagia? Mana senyummu!" tuntut Arkan.

​Terpaksa, Aluna menarik sudut bibirnya, membentuk senyum palsu yang paling manis yang bisa ia berikan untuk pria brengsek di depannya.

"Nah, begitu," gumam Arkan puas.

​Namun, saat Arkan hendak berbalik pergi, Aluna memberanikan diri bersuara.

 "Mas, Reno hanya ingin memberikan ijazah kuliahku... tidak lebih. Tolong biarkan aku bertemu dengannya sebentar saja."

​"Biar saya saja yang ambil. Kelamaan," jawab Arkan tanpa menoleh, lalu melangkah pergi dengan angkuh.

​Aluna berdiri mematung di anak tangga. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap gerak-geriknya telah diatur oleh sang pemilik.

Bersambung...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!