Profil Karakter Utama
Arkaen "Arka" Malik (30 th): CEO muda dari Malik Group yang terlihat bersih dan filantropis. Namun, di balik itu, ia adalah "Don" dari sindikat The Black King. Dia dingin, penuh perhitungan, dan tidak percaya pada cinta karena trauma masa lalu.
Alea Senja (24 th): Seorang jurnalis investigasi amatir yang cerdas namun sedang kesulitan ekonomi. Dia memiliki sifat yang berani, sedikit lancang, dan tidak mudah terintimidasi oleh kekuasaan Arka.
Alea tidak sengaja memotret transaksi ilegal di pelabuhan yang melibatkan Arka. Alih-alih membunuhnya, Arka menyadari bahwa Alea memiliki kemiripan wajah dengan wanita dari masa lalunya yang memegang kunci brankas rahasia keluarga Malik. Arka memaksa Alea menandatangani kontrak "Pernikahan Bisnis" selama satu tahun demi melindunginya dari kejaran faksi mafia musuh sekaligus menjadikannya alat untuk memancing pengkhianat di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serigala dalam Balutan Sutra
Pagi itu, Jakarta menyambut Alea dengan kemacetan yang luar biasa, namun di dalam mobil Mercedes-Maybach yang membawanya, suara klakson kota terdengar seperti bisikan jauh. Alea menatap pantulan dirinya di jendela mobil. Ia mengenakan setelan blazer putih tulang yang pas di badan dan sepatu hak tinggi yang membuatnya merasa harus belajar berjalan lagi.
"Kau terlihat seperti orang yang akan dieksekusi," suara Arka memecah keheningan. Pria itu duduk di sebelahnya, matanya terpaku pada tablet, sementara tangannya yang bebas menyesap espresso tanpa gula.
"Memang iya, kan?" balas Alea ketus. "Kau membawaku ke sarang serigalamu. Aku yakin sekretarismu atau dewan direksimu akan langsung tahu kalau aku ini palsu."
Arka meletakkan cangkirnya, lalu menoleh sepenuhnya pada Alea. Ia mencondongkan tubuh, membuat Alea otomatis bersandar pada pintu mobil. "Itulah gunanya kau berada di sana. Biarkan mereka curiga. Biarkan mereka mengira kau adalah kelemahanku. Saat mereka sibuk menyerangmu, mereka akan ceroboh dan menunjukkan siapa pengkhianat yang sebenarnya."
"Jadi aku bukan hanya asisten, tapi juga tameng hidup?"
"Kau lebih pintar dari yang kubayangkan," Arka menyeringai kecil sebelum mobil berhenti di depan lobi Malik Tower yang menjulang angkuh.
Saat pintu mobil dibuka oleh petugas keamanan, Arka keluar lebih dulu. Namun, alih-alih langsung berjalan masuk dengan langkah angkuh seperti biasanya, ia berhenti dan mengulurkan tangannya pada Alea.
Alea menatap tangan itu ragu. Ini dia. Pertunjukan dimulai.
Ia menyambut tangan Arka. Jemari pria itu kuat dan mendominasi. Saat mereka melangkah masuk ke lobi, atmosfer seketika berubah. Ratusan karyawan yang tadinya sibuk berlalu-lalang mendadak mematung. Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di padang rumput kering.
"Itu Tuan Arka? Dia menggandeng tangan seorang wanita?"
"Siapa dia? Tidak mungkin itu hanya asisten baru."
Arka tidak berhenti. Ia membimbing Alea menuju lift khusus CEO dengan langkah mantap. Di dalam lift yang berdinding cermin, Alea bisa melihat betapa serasinya mereka secara visual—Arka dengan setelan hitamnya yang mengancam, dan Alea dengan warna putih yang mencoba terlihat murni.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 50. Di sana, seorang wanita berusia sekitar 40-an dengan wajah sekaku papan tulis sudah menunggu. Dia adalah Sandra, sekretaris senior yang telah mengabdi pada keluarga Malik selama belasan tahun.
"Selamat pagi, Tuan Arka. Jadwal Anda pagi ini adalah—" Kalimat Sandra terhenti saat matanya mendarat pada Alea. Matanya menyipit, penuh selidik.
"Sandra, ini Alea Senja. Mulai hari ini, dia akan bekerja sebagai asisten pribadiku. Secara eksklusif," ucap Arka dengan penekanan pada kata terakhir. "Dan dia adalah tunanganku."
Sandra tampak seperti baru saja menelan kelereng. "Tunangan? Tuan, dewan direksi tidak diberitahu soal ini. Bagaimana dengan—"
"Aku tidak butuh izin dewan untuk memilih siapa yang akan tidur di sampingku, Sandra," potong Arka dingin. "Siapkan meja untuk Alea di dalam ruanganku. Bukan di luar. Di dalam."
Alea hampir tersedak ludahnya sendiri. Di dalam ruangannya? Yang benar saja!
Saat mereka masuk ke ruangan Arka yang luasnya hampir seperti lapangan basket, Alea langsung merasa terintimidasi. Ruangan itu didominasi warna gelap, dengan meja kerja dari kayu jati kuno dan jendela besar yang memperlihatkan langit Jakarta.
"Kenapa mejaku harus di dalam?" protes Alea begitu pintu tertutup.
Arka melempar tas kerjanya ke sofa. "Karena aku tidak percaya pada siapa pun di luar sana, termasuk Sandra. Kau di sini untuk mengawasi setiap orang yang masuk dan keluar, setiap dokumen yang lewat, dan setiap gerak-gerik yang mencurigakan."
"Tapi aku tidak tahu apa-apa soal bisnis!"
"Kau tahu cara mengambil foto secara diam-diam, kan? Gunakan insting jurnalis gadunganmu itu," sahut Arka sembari duduk di kursi kebesarannya. "Sekarang, duduk. Ada berkas di mejamu. Hafalkan nama-nama pemegang saham utama. Kau harus tahu siapa yang harus kau waspadai saat makan malam nanti."
Alea berjalan menuju meja kecil yang baru saja diletakkan di sudut ruangan. Di sana ada sebuah laptop baru dan tumpukan dokumen. Ia mulai membaca, mencoba memahami labirin kekuasaan di Malik Group.
Baru satu jam berlalu, pintu ruangan diketuk dengan keras. Tanpa menunggu jawaban, seorang pria muda dengan wajah yang mirip dengan Arka namun terlihat lebih 'liar' masuk dengan langkah lebar. Itu adalah Yudha, sepupu Arka yang dikenal sebagai playboy kelas berat namun memiliki ambisi besar.
"Arka! Berita gila apa yang kudengar di bawah? Kau tunangan?" Yudha berhenti saat melihat Alea. Matanya berbinar nakal. "Oh, jadi ini alasannya kau menolak putri jenderal itu? Cantik juga."
Yudha mendekati meja Alea, hendak menyentuh bahunya, namun suara Arka terdengar seperti petir.
"Sentuh dia, dan kau akan pulang tanpa tangan, Yudha."
Yudha mengangkat tangan ke udara, tertawa renyah. "Wow, santai, Kak sepupu. Aku hanya ingin menyapa calon anggota keluarga kita." Ia berpaling pada Alea. "Hai, Manis. Berapa lama kau akan bertahan dengan pria kaku ini sebelum kau sadar bahwa akulah Malik yang lebih menyenangkan?"
Alea menatap Yudha dengan berani. Ia bisa merasakan pria ini lebih berbahaya daripada Arka karena ia menyembunyikan taringnya di balik senyum. "Saya rasa saya cukup tahan banting, Tuan Yudha. Dan saya lebih suka pria yang tahu cara mengetuk pintu."
Arka menyeringai dari balik mejanya. "Kau dengar itu? Sekarang keluar. Aku punya pekerjaan."
Setelah Yudha keluar dengan wajah sedikit dongkol, suasana kembali hening. Alea kembali fokus pada dokumennya hingga ia menemukan sesuatu yang janggal. Sebuah laporan pengiriman logistik ke pelabuhan yang ditandatangani oleh departemen keuangan, namun nominalnya sangat tidak masuk akal.
"Arka," panggil Alea. Kali ini ia tidak menggunakan sebutan 'Tuan'.
Arka mendongak. "Apa?"
"Laporan pengiriman ke PT. Samudra Jaya ini... kenapa biaya asuransinya lebih besar daripada nilai barangnya? Ini seperti sedang mencuci uang atau menyuap seseorang."
Arka bangkit dan berjalan menuju meja Alea. Ia membungkuk, menatap dokumen yang ditunjuk Alea. Posisi mereka begitu dekat hingga Alea bisa mencium aroma kopi dan kertas baru dari tubuh Arka.
"Kau menemukannya dalam satu jam?" gumam Arka, suaranya kini terdengar tulus terkesan. "Itu adalah proyek yang dipegang oleh paman Baron. Aku sudah curiga sejak lama, tapi aku butuh bukti fisik untuk menyeretnya ke pengadilan keluarga."
Alea menatap Arka. "Jika kau tahu, kenapa kau diam saja?"
Arka menatap mata Alea dalam-dalam. "Di dunia mafia, kau tidak menyerang sampai kau punya peluru yang cukup untuk mematikan lawan dalam satu tembakan. Jika kau hanya melukai mereka, mereka akan kembali untuk memakanmu."
Saat itulah, Alea menyadari sesuatu. Arkaen Malik bukan hanya seorang penjahat atau CEO. Dia adalah seorang penyintas. Dia hidup di dunia di mana bahkan keluarganya sendiri ingin menghancurkannya.
Tiba-tiba, ponsel kantor Arka berdering. Ia mengangkatnya, dan wajahnya seketika mengeras.
"Apa? Ulangi lagi." Arka mendengarkan sejenak sebelum membanting gagang telepon. "Alea, kita harus pergi ke rumah sakit sekarang."
Jantung Alea mencelos. "Ibu? Apa terjadi sesuatu pada ibuku?"
"Kondisinya menurun. Tapi bukan itu masalah utamanya,"
Arka mengambil jasnya dengan cepat. "Seseorang mencoba menyusup ke ruang ICU-nya. Musuhku sudah mulai bergerak, Alea. Permainan ini menjadi jauh lebih nyata daripada yang kupikirkan."
Alea merasa dunianya berputar. Ketakutan yang sesungguhnya kini menghantamnya. Ia mengerti sekarang; menjadi tunangan Arkaen Malik bukan hanya soal kemewahan, tapi soal mempertaruhkan nyawa orang yang paling ia cintai.
"Ayo," Arka menarik tangan Alea, kali ini lebih erat, seolah ia benar-benar tidak ingin melepaskannya. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh ibumu. Itu janjiku."
Alea hanya bisa mengangguk, mengikuti langkah besar Arka keluar ruangan. Di lobi, semua mata kembali menatap, namun kali ini Alea tidak peduli. Ia hanya tahu satu hal: ia sudah masuk terlalu dalam, dan satu-satunya orang yang bisa melindunginya adalah iblis yang menggenggam tangannya saat ini.