Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28.
Aurely meraih tasnya, ia akan mengambil ponselnya.
“Ayah apa masih di pos Polisi.” Gumamnya di dalam hati. Lalu ia segera mengaktifkan ponselnya, akan menghubungi ayahnya. Untuk memastikan keadaan Sang Ayah yang belum pulang.
Akan tetapi saat ponselnya sudah aktif. Belasan panggilan tak terjawab dari Riko. Dan belasan pesan chat dari Riko.
Aurely belum membuka pesan chat itu. Namun sebelum Aurely mencari kontak nama Ayahnya. Panggilan video dari Riko masuk.
Aurely langsung menolak, dan kembali mematikan lagi ponselnya. Bukannya ia mau lari dari kenyataan dan masalah. Namun ia belum mau berurusan dengan Riko, malam ini.
“Tunggu kabar dari Ayah.” Gumamnya lalu ia melangkah keluar dari kamar untuk pergi mandi.
Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan hampir jam delapan malam, ketika suara motor tua terdengar mendekat. Aurely yang duduk di ruang tengah langsung menegakkan badan. Suara itu terlalu familiar untuk tak ia kenali.
“Ayah pulang.”
Pintu depan dibuka perlahan. Ibunya Aurely bangkit dari duduknya, menyambut Ayah dengan wajah yang tak sepenuhnya lega.
“Capek, Yah?” tanya Ibu sambil menerima tas kain dari pundak Ayah. Tas berisi buku buku koperasi.
Ayah hanya mengangguk. Wajahnya tampak lebih lelah malam ini. Garis garis dan kerut kerut semakin jelas di sekitar mata. “Pak Sastro tadi ke sini ya?” tanyanya pelan, seolah sudah tahu jawabannya.
Ibu mengangguk. “Iya. Katanya motornya harus diantar secepatnya.” Jawab Ibunya Aurely, “Besok mau dipakai Nurul.”
Ayah terdiam cukup lama. Ia duduk di kursi kayu, menunduk, menatap lantai yang usang. “Besok aku ke pasar pakai apa ya Bun?”
Kalimat itu melayang di udara, berat dan tak segera dijawab.
Aurely berdiri . Ia ragu untuk masuk ke ruang tamu , tapi kakinya melangkah juga. “Ayah…”
Ayah menoleh. Tatapannya melembut sesaat. “Bagaimana kerjamu hari ini?” katanya dengan bibir berusaha tersenyum.
“Baik Yah...” Aurely mendekat. “Aku besok dijemput Mas Rizky lagi.” Apa aku izin ke Mas Rizky bagaimana kalau Ayah ikut nebeng.”
Ayah langsung menggeleng. “Nggak usah. Itu akan merepotkan .” ucap Ayahnya, “arah ke pasar kan beda.”
Ayah mengusap wajahnya pelan, lalu berdiri. Ia melangkah ke arah pintu.
“Besok Ayah berangkat subuh,” gumam Ayah, lebih pada dirinya sendiri. “Jalan kaki, sambil olah raga.”
Ibunya Aurley menoleh cepat. “Jalan kaki? Jauh, Yah”
Ayah tersenyum kecil. “Nggak papa, sekarang aku kembalikan dulu motornya Pak Sastro.”
Kalimat Ayahnya itu justru membuat dada Aurely terasa makin sesak.
“Yah… jaraknya hampir tiga kilometer,” suara Aurely nyaris memohon. “Ayah capek seharian, di pasar masih harus ngangkat barang.”
Ayah menatap Aurely. “Tak apa Rel, sambil mikir cara.” Ucap Ayahnya, “Ayah harus tetap kerja. Tanggung jawab.” Lanjutnya lalu keluar dari rumah.
Aurely masih berdiri terpaku. Tak ada motor untuk dipakai kerja Ayahnya. Tak ada uang untuk beli kendaraan. Tak ada pilihan selain berjalan. Aurely belum sampai hati untuk bertanya tentang masalah mobil mencurigakan di pasar.. pada Ayahnya.
Ibu duduk kembali, tangannya gemetar sambil menggenggam ujung kain dasternya. “Andai motor pinjaman itu masih bisa dipakai…”
Ayah yang baru menyalakan mesin motor menjawab dari luar. “Nggak enak. Lagipula pemiliknya sudah minta dikembalikan.”
Aurely terdiam. Lagi-lagi, satu-satunya jalan yang terlintas di pikirannya adalah minta tolong Rizky.
“Bun, aku akan tetap mencoba minta tolong Mas Rizky. Kalau tidak bisa mengantar sampai pasar, setidaknya sampai jalan raya. “ ucap Aurely pelan namun mantap.
Ibu menatap Aurely, campuran kaget dan khawatir. Ia tahu, anaknya tidak sedang ingin dimanja. Ia sedang berusaha menutup lubang yang tak bisa ia tutup sendiri.
“Katakan dengan baik baik ya Nak, jangan sampai merepotkan.“
Aurely mengangguk, lalu melangkah ke kamar nya. Ia mengaktifkan ponselnya, lalu memblokir dulu nomor Riko.
Dengan tangan gemetar ia menulis pesan chat.
Mas Rizky selamat malam. Maaf, saya mau bertanya. Jika Ayah saya besok pagi ikut nebeng di mobil Mas Rizky, apa boleh? Sampai di jalan raya saja.
Aurely membaca lagi berulang ulang sebelum ia kirim pesan itu ke nomor Rizky.
TING
Pesan terkirim.. satu detik.. dua detik.. tiga detik..
Jantung Aurely berdebar debar..
Tiga detik terasa seperti tiga menit. Aurely memeluk ponselnya, duduk di tepi kasur tipisnya, menatap layar yang masih sunyi. Bayangan Ayah berjalan subuh-subuh di pinggir jalan, memanggul harapan dan lelah, terus berputar di kepalanya.
TING.
Satu notifikasi masuk.
Nama Mas Rizky muncul di layar.
Aurely menahan napas sebelum membukanya.
Boleh, Rel. Nggak apa-apa. Besok aku jemput agak pagi ya. Ayahmu bisa ikut sampai jalan raya.
Mata Aurely panas. Dadanya mengendur seketika, seperti simpul yang akhirnya dilepas perlahan. Ia segera mengetik balasan.
Terima kasih banyak, Mas. Saya benar-benar nggak enak sudah merepotkan.
Balasan datang cepat.
Nggak merepotkan kok. Aku kan sudah bilang kalau ada apa apa, katakan. Jangan sungkan. Sampaikan salam buat Ayah dan Ibu.
Aurely tersenyum kecil. Senyum yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini, bukan karena bahagia besar, tapi karena lega.
Ia keluar kamar, mendekati ruang tengah. Ibu masih duduk di sana, menunggu dengan mata sembab yang belum sepenuhnya kering.
“Bun…” Aurely mendekat. “Mas Rizky mau. Besok Ayah bisa ikut sampai jalan raya.”
Ibu menutup mulutnya dengan tangan, menahan suara yang hampir pecah. “Alhamdulillah…” bisiknya lirih. Ia meraih tangan Aurely, menggenggamnya erat, seolah takut rasa syukur itu menguap jika dilepas.
☀️☀️☀️
Udara subuh masih dingin ketika Aurely terbangun. Dari dapur, terdengar suara Ibunya menyiapkan air panas, sarapan dan bekal sederhana untuk Ayah.
Ayah sudah siap. Kemeja kerjanya rapi, meski warnanya mulai pudar. Ia duduk di kursi ruang tengah, mengikat tali sepatunya pelan-pelan, seolah ingin menunda waktu.
“Ayah, ikut Mas Rizky saja.” Ucap Aurely lalu pergi ke kamar mandi. “boleh kok nebeng sampai jalan raya.”
“Iya Yah,” ucap Ibunya dari dapur, “Nanti coba cari pinjaman uang ke Bu Ridwan atau koperasi, Yah.. buat beli sepeda. “ lanjutnya.
Mau tak mau, Ayah menurut pada anaknya isterinya.
Jam enam lewat.. Santi sudah datang, kali ini ia tidak teriak teriak memanggil Aurely. Tapi ia mengucap salam sambil mengetuk pintu pelan pelan.
“San, kamu datang awal.” Ucap Aurely saat membuka pintu.
“Iya Mas Rizky kasih kabar katanya harus lebih pagi.” Ucap Santi lalu pandangan matanya menatap Ayahnya Aurely yang melangkah. Santi menyapa dengan menganggukkan kepalanya..
“Iya San, lebih pagi. Ayahku mau nebeng. Motor pinjaman diminta.” Ucap Aurely sambil mengecek isi tasnya.
“Diminta Pak Sastro?” Tanya Santi, “padahal motor itu nggak dipakai loh.”
“Katanya mau dipakai Nurul anaknya.” Ucap Aurely..
“Dipakai apa? Mana mau Nurul pakai motor tua begitu. Dia sudah punya motor baru.” Ucap Santi agak meninggi, “padahal keluarga dia kan dulu dibantu Ayahmu dan almarhum Kakekmu.” Ucap Santi lagi..
Aurely tampak kaget karena ia tidak tahu jika Ayahnya dulu membantu keluarga Pak Sastro. Akan tetapi sebelum Aurely berkata sepatah kata ..
Suara mobil terdengar mendekat...
“Itu Mas Rizky sudah datang!”
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel