NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mika Ditangkap

Ia masuk ke kamar kecil tempat ia tidur.

Mika mengikuti dengan napas memburu. “Apa yang kau lakukan?”

Jovan berlutut. Tangannya menyentuh papan lantai di bawah ranjang. Ia mengangkatnya perlahan.

Mika terpaku.

Di sana, tersembunyi dalam kain gelap…Sebuah ponsel tua. Tidak ada merek mencolok. Tidak ada casing. Tidak ada kontak.

Benda mati. Seperti sesuatu dari kehidupan lain.

Mika berbisik, “Itu… milikmu?”

Jovan menatap layar hitam itu lama. “Ini seharusnya tidak pernah menyala lagi.”

Ponsel Tua

Benda kecil yang sejak hari pertama ia jatuh ke desa tidak pernah benar-benar Ia lepaskan.

Saat tubuhnya terhempas di tanah waktu itu, saat napasnya hampir putus dan kepalanya penuh darah, refleks terakhirnya bukan menyelamatkan harga diri, melainkan menyelamatkan satu-satunya akses keluar.

Ia menyelipkannya di celana, rapat, kotor, nyaris tak terlihat.

Ponsel itu ikut masuk ke desa bersamanya. Diam. Terkubur seperti rahasia.

Ia tidak pernah menggunakannya. Tidak pernah menyalakannya di depan Mika. Tidak pernah membiarkan Pak Raka tahu.

Karena di tempat seperti Sumberjati, bahkan sinyal bisa menjadi jejak.

Dan sekarang…Jovan mengeluarkannya.

Layar retak itu menyala pelan.

Satu garis cahaya kecil di tengah malam yang terbakar.

Ia menatapnya lama, seperti menatap pintu yang sudah lama ia tutup sendiri.

Lalu ia menekan tombol. Satu getaran kecil. Layar hidup.

Dan bersamaan dengan itu…Dunia Jovan kembali.

Mika merasa seperti udara di ruangan berubah.

Jovan tidak lagi terlihat seperti pria terluka yang memetik jambu. Ia terlihat seperti seseorang yang pernah memerintah neraka.

Ponsel itu hanya butuh tiga detik sebelum pesan masuk.

Nomor tak dikenal.

Satu kalimat.

Kalau kau ingin dia pulang, datang sendiri. Jangan bawa desa.

Mika menutup mulutnya.

“Dia… benar-benar…”

Jovan berdiri. Tenang. Terlalu tenang. “Levis.”

Mika menggigil. “Kita harus bagaimana?”

Jovan menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak ia tinggal di sini…Ia berkata dengan suara yang tidak bisa ditawar.

“Kau tetap di rumah.”

Mika menggeleng cepat.

“Tidak! Ayahku...”

“Aku akan membawanya pulang.”

“Kau sendirian?”

Jovan mendekat. Tangannya terangkat, menyentuh pipi Mika sebentar. Sentuhan singkat.

Seperti janji. “Ini yang dia mau,” katanya pelan.

“Dia mau aku kembali jadi Jovan De Luca.”

Mika menatapnya, air mata jatuh tanpa suara. “Dan kalau kau tidak kembali?”

Jovan menatap lurus. “Kalau aku tidak kembali… Pak Raka tidak akan pernah pulang.”

Hening.

Di luar, desa masih terlihat biasa.

Tapi di dalam rumah kecil itu…

Babak baru sudah dimulai.

Dan ponsel yang seharusnya mati…telah menyala.

.

Jovan tidak membawa apa pun.

Tidak senjata.

Tidak tas.

Tidak jaket tebal.

Hanya tubuhnya yang masih belum sepenuhnya pulih, bahu yang kaku, dan tatapan yang sudah kembali menjadi tatapan lama.

Mika berdiri di ambang pintu.

“Aku ikut.”

“Tidak.”

Suara Jovan datar.

Bukan marah.

Lebih buruk.

Final.

Mika menelan ludah. “Ayahku…”

“Aku tahu.”

Jovan mendekat, jaraknya hanya sejengkal. “Kalau kau keluar malam ini… Levis tidak akan melihatmu sebagai gadis desa.”

Mika menatapnya.

“Dia akan melihatmu sebagai alat.”

Kalimat itu membuat Mika membeku.

Jovan menahan napas. Lalu ia berkata lebih pelan, hampir seperti sesuatu yang dipaksakan keluar dari dirinya. “Aku tidak ingin kau jadi alat.”

Mika ingin menjawab, tapi suaranya hilang.

Jovan berbalik. Langkahnya meninggalkan rumah itu tanpa suara besar. Seolah ia tidak pergi untuk menjemput seseorang…tapi untuk kembali ke medan yang sudah ia tinggalkan.

Jalan menuju pinggir kecamatan sunyi.

Lampu-lampu jarang.

Hanya suara serangga dan tanah basah.

Pesan Levis tidak memberi alamat lengkap.

Hanya satu kalimat pendek:

Gudang beras lama.

Jovan tahu tempat itu.

Bangunan kosong dekat jalan raya kecil.

Tidak terlalu jauh dari desa.

Tidak terlalu dekat untuk didengar orang. Titik yang sempurna.

Levis selalu memilih titik yang sempurna.

Jovan berdiri di depan gudang itu.

Pintu besi setengah terbuka. Udara di dalam dingin. Bau karung lama dan debu.

Jovan melangkah masuk. Satu langkah. Dua. Dan suara itu datang dari gelap.

“Cepat sekali.”

Jovan berhenti.

Sosok itu keluar pelan dari bayangan.

Bukan pria asing. Bukan pembunuh bayaran.

Levis.

Wajahnya sama seperti ingatan Jovan. Rapi. Tenang.

Mata yang selalu seperti sedang menilai harga seseorang.

Ia tersenyum tipis. “Kau terlihat lebih… desa.”

Jovan tidak tersenyum. “Di mana Pak Raka?”

Levis mengangkat bahu. “Aman.”

Jovan menatap tajam. “Kau menculik orang pincang untuk memanggilku?”

Levis tertawa kecil. “Jangan seolah kau peduli.”

Jovan maju satu langkah.

“Jangan bawa orang desa ke urusan kita.”

Levis mengangguk pelan. “Itu lucu.”

“Lucu apa?”

Levis mendekat sedikit. “Karena kau sekarang punya kalimat seperti itu.”

Jovan membeku.

Levis menatapnya lama. “Kau dulu tidak punya batas.”

“Dulu aku tidak punya alasan.”

Levis tersenyum. “Nah.”

Ia mengangkat telunjuk, seperti orang mengajar. “Itu masalahnya, sepupuku.”

“Kau mulai punya alasan.”

Sunyi.

Gudang itu seperti menahan napas.

Jovan berkata pelan, “Kau yang menyuruh pasar menjauh.”

Levis mengangguk tanpa malu.

“Aku hanya menyentuh udara.”

“Kau menyentuh hidup mereka.”

Levis mendekat lagi, suaranya turun. “Dan kau merasakannya, kan?”

Jovan mengepalkan tangan. “Apa maumu?”

Levis berhenti. Tatapan mereka bertemu lurus. “Aku mau kau pulang.”

Jovan tertawa singkat, pahit.

“Pulang ke neraka itu?”

Levis tidak tersinggung. “Pulang ke tempatmu.”

Jovan menatap tajam. “Aku sudah keluar.”

Levis menggeleng perlahan. “Tidak ada yang keluar dari keluarga kita, Jovan.”

Kalimat itu seperti rantai.

Levis melanjutkan, suaranya tetap halus. “Kau tahu kenapa aku tidak membunuh mu waktu itu?”

Jovan diam.

“Karena kematianmu terlalu cepat.”

Levis tersenyum tipis. “Aku ingin kau hidup cukup lama untuk kehilangan sesuatu dulu.”

Jovan menegang. “Pak Raka?”

Levis mengangkat bahu. “Dia hanya pembuka.”

Jovan maju cepat. Tapi sebelum ia bergerak lebih jauh. Suara lain terdengar. Langkah kecil.

Tergesa.

Jovan membeku.

Levis menoleh. Dan senyum di wajahnya berubah. “Ah…”

Jovan berbalik.

Di pintu gudang...

Mika.

Napasnya memburu. Matanya merah.

“Kau bodoh,” suara Jovan pecah.

Mika menggigil. “Ayahku…”

Levis memandang Mika seperti seseorang yang baru melihat hadiah dibungkus rapi.

“Jadi ini pusat gravitasimu.”

Jovan bergerak cepat. “Jangan lihat dia.”

Levis mengangkat tangan.

Dua pria keluar dari sisi gelap gudang. Cepat. Terlatih.

Mika tersentak mundur.

“Jovan!”

Jovan melangkah maju, bahunya nyeri, tapi tubuhnya sudah siap.

Namun Levis hanya berkata pelan. “Jangan.”

Dan kedua pria itu berhenti, karena sesuatu lebih efektif daripada perintah.

Levis menatap Jovan lurus.

“Kau menyerang sekarang…”

“…dia mati duluan.”

Mika membeku. Air matanya jatuh.

Jovan tidak bergerak. Untuk pertama kalinya malam itu…ia benar-benar terjebak.

Levis mendekat, sangat dekat, suaranya seperti bisikan keluarga.

“Kau lihat?”

“Aku tidak perlu menculik gadis desa.”

“Aku hanya perlu membuatmu punya sesuatu.”

Levis menoleh pada anak buahnya.

“Ambil dia.”

Mika menjerit.

“Jovan!”

Jovan bergerak. Terlambat.

Tangan menutup mulut Mika.

Tubuhnya ditarik keluar gudang. Suara langkah cepat menghilang ke gelap.

Jovan berdiri kaku. Darahnya dingin.

Levis menatapnya puas. “Sekarang…” Levis merapikan lengan bajunya. “…kau akan pulang.”

Gudang itu sunyi lagi.

Tapi dunia Jovan…sudah terbakar.

1
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!