Siapa sangka peristiwa yang terjadi selama dua minggu, membuat hidup Salsa berubah total. Dorongan yang kuat untuk mengungkap tabir kematian seorang gadis yang menyangkut dosen Salsa. Ia punya beban moril untuk mengungkap kasus ini, agar citra pendidikan tetap terjaga dan tidak ada korban lainnya.
Bersama Syailendra, Salsa berhasil mengungkap kematian Karina hingga memperoleh ketenangan di dunia lain.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAKUT
Sentuhan lembut Amar sangat dirindukan oleh Karin, ia begitu menikmati cumbuan setelah kedatangan pria itu. Meski harus memakai perantara Sandrina, tak apa. Tatapan mata Amar masih sama, sangat tajam dan melelehkan hati perempuan yang ia tatap. Karin pun membalas cumbuan tersebut, ia sudah hafal titik lemah Amar. Berkali-kali ia berhubungan dengan lelaki ini, sangat ingat area sensitifnya. Terbukti, Amar melenguh nikmat.
"Aku cinta kamu Mas Amar," gumam Karin dengan mengelus rambut lalu melumat bibir Amar.
"Dari sekian banyak wanita kamu memang terbaik!" entah siapa yang dimaksud Amar, Karin atau Sandrina. Si hantu tak peduli, ia hanya ingin melampiaskan kerinduan yang sudah lama tak dirasakan, bersama Mas Amar.
Karin begitu bersemangat, berkali-kali ia memanggil Mas Amar, agar si laki juga sadar bahwa bukan Sandrina yang sedang ia gauli sekarang. Amar tak peduli akan panggilan apa, yang penting ia bergejolak dan Sandrina mengimbanginya. Bersama Sandrina, Amar merasakan kebahagiaan sendiri. Dia anak orang kaya, wajar perawatan hingga ke area sensitifnya pun diperhatikan. Sungguh, Amar terbuai dengan keaktifan sang mahasiswi siang ini. Dalam hati ia akan berjanji akan meluluskan Sandrina segera, agar lebih leluasa keluar dengan dia.
Kali ini Amar kaget karena Sandrina tak mau memakai pengaman, tumben, tapi biarlah dia bukan mahasiswi bodoh, pasti dia sudah mencari alternatif lain agar tidak hamil. Suara memalukan memecah keheningan kamar, bagi siapa yang mendengarnya tentu akan sangat malu.
"Kamu hebat," ucap Amar terkulai lemas di atas tubuh Sandrina, wajah Sandrina tak terlihat lemas. Padahal Amar rasanya ingin segera tidur, malah dia memegang pipi Amar dan mengecupnya.
"Karin kangen Mas Amar," bisik perempuan itu, tentu saja Amar kaget, antara halusinasi atau mimpi mendengar nama perempuan itu.
"Mas Amar, Karin kangen!" ucap Karin sekali lagi, bahkan ia memeluk tubuh polos Amar kembali.
Tentu saja Amar langsung bangkit, ia yakin Sandrina menyebut nama Karin lagi. Rasa kantuk usai bercinta hilang sudah, menjadi sebuah ketakutan. Panasnya gairah tadi hilang sudah, Amar langsung ke kamar mandi. Karin pun mengekornya, dengan tawa nyaring. Hantu bahagia mungkin itu yang dirasakan Karin.
"Kamu kamu kamu Sandrina kamu," Pak Amar terbata, sudah tak bisa bergerak ke mana pun karena Karin sudah menutup pintu kamar mandi.
"Mas Amar takut? Aku Karin Mas, simpananmu yang sangat kamu cintai dulu," ucap Karin dengan senyum manis dan langkah yang semakin dekat pada Amar.
"Pergi, pergi, kamu sudah mati, aku sudah tidak cinta kamu!" ucap Amar ketakutan, dia sampai terduduk di closed dan tak mau melihat Sandrina padahal perempuan itu masih polos, kalau tidak ada bayangan Karin, mungkin Amar akan melahap Sandrina kembali.
"Mas Amar ayolah, aku kangen pelukan, Mas. Bahkan aku akan memaafkan Mas yang telah menggugurkan kandunganku, sampai pendarahan!" ujar Karin sembari menyentuh pipi Amar.
"Kamu sudah mati, pergi. Kamu sudah mati, aku tidak butuh kamu lagi, Karin. Jangan ganggu aku! Pergi," ujar Amar mendorong tubuh Sandrina.
Tentu saja Karin tak terima diperlakukan begini, dulu ia dicintai bahkan rela memberikan tubuhnya, sekarang sudah dibunuh masih juga diperlakukan kasar. Oh Karin tak terima, ia langsung menyentuh area sensitif Amar, ia mainkan hingga Amar mengibaskan tangan Sandrina. Tapi tetap saja, kekuatan Karin tak bisa diabaikan. Tangan Amar ditarik dan direbahkan di kasur, meski Amar terus berteriak. Karin tak peduli, ia memancing gairah Amar kembali.
"Ayolah, Mas Amar, dulu kita bisa sedekat ini, aku janji setelah Mas mau memberiku cumbuan aku akan berhenti dan kembali ke alamku," ucap Karin sembari mencium setiap inci tubuh Amar.
Lelaki itu masih ketakutan bahkan memejamkan mata, memaksa otaknya jangan sampai terpancing bahwa yang menggodanya sekarang adalah seorang hantu. Pengaruh tingkah Karin sangat besar, area inti Amar bisa berdiri dan Karin dengan leluasa menguasai tubuh Amar. Ia akan melampiaskan rasa kangen pada Amar hari ini. Tak dibiarkan Amar pergi, sampai cairan Amar pun keluar membasahi rahim Sandrina.
"Ampun Karin, aku minta maaf!" Amar takut kalau dipaksa bermain untuk ketiga kalinya, bisa bahaya tubuhnya, sekarang ia bermain bukan dengan tenaga manusia tapi hantu.
"Percuma Mas Amar minta maaf ke aku, aku sangat mencintai Mas Amar, tapi tidak dengan orang tuaku terutama ibuku. Temui dia, minta maaf ke dia, baru aku akan keluar dari tubuh perempuan ini. Kalau mau hidup Mas Amar tenang maka temuilah ibuku."
"Iya, iya aku akan temui ibumu, tolong jangan ganggu aku lagi!" pinta Amar ketakutan. Karin tertawa, ia menyempatkan memeluk Amar sebentar. Meski takut, Amar tetap saja mengizinkan walau tak ia balas.
"Aku kangen pelukan kamu, tapi sayang dunia kita berbeda! Aku cinta sama kamu, Mas. Cintaku tulus, jadi aku mohon temui ibuku agar aku bisa kembali ke alamku yang sebenarnya!" pinta Karin kembali, dan Amar hanya mengangguk dengan tatapan kosong.
"Besok aku ke orang tua kamu, aku janji!" ucap Amar tak mau memperpanjang, ia sudah ketakutan.
Karin kembali tertawa, "Janji?" tanyanya memastikan.
"Janji!" jawab Amar dengan lidah keluh.
"Kalau Mas Amar tak ke sana besok, aku akan masuk ke istri kamu," ancam Karin.
"Aku tidak akan ingkar janji!" ucapnya lagi, barulah Karin keluar dari tubuh Sandrina, dan tubuh gadis itu langsung limbung ke lantai.
Amar takut, ia hanya melihat Sandrina tersungkur tak berniat mengangkatnya, dirasa Karin pergi, Amar langsung gangi baju dan keluar dari rumah Sandrina, membiarkan perempuan itu begitu saja.
"Maaf ya, kamu harus menjadi tumbalku!" ucap Karin mengelus rambut Sandrina, lalu pergi dari rumah itu.
Sandrina baru bangun keesokan harinya. Kepalanya pusing dan merasa badannya sangat capek tak bertenaga. Ia bingung kenapa tidur di lantai dan lebih kaget lagi tak memakai baju.
"Aku habis dipakai siapa?" tanya Sandrina ketakutan, ia melihat area ranjang tak ada siapa pun. Pintu kamarnya juga terkunci.
Ia pun ke kamar mandi dengan jalan terseok, masih bertanya-tanya dia tidur dengan siapa. Selama mandi, ia terus mengingat. "Apakah Syailendra?" gumamnya karena ingatannya tertuju pada laki-laki itu, terakhir dia berdebat dengan Syailendra bersama Salsa bukan.
"Ah tapi masa' dia, dan aku gak ingat apapun sih. Rugi dong," gumamnya sembari menggosong badannya. "Tunggu," Sandrina baru ingat, ia langsung mengecek area kewanitaannya dan masih ada bekas percintaan.
"Sumpah aku main sama siapa tadi malam? Kok gak pakai pengaman?" Sandrina mulai panik, ia mencuci area kewanitaannya berkali-kali dengan sabun, berharap cairan percintaan tak sampai masuk ke rahimnya.
"Gawat! Kalau sampai hamil bagaimana?" tanyanya bingung.