"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"
Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.
Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.
Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?
Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.
Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Tidur Satu Ranjang
"Mulai malam ini, kita akan tidur satu kamar."
"Uhuk...uhuk..."
Terbatuk kecil, Kanaya sontak menghentikan suapan sup buatan Kalendra. Menepuk dadanya berulang kali, dia menyerobot gelas berisi air putih dan meminum isinya hingga tandas.
Sedikit membaik, perempuan itu menegakkan wajahnya, lantas menatap sang suami horor.
"Jangan bercanda." sekamar berdua dengan Kalendra sama saja menyerahkan diri pada harimau yang tengah kelaparan. Dan Kanaya masih waras untuk menyerahkan diri secara suka rela.
Mengingat bagaimana ganas--- astaga Kanaya! Apa yang baru saja kau pikirkan?!
"Aku belum pernah merasa seme-sum ini." gumam Kanaya lirih agar Kalendra tidak dapat mendengarnya.
Mengabaikan pipinya yang kian memanas, perempuan itu memilih untuk kembali fokus pada sup hangat terenak yang pernah ia makan. Harus Kanaya akui, suaminya yang menjabat sebagai protagonis itu pandai memasak. Sup buatannya sangat enak hingga membuat Kanaya terus menerus menyuapkan makanan berkuah itu masuk ke dalam mulut. Menghangatkan perutnya di cuaca dingin seperti ini.
"Memangnya aku butuh pendapatmu?" seringai Kalendra tampak tak peduli. "Aku hanya memberitahu, bukan meminta pendapat."
"Dan aku berhak menolak." balas Kanaya sengit.
"Ohh, benarkah?" Kalendra terkekeh geli. Menatap wajah sengit Kanaya dengan remeh.
"Aku baru tau jika---" tangan Kalendra terangkat. Jempolnya mengusap sudut bibir sang istri yang terdapat noda kuah. "Peliharaan punya hak untuk menolak perintah tuannya."
"Ck, aku bukan peliharaanmu!" Kanaya hempaskan tangan Kalendra kasar. Matanya semakin menatap nyalang.
"Jika bukan peliharaan, lalu apa?" tantang Kalendra. Bertopang dagu, menunggu jawaban Kanaya dengan sabar.
"Istrimu. Aku istrimu. Jadi berhenti mengatakan jika aku peliharaanmu."
"Tepat sekali." Kalendra menjentikkan jarinya. Menampilkan seringai puas di bibir se-xinya itu.
"Bukankah fitrahnya suami istri itu tidur sekamar?" tanya Kalendra--- ahh, tidak. Itu bukan pertanyaan. Kalendra tengah mengejeknya. Seolah mengatakan, lihat, akulah pemenangnya.
Dan...sialan. Kanaya terjebak. Wajahnya semakin masam. Apalagi melihat seringai menyebalkan milik sang suami.
"Well, kau tidak bisa lagi menolak. Kita akan tidur sekamar. Titik. Tidak ada bantahan."
"Aku.tidak.mau! Terserah apa katamu, aku akan tetap tidur di kamarku!!" seru Kanaya tidak mau kalah.
"Ahh, kamarmu ya? Tadi aku sudah menyuruh orangku untuk mengubahnya menjadi ruangan gym."
Mendengarnya membuat Kanaya naik pitam. Bagaimana bisa Kalendra bersikap semena-mena seperti ini terhadapnya. Sejak jiwanya terjebak di sini, protagonis bernama Kalendra Wijaya ini suka sekali merecokinya. Tidak membiarkan dirinya menghirup nafas dengan tenang.
Akan lebih baik jika Kalendra bersikap seperti yang tertulis di novel. Dingin dan tidak peduli kepada istrinya. Bukan malah menampilkan tampang menyebalkan yang selalu membuat Kanaya kesal.
"Kenapa bisa kau lakukan ini padaku! Kau bahkan tidak bicara terlebih dahulu denganku." protes Kanaya yang hanya dibalas dengan endikan bahu acuh oleh sang suami.
"Ini rumahku. Jadi aku bebas ingin melakukan apa saja di setiap sudut rumah ini. Tidak perlu meminta ijin. Apalagi ijin darimu."
Menggeram kesal, Kanaya mendecakkan lidah. Perempuan itu memilih bangkit. Membawa mangkok kotornya ke dapur. Percuma berdebat dengan Kalendra. Laki-laki itu tidak akan mengalah apalagi jika sudah membawa kekuasaannya.
Mencuci peralatan makannya, tanpa dirasa mata figuran itu memanas. Matanya mengembun. Sial, lagi-lagi perasaan sesak itu kembali datang. Tanpa permisi menerobos masuk ke dalam hatinya.
"Awas saja ya, aku akan membuat dirimu menyesal karena sudah semena-mena kepadaku. Tunggu pembalasanku, Kalendra sialan." maki Kanaya dengan suara yang lirih namun penuh dendam.
.
.
"Mau kemana kau?"
Kanaya berdecak malas. Tidak mengindahkan pertanyaan Kalendra, perempuan itu teguh melangkahkan kakinya menuju sofa kamar Kalendra--- ah, atau sudah menjadi kamarnya juga?
Entahlah, Kanaya tidak mau memikirkannya. Merapikan bantal, perempuan itu naik ke sofa lalu tidur di sana. Merapatkan selimut dan memejamkan matanya.
Ya. Kanaya lebih memilih tidur di sofa daripada harus berbagi ranjang dengan Kalendra. Tidur di ruangan yang sama dengan laki-laki itu saja sudah termasuk ancaman. Apalagi satu ranjang. Kanaya akan benar-benar kehilangan kepera-wanannya.
Tapi kau juga suka sentuhannya kan?
Kanaya sontak membuka matanya lebar-lebar, lantas menggeleng ribut. Apa yang baru saja otaknya pikirkan?! Membasahi bibirnya gugup, figuran itu memilih menyembunyikan seluruh tubuhnya ke dalam selimut.
Saat kembali ingin memejamkan matanya, bayangan ketika Kalendra menci-umnya memenuhi pikirannya. Bagaimana lihainya lidah laki-laki itu membelai titik sensitifnya. Bagaiamana bibir Kalendra merayu, sampai Kanaya tak kuasa untuk---
"Astaga, Kanaya. Kenapa pikiranmu kotor sekali." ringis sang pemilik nama merasa malu sendiri.
Mencoba mengenyahkan bayangan-bayangan itu, Kanaya mencoba untuk terlelap. Meski detik selanjutnya, perempuan itu dibuat memekik kala merasakan tubuhnya terangkat. Hingga beberapa saat setelahnya di lemparkan pada sesuatu yang empuk.
Hah, tanpa membuka selimut yang melilit seluruh tubuhnya, Kanaya sudah tahu siapa pelakunya. Tentu saja si brengsek Kalendra bajingan Wijaya.
Membuka selimutnya kasar, Kanaya layangkan tatapan tajam pada sang suami.
"Kau mau apasih, sebenarnya?" nada perempuan itu terdengar jengah. "Aku sudah tidur satu kamar denganmu. Apalagi sekarang?"
"Satu kamar dan satu ranjang." tekan Kalendra tak kalah tajamnya.
Laki-laki itu menunduk. Mengukung tubuh Kanaya, membuat istrinya itu bergerak mundur hingga punggungnya membentur sandaran ranjang.
"Jangan menguji kesabaranku, Kanaya." bisiknya rendah. Aroma mint dari mulut Kalendra langsung menerpa indra penciuman Kanaya.
Mencoba untuk tetap waras, Kanaya mendorong tubuh tegap Kalendra. "Kau yang jangan menguji kesabaranku." desisnya tajam.
"Apa kau tidak pernah berkaca huh? Di sini kaulah yang selalu bertingkah semaunya." dengus Kanaya sinis.
Kalendra tertawa kecil. Mengapit dagu sang istri menggunakan jemarinya, protagonis itu melayangkan tatapan remehnya.
"Bukankah sejak awal memang seperti ini perjanjiannya?" Kalendra tersenyum miring. "Kau akan menuruti semua keinginanku. Menjadi peliharaan yang baik untukku."
"Perjanjian? Perjanjian apa?"
Lebih mendekatkan wajahnya, laki-laki itu berbisik tepat di telinga Kanaya, membuat perempuan itu menegang seketika.
"Dan sekarang aku ingin meminta hakku. Kau harus menjadi istri yang baik. Melayani segala kebutuhanku."
Menjauhkan wajahnya, bibir Kalendra semakin menyeringai lebar. "Dan tugasmu di mulai dari sekarang. Tidur bersamaku. Di satu kamar, satu ranjang, layaknya suami istri normal."
Kanaya meneguk salivanya susah payah. Apakah sekarang dia akan benar-benar kehilangan kepera-wanannya? Dan astaga, sebenarnya kapan protagonis wanita akan datang.
Kanaya berharap karakter bernama Zana Damara segera muncul. Semakin cepat dia muncul, maka akan semakin bagus. Kanaya yakin, setelah kemunculan Zana, Kalendra tidak akan lagi mengganggunya. Mungkin saja laki-laki itu akan kembali mengacuhkannya dan mulai mengejar cinta sang protagonis wanita. Setelah itu Kanaya akan meminta cerai dan bebas.
Mengigit bibirnya gugup, Kanaya memberanikan diri menatap Kalendra yang ternyata juga tengah menatapnya dalam.
Tahu, apa yang sedang istrinya pikirkan, Kalendra terkekeh geli. "Tenang saja, aku tidak akan meminta itu sekarang."
Kanaya terhenyak. Apakah dia baru saja salah dengar?
"Tapi jika kau memintanya, maka dengan senang hati aku akan memberikanmu kepuasan yang tidak pernah kau bayangkan sebelumya."