NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Awal Pada Diriku

Banyak orang salah mengartikan kecerdasan.

Jika kamu bisa menghafal buku sejarah dalam satu malam, mereka menyebutmu jenius. Jika kamu bisa menyelesaikan kalkulus tanpa mencoret kertas, mereka menyebutmu masa depan bangsa.

Dunia terlalu memuja kemampuan otak untuk menyimpan data, seolah manusia hanyalah hard disk berjalan. Bagiku, itu bukan kecerdasan. Itu hanya kemampuan menyalin yang baik.

Kecerdasan sejati itu adaptif. Kecerdasan adalah ketika kamu dihadapkan pada masalah yang tidak ada di buku paket, tidak ada kunci jawabannya, namun kamu bisa menyelesaikannya dengan apa yang ada di sekitarmu. Kreativitas dan nalar. Sayangnya, di sekolah ini, mata uang itu tidak laku.

Matahari pagi di Pontianak sudah mulai terasa menyengat, meski jam baru menunjukkan pukul 06.30.

Namaku Callen. Lahir 8 Februari 2008.

Aku mengayuh sepedaku dengan tempo santai menyusuri Jalan Ahmad Yani. Di sekitarku, deretan mobil mewah melaju perlahan menuju gerbang yang sama. Kaca-kaca gelap itu menyembunyikan wajah teman-teman sekelasku—para jenius, juara olimpiade, dan anak-anak petinggi yang memegang kendali atas standar sosial di sini.

Sesekali, aku menangkap pantulan wajahku sendiri di spion motor yang lewat. Kulitku tidak terlalu gelap, tapi tidak juga pucat. Hidung yang agak mancung dan mata berwarna biru terang ini adalah warisan dari Ibu, seorang wanita Eropa yang jatuh cinta pada pemuda asli Pontianak—Ayahku. Keduanya kini hidup tenang dan taat beragama di sudut kota ini.

Wajah campuran ini sering kali menarik perhatian orang di jalan, tapi aku lebih suka menunduk atau memalingkan muka. Aku tidak suka menjadi pusat perhatian. Aku lebih suka menjadi pengamat yang hening.

Di sekolah elit seperti SMA Cendekia, aku memilih menjadi bayangan. Diam, tenang, dan tak tersentuh.

Kriet... kriet...

Suara rantai sepedaku memecah lamunan. Sepeda tua ini mungkin terlihat menyedihkan di antara mobil-mobil sport itu, tapi bagiku ini cukup. Lagipula, aku menikmati angin pagi yang menerpa wajah, sesuatu yang tidak mereka dapatkan di balik kabin ber-AC.

Saat mendekati gerbang sekolah yang megah, antrean kendaraan terlihat macet.

Di jalur masuk, sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depan palang otomatis. Seorang siswa senior berseragam rapi dengan pin OSIS keluar dari mobil. Wajahnya terlihat panik, kontras dengan penampilannya yang perlente.

Dia menempelkan kartu aksesnya berkali-kali. Lampu indikator tetap merah. Palang besi itu bergeming.

"Kenapa tidak mau terbuka? Saldonya masih ada!" suaranya meninggi, memecah ketenangan pagi. Dia memukul mesin sensor itu dengan telapak tangan, berharap kekerasan fisik bisa memperbaiki kesalahan digital.

Satpam sekolah berlari menghampiri, namun senior itu terlanjur frustrasi. Dia mulai menyalahkan sistem, menyalahkan kartu, menyalahkan segalanya kecuali dirinya sendiri.

Aku menghentikan sepeda sejenak di pinggir jalur pejalan kaki, menurunkan satu kaki untuk menyeimbangkan diri. Wajahku tetap datar, mataku menatap lurus ke arah gerbang.

Dunia seolah melambat. Suara bising klakson dan teriakan senior itu meredup, tergantikan oleh fokus yang tajam di kepalaku.

Aku tidak melihat mesin yang rusak. Aku melihat struktur.

Mataku menyapu tiang penyangga gerbang itu. Besi hitam kokoh yang terpapar sinar matahari langsung sejak terbit fajar.

Bukan kartunya, analisisku berjalan cepat dalam diam. Bukan juga sistemnya.

Engsel di bagian bawah tiang itu memiliki celah mikroskopis. Panas ekstrem Pontianak pagi ini membuat besi memuai lebih cepat dari biasanya. Tiang sensor itu bergeser, mungkin hanya satu atau dua milimeter ke kiri.

Laser optiknya tidak sejajar, simpulku dalam hati. Sensor penerima tidak mendapatkan sinyal lurus dari pemancar, sehingga sistem mengira ada halangan fisik di bawah palang. Itu mekanisme keamanan standar.

Solusinya sederhana. Tidak perlu teknisi, tidak perlu berteriak.

Cukup hentakkan kaki sedikit keras pada bagian dasar tiang sebelah kanan. Getarannya akan mengembalikan posisi engsel ke tempat semula. Selesai.

Kakiku sempat bergerak sedikit di pedal, insting alamiah untuk memperbaiki sesuatu yang salah. Namun, aku segera menahannya.

Aku melihat senior itu lagi. Dia masih sibuk berdebat dengan satpam, wajahnya merah padam menahan malu dan marah. Jika aku maju sekarang, seorang anak kelas satu dengan sepeda butut, dan memberitahunya cara memperbaiki gerbang elit itu dengan tendangan kaki... itu hanya akan menarik perhatian yang tidak kuinginkan.

Cukup tahu saja.

Aku menghela napas pelan, lalu kembali mengayuh sepeda menuju gerbang kecil khusus pejalan kaki. Wajahku kembali tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Biarlah," gumamku nyaris tak terdengar.

Biarkan mereka menyelesaikan masalah itu dengan cara mereka yang rumit. Aku hanya ingin memarkir sepedaku di bawah pohon mangga di sudut parkiran, masuk ke kelas, dan kembali menjadi murid biasa yang tidak terlihat.

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!