NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Menari dalam Sunyi

BAB 28: Menari dalam Sunyi

Pagi ke-sepuluh sejak dunia Arini menjadi gelap total. Villa di perbukitan itu biasanya riuh dengan suara tawa Rangga yang mencoba menghiburnya, namun pagi ini, Arini meminta waktu untuk menyendiri. Ia duduk di kursi kayu di ruang tengah, tangannya meraba-raba permukaan meja yang kasar. Ia sedang mencoba mengenali setiap tekstur, setiap jarak, dan setiap suara yang ada di sekitarnya.

Baginya, suara detak jam dinding kini terdengar seperti dentuman raksasa. Suara angin yang menggesek daun teh terdengar seperti bisikan rahasia. Kegelapan telah menajamkan indra-indra lainnya, namun hati Arini masih terasa tumpul oleh sisa-sisa kesedihan.

"Rin?" suara lembut Rangga memecah lamunannya.

Arini tersenyum tipis ke arah sumber suara. Ia sudah mulai mahir menebak posisi Rangga hanya dari suara langkah kakinya. "Aku di sini, Ga. Sedang mencoba menghitung berapa langkah dari kursi ini ke dapur."

Rangga mendekat, ia tidak langsung membantu. Ia membiarkan Arini berproses, meskipun hatinya perih melihat istrinya harus meraba-raba udara. "Lalu, sudah dapat hitungannya?"

"Sembilan langkah besar, atau dua belas langkah kecil," jawab Arini bangga. "Tapi tadi aku hampir menabrak kaki meja makan. Sepertinya kamu sedikit menggesernya ya?"

Rangga terkekeh pelan, ia duduk di samping Arini dan menggenggam tangannya. "Maafkan aku, tadi Maya memindahkan meja itu sedikit untuk menaruh berkas. Akan kukembalikan ke posisi semula. Tapi, hari ini aku punya kejutan untukmu."

Rangga menuntun Arini menuju ke sebuah ruangan yang selama ini tertutup rapat. Begitu pintu dibuka, Arini mencium aroma yang sangat familiar: aroma kayu tua dan wangi melati yang segar.

"Apa ini, Ga?" tanya Arini penasaran.

"Ini adalah ruang latihanmu," Rangga menempelkan tangan Arini ke sebuah benda besar yang terbuat dari besi dan plastik. "Ini alat bantu jalan yang sudah dimodifikasi. Dan di sebelah sana, aku sudah memasang lantai dengan tekstur berbeda. Jika kakimu menyentuh bagian yang kasar, artinya kamu mendekati dinding. Jika halus, artinya jalanan aman."

Arini meraba alat-alat itu dengan mata berkaca-kaca. Rangga benar-benar memikirkan segalanya. Pria ini tidak hanya memberikan cinta, tapi ia memberikan kemandirian kembali kepada Arini.

"Aku tidak ingin kamu merasa seperti tawanan di rumahmu sendiri, Rin," bisik Rangga di telinganya. "Aku ingin kamu bisa berjalan ke dapur untuk mengambil minum sendiri. Aku ingin kamu bisa ke teras untuk merasakan matahari tanpa harus menunggu aku pulang dari kantor."

Hari itu diisi dengan latihan yang melelahkan. Rangga berperan sebagai pelatih yang sabar namun tegas. Beberapa kali Arini hampir terjatuh, namun Rangga selalu ada untuk menangkapnya sebelum kulitnya menyentuh lantai.

"Lagi, Rin. Satu langkah lagi. Fokus pada telapak kakimu," instruksi Rangga.

Ibu Sarahwati menonton dari balik pintu dengan perasaan haru yang luar biasa. Ia melihat bagaimana Rangga memperlakukan putrinya bukan sebagai pasien yang malang, melainkan sebagai pejuang yang sedang berlatih untuk menang.

Namun, kedamaian di villa itu terusik oleh sebuah surat resmi yang dibawa oleh Maya di sore hari. Wajah Maya tampak pucat, ia menyerahkan surat itu kepada Rangga saat Arini sedang beristirahat di kamarnya.

"Pak Rangga, ini dari dewan komisaris pusat. Ibu Sarah telah berhasil memberikan kuasa hukumnya kepada pamannya, Pak Hendrawan—adik kandung kakek Anda yang sangat ambisius. Mereka menggugat status pernikahan Anda," lapor Maya dengan suara rendah.

Rangga membaca surat itu dengan dahi berkerut. "Atas dasar apa? Pernikahan kami sah secara agama dan hukum."

"Mereka mengklaim bahwa Anda melakukan 'pernikahan paksa' terhadap seseorang yang tidak memiliki kapasitas mental dan fisik untuk memberikan persetujuan (non compos mentis). Mereka menggunakan rekam medis Arini yang menyatakan dia sedang dalam pengaruh obat dosis tinggi saat ijab kabul dilakukan."

Rangga melempar surat itu ke atas meja dengan geram. "Ini gila! Arini sadar penuh saat itu! Dia yang memintaku untuk menikahinya!"

"Masalahnya, Pak Hendrawan ingin mengambil alih seluruh aset warisan Ayah Anda dengan dalih Anda telah menyalahgunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi—yaitu membiayai pengobatan 'istri ilegal' yang menghabiskan miliaran rupiah setiap bulannya."

Rangga berdiri dan berjalan mondar-mandir. Ia tahu ini bukan sekadar masalah harta. Ini adalah upaya untuk menghancurkan hidupnya secara total. Jika pernikahan itu dibatalkan, Arini akan kehilangan status hukumnya, dan Ibu Sarah bisa kembali menjemput Arini secara paksa untuk dijebloskan ke panti isolasi lagi.

"Siapkan helikopter, Maya. Aku harus ke Jakarta malam ini juga," perintah Rangga. "Tapi jangan sampai Arini tahu. Katakan padanya aku ada urusan bisnis mendesak soal merger perusahaan. Aku tidak ingin dia stres dan kankernya kambuh lagi."

Sebelum berangkat, Rangga masuk ke kamar Arini. Istrinya itu sedang duduk di tepi ranjang, mencoba menyisir rambutnya sendiri dengan cermin yang kini hanya menjadi hiasan tak berguna.

"Rin, aku harus ke Jakarta sebentar," ujar Rangga sambil mengambil sisir dari tangan Arini dan membantu merapikan rambut panjangnya.

Arini terdiam sebentar, lalu ia menoleh ke arah Rangga. Meskipun matanya kosong, ia seolah bisa menembus masuk ke dalam jiwa suaminya. "Ada masalah ya, Ga? Suaramu terdengar... berat."

Rangga tersenyum, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya. "Hanya masalah kantor, Sayang. Beberapa manajer lama mulai berulah karena aku terlalu lama cuti. Aku harus memberikan mereka sedikit pelajaran agar mereka tahu siapa bos yang sebenarnya."

Arini meraba wajah Rangga, menyentuh rahangnya yang kini ditumbuhi jambang tipis. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kamu sudah melakukan terlalu banyak untukku. Kalau perusahaan itu menuntut waktumu, kembalilah ke sana. Aku sudah punya Ibu, dan aku sudah mulai bisa berjalan sendiri di dalam kamar."

Rangga mencium telapak tangan Arini. "Aku akan kembali dalam dua hari. Ibu dan Dokter Bram akan menjagamu. Janji padaku, jangan lewatkan sesi terapimu, oke?"

Malam itu, Rangga tiba di Jakarta. Pemandangan lampu kota yang gemerlap terasa sangat menyesakkan baginya. Ia merasa Jakarta adalah hutan beton yang penuh dengan pemangsa berjas mewah.

Esok paginya, ia melangkah masuk ke ruang rapat utama di Gedung Adiguna Tower. Di sana, sudah duduk Pak Hendrawan dengan senyum sinisnya, dikelilingi oleh para pemegang saham yang tampak ragu-ragu.

"Selamat datang, keponakanku yang tersayang," sapa Hendrawan dengan nada meremehkan. "Bagaimana kabar pengantin barumu? Masih buta dan sekarat, atau sudah ada keajaiban?"

Rangga duduk di kursi pimpinan, meletakkan tas kerjanya dengan suara dentuman yang keras. "Langsung saja ke intinya, Paman. Anda ingin membatalkan pernikahanku karena ingin menguasai dana abadi yayasan, bukan? Anda ingin menggunakan uang pengobatan Arini untuk menutupi kerugian proyek properti Anda di Kalimantan yang gagal total itu."

Wajah Hendrawan berubah merah padam. Para komisaris mulai berbisik-bisik. Rangga telah melakukan serangan balik yang tidak mereka duga.

"Jangan sembarang bicara, Rangga! Kami hanya ingin menyelamatkan marwah keluarga Adiguna! Menikahi wanita rendahan yang bahkan tidak bisa melihat dunia adalah penghinaan bagi leluhur kita!"

Rangga berdiri, ia menatap seluruh orang di ruangan itu dengan tatapan yang sangat tajam. "Rendahan? Wanita yang kalian sebut rendahan itu adalah satu-satunya orang yang mencintaiku saat aku tidak punya apa-apa! Saat aku menjadi buruh gudang dan kalian semua berpaling dariku, dialah yang memberikan napasnya untukku!"

"Kami punya bukti medis!" teriak Hendrawan.

"Dan aku punya bukti cinta!" balas Rangga. "Dan lebih dari itu, aku punya bukti audit forensik tentang penggelapan yang Anda lakukan selama sepuluh tahun terakhir, Paman. Jika Anda berani mengajukan gugatan pembatalan nikah itu ke pengadilan, aku pastikan Anda akan menemani Ibuku di sel penjara yang sama besok pagi."

Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Hendrawan tertegun, ia tidak menyangka Rangga sudah menyiapkan "bom" sebesar itu. Rangga telah belajar dari kesalahan masa lalunya; ia tidak lagi menggunakan emosi, melainkan menggunakan data dan strategi yang mematikan.

Setelah rapat yang menegangkan itu, Rangga kembali ke kantor pribadinya. Ia merasa sangat lelah. Namun, sebuah telepon dari villa membuatnya langsung terjaga.

"Pak Rangga! Ini Dokter Bram! Cepat kembali ke sini!" suara Dokter Bram terdengar sangat panik.

"Ada apa, Dok? Arini?"

"Nona Arini... dia pingsan saat sedang latihan jalan. Dan yang lebih mengkhawatirkan, dari telinganya keluar darah. Sepertinya kankernya sudah mulai menekan bagian saraf yang lebih dalam. Kita harus membawanya ke rumah sakit besar di Jakarta sekarang juga!"

Dunia Rangga seolah runtuh untuk kesekian kalinya. Kemenangan bisnis yang baru saja ia raih terasa sampah jika dibandingkan dengan nyawa Arini. Tanpa membuang waktu, ia berlari menuju helikopter.

"Tunggu aku, Rin! Jangan menyerah sekarang! Aku sudah memenangkan perang untuk kita!" raung Rangga di dalam hati sambil memacu langkahnya.

Sepanjang perjalanan di udara, Rangga terus berdoa. Ia menyadari bahwa kekayaan dan kekuasaan memang bisa membungkam musuh, tapi tidak bisa membungkam maut. Ia teringat janji Arini untuk terus bernapas.

"Kamu berjanji, Rin... kamu berjanji tidak akan meninggalkanku dalam kegelapan sendirian," bisik Rangga sambil menatap awan hitam yang menyelimuti langit Jawa.

Babak baru yang lebih mengerikan telah menanti. Arini kini tidak hanya buta, tapi ia kembali berada di ambang maut yang lebih nyata. Dan Rangga, dengan segala hartanya, harus sekali lagi memohon pada Tuhan untuk satu hari lagi bersama wanitanya.

1
falea sezi
ya uda end aja
falea sezi
lanjut
falea sezi
berasa baca trailer
falea sezi
astaga/Sob//Sob//Scowl//Scowl/ Thor g da apa keajaiban misal arini pindah jiwa ke tubuh lain
falea sezi
nyesek baca kisah ini beri keajaiban donk thor/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!