Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Astra tidak berhenti.
Langkah kakinya yang tenang dan pasti terus membawanya masuk ke dalam gang. Kantung plastik di tangannya berayun pelan, seolah dia hanya sedang berjalan-jalan santai di taman, bukan melewati sekelompok pemuda yang matanya sudah memerah karena alkohol.
"Wih, ada bidadari nyasar, Bro!" seru salah satu pemuda yang duduk di atas motor, suaranya serak dan sedikit cadel. Ia menyenggol temannya, lalu bersiul panjang, siulan yang terdengar kurang ajar dan mengganggu.
Astra tidak menoleh. Dia hanya terus berjalan, matanya lurus ke depan, ke arah pintu kostannya yang hanya tinggal beberapa meter lagi.
Pemuda yang bersiul itu, yang bernama Jaka, merasa harga dirinya tersentuh. Biasanya, setiap gadis yang lewat akan menunduk malu atau mempercepat langkah. Gadis ini? Bahkan tidak melirik.
"Hei, Neng! Mau ke mana buru-buru? Sini gabung dulu, kita kenalan," Jaka berdiri, tubuhnya yang besar sedikit terhuyung, dan ia melangkah maju, berniat menghalangi jalan Astra.
"Hei! Kalo masih mau nongkrong di warung sini jangan ganggu anak kost saya!" Ucap Pak Manto garang, Bapak pemilik kost-kostan dengan kumis tebal dan perut agak sedikit buncit menatap garang pada sekumpulan pemuda itu. Terutama pada Jaka.
"Eh, maaf pak. Temen saya udah mabuk nih," ucap pemuda yang penampilan lebih sopan dan rapi dan lebih ganteng dari yang lainnya.
Pak Manto masih memantau, "anak kost saya yang satu ini emang cantik sih saya juga paham,"
"Kalian kan keliatan nya satu sekolah, tolong jagain ya. Emak nya di desa nitipin dia ke saya, tapi saya gak bisa selalu jaga."
Pemuda yang memapah Jaka ke tempat semula itu tersenyum, "bisa aja pak, tapi ada bayaran nya gak?"
Senyum tipis Pak Manto langsung turun, "mau minta gratisan? Gak usah!"
"Bapak udah baik sama kalian beberapa tahun ini, tapi---"
"Iya, iya, iya pak. Bercanda doang"
Astra, di dalam kamar kostannya yang sederhana, meletakkan kantung plastik, tas dan topi hitam nya. Beruntung meskipun kamar kostan ini kecil, namun ada kamar mandi pribadi nya, jadi Astra bisa langsung mandi setelah pulang sekolah ini.
Sore hari, sekitar jam 5 sore.
Astra melihat keluar dari kaca jendelanya, setelah memastikan dia pun keluar menuju warung kecil Pak Manto.
"Pak, gorengan nya 10 ribu"
"Siap"
"Pak, mau tanya."
"Tanya apa neng, sok tanyain aja."
"Yang tadi mereka itu, emang selalu setiap hari kesini?"
"Mereka yang tadi?" Pak Manto berpikir sejenak, " Oh, geng nya si Jaka? Iya Neng, mereka pulang sekolah kadang suka nongkrong di sini, malem juga kadang suka. Tapi lebih rame kalo malam Minggu mereka kesini." Ucap Pak Manto dengan ramah.
"Gak usah khawatir Neng, mereka baik kok. Kalo nakal ke Eneng, laporin aja sama saya. Nanti saya kasih pelajaran tuh anak."
Astra tersenyum dan mengangguk, lalu setelah membayar dan menerima gorengan dia pun pergi.
Malam harinya.
"Kayaknya besok harus beli kompor sama wajan deh..." Astra membuka nasi dan lauknya, memang sudah dingin namun masih enak.
Memang, pindah nya dia ke kontrakan ini hanya membawa pakaian dan alat belajar saja. Untung dari kostan nya sudah menyediakan kasur dan lemari, jika tidak mungkin dia harus tidur di lantai.
Saat sedang makan, Astra mendengar suara beberapa kendaraan motor yang berhenti. Dia pikir mungkin itu orang-orang tadi, bagus juga, setidaknya kost-kostan ini tidak terasa sepi dan menyeramkan.
Sebelum jam pukul 9 malam, Astra belajar membuka-buka buku catatan dan LKPD. Setelah jam 9 malam, Astra pun tidur.
Keesokan harinya.
Setelah merasa jarak antara kostan dan sekolah nya tidak terlalu jauh, maka Astra pun memilih untuk berjalan kaki.
"Eh, Neng. Mau berangkat sekolah sekarang?" Tanya pak Manto.
Dengan senyum tipis Astra mengangguk.
"Jalan kaki?" Dan sekali lagi Astra mengangguk.
"Ikut si Fino aja neng," Pak Manto melihat ke arah Fino, laki-laki yang masuk dalam geng nya si Jaka itu sedang duduk sambil menikmati gorengan dan lontong. "Boleh kan?"
Fino mengangguk, "boleh"
"Tuh Neng, daripada jalan kaki. Mending sama si Fino" ucap pak Manto.
Astra menggeleng, dengan senyum tipis menolak. Lalu segera berjalan menuju gang. Setelah keluar dari gang, maka yang terlihat adalah jalan raya.
Masih di mulut gang, Astra mendengar suara motor di belakang nya. Astra melangkah ke pinggir, lalu melihat laki-laki tadi-- Fino di atas motor besar dengan helm full face nya.
"Ayo bareng." Ucap Fino, suaranya terdengar ramah.
Astra menggeleng dan menjawab dengan sopan. "Gue jalan kaki aja." Tanpa melanjutkan pembicaraan, Astra sudah berjalan.
Fino menaikan alisnya, lalu pandangan nya melihat ke belakang. Terlihat pak Manto dengan gerakan menunjuk ke kanan atas, seperti mengatakan 'kejar!'
Fino menghela nafas.
"Naik!" Motor Fino berhenti di depan Astra, menghalangi jalan nya.
Kening gadis itu mengerut. "Gue uda--"
"Pak Manto yang maksa," ucap Fino. "Lo jangan nolak niat baik orang tua deh, hargain kek Kali-kali!"
Astra. "...."
***
Like dan Komentar sebanyak-banyaknya ~
Oh ya, Vote nya yuk! Sekarang hari Senin! Sama Rating nya jangan lupa~
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶