Jodoh dicari ✖️
Jodoh dijebak ✔️
Demi membatalkan perjodohan yang diatur Ayahnya, Ivy menjebak laki-laki di sebuah club malam untuk tidur dengannya. Apapun caranya, meski bagi orang lain di luar nalar, tetap ia lakukan karena tak ingin seperti kakaknya, yang menjadi korban perjodohan dan sekarang mengalami KDRT.
Saat acara penentuan tanggal pernikahan, dia letakkan testpack garis dua di atas meja yang langsung membuat semua orang syok. ivy berhasil membatalkan pernikahan tersebut sekaligus membuat Ayahnya malu. Namun rencana yang ia fikir berhasil tersebut, ternyata tak seratus persen berhasil, ia dipaksa menikah dengan ayah janin dalam kandungan yang ternyata anak konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Ivy menggeleng cepat, sumpah demi apapun, gak rela posisi ibunya digantikan oleh Inara. "Papa sadar gak sih, dengan apa yang baru Papa ucapkan?"
"Ya sadarlah, lo kira pingsan," Inara beranjak dari duduknya, mendekati Agung. Wanita berpakaian seksi tersebut, langsung memeluk lengan Agung. Menatap Ivy sambil tersenyum jumawa, ingin menunjukkan jika sekarang, ia lah yang paling berkuasa atas Agung.
"Heh, gue gak nanya elo, gue nanya bokap gue," salak Ivy. "Pah," ia kembali menatap Agung. "Dia cuma mainan Papa kan? Papa akan buang dia setelah bosankan, seperti yang dulu-dulu," menatap kedua mata Papanya.
"Papa akan menikah dengan Inara minggu depan," ujar Agung yakin.
"Enggak!" tolak Ivy lantang. Kedua telapak tangannya terkepal kuat, dadanya bergemuruh hebat, menatap Inara dengan mata menyala-nyala. "Ivy gak setuju."
"Heh, kita nikah gak butuh restu lo, jadi mau lo setuju atau enggak, gak ada urusan," ujar Inara. "Lagian semua berkas udah lengkap di KUA, udah didaftarin."
"Apa!" Mendengar mereka akan menikah secara resmi, Ivy makin syok lagi. Ia tahu betul, Inara hanya mengincar harta Papanya, tapi semoga saja memang hanya itu, tak ada niatan lainnya. Semoga saja, ia tak menginginkan status sebagai ibu tirinya, agar bisa mudah masuk di keluarga Yasa. Enggak, semoga saja ini hanya pikiran buruknya. "Nikah resmi, Pah?" menatap Agung tak percaya.
"Ya iyalah," Inara yang menjawab. "Ya kali gue mau cuma dinikahi siri. Cuma perempuan bego yang mau dinikahi siri, yang ada nanti anak gue gak jelas statusnya."
"Lo hamil?"
"Kenapa, lo pengen adek?" Inara tertawa cekikikan. "Tenang, OTW gue bikinin."
Telapak tangan Ivy terkepal kuat, pengen rasanya nampol mulut Inara biar gak bisa ketawa lagi.
"Dulu kamu ngomel-ngomel kalau Papa gonta-ganti perempuan. Sekarang Papa mau nikah, gak mau ganti-ganti lagi, harusnya kamu seneng dong," ujar Agung.
"Ivy gak masalah kalau Papa mau nikah, tapi gak dia juga calonnya Pah!" berteriak sambil menunjuk muka Inara.
"Heh!" Inara menepis tangan Ivy. "Yang sopan, gue calon nyokap tiri lo," ia mendelik tajam.
"Najis!"
"Ivy!" bentak Agung. "Benar kata Inara, kamu harus jaga sopan santun, dia calon Mama kamu."
"Sampai mati pun, gak akan mau Ivy punya Mama kayak dia."
"Sudahlah, kamu jangan ikut campur urusan Papa," Agung mendengus kesal.
"Ivy juga sebenarnya ogah ikut campur Pah, tapi masalahnya, jalanggg ini gak cinta sama Papa, dia gak tulus, dia cuma pengen duitnya Papa."
"Heh, gak usah fitnah lo!" bentak Inara.
Ivy membuang nafas kasar. Hidup lagi capek-capeknya, eh... malah mau punya ibu tiri. Gak kaleng-kaleng pula speknya, spek ja lang. Sudahlah, ngomong juga cuma buang-buang energi saja, mending ia pergi, istirahat. Takutnya lama-lama berhadapan dengan Inara, tekanan darahnya naik. Jangan sampai dia stroke di usia muda gara-gara ja lang mau naik kelas. Tanpa pamit, ia langsung ngeloyor pergi.
"Vy, Papa masih belum selesai ngomong," panggil Agung. "Pak RT bilang, kamu minta surat pengantar nikah. Artinya hasil tes DNA sudah keluar. Kalian sudah bahas mahar belum? Awas kalau maharnya dikit. Papa udah besarin kamu pakai uang banyak, enak aja mereka cuma mau ngasih mahar dikit."
"Gak usah khawatir, Ivy minta 1 ton emas. Puas, Papa?" sahutnya tanpa menoleh, terus berjalan menaiki anak tangga.
"Papa serius ini, kamu minta mahar berapa?"
"1 ton emas!" teriak Ivy.
Agung mendengus kesal, marah Ivy tak mau menjawab pertanyaannya.
"Udahlah Sayang," Inara mengusap lengan Agung. "Gak usah mikirin maharnya Ivy, mahar untukku, udah siap semuakan?"
"Sedang diurus sama Galang, gak usah khawatir," Agung merangkul bahu Inara, lalu mengecup keningnya. "Ke kamar yuk," ia memberi kode.
"Ish, dasar kamu, gak ada puasnya, minta terus," Inara mencubit manja perut Agung yang jauh dari kata sixpack. "Ingat, apartemen harus atas namaku, mobil juga. Aku gak mau kalau apartemen masih atas nama kamu."
"Ia, udah proses balik nama. Kamu tenang aja."
Inara tersenyum puas.
Di kamar, Ivy ngamuk-ngamuk, bantal dan guling yang tidak bersalah, jadi pelampiasan kekesalannya. Setelah puas menendang dan melempar bantal guling, ia mengambil ponsel di dalam tas, menghubungi Ivana. Pnggilan pertama tak dijawab, namun ia kembali menelepon hingga akhirnya dijawab.
"Ada apa, Vy?" tanya Ivana, alih-alih seperti orang bangun tidur, suaranya malah seperti orang habis nangis.
"Lo kenapa, Kak?"
"Gak ada apa-apa. Kenapa malam-malam telepon?"
"Kak, lo habis dihajar Wahyu?"
"Enggak."
"Wahyu bawa perempuan ke rumah?"
"Enggak Ivy, Kakak baik-baik saja."
Ya Allah, Ivy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah jelas suaranya mirip orang habis nangis, masih bisa bilang baik-baik saja. Gini sekali keluarganya, sampai tak sadar, ia menitikkan air mata.
"Vy, ada apa telepon malam-malam?"
"Apa Kakak udah tahu, Papa mau nikah sama Inara?"
Terdengar helaan nafas berat Ivana, "Iya, sudah tahu. Minggu depankan?"
"Mereka nikah resmi, tahu gak?"
"Katanya sih gitu. Percuma kita nolak, ngomong sampe berbusa kayak yang viral itu, Papa gak bakal dengar. Udahlah, terserah Papa. Gimana hasil tes DNA, udah keluar?"
"Hem, bulan depan Ivy dan Yasa nikah."
"Alhamdulillah. Semoga Yasa adalah laki-laki yang baik ya, Vy," suara Ivana terdengar bergetar. "Cukup Kakak aja yang gak bahagia, kamu harus bahagia."
Ivy menggeleng meski mustahil Ivana melihat, dadanya sesak. "Lo juga harus bahagia, Kak."
Tak terdengar suara Ivana, namun Ivy bisa mendengar isakannya.
"Kayak gini, lo masih bilang baik-baik saja?" Ivy tersenyum sekaligus nangis. "Yasa baik, tapi justru itu yang membuat Ivy merasa malu dan bersalah."
"Jangan mikir seperti itu, kamu juga anak baik. Orang baik, akan berjodoh dengan orang baik juga. Kalian sama-sama baik."
"Elo. Elo orang baik, kenapa jodoh lo mirip setan?"
"Vy!"
"Dia bukan jodoh lo, sementara aja. Cerai Kak, please! Lo berhak dapat laki-laki yang lebih baik daripada Wahyu."
"Udahlah, fokus aja ke rencana pernikahan kamu. Gak usah mikirin Kakak atau Papa, semua udah dewasa. Fokus pada kebahagiaan kamu. Keluarganya gimana?"
Ivy membuang nafas berat, "Bokapnya galak, gue kayak mau ditelen hidup-hidup tahu gak. Kalau berhadapan sama bokapnya, gue langsung sesek, mau ngambil nafas aja takut."
Terdengar suara tawa Ivana. "Jadi penasaran, segalak apa? Mamanya?"
"Galak juga sih, judes. Tapi masih mendingan dikit, daripada bokapnya. Auranya horor, kayak mafia."
"Ada-ada aja kamu."
"Nanti setelah nikah, gue mau ajak Yasa ngontrak aja. Bisa beneran mati gara-gara gak nafas gue nanti kalau tinggal disana," Ivy membayangkan sampai bergidik ngeri.
mereka yg g tau diri mau memanfaatkan anaknya malah ngatain yasa harus tau diri....kasian bgt yasa klo sampe denger dikatain mokondo