"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 8
Pagi berikutnya, Yuki bangun dengan senyum yang tidak mau hilang. Dia melihat pesan terakhir dari Kinta yang tertulis "cintaku" dan pipinya langsung memerah. Dia cepat-cepat bersiap, mengenakan baju biru muda yang sama dengan hari sebelumnya, dan membikin kue keju yang dia harap Kinta suka.
"Aduh, adik kecilku ini udah kayak istri yang bikin makanan untuk suaminya." ucap Ayase sambil melihat Yuki sibuk memasang kue ke dalam kotak. Yuki langsung memukul bahu Ayase dengan lembut.
"Kakak jangan omong aneh! Ini cuma camilan buat kinta aja!" teriaknya, tapi pipinya makin merah. Ayase ketawa terbahak-bahak.
"Ya, ya. Tapi lihat wajahmu yang merah kayak udang rebus ini dong!" Yuki langsung menyembunyikan wajahnya di balik kotak kue.
Di persimpangan jalan, Kinta sudah menunggu dengan bungkusan yang besar. Saat Yuki datang, dia membukanya dan menampilkan berbagai camilan: roti bakar, kacang rebus, bahkan es krim yang dia bawa di dalam kotak pendingin.
"Lihat ini! Aku bikin banyak buat kamu! Karena kemarin kamu suka roti bakarku, jadi hari ini aku bikin lebih banyak — dan tambah es krim buat hari yang panas ini!" ucap Kinta dengan bangga. Yuki melihatnya dan ketawa.
"Kinta, ini masih pagi! Gimana mau makan semua ini?" tanya dia. Kinta tersenyum lebar.
"Gak papa, kita bisa makan sedikit demi sedikit seharian! Kalau ada sisa, bagi sama teman-teman kita juga deh." Mereka mulai makan sambil bercanda Kinta malah salah makan es krim ke hidung, bikin Yuki ketawa terbahak-bahak.
"Kinta, hidungmu ada es krim loh! Kayak kucing yang main es!" ucap Yuki sambil menunjuk ke hidung Kinta. Kinta kaget dan langsung mengusapnya, tapi malah bikin es krimnya menyebar ke pipinya. Yuki mengambil sapu tangan dari tasnya dan mengusap pipinya perlahan.
"Ini ya, hati-hati ya," katanya dengan senyum. Kinta melihatnya dan merasa hati nya berdebar Yuki terlihat begitu cantik saat tersenyum dia.
Saat memasuki kelas, mereka melihat guru kelas sedang berdiri di depan dengan senyum lebar. "Murid-murid, hari ini kita akan ada kegiatan kelas: lomba masak bersama di aula sekolah! Setiap pasangan akan membuat hidangan favoritnya, dan pemenangnya akan dapet hadiah menarik!" ucap guru. Semua siswa bersorak senang, termasuk Yuki dan Kinta.
"Yuki, mau kita jadi pasangan gak?" tanya Kinta dengan harapan. Yuki langsung menyetujui. "Baik deh! Kita bikin apa ya?"
"Kita bikin nasi goreng spesial aja! Kamu bisa bikin bumbu, aku bisa masak nasi!" ajak Yuki. Kinta mengangguk dengan senang.
Semua orang pergi ke tempat yang sudah disiapkan.
Saat kegiatan dimulai, aula sekolah penuh dengan kebingungan dan tawa. Beberapa pasangan salah campur bumbu satu pasangan malah nambah gula ke bumbu nasi goreng, bikin semuanya ketawa. Yuki dan Kinta bekerja sama dengan baik: Yuki mencampur bumbu dengan sabar, sedangkan kinta memasak nasi dengan hati-hati.
"Tunggu, kinta, ini bumbu nya udah cukup gak ya?" tanya yuki. kinta cicipi sedikit dan mengangguk. "Cukup deh! Sekarang kita campur aja!" Mereka mulai mencampur nasi dengan bumbu, dan aroma yang harum langsung tercium.
Tiba-tiba, yuki secara tidak sengaja menyentuh tangan kinta yang sedang memutar wajan. Mereka saling melihat, dan pipinya keduanya langsung memerah. "Maaf ya, kinta, aku tidak sengaja," ucap yuki dengan malu. kinta tersenyum. "Tidak apa-apa, yuki." Mereka melanjutkan memasak, tapi tangan mereka sering saling menyentuh, bikin hati keduanya berdebar kencang.
Setelah semua pasangan selesai, guru dan beberapa guru tamu memeriksa hidangan masing-masing. Saat sampai ke meja Yuki dan Kinta, guru mencicipi nasi goreng mereka dan mata nya bersinar.
"Wah, ini enak banget! Bumbu nya pas, nasi nya juga tidak terlalu kering. Bagus banget!" puji guru. Semua siswa mengagumi, dan Yuki serta Kinta merasa bangga. Setelah semua hidangan diperiksa, guru mengumumkan pemenangnya.
"Dan pemenang lomba masak hari ini adalah... pasangan Yuki dan Kinta!" ucap guru. Semua siswa bersorak senang, dan Kinta langsung memeluk Yuki dengan senang. "Kita menang, Yuki! Kita menang!" teriaknya. Yuki juga senang dan memeluknya kembali.
Hadiah yang mereka dapat adalah sepasang boneka beruang yang sama dan voucher makan di restoran enak. Kinta memberikan salah satu boneka ke Yuki. "Ini buat kamu. Jadi kalo aku tidak ada di sampingmu, boneka ini bisa menggantikan aku," ucapnya dengan senyum. Yuki mengambil boneka itu dengan hati-hati. "Terima kasih, Kinta. Aku akan selalu bawa dia kemana-mana."
Sore hari, setelah kegiatan selesai, Kinta mengajak Yuki ke restoran yang ada di voucher hadiah mereka. Restoran itu indah, dengan lampu-lampu kecil yang menyala lembut. Mereka duduk di meja yang dekat jendela, melihat pemandangan luar yang indah.
"Makan apa aja ya, Yuki? Semua makanan di sini terlihat enak," ucap Kinta. Yuki melihat menu dan berpikir. "Aku mau makan steak aja, Kinta. Kamu mau apa?"
"Aku juga steak sama kayak kamu deh! Biar seru," jawab Kinta. Saat makanan datang, mereka mulai makan sambil bercanda. Kinta malah salah makan steak ke baju, bikin Yuki ketawa.
"Kinta, kamu tuh kayaknya butuh pengawas buat makan ya? Semua makanan malah ke baju!" ucap Yuki sambil mengambil sapu tangan. Dia mengusap baju Kinta dengan perlahan, dan Kinta merasa hangat di dada.
"Yuki, kamu itu orang yang paling baik yang pernah aku temui," ucap Kinta dengan suara pelan. Yuki menoleh padanya, mata nya penuh kasih sayang. "Kamu juga, Kinta. Kamu membuat hari-hariku jadi lebih cerah."
Saat mereka selesai makan, Kinta mengambil selembar kertas dari tasnya dan memberikannya ke Yuki. Dia membukanya dan melihat tulisan rapi Kinta:
"Yuki, hari ini adalah hari yang paling senang dalam hidupku. Bisa menang lomba sama kamu, makan di restoran indah, dan bisa melihat senyum mu yang cantik. Aku cinta kamu, Yuki. Bisa kamu jadi pacarku?"
Yuki terdiam sebentar, rasa senang dan tangis bercampur. Dia melihat mata Kinta yang jujur dan mengangguk dengan cepat. "Ya, Kinta! Aku mau jadi pacarmu!" teriaknya dengan senang. Kinta langsung mengambil tangan Yuki dan mencium tangannya dengan lembut. Yuki pipinya memerah, tapi dia merasa sangat senang.
Saat pulang, mereka berjalan bersama dengan tangan saling terjalin. Ayase sudah menunggu di teras rumah, dan dia melihat keduanya datang dengan senyum lebar. "Wah, ada apa ya hari ini? Wajah kalian sama-sama cerah banget!" ucap Ayase.
"Kakak, kita menang lomba masak di sekolah! Dan... dan Kinta sudah jadi pacarku!" ucap Yuki dengan senang. Ayase terkejut sebentar, kemudian ketawa. "Wah, cepat banget ya? Tapi gapapa, yang penting kamu senang." Dia mendekati Kinta dan menepuk bahunya. "Jangan aneh aneh ya sama adikku, Kinta. Kalau kamu menyakitinya, aku yang tanggung jawab!" ucap Ayase dengan nada lucu. Kinta mengangguk dengan cepat. "Tentu, kakak. Aku akan selalu merawat Yuki dengan baik."
Malam hari, Yuki duduk di kamar nya, melihat boneka beruang yang diberikan Kinta dan kertas dengan tulisan nya. Dia mengambil hp nya dan mengirim pesan ke Kinta:
"Kinta, hari ini aku senang banget. Terima kasih sudah mengajak aku jadi pacarmu. Besok kita masih berangkat bersama ya, dan aku akan bikin kue yang lebih enak!"
Pesan Kinta kembali cepat:
"Aku juga senang banget, cintaku! Besok aku tunggu di tempat biasa. Selamat tidur, sayangku. Mimpi indah ya :)"
Yuki tersenyum dan menyimpan hp nya. Ayase masuk ke kamar nya dan tiduran di sampingnya. "Kamu senang banget ya hari ini?" tanya Ayase. Yuki mengangguk. "Ya, kakak. Aku merasa sangat bahagia." Mereka tidur berdampingan, dengan hati yang penuh damai dan harapan untuk hari esok yang lebih cerah.
[ayase tidur di kamar Yuki karena lampu kamarnya mati]