NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perdebatan dengan Satpam

“Semua tergantung pilihan kamu, Maira. Kalau kamu masih ingin ketemu papa kamu, maka ikuti semua perintah mama. Karena mama orangnya tidak punya rasa sabar!” ancam Sarah dengan nada dingin yang membuat dada Maira terasa sesak.

Maira menelan ludah. Tangannya mengepal, matanya berkaca-kaca. Ancaman itu bukan hal baru, tapi tetap saja selalu berhasil melumpuhkan keberaniannya.

“Baiklah,” ucapnya lirih, nyaris tak bersuara.

 “Kalau itu memang keinginan mama, aku akan menuruti permintaan mama. Tolong jangan apa-apakan papa. Dia sudah cukup menderita.”

Sarah tersenyum tipis di depan maira sambil menyeruput jusnya.Senyum kemenangan yang membuat Maira semakin merasa kecil.

“Kalau begitu kamu bersiap-siaplah. Nanti mama akan Sherlock lokasi Pak Vincent,” kata Sarah santai, seolah yang ia bicarakan bukan soal hidup orang lain.

“Dan satu lagi,” lanjutnya.

“Dandan yang cantik. Kamu harus wangi. Biar Pak Vincent klepek-klepek sama kamu.”

Sarah kemudian fokus pada ponselnya sementara Maira terdiam beberapa detik, lalu menghembuskan napas panjang. Air matanya akhirnya jatuh juga, membasahi pipi. Namun kali ini ia tak punya waktu untuk berlarut-larut.

Dengan langkah gontai, Maira keluar dari tempat penjual jus tersebut dan menghentikan sebuah taksi yang terparkir tak jauh dari halaman rumah sakit.

“Kita mau ke mana, Mbak?” tanya sopir taksi setelah Maira duduk di kursi belakang.

“Kita ke Hotel Aryaduta,” jawab Maira dengan wajah serius, meski dadanya berdegup tak karuan.

Namun di sepanjang perjalanan, pikirannya justru berkelana ke arah lain. Ia tidak benar-benar berniat menemui Pak Vincent. Ia teringat ucapan Mami Rose. Satu-satunya orang yang bisa menolong dirinya dan papanya hanyalah Hazel. Jika ia bisa meminta bantuan Hazel, maka ancaman mamanya tidak akan lagi punya kekuatan.

Sesampainya di Hotel Aryaduta, Maira bergegas masuk ke dalam lobi. Matanya menyapu ruangan dengan gugup sebelum melangkah ke meja resepsionis.

“Permisi, saya bisa bertemu dengan Pak Hazel Dinata?” tanya Maira sopan.

Resepsionis itu menatap layar komputernya sebentar sebelum kembali menatap Maira.

“Sebelumnya, Mbak sudah punya janji?”

“Belum sih, cuma…” Maira menggantungkan ucapannya, berharap masih ada celah.

“Kalau begitu maaf, Mbak. Kami tidak bisa membantu. Lagipula Pak Hazel juga sedang tidak berada di sini. Biasanya di jam segini beliau ada di kantor pusat,” jelas resepsionis itu ramah tapi tegas.

“Oh, begitu…” Maira tak bisa menyembunyikan raut kecewanya.

Namun ia belum mau menyerah. “Tapi saya boleh minta alamat kantornya, tidak?”

Resepsionis itu tampak ragu sesaat, lalu mengangguk.

“Baiklah, Mbak.”

Ia menuliskan alamat tersebut di secarik kertas dan menyerahkannya pada Maira.

“Terima kasih,” ucap Maira tulus sebelum bergegas keluar dari hotel.

Beberapa saat kemudian, Maira berdiri terpaku di depan sebuah gedung menjulang tinggi. Bangunan megah itu membuatnya mendongak. Dadanya kembali terasa sesak. Kini ia benar-benar yakin Hazel bukanlah orang sembarangan.

Dengan napas sedikit terengah, Maira masuk ke dalam lobi perusahaan. Suasana ramai membuatnya semakin gugup. Orang-orang berlalu lalang dengan setelan rapi, sementara dirinya hanya mengenakan hoodie dan celana jeans.

Belum sempat ia melangkah jauh, seorang satpam menghampirinya.

“Mau bertemu siapa, Mbak?” tanya satpam itu sambil menatap Maira dari atas ke bawah.

“Saya mau bertemu Pak Hazel,” jawab Maira tegas.

Satpam itu malah terkekeh.

“Mbak sudah buat janji belum dengan beliau?”

Maira menggeleng.

“Tidak sembarangan orang bisa bertemu beliau. Apalagi kamu,” ucap satpam itu dengan nada merendahkan.

Maira langsung tersulut.

“Memangnya kenapa dengan saya?”

Ia melangkah lebih dekat.

“Emangnya orang macam apa Pak Hazel itu? Dia makan nasi, kan? Sama kayak saya, kan? Terus kenapa nada bicara Anda harus begitu ke saya?”

Beberapa orang mulai melirik. Maira semakin emosi.

“Kecuali Pak Hazel makan besi, baru saya tidak usah ketemu dia!”

Suasana lobi mendadak riuh. Beberapa orang bahkan terlihat mengangkat ponsel, merekam kejadian itu.

“Dasar cewek sinting!” umpatan satpam itu keluar begitu saja.

“Iya, saya sinting!” balas Maira lantang.

“Masalah buat kamu? Cuma satpam doang, tapi belagu!”

“Ada apa ini?”

Suara berat itu membuat suasana mendadak senyap. Semua yang ada di lobi langsung menunduk. Satpam yang tadi galak pun tampak pucat.

“Ada apa ini?” ulang suara itu.

“Ini, Pak. Ada cewek gila yang katanya mau ketemu Anda dan bilang kenal sama Anda,” lapor satpam itu cepat.

Hazel menatap Maira lekat-lekat. Alisnya terangkat sedikit.

 “Maira?”

Maira langsung tersenyum sumringah. “Iya, saya,” jawabnya ringan.

Ia melirik satpam itu sekilas. “Gimana?” ejeknya pelan.

Hazel menghela napas, lalu menatap satpam itu tajam sebelum kembali ke Maira.

“Ayo, ke ruangan saya.”

Maira mengangguk cepat dan mengikuti langkah Hazel dari belakang. Namun sebelum masuk ke lift, ia sempat menoleh ke arah satpam itu dan dengan wajah puas mengacungkan jari tengahnya.

***

“Masuklah,” ucap Hazel sambil membuka pintu ruangannya lebih lebar, memberi jalan pada Maira.

Maira melangkah masuk, matanya sempat berkeliling sebentar sebelum akhirnya duduk di sofa yang tersedia. Tak lama kemudian, Hazel ikut duduk di kursi di depannya, posisinya tenang namun sorot matanya penuh selidik.

“Ada keperluan apa kamu mencari saya?” tanya Hazel langsung ke inti, tanpa basa-basi.

Maira menyandarkan punggungnya.

“Anda tidak mau nawarin saya minum, gitu?” katanya santai.

“Sumpah, tenggorokan saya kering banget gara-gara debat sama satpam belagu tadi.”

Hazel menghela napas kecil, lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke sudut ruangan tempat alat penyeduh teh dan kopi berada. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan secangkir teh hangat.

“Minumlah,” ucap Hazel sambil meletakkan cangkir itu di atas meja.

“Terima kasih,” jawab Maira. Ia langsung menyesap teh tersebut, menikmati hangatnya. Hazel hanya menatapnya, menunggu hingga Maira siap berbicara.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

“Apa tawaran Anda tempo hari masih berlaku?” tanya Maira akhirnya, nadanya kini jauh lebih serius.

Hazel mengernyit tipis. “Maksud kamu?”

“Tawaran untuk menjadi madu Anda,” ucap Maira lugas.

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

“Kalau tawaran itu masih berlaku,” lanjut Maira, menatap Hazel tanpa ragu, “saya akan menerimanya.”

Hazel terlihat cukup terkejut. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.

“Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?” tanyanya heran.

“Setahu saya, sebelumnya kamu benar-benar menolak.”

“Karena saya butuh bantuan Anda,” jawab Maira jujur.

“Saya mau menjadi madu Anda, tapi Anda harus membantu saya terlebih dahulu.”

Hazel menatapnya lekat. “Kamu ingin saya membantu apa?”

Maira menarik napas panjang, lalu mulai menceritakan semuanya. Tentang ayahnya yang terbaring sakit, tentang ancaman mamanya, tentang Pak Vincent yang membuat hidupnya terasa seperti neraka. Ia meminta Hazel memindahkan ayahnya ke rumah sakit lain secara diam-diam, ke tempat yang tak bisa dijangkau mamanya. Ia juga memohon agar Hazel membuat Pak Vincent dan mamanya tak lagi bisa menyentuh atau mengancam dirinya.

Hazel terdiam cukup lama setelah mendengar cerita itu.

“Baiklah,” ucapnya akhirnya.

“Saya akan membantu kamu.”

Maira menghembuskan napas lega. Beban di dadanya terasa sedikit terangkat.

“Tapi kamu tahu risikonya menjadi madu saya, kan?” Hazel kembali bersuara, nadanya serius.

Ia melanjutkan, “Hubungan kita hanya sebatas kamu memberikan keturunan. Tidak lebih. Setelah anak itu lahir, kamu bebas. Tidak ada ikatan lain.”

“Saya tahu,” jawab Maira tanpa ragu.

“Dan saya yakin, Anda sendiri sebenarnya juga tidak setuju dengan ide istri Anda, kan?”

Hazel tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menjadi jawaban.

“Oh ya,” sambung Maira, “saya juga mohon, istri Anda tidak tahu ke mana ayah saya dipindahkan. Cukup jadi rahasia kita berdua.”

Hazel mengangguk pelan. “Baiklah, kalau begitu.”

Maira berdiri dari duduknya. “Kalau begitu saya pamit dulu.”

Saat Maira hendak melangkah keluar, suara Hazel kembali terdengar.

“Kamu siap-siap. Besok saya akan menjemput kamu.”

Maira berhenti sejenak, menoleh ke arahnya, lalu mengangguk sebelum akhirnya keluar dari ruangan itu.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!