Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.
Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.
Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.
Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #9: Kota Jeokha
Empat hari kemudian.
Gerbang Kota Jeokha menjulang tinggi, terbuat dari batu bata merah yang kokoh, seolah menyambut para pelancong dengan seringai berdarah.
Bagi Geun, gerbang itu terlihat lebih indah daripada gerbang surga.
"Akhirnya..." batin Geun, kakinya yang gemetar menyentuh jalanan berbatu yang bersih dari salju. "Peradaban. Makanan hangat. Kasur yang tidak bau mayat."
Karavan Grup Dagang Silvercrane memasuki kota dengan suasana suram.
Dari tiga puluh "pengawal bayaran" yang berangkat, hanya tujuh orang yang kembali, termasuk Geun. Sisanya sudah menjadi kotoran di perut Jiangshi atau beku di lembah.
Gerobak Hitam itu langsung memisahkan diri, dibawa oleh pengawal inti menuju gudang tertutup cabang Grup Dagang Silvercrane, menjauh dari keramaian. Geun melihatnya sekilas, lalu memalingkan wajah. Dia tidak mau tahu. Dia tidak peduli. Urusannya selesai.
Si Botak berdiri di pinggir jalan, memegang kantong uang. Wajahnya keras, tapi matanya gelisah.
Para pengawal bayaran yang selamat berbaris meminta bayaran.
"Ini bagianmu," Si Botak melempar koin ke si Pincang. "Pergi sana. Tutup mulutmu dan jangan bikin masalah, atau lidahmu kami potong."
Si Pincang mengangguk ketakutan dan lari.
Kini giliran Geun.
Suasana berubah tegang.
Para pengawal resmi Silvercrane yang tersisa memegang gagang pedang mereka erat-erat. Mereka membentuk setengah lingkaran di belakang Si Botak, seolah-olah sedang menghadapi seekor harimau lepas, bukan bocah kurus berusia enam belas tahun.
Si Botak menatap Geun.
Tangan kanannya, yang memegang kantong berisi tujuh tael perak, sedikit gemetar.
Sebenarnya, Si Botak punya perintah standar, "Hilangkan semua saksi mata yang mencurigakan."
Dan Geun adalah saksi paling mencurigakan. Dia melihat Gerobak Hitam dibuka. Dia melihat mayat dimakan.
Tapi Si Botak ingat kejadian di lembah.
Dia ingat bagaimana bocah ini mematahkan sendinya sendiri tanpa berkedip.
Dia ingat bagaimana Ketua Bandit Gang-dol yang seorang praktisi First Rate mati dengan jantung meledak hanya karena serangan bocah ini.
"Kalau aku menyerangnya sekarang... apa aku bisa menang?" pikir Si Botak. "Dia monster. Dia monster yang menyamar jadi gembel. Kalau aku gagal membunuhnya dalam satu serangan, dia akan membantai kami semua di tengah kota."
Risikonya terlalu besar.
"Ini," kata Si Botak akhirnya. Suaranya berat.
Dia menyerahkan kantong perak itu. Bukan dilempar, tapi diserahkan ke tangan Geun.
Geun menyambarnya secepat kilat.
Bunyi kling logam mulia beradu adalah musik terindah di telinga Geun.
"Tujuh tael. Pas," kata Geun, menimbang kantong itu.
Geun berbalik hendak pergi, tapi suara Si Botak menghentikannya.
"Tunggu."
Geun berhenti. Otot punggungnya menegang di balik jubah robeknya. "Apa dia mau membunuhku?" pikirnya.
"Kau..." Si Botak menelan ludah. "Teknikmu itu... aliran mana? Tulangmu yang bisa berputar... Hawa panas yang membakar darah... Itu bukan teknik sembarangan."
Geun menoleh sedikit. Wajahnya datar, matanya sayu karena kurang tidur.
Geun ingin menjawab jujur, "Itu karena aku panik dan putus asa, Om. Aku cuma mau hidup."
Tapi dia ingat hukum jalanan untuk jangan pernah terlihat lemah.
Jadi Geun menjawab dengan dingin, "Aliran bertahan hidup."
Lalu dia berjalan pergi, menghilang di keramaian pasar Kota Jeokha.
Si Botak terpaku di tempat.
"Aliran Bertahan Hidup..." gumamnya. "Nama yang sederhana tapi mengerikan. Aliran yang membuang segala bentuk keindahan demi efisiensi pembunuhan mutlak. Pantas saja gerakannya begitu brutal."
"Hei," bisik salah satu pengawal resmi Silvercrane. "Kau serius biarkan dia pergi?"
"Jangan cari masalah dengan orang gila," desis Si Botak. "Biarkan dia pergi dulu. Dia bilang itu aliran bertahan hidup, artinya ada sekte dibaliknya. Dari nama aliran nya dia kelihatan seperti berasal dari Sekte Pengemis. Namun, dari gerakan tekniknya yang aneh..."
"Kita harus melapor ke master dulu, kemudian menyelidiki latar belakang bocah ini. Kalau ada sekte di belakangnya, kita akan minta pendapat master."
Sebuah kesimpulan yang logis.
Dan salah total.
...****************...
Tiga puluh menit kemudian.
Di depan sebuah bangunan megah bertingkat tiga dengan lampion merah menggantung di setiap sudut.
Paviliun Heavenly Scents.
Rumah bordil paling mewah dan paling mahal di Kota Jeokha.
Geun berdiri di depan pintu, masih memakai baju penuh darah kering, lumpur, dan bau amis. Penjaga pintu yang bertubuh besar sudah bersiap mengusirnya.
"Oi, gembel! Ini bukan tempat minta sedekah! Pergi ke kandang babi san—"
CLING!
Sekeping tael perak melayang dan mendarat tepat di dahi penjaga itu.
Penjaga itu menangkapnya, matanya melotot. Perak asli.
"Aku mau kamar terbaik di lantai atas," kata Geun, melangkah masuk melewati penjaga yang bengong. "Sekarang."
Geun berjalan masuk ke lobi utama yang harum semerbak. Para tamu pedagang kaya, pejabat korup, dan pendekar Jianghu, menutup hidung dan menyingkir melihat kedatangan makhluk dekil ini.
Geun tidak peduli. Dia berjalan seperti raja.
Seorang mucikari wanita, Nyonya Mei, yang sudah berpengalaman melayani segala jenis manusia selama punya uang, segera menghampiri dengan senyum profesional meski hidungnya sedikit berkerut.
"Aiyaa, Tuan Muda ini... sepertinya baru pulang dari perjalanan jauh?" sapa Nyonya Mei.
Geun melempar kantong uangnya ke meja resepsionis.
"Siapkan air panas. Banyak sabun. Baju sutra terbaik yang kalian punya," perintah Geun cepat.
"Lalu, bawakan aku daging rusa panggang utuh. Ayam rebus ginseng. Dan tiga guci arak Bamboo Leaf Green."
Nyonya Mei membuka kantong itu. Matanya berbinar melihat perak murni di dalamnya.
"Tentu, Tentu! Apa ada lagi, Tuan?"
Geun menyeringai.
"Wanita," katanya. "Carikan yang paling cantik. Seumuran denganku. Enam belas tahun. Yang kulitnya halus dan tidak bawel."
"Kami punya Nona Lili, primadona baru kami..."
"Bawa dia ke kamarku setelah aku selesai makan. Aku mau tidur nyenyak malam ini."
...****************...
Satu jam kemudian, Geun sudah berendam di bak mandi kayu besar berisi air panas yang ditaburi kelopak mawar.
Dia mengerang nikmat saat air panas itu meresap ke dalam pori-porinya, melemaskan otot-ototnya yang kaku.
"Ahhh... Ini baru hidup," gumam Geun sambil meminum arak langsung dari gucinya.
Dia melihat pantulan dirinya di cermin tembaga.
Tubuhnya kurus kering, penuh luka gores, dan lebam ungu di bahu kiri bekas dia mematahkan tulangnya sendiri.
Matanya masih merah, efek pecah pembuluh darah yang belum sembuh total.
Dia terlihat mengerikan.
Tapi dia merasa hebat.
Dia menyentuh dadanya. Di sana, di bagian ulu hati, dia merasakan sesuatu yang baru.
Ada sensasi hangat. Qi. Energi internal.
Meskipun dia mendapatkan energi ini dengan cara curang dan menyiksa diri, fakta tetaplah fakta. Geun sekarang bukan lagi manusia biasa.
Dia telah menginjakkan satu kaki di dunia Murim, di ranah Second Rate tanpa dia sadari.
"Persetan dengan Murim," Geun tertawa kecil, lalu menggigit paha ayam rebus dengan rakus. "Aku punya tujuh tael. Aku bisa hidup begini selama sebulan. Setelah uang habis, aku cari kerja jadi kuli panggul lagi. Yang penting jauh-jauh dari pedang dan mayat hidup."
Pintu kamar terbuka.
Seorang gadis muda, cantik, memakai jubah sutra transparan masuk membawa nampan buah. Nona Lili.
Dia sempat terkejut melihat wajah Geun yang menyeramkan dengan mata merah dan badan yang kurus, tapi profesionalismenya mengambil alih.
"Tuan Muda..." sapa Lili lembut. "Apa Tuan butuh pijatan?"
Geun menyeringai lebar. "Sini. Pijat bahu kiriku. Pelan-pelan, itu baru disambung."
Malam itu, Geun makan sampai kekenyangan, mabuk sampai lupa nama sendiri, dan tidur di pelukan wanita cantik di atas kasur bulu angsa.
Dia mendengkur keras.
Dia merasa sukses.
Dia merasa aman.
Dia merasa bahwa petualangan mengerikan di White Burial Valley hanyalah mimpi buruk yang sudah berakhir.
Dia tidak tahu.
Bahwa di luar sana, di kedai-kedai teh dan pos jaga, para bandit Gang-dol yang selamat sedang bercerita dengan wajah pucat kepada siapa saja yang mau mendengar.
Cerita tentang iblis yang memakan jantung dengan jari.
Cerita tentang pemuda yang tubuhnya tidak bertulang.
Dan dia tidak tahu, bahwa di sebuah penginapan lain di kota yang sama, sekelompok pemuda berseragam putih dengan lambang Yin-Yang sedang mendengarkan cerita itu dengan mata berbinar penuh minat.
Pensiun?
Bagi Geun, ini baru permulaan dari neraka yang sebenarnya.