Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Lain Radit
"Terima kasih, Pak." Tasya mengatakannya dengan setengah hati. Ia takut sekali harus membayar setiap uang yang Radit keluarkan untuk Dicky.
Tasya kembali terdiam di dalam mobil, bingung mau mengobrol apa. Berbeda dengan Tasya, Radit nampak sibuk menelepon rekan bisnisnya. Ia membicarakan banyak hal. Tasya hanya menyimak, sebagai asisten pribadi, ia harus tahu banyak tentang atasannya.
Mobil Radit berbelok di hotel bintang 5 terkenal di kota ini. Hati Tasya mulai dilanda rasa khawatir, ia takut Radit akan meminta bayaran atas kebaikannya membayar biaya operasi Dicky.
Meski khawatir namun dengan patuh Tasya mengikuti Radit masuk ke dalam hotel. Tasya berdoa dalam hati, semoga Radit tidak mengajaknya melakukan perbuatan dosa lagi.
"Sya, sini!" Radit memanggil Tasya yang asyik dengan pikirannya sendiri sampai tak sadar kalau Radit sudah berbelok ke sebuah ruang meeting besar. Di dalam ruangan, nampak beberapa orang yang sudah memulai meeting dan langsung menyambut hormat saat Radit datang.
"Kamu duduk di belakangku saja," bisik Radit.
"Baik, Pak." Tasya duduk di kursi belakang Radit, tempat para asisten pribadi duduk di belakang atasannya.
Tasya fokus mencatat poin-poin penting dalam meeting. Sesekali, ia menatap bahu kekar Radit yang terlihat begitu berwibawa saat berbicara di depan semua orang serta ketika mengambil keputusan. "Ternyata di balik hobby-nya yang suka gonta-ganti pacar, Pak Radit sangat hebat dalam bekerja," batin Tasya.
Meeting selesai saat jam makan siang tiba. Tasya merasa pening dengan banyaknya materi yang dibahas, sementara Radit nampak amat santai seolah meeting yang ia lakukan adalah hal biasa.
"Sya, kamu suka makan di tukang jualan yang ada di pinggir jalan tidak?" tanya Radit saat mereka menunggu mobil menjemput di lobby.
"Suka, Pak. Malah aku tidak suka makanan hotel," jawab Tasya dengan jujur.
"Kenapa? Tidak enak ya? Kurang mecin? Kurang jorok? Atau kenapa?" tanya balik Radit.
Tasya tertawa kecil mendengar Radit memberondongnya dengan banyak pertanyaan receh. "Tentu saja karena mahal, Pak. Makan di hotel itu bisa setengah gajiku sebulan, Pak. Sayang. Lebih baik untuk beli beras."
Tanpa sadar, Radit ikut tertawa kecil. "Aku pikir karena alasan lain. Kamu punya tempat jajan favorit tidak?"
"Tempat jajan favoritku? Apa ya? Bakso, mie ayam atau soto?" balas Tasya.
"Apa saja, yang paling kamu suka pastinya." Radit melirik mobil miliknya yang mulai mendekat ke arah lobby hotel.
"Aku ada tempat favorit makan bakso yang enak."
"Oke, sudah diputuskan, kita ke sana saja. Ayo!" Supir Radit turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk majikannya. Bukannya masuk, Radit malah menyuruh Tasya masuk terlebih dahulu. "Masuk, Sya!"
"Pak Radit saja dulu-"
"Kamu dulu, cepatlah!" Radit nampak serius, aura tak bisa dibantah. "Beritahu supirku alamat tukang bakso favoritmu!"
"Baik, Pak." Tasya masuk ke dalam mobil, disusul Radit.
Jika sebelumnya saat di perjalanan meeting Tasya hanya diam saja, namun kali ini tidak. Radit memulai percakapan dan Tasya menjawab dengan sopan sampai Tasya tanpa sadar ikut dalam percakapan yang asyik dan menyenangkan.
"Kamu lihat Bapak di depanku yang agak botak tadi, Sya?" Radit melepas dasi dan jas miliknya agar lebih santai.
"Lihat. Memang kenapa ya, Pak?"
"Dulu dia tak pernah mendukung setiap ide yang kuutarakan, selalu menjegalku sampai aku tak sengaja bertemu dengannya sedang clubbing dengan perempuan muda, dan itu bukan istrinya."
"Bapak foto lalu Bapak ancam?" tebak Tasya, mulai hanyut dengan percakapan seru Radit.
"Tak perlu. Aku hanya berdehem sebelum meeting dimulai, seperti ini: "Ehem, clubbing! Ehem baju kuning! Ehem pakai behel! Ehem tato mawar!" Radit mempraktekan adegan berdehem yang membuat Tasya sekuat tenaga menahan tawanya karena Radit sangat lucu.
"Hanya berdehem?"
"Iya."
"Berhasil?" Tasya mulai penasaran dengan cerita Radit. "Dia takut gitu?"
"Tentu saja berhasil, Radit gitu!" Radit menepuk dadanya, membanggakan kehebatan dirinya dalam mengancam orang.
"Wah, curang. Beraninya main ancam!" balas Tasya, sudah merasa bak bicara dengan teman, bukan atasan lagi.
"Ancaman itu salah satu teknik agar musuh mau memberi kita kesempatan. Si botak itu aku ancam, agar dia mau mendengarkan ideku sampai selesai. Dia itu tipikal orang tua kolot, melihat anak muda jadi pemimpin, lalu meremehkan. Nyatanya setelah mendengar ideku, dia setuju dan sekarang tak perlu kuancam lagi..."
Radit asyik bercerita namun pikiran Tasya malah bercabang. "Lantas, tujuanmu mengancamku apa, Pak? Agar aku memberi kesempatan apa?" Pertanyaan yang tak berani Tasya tanyakan dan akhirnya ia pendam dalam hati.
"Sya, itu warung baksonya?" Pertanyaan Radit menyadarkan Tasya.
"I-iya." Tasya segera mengendalikan dirinya.
Mobil pun berhenti di depan warung bakso. Bukan hanya membukakan pintu untuk Tasya, Radit melakukan sesuatu yang membuat penilaian Tasya terhadapnya sedikit berubah. Radit mengajak supirnya makan bakso bersama. Saat supirnya menolak, Radit malah menyuruh tukang bakso mengantarkan padanya.
Tasya menatap Radit dengan tatapan kagum. Kaya, muda, tampan dan sukses namun ia tak segan bersikap rendah hati pada anak buahnya. Radit bahkan tanpa ragu makan di warung bakso pinggir jalan.
"Pilihan kamu memang the best deh, Sya. Asli, bakso ini tuh enak banget! Dua jempol buat kamu!" Radit mengangkat dua jempol sambil tersenyum lebar.
Tasya tersenyum dengan ulah Radit. "Syukurlah kalau Pak Radit suka. Aku takut tak sesuai selera Pak Radit."
Radit membayar semua pesanan lalu berjalan di samping Tasya sampai ke tempat mobil mereka parkir. "Memang kamu pikir seleraku seperti apa? Emas, berlian dan mutiara? Mana enak semua itu dimakan, Sya. Baksomu lebih enak."
Tasya tertawa kecil. Ucapan Radit yang asal mampu membuat Tasya melupakan sejenak penderitaannya. "Iya sih, semua itu tak enak dimakan, keras. Oh ya, kita langsung kembali ke kantor, Pak?" tanya Tasya.
"Nanti saja. Kita ke tempat yang lebih penting."
"Kemana?"
Radit menghentikan langkahnya. Ia menatap Tasya dengan tatapan serius, hilang sudah canda tawa di wajahnya. "Rumah sakit. Aku mau jenguk anakmu, boleh?"
"Mau jenguk?"
"Iya." Radit kembali melanjutkan langkahnya. "Apa mainan kesukaannya? Mau membelinya saat di jalan?"
Tasya menunduk sedih. "Tak perlu, Pak. Dicky belum siuman sejak dioperasi. Andai dia sudah sadar, aku akan jadi orang pertama yang bertanya mainan apa yang paling ia inginkan, maka aku akan belikan." Air mata Tasya kembali menetes. Ia tidak bisa menahan jika menyangkut Dicky, air mata pasti akan menetes tanpa bisa ia cegah.
Radit mengusap bahu Tasya dengan lembut. "Aku akan temani kamu membeli mainan nanti. Sekarang, hapus air matamu agar anakmu tahu kalau ia punya mama hebat yang amat tegar. Aku akan temani kamu bertemu anakmu. Kamu rindu dengannya bukan?"
Tasya mengangguk. Radit memberikan sebuah sapu tangan untuknya menghapus air mata. Tanpa Tasya sadari, ada rasa nyaman dari usapan tangan Radit. Gelitik perasaan aneh mulai menyelusup dalam diri Tasya, mengakar dan nantinya akan menumbuhkan perasaan yang berbeda.
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣