Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Yang Terlihat Biasa
Istana menjadi terlalu tenang.
Bukan tenang yang damai.
Melainkan tenang yang janggal.
Song An menyadari itu sejak pagi.
Lorong-lorong yang biasanya ramai kini hanya dilewati beberapa pelayan. Tidak ada lagi selir yang berbisik di balik kipas. Tidak ada suara tawa palsu.
Hanya langkah kaki yang bergema.
“Aneh,” gumam Song An sambil berjalan pelan di taman kecil.
Selir Li berjalan di sampingnya. “Biasanya setelah perubahan besar, orang akan panik.”
“Tapi sekarang tidak,” jawab Song An. “Artinya ada yang menunggu.”
Selir Zhang mengangguk. “Atau merasa aman.”
“Itu lebih berbahaya,” kata Song An.
—
Mereka bertiga duduk di paviliun kecil, tempat yang kini terasa terlalu luas untuk hanya tiga orang.
“Kita harus mulai dari mana?” tanya Selir Zhang sambil memutar cangkir tehnya.
“Dari yang terlihat paling tidak penting,” jawab Song An.
Selir Li mengangkat alis. “Pelayan?”
“Bukan semua,” jawab Song An. “Yang terlalu lama bertugas dan tidak pernah pindah.”
Selir Zhang menepuk meja kecil. “Pelayan arsip.”
“Dan penjaga gerbang belakang,” tambah Selir Li.
Song An tersenyum kecil. “Kita sepemikiran.”
—
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka menyamar.
Tidak dengan kostum berlebihan.
Hanya pakaian sederhana.
Song An mengenakan baju polos warna abu-abu. Rambutnya dikepang biasa.
Selir Li memakai pakaian pelayan dapur.
Selir Zhang yang biasanya ceria kali ini tampak canggung.
“Aku terlihat aneh,” katanya pelan.
“Kau terlihat seperti manusia biasa,” jawab Song An.
“Itu lebih aneh bagiku,” balas Selir Zhang.
Mereka tertawa pelan.
—
Kaisar Shen melihat mereka dari kejauhan.
Ia tidak menghentikan.
Tidak memanggil.
Hanya mengamati.
“Berhati-hatilah,” katanya saat Song An melewati lorong.
Song An berhenti. “Yang Mulia juga.”
Kaisar Shen tersenyum tipis. “Aku tidak menyamar.”
“Justru itu bahayanya,” jawab Song An ringan.
—
Dapur istana lebih ramai dari yang mereka kira.
Bau makanan bercampur dengan suara perintah.
Song An berdiri di sudut, berpura-pura menunggu.
Ia mendengar percakapan.
“…sekarang lebih sepi.”
“…tapi jalur lama masih dipakai.”
“…jangan bicara terlalu keras.”
Song An menoleh ke Selir Li.
Isyarat kecil.
Selir Li bergerak lebih dekat.
Selir Zhang hampir menabrak seorang pelayan karena terlalu gugup.
“Maaf!” katanya cepat.
Pelayan itu menatapnya, lalu pergi tanpa bicara.
“Kau terlalu mencolok,” bisik Song An.
“Aku berusaha,” jawab Selir Zhang sambil meringis.
—
Mereka berpindah ke area arsip.
Bangunan kecil, jarang dijaga.
Lampu redup.
“Aneh,” kata Selir Li. “Biasanya pintu ini terkunci.”
“Terlalu percaya diri,” jawab Song An.
Mereka masuk.
Rak-rak kayu penuh gulungan lama.
Selir Zhang memegang satu gulungan. “Ini catatan lama. Bertahun-tahun lalu.”
“Cari yang baru,” kata Song An. “Yang tidak seharusnya di sini.”
Beberapa menit berlalu.
“Ada ini,” bisik Selir Li. “Catatan pengiriman. Tidak tercatat resmi.”
Song An mendekat.
Nama-nama yang asing.
Tanggal yang berulang.
“Ada pola,” kata Song An pelan. “Tapi bukan untuk menyerang istana.”
“Lalu?” tanya Selir Zhang.
“Untuk menyuplai,” jawab Song An. “Dan seseorang di dalam membantu.”
—
Langkah kaki terdengar.
Mereka membeku.
Seorang penjaga lewat di depan pintu, berhenti sejenak.
Song An menahan napas.
Penjaga itu menguap, lalu pergi.
Selir Zhang hampir tertawa lega.
“Jangan,” bisik Song An.
—
Mereka keluar tanpa jejak.
Kembali ke paviliun dengan langkah cepat tapi tenang.
“Ini bukan kerja satu orang,” kata Selir Li saat mereka duduk.
“Tidak,” jawab Song An. “Dan musuh sebenarnya belum muncul.”
Selir Zhang memeluk lututnya. “Aku tidak menyangka akan melakukan ini.”
“Menyelidiki?” tanya Song An.
“Merasakan hidup,” jawab Selir Zhang jujur.
—
Malam semakin larut.
Song An dipanggil Kaisar Shen.
Ia datang sendirian.
“Apa yang kau temukan?” tanya Kaisar Shen.
“Bukan penyerangan langsung,” jawab Song An. “Lebih ke jaringan.”
“Kau yakin?”
“Dan mereka yakin kita tidak mencurigai,” lanjut Song An.
Kaisar Shen tersenyum kecil. “Bagus.”
“Kau terdengar senang,” kata Song An.
“Karena untuk pertama kalinya, aku tahu kita tidak sendirian,” jawab Kaisar Shen.
Hening.
“Song An,” katanya kemudian, “kau lelah?”
Song An berpikir sejenak. “Tidak seperti dulu.”
“Dulu?”
“Saat aku hidup tanpa pilihan,” jawab Song An.
Kaisar Shen menatapnya lama. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.”
Song An tersenyum tipis. “Aku percaya.”
—
Di paviliun, Selir Li dan Selir Zhang menunggu.
“Bagaimana?” tanya Selir Zhang.
“Kita lanjut,” jawab Song An.
Selir Li mengangguk. “Pelan.”
“Dan biasa,” tambah Song An.
Selir Zhang tertawa kecil. “Kita memang terlihat biasa.”
—
Malam itu, istana tampak damai.
Tidak ada yang menyadari tiga wanita yang tampak tidak penting itu sedang berjalan di jalur yang berbahaya.
Dan justru karena mereka terlihat biasa
Musuh belum menoleh.
Dan itu adalah keuntungan terbesar mereka.
Semakin lama mereka menyelidiki, semakin konyol cara mereka bertahan.
Bukan karena mereka ceroboh.
Justru karena terlalu biasa.
Pagi itu, Song An berdiri di depan cermin kecil sambil mengikat rambutnya dengan pita lusuh.
“Aku tidak percaya kita melakukan ini lagi,” gumam Selir Zhang dari belakang tirai.
“Kau bilang begitu setiap kali,” jawab Song An santai.
Selir Li menghela napas panjang. “Dan setiap kali, aku tetap ikut.”
Song An menoleh. “Karena kalian masih hidup.”
“Itu bukan alasan yang menenangkan,” balas Selir Zhang.
—
Hari itu, penyamaran mereka lebih ekstrem.
Bukan pelayan dapur.
Bukan pelayan kebun.
Mereka menyamar sebagai pelayan pengangkut kain tugas paling membosankan dan paling jarang diawasi.
“Siapa yang memeriksa kain?” kata Song An ringan.
“Orang yang curiga,” jawab Selir Li gugup.
“Berarti bukan kita,” balas Song An.
Selir Zhang menatap gulungan kain di pundaknya. “Ini berat.”
“Beban hidup memang begitu,” kata Song An.
“Aku tidak butuh filsafat,” desah Selir Zhang.
—
Mereka berjalan melewati lorong penyimpanan timur.
Tempat yang jarang dilewati selir.
Namun… hari ini terlalu ramai.
“Ada apa?” bisik Selir Li.
Song An mengamati cepat. “Pengiriman khusus.”
“Untuk apa?”
“Untuk seseorang,” jawab Song An. “Dan orang itu tidak mau terlihat.”
—
Mereka hampir lolos tanpa hambatan.
Hampir.
“Berhenti.”
Suara itu membuat Selir Zhang hampir menjatuhkan kain.
Seorang penjaga berdiri di depan mereka.
“Kalian dari mana?” tanyanya curiga.
Song An menunduk sedikit. “Gudang barat.”
“Kain ini tidak tercatat,” kata penjaga itu.
Selir Li mulai berkeringat.
Selir Zhang menahan napas.
Song An mengangkat kain sedikit. “Karena ini kain rusak.”
Penjaga itu mengernyit. “Rusak?”
Song An mengangguk. “Iya. Lihat saja.”
Ia membuka sedikit lipatan.
Debu beterbangan.
Penjaga itu langsung batuk. “Tutup! Tutup!”
“Kami disuruh memindahkan sebelum jam makan siang,” lanjut Song An cepat.
Penjaga itu melambaikan tangan. “Cepat pergi.”
Begitu mereka berbelok, Selir Zhang berbisik, “Aku hampir pingsan.”
“Kau masih berdiri,” jawab Song An.
“Itu keajaiban.”
—
Mereka berhenti di balik dinding batu.
Selir Li memegang dadanya. “Aku tidak suka ini.”
“Kau tidak harus suka,” jawab Song An. “Cukup sadar.”
“Bagaimana kau bisa setenang itu?” tanya Selir Zhang.
Song An berpikir sebentar. “Karena aku tahu apa yang kucari.”
“Apa?” tanya Selir Li.
“Orang yang merasa paling aman.”
—
Gudang kain lama menjadi tujuan mereka.
Bangunan itu nyaris terlupakan.
Namun justru di sanalah, Song An merasa ada sesuatu.
“Di sini,” katanya pelan.
Mereka masuk.
Aroma kain lama dan minyak menyengat.
Selir Zhang meringis. “Aku pasti bau setelah ini.”
“Fokus,” kata Selir Li.
Song An berjalan perlahan, menyentuh peti kayu.
“Ini tidak seharusnya di sini,” katanya.
“Apa?” tanya Selir Zhang.
“Cap pengiriman.”
Selir Li mendekat. “Ini bukan cap istana.”
“Benar,” jawab Song An. “Ini cap luar.”
“Dari mana?”
Song An menghela napas pelan. “Kekaisaran utara.”
Selir Zhang terdiam. “Berarti....”
“Dalangnya bukan selir,” lanjut Song An. “Bukan juga pelayan.”
Selir Li menelan ludah. “Orang dalam yang punya akses keluar.”
—
Langkah kaki terdengar lagi.
Kali ini lebih dari satu.
“Cepat,” bisik Selir Li panik.
Selir Zhang hampir menangis. “Kita ketahuan.”
Song An melihat sekeliling.
Lalu tanpa ragu, ia menarik kain besar dan menutup mereka bertiga.
“Apa yang kau lakukan?!” bisik Selir Zhang.
“Percaya,” jawab Song An.
Langkah kaki semakin dekat.
“Ada suara di sini.”
“Mungkin tikus.”
“Tikus tidak menghela napas.”
Selir Zhang menahan napas sampai wajahnya memerah.
Song An tetap tenang.
Ia menggeser kain sedikit.
Menjatuhkan gulungan kecil.
Gedebuk.
“Apa itu?”
“Ah… kain rusak.”
“Biarkan.”
Langkah kaki menjauh.
Selir Zhang langsung terduduk. “Aku tidak mau mati di dalam kain.”
“Kau tidak mati,” jawab Song An. “Dan kita dapat sesuatu.”
—
Mereka kembali ke paviliun dengan langkah tergesa tapi rapi.
Begitu pintu tertutup, Selir Li langsung bersandar ke dinding.
“Aku takut,” katanya jujur.
Selir Zhang mengangguk cepat. “Aku juga.”
Song An menuangkan teh. “Takut itu normal.”
“Kau tidak?” tanya Selir Zhang.
“Aku juga,” jawab Song An. “Aku hanya tidak membiarkannya menguasai.”
Selir Li menatapnya. “Bagaimana caranya?”
Song An berpikir sejenak. “Aku pernah mati karena tidak punya kendali. Aku tidak mau mengulang.”
Hening.
“Itu sebabnya aku tenang,” lanjut Song An. “Bukan karena aku kuat. Tapi karena aku memilih.”
—
Malam itu, Kaisar Shen dipanggil secara diam-diam.
Song An melapor.
“Ada cap luar,” katanya. “Kekaisaran utara.”
Kaisar Shen mengangguk pelan. “Aku mencurigai itu.”
“Tapi orang dalamnya belum jelas,” lanjut Song An.
“Belum,” jawab Kaisar Shen. “Dan mereka masih merasa aman.”
Song An tersenyum kecil. “Tidak lama.”
Kaisar Shen menatapnya. “Kau tidak takut?”
“Takut,” jawab Song An jujur. “Tapi lebih takut jika diam.”
Kaisar Shen terdiam lama.
“Song An,” katanya akhirnya, “aku bersyukur kau ada di sini.”
Song An mengangkat bahu. “Aku juga.”
—
Di paviliun, Selir Li dan Selir Zhang menunggu.
“Bagaimana?” tanya Selir Zhang.
“Kita semakin dekat,” jawab Song An.
“Dan semakin berbahaya,” tambah Selir Li.
Song An mengangguk. “Tapi musuh masih menganggap kita biasa.”
Selir Zhang tertawa kecil. “Pelayan kain.”
“Itu penyamaran terbaik,” jawab Song An.
—
Malam itu, ketiganya duduk berdampingan.
Takut.
Lelah.
Namun tidak menyesal.
Dan jauh di balik tembok istana,
seseorang masih merasa aman—
tidak tahu bahwa tiga wanita yang terlihat biasa itu
sudah mulai mengupas topengnya perlahan.
Bersambung