NovelToon NovelToon
Crazy Obsession

Crazy Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Pelakor jahat
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Bertepuk12

Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.

​Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.

​Namun, Afnan belum puas.

​Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.

​"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."

​Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.

​Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?

#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Tegukan ludah terdengar mengulun kasar, suasana yang awalnya biasa saja kini terasa menyesakkan bagi seorang pria yang sedang mengumpat tertahan, langkahnya terburu-buru menaiki tangga menuju kamarnya sendiri, setiap gesekan kain celanan dengan kejantanannya yang menegang terasa seperti siksaan yang nikmat sekaligus menghina bagi harga dirinya.

"Sial, sial, sial!" Dareen menyentak dirinya sendiri, malu rasanya apabila ia ternyata terangsang sebab Afnan, wanita yang tidak ia inginkan.

Bagaimana bisa, hanya dengan usapan singkat dari jemari wanita yang ia sebut 'murahan' itu, pertahanannya runtuh seketika? Sungguh kaparat.

​Begitu sampai di dalam kamar, Dareen dengan tergesa-gesa langsung masuk tanpa mengunci pintu, dan bergegas menyambar knop pintu kamar mandi, ia menyalakan pancuran air dingin, berharap suhu dingin bisa meredam gejolak di bawah sana.

Namun, bayangan Afnan yang tersenyum kemenangan dan binar matanya yang menggoda justru semakin jelas di benak Dareen, seolah tak bisa ia hapus, dan itu begitu menjengkelkan.

​"Sialan Afnan, kau benar-benar sialan." Geram Dareen perlahan, pria itu mengacak-acak rambut frustasi, nafasnya sudah terengah

​Dareen mulai menyandarkan satu tangannya ke dinding marmer yang dingin, sementara tangan lainnya mulai bekerja dengan kasar di balik celananya yang sudah melorot.

"Bajingan! Aku benar-benar akan gila jika tidak menuntaskan ini." Beo Dareen mengerang, sebab pikirannya mulai buram, dadanya berdegup dengan begitu kencang seolah ingin meledak.

Dareen memejamkan mata erat-erat, namun yang muncul bukan kegelapan, melainkan imajinasi tentang bibir Afnan yang berbisik di telinganya menggunakan nada menggoda.

Erangan rendah mulai lolos dari bibir Dareen yang masih tetap terkatup rapat, beradu dengan suara gemericik air, ia bergerak dengan ritme yang cepat dan penuh amarah, seolah-olah sedang menghukum dirinya sendiri atas kelemahan ini.

"Siall, ahh!" Desah Dareen menutup matanya erat, menikmati gerakan tangannya yang tengah memainkan sesuatu yang masih tegang di bawah sana.

​Tanpa Dareen sadari, pintu kamar mandi yang ia pikir sudah tertutup rapat, ternyata sedikit terbuka sebab ia terburu-buru tanpa betul memperhatikan. Dan di balik celah kecil itu, sepasang mata mengintip dengan binar jenaka.

Senyuman manis yang sialnya nampak begitu menggoda.

​Afnan berdiri di sana, mengintip apa yang tengah dilakukan sang suami, menyandarkan bahunya di kusen pintu luar.

"Kak Dareen, mengapa begitu munafik?" Afnan menutup mulut dengan telapak tangannya, menahan tawa saat melihat pria yang tadi begitu angkuh dan kasar kini justru sedang "menuntaskan" gairah karena ulahnya.

Netra bulat Afnan turun ke bawah, bibirnya membentuk seringai penuh tatkala melihat bagaimana barang yang berada di antara selangkangan itu masih cukup berdiri dengan begitu gagah.

​"Wah Kak Dareen, sekeras itu ya usahanya?" ​Suara lembut namun penuh ejekan itu membelah suara aneh yang Dareen ciptakan. Sebuah desahan dan gerakan frontal yang terdengar mengilukan.

​Dareen tersentak hebat, tubuhnya menegang, ia segera berbalik dengan napas tersengal-sengal dan tangan yang masih berada di posisinya. Matanya membelalak melihat Afnan yang justru semakin berani membuka pintu itu lebar-lebar.

​"KAU! SEDANG APA DI SINI?!" Teriak Dareen dengan suara yang pecah antara amarah dan sisa gairah.

Wajah pria itu kini sudah merah padam, bukan lagi karena marah, tapi karena malu yang luar biasa tertangkap basah dalam kondisi seintim itu, apalagi visual yang ia bayangkan adalah Afnan. Sial!

"Fuck a jerk kau Afnan! Pergi!"

​Afnan abai, ia tidak pergi justru melangkah masuk ke dalam area kamar mandi yang lembap, membiarkan uap air membasahi sebagian gaunnya, ia tersenyum gemulai, menyisir rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat sensual.

​"Aku hanya ingin menganggu kakak, namun siapa sangka? Aku malah mendapatkan jackpot." Ucap Afnan sambil berjalan mendekat ke arah Dareen yang masih berusaha menutupi diri dengan tangan gemetar.

​Afnan berdiri tepat di depan Dareen yang basah kuyup, ia menatap ke bawah, ke arah sesuatu yang masih berdiri tegang di sana, lalu kembali menatap mata Dareen yang berkilat tajam.

​"Tadi Kakak bilang aku menjijikkan, bukan?" Afnan mengulurkan tangan, jemarinya hampir menyentuh dada Dareen yang naik turun tak beraturan.

"Lalu kenapa pria sehebat Kak Dareen harus bermain sendirian, hanya karena memikirkan wanita menjijikkan sepertiku? Bukankah itu terdengar sangat menyedihkan?"

​"Keluar, Afnan! Sebelum aku benar-benar kehilangan kendali dan mencekikmu!" Dareen menggeram, suaranya terdengar seperti monster yang sedang meronta di dalam sangkar.

​Afnan justru tertawa lirih, tangannya kini berani menyentuh pinggiran celana Dareen yang masih menggantung di paha.

"Cekik aku, Kak. Atau gunakan tangan ini untuk sesuatu yang lebih berguna daripada sekadar memegang dinding marmer yang dingin ini. Bukankah Kakak sangat ingin membuktikan bahwa aku adalah milikmu?"

​Dareen mematung, egonya yang setinggi langit sedang berperang hebat dengan nafsu yang sudah di ujung tanduk, ia membenci Afnan, ia sangat membenci wanita ini, tapi ia tidak bisa menampik bahwa saat ini, kehadiran Afnan adalah satu-satunya hal yang ia inginkan.

Dareen menggeram rendah, suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar lebih mirip seperti raungan binatang buas yang terluka, pria itu mencengkeram bahu Afnan dengan kasar, membalikkan tubuh wanita itu hingga menghadap cermin besar di kamar mandi yang kini mulai berembun karena uap air panas.

​"Kau ingin membuktikannya, Afnan? Kau ingin aku menggunakanmu?" Dareen berbisik tepat di tengkuk Afnan, suaranya parau dan penuh ancaman.

Tangan Dareen yang besar merayap turun, meremas pinggang Afnan hingga wanita itu membusungkan dada, mendesah pelan saat merasakan kejantanan Dareen yang keras menekan pantatnya dari balik kain gaun yang tipis.

​Afnan memejamkan mata, kepalanya tersandar pada dada bidang Dareen yang basah.

"Kak Dareen, Tunjukkan jika aku milikmu." Tantang Afnan dengan nada merintih yang sengaja dibuat untuk memancing kegilaan pria itu.

​Dareen tidak tinggal diam. Ia menyingkap gaun Afnan hingga ke pinggang, menyingkirkan penghalang terakhir di antara mereka dengan gerakan yang tak sabaran.

Lantas Dareen menciumi bahu Afnan dengan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan bekas kemerahan, sementara tangannya bekerja dengan lihai di area sensitif Afnan, membuat lutut wanita itu melemas.

​"Ah... Kak Dareen." Afnan mengerang, jari-jarinya mencengkeram pinggiran wastafel marmer dengan kuat.

Tentu saja Afnan bisa merasakan gairah Dareen yang meledak-ledak, seolah pria itu akan segera memilikinya di sana, di bawah kucuran air yang berisik.

​Selama beberapa menit yang intens, Dareen membiarkan Afnan melayang dalam sensasi yang ia berikan, ia membakar gairah wanita itu hingga Afnan benar-benar berada di puncak, tubuhnya bergetar hebat, memohon dengan suara serak agar Dareen segera masuk dan menyatukan mereka.

Benar, Afnan sudah sepenuhnya pasrah, matanya sayu penuh kabut nafsu, menanti serangan dari sang suami.

​Namun, tepat saat Afnan berada di ambang pelepasan, Dareen tiba-tiba menghentikan semua gerakannya, pria itu menarik tangannya, menjauhkan tubuhnya dengan sentakan yang dingin. Suasana yang tadinya panas membara seketika membeku.

​Afnan tersentak, ia berbalik dengan napas pendek-pendek, wajahnya memerah sempurna karena gairah yang menggantung di udara.

"Kak? Kenapa berhenti?" Tanya Afanna dengan nada bingung sekaligus tak terima sebab, hampir saja ia akan keluar.

​Dareen merapikan celananya dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, lantas ia menatap Afnan dengan pandangan meremehkan. Seringai kejam tersungging di bibirnya.

​"Kau pikir aku benar-benar akan menyentuhmu setelah kau disentuh oleh pria seperti Algio?" Dareen tertawa hambar, suara yang penuh penghinaan.

"Aku hanya ingin melihat sejauh mana kau bisa merendahkan dirimu sendiri untuk mendapatkan perhatianku, Afnan."

"Nikmati sisa malammu dengan rasa haus itu. Aku lebih baik menyelesaikan urusanku sendiri daripada harus berbagi tempat dengan wanita sepertimu."

​Tanpa menoleh lagi, Dareen berbalik dan melangkah keluar dari kamar mandi. Ia membanting pintu dengan keras, meninggalkan Afnan yang masih bersandar di wastafel dengan tubuh yang bergetar hebat karena nafsu yang tak tersalurkan dan rasa malu yang membakar dada.

​Di luar pintu, Dareen bersandar sejenak, mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Jantungnya masih berdegup gila, dan ia harus berjuang mati-matian menahan dirinya untuk tidak kembali ke dalam. Namun egonya menang. Ia tersenyum puas mendengar rintihan frustrasi Afnan dari balik pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!