NovelToon NovelToon
Elora: My Little Princess

Elora: My Little Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Angst / Kutukan / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: bwutami | studibivalvia

AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 18: when clues slowly appears [END]

“BIASANYA, sebelum masuk ke dunia mimpi, Hamon membacakan buku celita atau mencelitakan sesuatu yang lucu sampai El tidul … tetapi Hamon tidak ada. Jadi, El takut tidul sendilian.” Dia menatap bacon yang ada di piring, menusuknya dengan garpu, dan menggeser-geser bacon tersebut dengan gerakan pelan, sebelum melanjutkan, “Kalena Hamon selalu menemani El, lasanya jadi sepi kalau tidak ada dia.”

Aku hanya melirik sekilas ketika dia kembali berkata, 

“Makanya, El tidul di depan kamal Papa. El minta maaf.”

Dia masih menundukkan pandangan seolah sedang menghindari tatapanku sedangkan makanan di piring hanya berkurang sedikit padahal tadi perutnya berbunyi nyaring. Hanya dalam beberapa saat terjadi perubahan drastis yang tidak dapat kumengerti. Serbet makan yang tidak jauh dari jangkauanku kemudian kuraih, mengelap mulut dan menatap Elora yang masih tidak melihatku.

“Kau tidak suka Ibu asuhmu? Tetapi, katanya kau suka.”

Dia mengangkat wajah dan menggeleng pelan. Menatapku dengan netra biru cerahnya yang bulat, menjawab, “El sangat menyukai Penny, tetapi Hamon lebih seling belsama El sebelum Penny datang.”

“Intinya kau lebih menyukai Hamon, begitu?” Dia mengangguk pelan. “Lalu, kenapa kau tidur di depan kamarku? Harusnya karena Hamon tidak ada dan kau takut tidur sendirian, ajaklah Penny. Kau kan juga menyukainya.”

Mulutnya terbuka kemudian terkatup, terlihat ragu. Namun, aku tetap menunggunya menjawab pertanyaanku. Jadi, setelah semenit terdiam, anak itu akhirnya membuka suara meski dengan nada yang sangat pelan, nyaris berbisik,

“Kalena El melasa lebih aman kalau belada di sisi Papa ….”

Tubuhku selama beberapa detik menegang sebelum akhirnya sadar dan memundurkan kursi ke belakang, lalu segera beranjak dari sana. Tepat di depan pintu ruang makan aku menghentikan langkah. Ketika berbalik, Elora yang juga sedang menatapku ikut tersentak. Selama beberapa detik kami saling memandang dengan pikiran masing-masing.

Sepanjang waktu itu, melalui pandangannya aku mengetahui bahwa sepertinya dia takut ketika aku mendadak pergi. Jadi, aku akhirnya menarik napas panjang dan berkata pelan meski nada suaraku tetap datar seperti biasa.

“Habiskan makananmu sebelum pergi bermain.”

***

Aku melangkah maju, merapalkan mantra. Tulisan-tulisan kuno berwarna merah yang saling terhubung seperti tali kemudian muncul menyilang dan bersinar terang selama beberapa saat sebelum menghilang dan membuat pintu terbuka otomatis. Begitu aku melangkahkan kaki ke dalam, pintu akan segera menutup kembali. Kondisi Hamon saat aku menemuinya tidak bisa dikatakan jauh lebih baik atau lebih buruk dari kemarin karena ini baru permulaan. Hari ini, siksaan kedua akan dilaksanakan. Kalau kemarin menggunakan cambuk bergerigi, maka hari ini aku akan menggunakan lemparan jarum.

Membuka lemari yang berisi berbagai macam alat penyiksaan, sebuah kantong yang digantung di bagian dalam lemari kuambil dan menaruhnya di meja. Membuka tali simpul kemudian menuangnya di atas meja, jarum-jarum kecil berjatuhan tanpa henti. Empat  buah jarum yang diselipkan di antara sela-sela jari kemudian aku lemar kuat ke arah sasaran: kedua paha dan lengannya.

“ARGH!”

Hamon berteriak hingga urat-urat di lehernya terlihat. Dengan napas yang tidak beraturan, dia akhirnya mengangkat wajah ke depan dan menatapku dari balik poni yang menutupi mata.

“Akhirnya kau bangun.”

Aku kembali mengambil empat buah jarum dan melemparnya sekali lagi diikuti oleh teriakan yang memenuhi ruangan. Tidak puas bermain jarum, aku melangkah mendekat. Memberi pukulan di rahang ketika aku telah berdiri di depan wajahnya. Keringat bercampur darah terlempar bersamaan di lantai. Tepat setelah dia kembali menoleh, aku melayangkan serangan membabi buta ke seluruh tubuhnya.

“OHOK!”

Darah keluar bersama dengan batuk Hamon yang terdengar sangat memilukan. Sedikit mengenai seragam bagian depan dan juga bagian pipi dan dahi, aku mundur selangkah, memberikan dia ruang dan waktu untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen.

“Anak itu mencarimu.” Aku memberi jeda. “Jadi, keluarlah dari sini dengan nyawa di dalam tubuh.”

Hamon yang keadaannya mulai melemah mengangkat wajah dan menatapku. Selama beberapa saat dia terdiam sebelum akhirnya berkata dengan susah payah. “Anda mengatakan bahwa Putri mencari saya? Benarkah?”

Aku tidak menjawab tetapi diamku adalah jawaban yang ingin didengarnya. Sudut bibir yang pecah itu akhirnya tersenyum meski tipis. 

“Hanya itu yang ingin kukatakan. Karena aku ada janji, jadi kuakhiri sampai di sini.”

Tanpa mengelap darah yang menempel di pipi, aku beranjak dari sana untuk menemui Marquess of Matheo yang saat ini sedang menunggu di ruang tamu. Setelah semua pekerjaan, tanggung jawab, masalah, dan kejadian-kejadian yang merepotkan, barulah aku mempunyai kesempatan untuk mengundang Marquess ke istana. Ketika bertemu dengannya terakhir kali saat Elora dirawat di kediaman Duke of Astello, sebenarnya aku ingin memanfaatkan rasa bersalah pria gendut itu dan memberi tekanan. Namun, saat itu bukan waktu yang tepat karena aku harus mengobservasi terlebih dulu maksud dan tujuannya. Meski sampai sekarang aku masih belum mengetahuinya, tetapi dapat kupastikan bahwa itu  tidak jauh dari kekuasaan karena Marquess adalah orang yang seperti itu.

Dia sertamerta berdiri dan memberi salam begitu aku masuk. Pria gendut itu sedikit tersentak ketika melihat darah di pipi dan juga bagian depan seragamku, tetapi berhasil menutupinya dengan senyuman. Maka menyilangkan kaki dan menyandarkan punggung di sandaran sofa, aku menatap Marquess of Matheo yang saat ini sedang memasang senyum canggung di depanku.

“Aku akan langsung ke intinya, di mana kau bertemu Elora?”

Meski bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi, dia tetap berusaha bersikap tenang dan santai. “Saya bertemu Putri saat menuju ke istana bersama dengan bangsawan lain untuk membawa berkas putri-putri terbaik dari keluarga yang terpandang sebagai kandidat permaisuri. Tanpa terkecuali anak saya, Yang Mulia. Namun, ketika hendak memasuki gerbang istana, anak itu–maksud saya Putri Elora berdiri di sana dan mengatakan bahwa dia adalah anak Yang Mulia. Saat itu, beberapa bangsawan sebelum saya sudah berkumpul.”

Marquess sengaja berdeham dan memberi jeda sebelum melanjutkan, “Saya hanya berinisiatif jika pengakuannya benar dan melihat dari penampilan fisik Putri saat itu … ekhem, seperti yang telah terjadi saat ini. Putri memang adalah anak Yang Mulia.”

“Dia menuju ke sini dengan apa?”

“Sebelum membawanya kepada Yang Mulia, saya telah menanyakan beberapa pertanyaan kepadanya saat itu. Salah satu pertanyaan yang saya tanyakan waktu itu sama dengan apa yang sedang Yang Mulia tanyakan saat ini dan jawaban beliau adalah berjalan kaki.”

“Seorang diri?”

“Benar, Yang Mulia. Itulah yang Putri katakan. Beliau hanya mengikuti rombongan orang yang menaiki kuda dan berjalan kaki.”

Aku terdiam, berpikir keras. Namun, dipikir bagaimana pun hal itu tetap tidak masuk akal bagiku. Seorang anak kecil yang berumur lima tahun menempuh jarak yang sangat jauh dengan kaki-kaki mungilnya tanpa alas kaki dan sendirian. Hal ini saja sudah sangat sulit kubayangkan.

Jika dia berjalan mengikutiku saat pertemuan pertama kami di hutan Petunia, maka Elora telah berjalan melewati empat wilayah sebelum masuk ke ibukota. Lalu, kekaisaran Adenium teletak tidak jauh dari pusat kota dan itu berarti dia harus berjalan lagi sejauh itu di mana sama dengan luas enam wilayah kecil kekuasaan. Entah bagaimana caranya anak itu sampai ke sini dengan selamat tanpa menemui ajal di jalan.

Perkataan Marquess kemudian membawaku kembali pada kenyataan yang sempat terlupakan bahwa sebelumnya pun anak itu tidak takut saat aku mengancamnya mati, mencekiknya dengan [mana], dan melihatku membunuh ribuan orang. Apakah dia sungguh hanyalah anak berusia lima tahun? Bukankah seharusnya dia paling tidak sudah takut bahkan untuk bertatap mata denganku?

“Tetapi, mengapa Yang Mulia tiba-tiba menanyakan hal ini?”

Pertanyaan pria gendut itu membuatku segera tersadar dari lamunan dan dengan pelan mengambil cangkir teh yang isinya sudah tidak lagi hangat sebelum meneguknya. “Aku hanya berpikir bahwa mungkin saja anak yang selama ini aku cari-cari diantarkan oleh seseorang.” Kemudian aku menatapnya setelah mengembalikan cangkir teh ke tempatnya semula. “Karena dia adalah satu-satunya anak yang kusayangi, jadi, tentu saja aku harus memberikan hadiah bagi orang yang membawanya padaku.”

“Tentu saja, Yang Mulia!” Dia tersenyum senang. “Anda sangat berhati dermawan. Saya yakin Putri pasti mengikuti jejak Anda yang baik hati ini.”

Bersama dengan kalimat terakhir Marquess of Matheo, aku telah memastikan bahwa sedari awal, Elora memang bukan anak kecil biasa yang tidak punya rasa takut. Dia istimewa untuk ukuran sebuah anak berumur lima tahun.[]

1
Pengabdi Uji
Tau gk yg mulia ibu asli el itu saya lho🤭
Pengabdi Uji
Keknya elora itu bsa ngontrol bapaknya ya? Punya kekuatan sejenis apatuh
studibivalvia: nyembuhin lebih tepatnya kak 🤣 kekuatannya ntar dijelaskan di bab yg berikutnya tapi kayaknya masih agak lama ketahuan nya
total 1 replies
Alessandro
"hamon tidak mati kan?"
ya ampun.... elora
Alessandro
saripati darah dong, thor...
detil sekali penjelasannya
Laila Sarifah
Agak anomali Kaisar satu ini, masa anaknya disuruh lompat dari ketinggian😭
Alessandro: 🤣🤣🤣 aku jg gemes dr kmrn...
tp ya gmn lg terserah sang pemilik cerita 🤣
total 1 replies
Laila Sarifah
Mudahan dgn adanya Elora di samping Kaisar, hati Kaisar menjadi lebih lembut
Aruna02
😭😭sadis
Aruna02
iiiikh gumush bnget elola 🤣🤣
Sinchan Gabut
Lah... kmrin pingsan, skrg malah cengengesan liat bapaknya habis bantai penduduk desa. jd bokem kamu El? 🤔😆🤣
Sinchan Gabut
gemes bgt sama Elora... 😘
Pengabdi Uji
El apa dy calon calon bocil baddas nanti diajarin sma bapaknya?
Pengabdi Uji
Kan kata gua jg apa, ni bocil pasti dibawa org lucu bgini🤣🤣
Alessandro
agak lain bapak ini....
Alessandro
hati yang mulia keras juga ya.....
butuh siraman cinta agar lebih melunak
Laila Sarifah
Yang Mulia nggak mau kah cari siapa Ibu aslinya Elora😫
studibivalvia: nggak dong kak 😔
total 4 replies
Laila Sarifah
Ya jgn lah di bunuh anakmu sendiri Yang Mulia, nanti anda menyesal
Aruna02
😩😩😩nungguin bapak nya
Aruna02
babi nggak tuh 😭😭😭
Aruna02
jadi, elora beban ya yang mulia🙄
Pengabdi Uji
Pasti ujung ujungnya mah diajak kan? Gk tega kan ninggalin anak ny
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!